Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Ku Kira Kenapa


__ADS_3

Di malam pernikahannya, Kak Litha meminta tidur sekamar dengan Ibu, sesuatu yang sangat wajar, bukan? Karena besok kakakku sudah menjadi istri orang. Ternyata calon suaminya pun memahami situasi ini dengan memberiku kamar sendiri. Ya, harus aku akui meski terkesan arogan dan tidak mudah didekati, dia memiliki perhatian yang baik terhadap keluarga calon istrinya.


Betapa empuk dan nyamannya aku berbaring di kasur ini, sendirian menatap jendela yang kubuka lebar tirainya hingga langit malam bertabur bintang menguasai pandanganku. Apakah sekarang Tuhan sudah mengasihani kami? Apa pernikahan Kak Litha bisa perlahan merubah nasib kami, meski menumpang pada keberuntungan orang lain?


Aku tersadar dari lamunanku saat pintu diketuk, kuintip dari lubang kecil di pintu sebelum membukanya.


Deg.


"Kenapa dia ada di depan pintu?" gumamku.


Aku membuka sedikit daun pintu yang hanya cukup memunculkan kepalaku. Astaga! Dia tersenyum.


"Nona, tadi Nyonya memintaku untuk membelikanmu pizza. Nyonya juga menyampaikan permintaan maafnya karena membuatmu tidur sendirian malam ini," sahut lelaki itu ramah menyodorkan sekotak pizza ukuran medium beserta sebotol minuman.


"Kenapa suaranya renyah begini? Seperti suara penyiar radio."


Aku memang menyukai makanan dari Italy ini setelah dikenalkan Kak Litha saat berada di Ibukota, "Ah ya, Kak Litha memang paling tahu apa yang aku suka. Aku akan mengabarinya setelah ini," tanganku mengulur menyambut pemberiannya, "Minuman apa ini?" tanyaku bingung.


"Oh, ini ... Squash Lime namanya, sangat cocok diminum setelah memakan pizza. Cita rasanya yang menyegarkan mampu menyeimbangi rasa pizza yang sedikit berat."


Aku mengangguk, "Ya, terima kasih."


"Selamat menikmatinya dan selamat malam, Nona," ujarnya pamit.


"Tunggu!" kataku sebelum dia berbalik.


"Apa ada lagi yang Anda butuhkan, Nona?"


"Engg ... Apa Tuan sibuk?"


Dia nampak berpikir sejenak, "Tidak juga."


"Apa– Tuan keberatan– kalau menemaniku makan pizza ini sebentar?" pintaku ragu. "Ada yang ingin kutanyakan padamu."


Sedikit lebih lama berpikir tapi akhirnya dia bersedia. Jantungku berdegup tidak karuan, duduk di lantai bersebelahan dengannya memandangi langit yang tak berbatas.


Aku mengambil sepotong pizza dan menikmatinya dulu sebelum aku bertanya padanya Meski gugup luar biasa tapi aku berusaha menguasai diri agar tak terlihat seperti orang bodoh dan mengunyah pizza adalah jalan ninjaku.


"Sial! Kenapa dia justru melihatiku makan." gerutuku dalam hati.


"Ambilah sepotong, Tuan. Terlihat canggung jika seperti ini. Aku akan mengambil gelas, minumannya kita bagi dua," kataku berdiri mengambil gelas, sebenarnya ini hanya alasan untuk menekan kegugupanku yang sudah nampak di permukaan.


Aku menuangkan minuman di gelas –menyisakan setengahnya di botol– lalu menyodorkan ke dekatnya, tetapi malah dikembalikan padaku, "Seorang wanita hendaknya minum dari gelas, biar sisanya yang di botol untukku," ujarnya mengambil botol lalu meminumnya sedikit, memberi tanda bahwa itu miliknya dan tidak bisa ditukar lagi.


Glek.

__ADS_1


Aku susah payah menelan salivaku. Caranya minum langsung dari mulut botol terlihat gentle dan begitu mempesona meski hanya beberapa detik berlangsung.


"Ada apa?" tanyanya mengagetkanku.


"Eh, iya– ada apa?"


"Katanya ada yang ingin kau tanyakan tadi?"


"Oh iya."


Aku mati kutu, bingung menanggapinya tapi untunglah aku langsung mengingat Kak Litha, jadi aku bisa kembali menguasai diri.


"Tuan, bagaimana menu–"


"Abyan, namaku Abyan. Jangan sebut aku Tuan," potongnya.


"Hehehe ... Tidak keberatan kan, kalau aku lebih memilih memanggilmu Asisten Yan?" tanyaku canggung.


