
4 Tahun kemudian Di salah satu perusahaan besar di Amerika,seorang pria dengan wajah dinginnya tengah menatap tajam dua orang bawahannya di ruang meeting.Matanya merah menahan marah,ia melempar tumpukan berkas di depannya. "Aku tidak mau tahu,dengan apa kalian mengganti uang perusahaan yang selama ini sudah kalian ambil. Dalam waktu 1 minggu,kalian harus mengembalikan seluruhnya kalau tidak,penjara sudah menanti kalian dan anak istri kalian akan aku pekerjakan disini tanpa gaji,sampai hutang kalian terhitung lunas." "Ampun Tuan,jangan libatkan istri dan anak kami.Kami janji akan mengembalikan uang perusahaan yang sudah kami ambil." "Cih...enyahlah dari hadapanku,dan jangan harap kalian bisa kabur,sebelum hutang kalian lunas." "Baik Tuan." Ia berdiri dan membetulkan jasnya,kemudian melangkah keluar dari ruangan diikuti asisten pribadinya. Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya membungkukkan badannya memberi hormat.Dengan wajah dingin dan amgkuh sang bos berlalu dan hanya melirik sekilas. "Jam berapa pesawat berangkat?" tanyanya pada Samuel,sang asisten. "Dua jam lagi Tuan." "Hem.." jawabnya singkat. "Tuan..Nona Rania tadi menghubungi saya." Samuel melihat sekilas bosnya melalui kaca spion.Sang bos seperti biasa,selalu melihat keluar dengan tatapan yang dalam,ada kemarahan juga kesedihan.Samuel yang hampir 6 tahun bekerja dengan sang CEO sebenarnya iba dengan kehidupan bosnya.Waktunya banyak dihabiskan untuk bekerja dan tiap malam ia lewati dengan menghabiskan berkaleng kaleng minuman beralkohol.Ia juga menjadi perokok aktif.Tidak ada lagi bos yang ramah ,yang ada saat ini bos yang dingin juga arogan.Penampilan juga berubah,ia biarkan wajahnya ditumbuhi jambang juga kumis dan juga memanjangkan rambutnya. "Tuan Aby." Aby menatap tajam kearah Samuel. "Haruskah aku jelaskan lagi apa yang mesti kamu lakukan." "Maaf Tuan." "Aku sudah bosan mendengar permintaan maafmu." Samuel mengusap tengkuknya,bulu kuduknya berdiri.'hah.. salah lagi, nasib nasib jadi bawahan.mudah mudahan ia lama di jakarta,agar hidupku sedikit tenang' samuel bermonolog dalam hatinya. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" seakan tahu kalau asistennya sedang menggerutu dalam hatinya,Aby kembali menatap Samuel. "Ti..tidak ada Tuan." jawab Samuel dengan gugup.Ia kembali fokus dengan kemudinya.Sampai di sebuah cafe,ia memarkirkan mobilnya dan membukakan pintu untuk sang bos.Aby berjalan menuju pintu masuk cafe diikuti Samuel dari belakang.Meskipun wajahnya datar dan dingin namun tidak mengurangi aura ketampanan sang CEO muda itu ditambah bulu bulu halus diwajahnya juga rambut panjangnya yang dibiarkan terurai. Monica,wanita cantik dan seksi yang berprofesi sebagai model,tersenyum lebar melihat kedatangan Aby.Sedangkan Aby hanya menarik sedikit ujung bibirnya,nyaris tak terlihat. "Saya merasa sangat tersanjung Tuan Aby bersedia meluangkan waktunya untuk saya." kata Monica sambil menyelipkan beberapa helai rambutnya kebelakang telinga.Ia menarik bajunya kebawah hingga semakin menampakkan belahan dadanya.Samuel yang sudah hafal dengan berbagai macam gaya para wanita yang ingin menarik perhatian bosnya tampak jengah.'huh..menggelikan sekali' batinnya. "Nona Monica bisa menyerahkan proposal