KEMBALINYA CINTA PERTAMA

KEMBALINYA CINTA PERTAMA
BAB 37 IDE HANIFAH


__ADS_3

Hari ini semua berziarah ke makam Alif yang masih berada di area pondok,semua khusuk memenjatkan doa dan Dhiya tak kuasa menahan air matanya.Kenagan tentang Alif tak sedikitpun berkurang dari ingatannya,Aby yang ada disebelahnya mengusap usap punggunnya. Setelah memanjatkan doa,semua kembali ke rumah Ummi Salma. Semua berkumpul digazebo belakang rumah disebelah kolam ikan.Sedangkan Sakhiy dan Zaina bermain didalam rumah. "Dhi..Abah hanya mengusulkan..apa tidak sebaiknya kamu dan Aby secepatnya menikah.Toh kalian sudah sama sama saling kenal. Apa kamu sudah siap By?" "Kalau saya kapan pun siap Bah." jawab Aby mantap. "Keputusan ada padamu Dhi..walaupu kamu menikah dengan Aby..kalian berdua tetap menjadi anggota keluarga kami.Bahkan Ummi sudah menganggap kalian anak anak Ummi." "Iya Dhi..sesuatu yang baik dan dibenarkan agama jangan ditunda tunda.Bagaimana kalau sementara kalian menikah secara agama dulu disini biar dinikahkan Abah." Gilang menjitak kening Hanifah. "Auw..sakit Mas." Hanifah meringis tapi tangannya ganti mencubit paha Gilang. "Kamu sih bicara sembarangan." jawab Gilang. "Bagaimana Dhi? Kalau Ayah setuju saja kalian meikah disini ya kan Bu?" Maharani mengangguk. "Aku sangat setuju Om." celetuk Aby dan mendapat pelototan tajam dari Dhiya. "Tuh kan semua setuju sama ideku Mas. Kata Sakhiy tadi Aby mau ke Amerika, kan bisa sekalian bulan madu." "Kak Hanifah idenya top." kata Aby sambil menjulurkan dua jempolnya kearah Hanifah. Hanifah berdiri dengan jumawa menundukkan kepalanya denga meletakkan sebelah tangannya didada.Semua tertawa melihat ulah Hanifah yang pandai mencairkan suasana. "Kamu pintar sekali cari istri Lang." kata Maharani yang sangat menyayangi menantu nya itu.Gilang hanya garuk garuk kepala melihat sikap istrinya yang memang selau bisa mencairkan suasana selain memiliki kecerdasan diatas rata rata. Makanya Gilang meminta istrinya membantu mengurus Hotel DHIYA. "Bukan Gilang yang yang pintar cari istri Bu..tapi memang menantu Ibu ini sudah pintar." kata Gilang memuji istrinya. "Jadi bagaimana Dhi? Mas setuju saja." Dhiya memainkan jari jarinya sambil berfikir..setelah itu ia mengangguk pelan. "Alhamdulillah." semua kompak mengucapkan . "Eh..tunggu dulu Dhiya hanya mengangguk lo.Kita kan nggak tahu maksudnya." kata Hanifah. "Jadi apa jawabanmu Dhi?" tanya Maharani. "Iya Dhiya mau menikah dengan Aby disini." jawab Dhiya dengan pelan sambil menahan malu. "Gitu dong..baru jelas.By..selamat ya." ucap Hanifah. "Terimakasih Kak..." jawab Aby dengan bahagia ******* Pernikahan Aby dan Dhiya dilaksanakan secara sederhana karena tidak direncanakan sebelumnya. Abah Zahid yang akan menikahkan keduanya sudah siap didepan meja berhadapan dengan Aby.Laki laki yang sebentar lagi akan berganti status itu beberapa kali menarik nafas panjang. Irfan dan Gilang hanya senyum senyum melihat kegugupan Aby. Lain Aby lain pula dengan Dhiya, ia kelihatan lebih tenang karena ini bukan yang pertama untuknya.Ia dibantu Hanifah merias wajahnya. Kamar Dhiya tanpak ramai oleh suara Sakhiy dan Zaina yang asyik bermain ditambah Zein yang ngoceh ciri khas bayi. Maharani dan Ummi Salma yang bertugas mengawasi anak anak. "Sudah selesai Dhi..kamu tambah cantik saja sih.Kakak jamin Aby makin cinta sama kamu." ucap Hanifah puas dengan hasil riasannya. "Kakak ada ada saja." TOK TOK Sakhiy berlari kearah pintu