"Umm ... Ya, itu lebih baik daripada Tuan."


"Ah ya–" Aku menghela nafas terlebih dahulu, "Asisten Yan, bagaimana menurutmu pernikahan ini?"


Dia menatapku lekat sejenak, jantungku rasanya mau copot.


"Pernikahan ini baik. Kedua mempelai saling mencintai. Apa ada yang ganjil?"


Wajahnya nampak terkejut dengan omonganku yang apa adanya. "Tuan Muda kaya raya ingin menikahi gadis biasa dari sebuah kota kecil, pun tidak ada apa-apanya termasuk keluarga dan kompetensinya, bahkan bisa dibilang keluarga kami memiliki banyak masalah. Bukankah itu ganjil?"


Dia tergelak, memamerkan sederet gigi rapi nan putih. "Gadis kecil, apa kau terlalu mengkhawatirkan kakakmu?" Aku diam, antara mengiyakan dan kagum dengan tawanya yang menyenangkan hati. "Mereka berdua adalah orang dewasa dan ini keputusan mereka."


"Aku hanya ingin memastikan kakakku tidak terluka. Aku tidak rela jika suatu saat nanti Kak Litha disakiti suaminya."


"Hah, kukira kenapa ... Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kakakmu akan diperlakukan sangat baik sebagai Nyonya Pradipta, bahkan Asisten mendiang Nyonya Besar akan mengabdikan diri padanya seumur hidupnya." Dia berdiri dan merapikan pakaiannya yang kusut karena duduk di lantai, "Sekarang kau tidur. Tidak lucu kan, kau terlambat menghadiri pernikahan kakak yang sangat kau sayangi hanya karena semalaman tidak bisa tidur akibat terlalu mengkhawatirkannya."


"Baiklah, sampai saat ini aku yakin kakakku akan bahagia. Tetapi jika suatu saat aku menemui Kak Litha disakiti, sekalipun suaminya seorang Tuan Muda, aku tidak gentar."


"Hah. Kau mengancamku atau Tuanku?"


"Mana-mana saja. Tuan bisa memberitahu Tuan Muda kalau begitu," kataku serius.


Tidak kusangka dia malah tergelak keras hingga wajahnya sedikit merah, "Kau lucu sekali, Gadis Kecil. Kau lebih ekspresif dari kakakmu ternyata, hahahaha ...."


"Aku bukan Gadis Kecil, aku sudah kelas tiga SMA. Namaku Vania." Aku kesal dia menertawakanku.


"Oke, baiklah. Istirahatlah Nona Vania, hehehe ...."

__ADS_1


Dia berjalan keluar kamar dengan masih tergelak meski tidak sekeras sebelumnya. Ah, aku kesal sekali. Kesal pada diriku sendiri yang membuatnya melihatku seperti gadis kecil, walaupun perbedaan usia kami memang sepertinya sangat jauh, tetap saja aku tidak suka dia menganggapku gadis kecil, titik.


...***...


Hari pernikahan Kak Litha tiba, aku terlambat bangun karena tidur larut malam. Aih, aku malu sekali tadi karena aku dibangunkan Bibi dengan menggedor pintu kamar dengan sangat keras.


Vania Kirana Larasati, kau tahu ini jam berapa? Bangun dan bergegas! Jangan keenakan tidur di kasur hotel.


Astaga! Bibi memanggil dengan nama lengkapku. Sontak aku kaget bangun, lebih kaget lagi melihat jam di ponselku yang menunjukkan satu jam lagi pengucapan ikrar janji suci pernikahan kakak perempuanku kepada Tuhan akan dimulai.


Tergopoh-gopoh aku menyusul yang lainnya ke ballroom hotel. Langkahku melambat ketika mendapati dekorasi pernikahan yang mewah nan elegan, nuansanya memang sangat berbeda dengan acara pernikahan di kampung yang memakai jalanan umum sebagai tempat duduk para undangan.


Saat aku merayap masuk ke dalam gedung, Kak Litha dan Tuan Muda tengah disatukan dalam ikatan pernikahan. Kudapati sosok Ibu duduk di samping Bibi dan berkali-kali mengusap matanya. Entah mengapa alam bawah sadarku mencari-cari seseorang yang tadi malam duduk bersamaku. Lihat! Apa ini penglihatanku saja atau memang benar adanya kalau dia lebih berkharisma daripada pengantin pria? Ck ... lebih baik kualihkan saja pikiranku ke Kak Litha, saat ini dia yang lebih pantas untuk dipikirkan.


