
"Siapa bee?" "Nggak tahu, nomor tak dikenal. Minta video call." "Angkat dulu, siapa tahu rekan bisnismu yang ganti nomor ponsel." Aby akhirnya menekan icon warna hijau diponselnya, dan terhubung dengan seseorang yang dari tadi menghubungi ponselnya. {kak aby, lama sekali angkat telponnya} {astaga, tristan} "Siapa bee?" "Tistan, anaknya Om Yoga." {kak dhiya, apa kabar} Tristan melambaikan tangannya ketika layar ponsel aby menampilkan sosok dhiya. {baik, kamu sekarang di indonesia?} {iya kak, tiba siang tadi.sakhiy mana?} {sakhiy belum pulang} {aku kangen sama anak itu, besok aku dan ayah mau main ke rumah kak dhiya} {emang kamu tahu alamat rumah kakak} {tahu lah} {tante iren ikut kan} {kayaknya nggak, mama ada di rumah nenek} {datang saja, kami tunggu} {dari mana kamu tahu nomor ponselku} , akhirnya aby buka suara, karena dari tadi ia hanya jadi pendengar. ' apalagi ini, kemarin raihan sekarang muncul tristan, apa ia mau jadi adiknya dhiya juga?' aby menggerutu dalam hati. {he..he..aku nyari diponselnya papa} {nomor ponselmu kakak simpan ya,hubungi kakak kalau mau datang. salam sama tante iren} {siap kak} Dhiya mengembalikan ponsel Aby, ia tampak bahagia akan kedatangan Yoga dan Tristan ke rumahnya. "Kamu kenapa hon? Kelihatannya bahagia?" "Aku juga tidak tahu bee, aku merasa begitu menanti kedatangan Om Yoga dan Tristan." Dhiya mengusap perutnya. "Kamu sadar nggak, kalau kamu punya kemiripan dengan dua remaja tengil itu." Aby enggan menyebut nama Raihan dan Tristan, ia merasa akan berebut perhatian Dhiya dengan pemuda tengil yang dimaksudnya. "Kemiripan apa sih?" "Kamu sangat mirip Raihan saat tersenyum, kalau sama Tristan kalian mempunyai kemiripan wajah." "Masa iya? Aku nggak ngerasa tuh." Dhiya mengamati wajahnya lewat layar ponselnya. "Mataku ini sangat jeli hon , aku sudah lama memperhatikan kemiripan kalian. Sejak pertama kali bertemu dengan Raiham juga Tristan." "Apa kamu pernah bertemu mamanya Raina?" "Pernah, beberapa kali. Dan aku hampir melupakannya, Tante Irma kalau tersenyum mirip dengan mu." "Tanta Irma?" "Iya, nama mamanya Raihan." "Kok namanya sama dengan nama adiknya Ayah, mantan istrinya Om Yoga." Dhiya memijit pelipisnya, ia merasa kepalanya berdenyut. " Jangan terlalu dipikirkan, mungkin hanya kebetulan. Kalaupun ada sesuatu dibalik kebetulan ini, cepat atau lambat kita pasti akan mengetahuinya." ******* Hari yang dinantikan Dhiya pun tiba, Yoga datang bersama Tristan. Sengaja Dhiya meminta mereka datang malam hari, agar bisa bertemu Sakhiy. Irfan dan Maharani berusaha menyembunyikan perasaan mereka, ada rasa takut dan was was yang menyelimuti. "Yah...bagaimana ini?" "Ibu harus tenang, bersikaplah biasa. Dan jangan menyinggung apapun mengenai masa lalu ." Irfan mewanti istrinya agar tidak sampai salah omong. "Kalau tidak ada perlunya, sebaiknya diam saja." lanjut Irfan. Maharani mengangguk. TOK TOK "Kek, Opa Yoga sudah datang." terdengar suara Sakhiy dari luar kamar mereka. "Ayo kita keluar Bu." DI RUANG TAMU "Mas Irfan." Yoga berdiri dan langsung memeluk Irfan, kedua laki laki itu saling berpelukan setelah sekian lama tidak bertemu. "Apa kabar Yoga?" kata Irfan setelah melepas pelukannya. "Baik Mas. Mbak Maharani, bagaimana kabarnya?" Yoga menyapa Maharani dengan menangkupkan kedua telapak tangannya didepan dada, demikian juga Maharani melakukan hal serupa. "Alhamdulillah, baik. Ini anak mu?" tanya Maharani sambil menatap Tristan. "Iya Bibi, saya Tristan." Tristan pun juga menangkupkan kedua telapak tangannya, seperti yang dilakukan Yoga. "Sudah besar ya, Mama nya nggak ikut Nak?" "Mama sedang kangen kangenan sama Nenek." Maharani beroh ria. "Paman, ayo ke kamar Sakhiy. Katanya mau lihat gambar Sakhiy." "Baiklah...Kak Dhiya , saya permisi ke kamar Sakhiy." "Iya." "Om Yoga , saya ke belakang sebentar." Dhiya pamit hendak menyiapkan makanan untuk kedua tamunya. "Silahkan Dhi." "Kata Dhiya kamu tinggal di Amerika." "Iya Mas, setahun sejak perceraian dengan Irma saya bekerja di Amerika sampai sekarang. Pulang ke Indonesia cuma beberapa kali." "Istrimu orang mana?" "Orang Jakarta juga Mbak, sebenarnya ia ikut ke sini, tapi ibu mertua kurang enak badan jadi istri saya tidak tega meninggalkan. Kata Dhiya, ia tidak pernah mengenal Irma." "Irma pergi dari rumah, sampai sekarang tidak pernah pulang. Waktu itu Dhiya belum lahir." Yoga manggut manggut mendengar jawaban Irfan. Sedangkan Irfan merasa sangat bersalah dalam hatinya. "Om Yoga, mari makan. Saya sudah masak spesial untuk Om Yoga." "Jadi merepotkan, kamu nggak perlu repot repot Dhi." "Nggak juga Om, tadi dibantu Ibu kok. Saya panggil Tristan dan Sakhiy dulu." Yoga mengamati Dhiya dengan lekat sampai Dhiya hilang dari jangkauan pandangannya, ia seperti melihat wanita dari masa lalunya. ' tentu saja mereka mirip, ia kan keponakannya irma' , batin Yoga. Irfan dan Maharani saling melempar pandang, nampak jelas dari tadi Yoga melihat Dhiya dengan tatapan aneh.