
Sesuai kesepakatan pernikahan Alif dan Dhiya dilaksanakan di Palembang.Hanifah dan orang tuanya juga turut serta. Irfan dan Maharani tampak antusias dengan pernikahan Dhiya.Gilang akan tiba tepat dihari pernikahan karena dia harus mengurusi tokonya.Dhiya mengajak orang tuanya melihat usaha cateringnya.Irfan tidak menyangka, putrinya punya usaha catering yang cukup terkenal. Sepulang dari perusahaan,Alif mendatangi Dhiya di rumahnya.Sakhiy yang melihat mobil Alif di halaman kegirangan. Ia berlari menyambut kedatangan Alif,dan Alif berjongkok mensejajarkan badanya dengan balita itu. "Hem...harum sekali sih.Pasti yang mandikan Ibu ya?" Alif menghirup aroma tubuh Sakhiy,aroma khas balita.Sakhiy kegelian saat Alif mengendus endus dada dan perutnya. "Hi..hi..geli Ayah Alif." Keduanya masuk rumah dengan senyum mengembang.Irfan yang memperhatikan interaksi Alif dan Sakhiy tersenyum bahagia. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam,masuk Nak.Saya panggilkan Dhiya." Tak lama Dhiya muncul dari dalam ,ia hanya memakai pakaian rumahan dan juga jilbab yang menutupi kepalanya.Wajahnya tampak segar karena habis mandi.Alif yang melihat Dhiya begitu cantik meskipun tampa makup,menelan salivanya.Sebagai laki laki normal,ia sudah tidak sabar segera menghalalkan wanita didepannya. "Baru pulang Mas?"tanya Dhiya ketika sudah duduk berhadapan dengan Alif. "Iya, langsung kesini.Bagaimana persiapan untuk besok?Apa ada kendala?" "Alhamdulillah,semua sudah siap." "Syukurlah.Kamu juga jangan capek capek,Mas tidak mau saat pernikahan kita kamu jatuh sakit." Dhiya tersenyum mendengar ucapan Alif, "Iya Mas,terimakasih perhatiannya.Aku tidak capek kok,lagian banyak yang membantu." "Apa kamu bahagia?" Alif tersenyum penuh arti menatap Dhiya.Ditatap seperti itu oleh Alif,Dhiya tersipu dan wajahnya merah. "Maksud Mas Alif?" Dhiya jadi ambigu dengan pertanyaan Alif. "Apa kamu bahagia menikah denganku?" Alif memperjelas pertanyaannya.Dhiya mengangguk dan menunduk tidak berani menatap Alif. "Apa lantai lebih menarik dari aku?" Alif menahan tawanya melihat tingkah Dhiya.Ia semakin tertarik menggoda calon istrinya.Dhiya mengangkat wajahnya tapi, tetap tidak menatap Alif. "Kamu suka sekali memandang tembok?Padahal didepanmu ada laki laki ganteng yang tidak keberatan dipandangi wanita cantik sepertimu." "Mas Alif!" Alif terkekeh. "Jadi Mas Alif senang kalau dipandangi para wanita?" tanya Dhiya dengan wajah ditekuk. "Tergantung!" Dhiya memanyunkan bibirnya mendengar jawaban Alif.Ia tidak menyangka laki laki seperti Alif akan menyukai menjadi pusat perhatian kaum hawa. "Heh...pasti sudah berfikir buruk tentang calon suamimu." "Sok tahu!" jawab Dhiya jutek. "Tahu lah.Bibirnya sudah maju 10 centi gitu." "Mas Alif sih genit." "Makanya dengar dulu kalau ada yang bicara.Jangan main asal ambil kesimpulan.Mas memang senang dipandangi wanita tapi,wanita cantik itu kamu."Dhiya tertawa mendengar pengakuan Alif.Jantung Alif deg degan ,baru kali ini ia melihat Dhiya tertawa.' benar kata ummi siapapun akan terpana kalau melihat tawa dhiya'. "Kenapa tertawa?Apa ada yang lucu?" tanya Alif sok cool. Dhiya menghentikan tawanya,ia tersenyum.Tiba tiba rasa canggungnya menguap begitu saja. "Nggak ada,ternyata Ustadz bisa ngegombal juga ya." Alif mencebik. "Ustadz juga manusia kali,apalagi kalau istinya secantik ini,pasti ia akan mengurungnya di kamar tiap hari." "Dasar ngeres!" "Mas pulang dulu,sudah hampir magrib.Jangan lupa persiapkan untuk malam pengantin besok." "Mas Alif!" Alif terkekeh dan beranjak dari duduknya. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Dhiya mengantar Alif sampai teras rumahnya.