pada asisten saya,nanti akan saya pelajari.Selanjutnya asisten saya akan menghubungi Anda.Maaf saya harus segera pergi." "Tidak bisakah kita ngobrol sebentar Tuan Aby?" kata Monica dengan suara yang dibuat sedih. "Maaf Nona Monica,bos saya harus segera ke bandara.Kami permisi." "Baiklah,tapi lain waktu saya harap Tuan Aby tidak menolak." kata Monica dengan kecewa. Aby dan Samuel segera berlalu meninggalkan Monica. ******** Setelah menempuh penerbangan hampir 12 jam,Aby tiba di Jakarta.Dengan kaca mata hitam yang bertengger dihidung mancungnya,ia berjalan kearah Hanif,asisten kepercayaannya di Jakarta. "Selamat datang Tuan." sapa Hanif dengan ramah. "Hem... ." hanya deheman yang keluar dari bibir bosnya.Hanif mengelus dadanya.'sabar nif,bos mah bebas' batinnya.Ia berjalan dibelakang bosnya yang sudah biasa menjadi perhatian kaum hawa.Tapi Aby tetap cuek dengan wajah angkuh dan dinginnya ia melangkah dengan gagah.Sampai di dalam mobil,ia membuka kaca jendela dan menyalakan sebatang rokoknya.Ia hembuskan asap rokoknya hingga membentuk bulatan. "Belikan aku air mineral." "Baik Tuan,kebetulan didepan ada mini market." Hanif membelokkan mobilnya didepan mini market.Ia melepas sabuk pengamannya. "Biar aku beli sendiri." kata Aby tiba tiba.Ia segera turun dari mobil dan masuk ke mini market. Hanif melongo 'tumben beli sendiri,semoga saja ada keajaiban, semoga ia tidak lama di jakarta, bisa mati berdiri aku,' Hanif berbicara sendiri. Aby berjalan menuju deretan lemari pendingin,saat hendak mengambil minuman yang diinginkan,ia melihat anak laki laki berusia 8 tahunan kesulitan mengambil minuman,karena letaknya yang cukup tinggi. "Mau ambil yang mana." tanya Aby pada anak laki laki tersebut. "Yang rasa jeruk Paman." jawab anak tersebut.Aby mengambil minuman yang ditunjukkan anak tersebut. "Ini." kata Aby menyerahkan botol minuman.Anak laki laki tersebut tersenyum dan menatap Aby. DEG ! 'wajah ini,mirip sekali dengannya,apa mungkin.. ' batin Aby. "Sakhiy!" jantung Aby serasa berhenti berdetak.Suara itu masih ia ingat dengan jelas.Ia masih berdiri membelakangi pemilik suara tersebut. "Sudah ambil minumannya?" "Sudah Bu,Paman ini yang mengambilkannya.Terimakasih Paman." "Terimakasih banyak Tuan." Aby masih terpaku,ia tidak berani menoleh kebelakang.Ia mengangkat tangannya dan berjalan meninggalkan ibu dan anak itu. "Bu,aku pengen makan rendang buatan ibu.Aku nggak mau yang dari restoran." "Rasanya kan sama seperti buatan Ibu?" "Masakan chef Ryan terlalu manis,Sakhiy nggak suka." "Iya iya...nanti Ibu masakkan.Kita cari dagingnya yuk." Aby mendengarkan percakapan ibu dan anak dari belakang gondola.Dadanya bergemuruh,ia mengepalkan tangannya. Ia terus mengikuti ibu dan anak yang berjalan menuju lokasi tempat daging.Ya,mereka adalah Dhiya dan Sakhiy. "Habis dari sini kita ke taman ya Bu." "Mau ngapain?" tanya Dhiya sambil memilih daging. "Pengen aja.Ibu sudah lama nggak ajak Sakhiy jalan jalan,Ibu selalu sibuk bekerja." Dhiya tersenyum mendengar kata kata putranya.Ia akui,sejak kepergian Alif,ia bekerja keras merintis usaha restorannya. Sakhiy ia titipkan pada orangtuanya.Waktunya banyak tersita untuk bekerja. Dhiya mengacak acak rambut Sakhiy. "Maaf ya... .Habis dari sini kita ke taman." "Asyik!"