dan membukanya.Gilang langsung masuk begitu pintu dibuka. "Sudah selesai apa belum? Lama sekali." "Baru selesai Mas.Bagaimana...riasanku bagus kan Mas?" tanya Hanifah pada suaminya. "Hemm.. Dhiya tanpa make up pun memang sudah cantik kok." kata Gilang sedikit menggoda istrinya. "Hah..nggak asyik banget sih." Hanifah memanyunkan bibirnya dengan kesal.Gilang yang melihat istrinya ngambek terkekeh dan merangkul kan tangannya dibahu Hanifah. "Iya..iya Mas cuma bercanda.Riasannya bagus terlihat natural.Ya kan Bu, Ummi?" "Benar apa kata Gilang..kamu pandai merias Han." puji Maharani kepada menantunya. "Terimakasih Bu.Ayo keluar..Aby pasti sudah tidak sabar." Mereka segera keluar menuju tempat ijab qobul. Dhiya duduk disebelah Aby tanpa menoleh kearah calon suaminya.Sedangkan Aby semakin gugup dan jantungnya berdetak semakin kencang. "Rileks By..tarik nafas dan keluarkan perlahan." Irfan berusaha menenangkan calon menantunya.Aby mengangguk dan mengikuti arahan Irfan. "Sudah siap By?" tanya Abah Zahid dan dijawab anggukkan oleh Aby. Dengan satu tarikan nafas Aby berhasil mengucapkan kabul pernikahan. SAH Akhirnya Aby dan Dhiya sudah berstatus suami istri,senyum kebahagiaan terpancar dari pasangan pengantin baru itu.Selesai ijab kabul semua tengah menikmati jamuan yang disediakan oleh Ummi Salma dan Maharani. Sakhiy yang sudah tahu orangtuanya menikah malah asyik bermain dengan Zaina dan Zein. "Sakhiy...!" Aby memanggil Sakhiy yang sedang kejar kejaran dengan Zaina.Mendengar namanya dipanggil anak laki laki itu segera mendekati Ayahnya. "Kenapa Yah?" tanya Sakhiy dengan nafas yang ngos ngosan. "Kata Nenek Sakhiy belum makan.Ayo makan dulu." "Sakhiy sudah makan kok, sama Zaina tadi.Bibi Hanifah yang ambilkan." "Emm..ya sudah Ayah sama Ibu mau makan dulu.Zaina mau makan lagi?" "Masih kenyang Om." Sakhiy dan Zaina kembali bermain bersama beberapa anak kerabat yang seusia dengan mereka.Suara tawa canda anak anak melengkapi hari bersejarah bagi Aby di rumah Ummi Salma. Hanifah mendekati Aby dan Dhiya yang sedang menyantap makanannya.Melihat Hanifah yang senyum senyum tidak jelas,Dhiya merasa ada sesuatu yang akan dikatakan oleh kakak iparnya itu. "Hem..hem..selamat ya pengantin baru.Kamarnya sudah siap By..sesuai dengan permintaanmu." kata Hanifah sambil menaik turunkan alisnya. "Kamar apa sih By?" Dhiya bertanya pada Aby yang santai mengunyah makanannya. "Kamar hotel khusus dipersiapkan untuk penhantin baru." jawab Hanifah. "Buat apa?" "Kalian akan menginap selama 3 hari, jadi manfaatkan waktu kalian sebaik mungkin.Untuk Sakhiy, kamu tidak perlu khawatir Dhi.. aku dan Mas Gilang akan mengajak Sakhiy liburan.Oke.' selesai dengan ucapannya Hanifah berlalu meninggalkan pasangan suami istri itu. "By..!" Dhiya menatap tajam Aby yang tersenyum canggung. "Aku tidak tahu apa apa Dhi..itu ide semua orang." Aby mengusap usap tengkuknya,ia takut Dhiya tidak setuju. "Bener?" Dhiya tersenyum dalam hati melihat wajah Aby yang mulai panik,ia sangat yakin kalau Aby benar benar akan memprioritaskan kenyamanan dirinya juga Sakhiy tentunya. "Iya Dhi..aku hanya minta disiapkan kamar yang sesuai dengan selera kamu.Itu sih kalau seleramu masih sama." "Memang kamu masih ingat seleraku?" "Tidak ada yang aku lupakan ." "Kapan kita berangkat?" "Selesaikan makanmu dulu Dhi." "Aku sudah selesai, aku mau menemui Ummi dan Ibu dulu." "Hem." Aby segera menghabiskan makanannya dan bersiap siap menuku hotel.


__ADS_2