Resmi sudah kakakku menyandang Nyonya Pradipta, ibu negara kerajaan Keluarga Pradipta. Semua sanak saudara Ayah yang diundang tertegun dan tidak percaya. Sebagian ada yang mencibir kalau Kak Litha memakai pelet sehingga sukses mendapatkan seorang tuan muda kaya raya.


"Miskin salah, kaya juga tidak diterima. Bicarakan saja kami terus di belakang, heh!" ucapku geram pada sekelompok wanita yang julid mengata-ngatai kakak dan ibuku. Tidak bersyukur mereka diundang dan bisa menikmati pesta mewah kelas atas begini, masih saja dengki.


"Ah, Nia, kau salah dengar. Kami justru senang Litha mendapatkan suami tajir. Justru kami ingin meminta resepnya."


"What? Apa mereka sedang menyindir! Huh, tidak tahu malu, memakan makanan dari orang yang kalian umpat!"


"Lebih baik kalian nikmati saja pestanya, juga makanannya. Makanan yang disajikan saat ini belum tentu kalian bisa menikmatinya lagi sampai mati."


Gantian aku menyindir mereka seraya berlalu menghampiri pengantin wanita yang sedang bersama Ibu. Aku puas melihat mereka begitu kesal dengan perkataanku.


"Kak Litha, aku senang Kakak terlihat sangat bahagia," kataku merangkul lengannya.


"Hehehe ... tentu saja aku bahagia, Nia. Tidak semua wanita beruntung memiliki suami yang tampan dan kaya," gelaknya sambil berkelakar, "Bibi bilang tadi kau terlambat karena keenakan tidur di kasur hotel. Apa tadi malam kau bermimpi indah sampai melupakan hari penting kakakmu ini? Sekarang kau temani Ibu, aku akan sibuk menemani Suamiku menyapa para tamu."


"Cih. Apa Bibi tidak bisa mengunci mulutnya sedikit saja untukku?"


Lagi-lagi Kak Litha tergelak, kemudian meninggalkanku menyapa para tamu bersama suaminya. Sejujurnya melihat pengantin baru itu berdampingan sangatlah serasi, mereka juga terlihat saling melengkapi satu sama lain. Jika memang benar ada cinta diantara mereka berdua, kelak bahagia akan direngkuh selamanya. Tanpa sadar senyumku mengembang sempurna sampai mataku beradu dengan manik Asisten Yan yang juga sedang mengamati hal yang sama denganku.


"Sial! Kenapa aku tertangkap pandang olehnya. Bikin gugup saja. Mana tampilannya keren sekali, haish ...."


Pria itu tersenyum samar padaku, terus terang aku sangat menikmati moment ini. Seketika aku merasa berada di dunia yang menyenangkan, dia bisa membawaku lari dari perasaan tak berharga yang kadang muncul akibat penindasan di sekolah.


Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dan semua mata tertuju pada sepasang pengiring pengantin dalam posisi mesra di balik penutup tirai dekorasi yang terlepas.


"Astaga! Itu kan, Kak Ninda! Laki-laki itu siapa? Dia pengiring pengantin pria dan–" pekikku tertahan dan terpotong karena Ibu mencubit pahaku supaya tidak berisik, "mereka berciuman– di depan orang banyak," lanjutku dalam hati tercengang melihat kissing lip secara live.


Kepergok seluruh hadirin, mata Kak Ninda terbelalak begitu dalam kesadaran penuh. Beberapa orang ada yang berbisik-bisik sinis selain terkejut, namun lebih banyak yang menahan tawa termasuk Kakak Ipar. Berbeda dengan Asisten Yan, justru raut wajah marah yang nampak dalam ekspresinya.


Wajah gadis mungil itu memerah seperti kepiting rebus. Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan saat ini, sangat malu dan sangat marah pada lelaki yang tidak tahu malunya menggoda seorang gadis dan memanfaatkan kepolosan yang dimilikinya

__ADS_1


Kak Ninda langsung berlari meninggalkan tempat acara dengan tertunduk. Lelaki kurang ajar itu mengejar gadis yang baru saja dipermalukannya. Spontan Kak Litha mengangkat gaunnya ikut berlari, mengejar dan meneriakkan nama sahabatnya disusul Asisten Yan dengan wajah mengancam. Sungguh lucu mereka saling berkejaran seperti ini tapi juga menyakitkan berada di posisi Kak Ninda. Sebagai sesama wanita, aku berempati padanya dan ingin rasanya kuberikan tendangan tepat di mulut lelaki itu untuk mengajarkan bagaimana berperilaku sopan terhadap seorang wanita. Woman support woman.


- Bersambung -


__ADS_2