
Aku dan Kak Litha masuk menemui Nezar yang duduk termangu di kursi tunggu depan ruangan praktek dokter. Ku kira lukanya belum ditangani tapi nyatanya sudah.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah selesai?" tanyaku duduk di sampingnya, nampak kakakku juga mengkhawatirkannya
Dia mengangguk, "Sudah lebih baik."
"Syukurlah. Aku minta maaf atas perlakuan suamiku padamu," kata Kak Litha.
"Aku memang pantas mendapatkannya, Nyonya. Setidaknya aku sudah mendapatkan maaf dari Tuan Muda, kedepannya aku akan bersikap lebih baik," tanggap Nezar yang dibalas senyum istri Tuan Muda.
"Kenapa sendirian? Mana Asisten Yan?" tanyaku.
"Tuh," jawabnya dengan isyarat mata ke ruangan dokter, "Yang sakit aku tapi yang diperiksa dokter di dalam malah dia. Aneh kan? Padahal jelas-jelas tadi kudengar Tuan Pradipta menjamin aku mendapat perawatan terbaik. Apa penanganan medis terbaik di Rumah Sakit Pradipta itu dari suster? Kerjanya dokter apaan dong? Bercengkrama dengan pengantar pasien di dalam sana?" sindir Nezar.
Raut wajah Kak Litha bingung sedangkan hatiku bergemuruh.
"Dokter pria atau wanita?"
"Wanita, lagi ha–"
Tidak kuhiraukan kata selanjutnya setelah Nezar menjawab inti pertanyaanku– wanita. Bagaimana bisa Asisten Yan berbuat demikian? Ini keterlaluan! Siapa dokter wanita itu?
DUG. DUG. DUG.
Aku menggedor pintu ruangan dokter yang dimaksud. Tidak ada reaksi.
DUG. DUG. DUG.
Kak Litha mendekati untuk menyudahi gedoranku, "Nia, tidak sopan."
Kulihat wajah Kak Litha sekilas, dia hanya menegur sekedarnya, itu berarti ada celah untuk tidak kupatuhi. Sekali lagi aku menggedor lebih keras. Jika kali ini tidak dibuka jangan salahkan aku mendobrak pintu.
Ceklek.
"Apa tidak bisa me–" Kalimat Asisten Yan terhenti setelah melihatku, lebih-lebih matanya saat menangkap Nyonya Pradipta di sampingku dengan mimik penuh pertanyaan.
"Siapa pasien sebenarnya? Kenapa bisa kau di dalam sedangkan orang yang terluka di luar?" cecarku.
"..."
Suasana canggung. Tidak lama kemudian munculah seorang dokter yang wajahnya tidak asing, hanya sedikit berisi di bagian pipi dan– perutnya buncit. Aku dan Kak Litha tidak bisa menyembunyikan rasa kaget. Ternyata dokter yang dimaksud Nezar adalah Dokter Vivian. Seketika rongga dadaku terasa sesak.
"Kak Vivian?" Suara Kak Litha memecah keheningan.
Dokter itu memaksa bibirnya tersenyum dan mengangguk. Cih! Aku muak apalagi melihat tunanganku yang mati kutu bagai tertangkap basah mencuri, ya ... benar, mencuri kesempatan bercengkrama dengan wanita yang– masih dicintainya padahal jelas-jelas tengah hamil.
"Kak Vivian sedang mengandung? Wah, selamat ya," sahut Kak Litha setelah sempat melirikku sesaat barusan.
"I– iya, Nyonya."
"Jangan panggil Nyonya. Ini bukan dalam situasi resmi, panggil saja namaku seperti dulu, Litha. Berapa bulan?" tanya Kak Litha menyentuh perut buncitnya.
Dia menunduk, "Jalan enam."
"Kalau Kak Tisha tahu, pasti dia ikut bahagia. Doa kami menyertai kebahagiaan Kak Vivian dan Dokter Indra," kata Kak Litha menggenggam tangan Dokter itu, lalu tersenyum ke arahku dan Asisten Yan, "Doakan juga kebahagiaan untuk kami ya, termasuk Vania dan Asisten Yan yang belum lama ini bertunangan. Semoga bisa sampai pada sumpah setia pernikahan."
Airmuka Dokter itu seketika berubah, pupil matanya membesar menyiratkan rasa kaget yang luar biasa sedangkan Asisten Yan salah tingkah.
"Lha, kukira Dokter dan Asisten Yan di dalam ruangan saling mengobrol, apa status pertunangannya tidak dia bahas?"
"..."
Aku tahu semua rentetan basa-basi kakakku sengaja dilakukannya untuk memberikan sindiran tajam buat mereka berdua. Caranya membela adiknya sungguh elegan dan tidak terbaca, itulah kakakku.
Tidak ada satupun yang menanggapi celoteh maut Kak Litha, namun dengan santai dia melanjutkan serangannya, "Kurasa kalian cukup lama mengobrol berdua di dalam sampai Nezar selesai di tangani suster bahkan harus menunggu kalian mengobrol, padahal Tuan Muda sudah meminta perawatan terbaik untuknya. Aku jadi semakin merasa bersalah pada pemuda yang sudah menyelamatkan nyawaku."
"Maaf Nyonya, ini salahku. Aku yang mengajaknya untuk mengobrol," sahut Asisten Yan tiba-tiba dengan sikap siaga sembari menunduk.
"Apa! Dia membela dokter wanita itu! Oh My God! Abyan Pratama, akui saja kalau kau masih menyimpan perasaan padanya. Tapi buka matamu! Dia sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki anak. Shi*t!" umpatku kesal dalam hati, menahan setengah mati mulut ini untuk tidak 'menelanjangi' mereka berdua.
"Sudahlah. Aku hanya mengkhawatirkan Nezar karena aku berhutang nyawa padanya dan pasti juga tidak nyaman buat adikku melihat tunangannya berada dengan seorang wanita di dalam ruangan tertutup meski dia terlihat tidak peduli."
On point!
Kak Litha mengakhiri serangannya dengan lugas dan jelas.
"Apa kau butuh perawatan medis lagi, Nezar? Dokter Vivian akan menanganimu langsung sekarang," katanya menghadap kawanku.
Dia menggeleng, "Semua sudah ditangani sama suster, sudah diberikannya juga obat pereda nyeri. Suster bilang kalau dalam tiga hari belum membaik, sebaiknya aku kembali dan meminta dokter untuk langsung mengobatiku."
"Baiklah. Berarti kau boleh pulang, kan?"
Dia mengangguk.
Kak Litha kembali menghadap Dokter itu, "Kalau begitu kami juga akan pulang."
Aku, Kak Litha dan Nezar meninggalkan ruangan yang disusul tunanganku.
__ADS_1
.
.
.
"Aku ikut mobilmu ya, Nia," pinta Nezar saat kami tiba di parkiran.
Asisten Yan tidak suka mendengarnya, "Kau tadi datang kesini denganku jadi aku sendiri yang akan mengantarmu pulang. Tuan Muda sudah memerintahkannya padaku, jadi aku harus memastikan kau baik-baik sampai di rumah."
"Memastikan dia baik-baik?" sengitku langsung sedikit emosi, "Apa tadi kau sudah memastikan lukanya terobati dengan baik kalau dokternya saja berada di dalam ruangan bersamamu?"
"Kami hanya mengobrol biasa saja, ti–"
"Aku tidak peduli kau mengobrol dengan siapa atau apa yang kalian bicarakan, tapi bisakah kau letakkan profesionalisme-mu atas perintah Kakak Ipar?" tandasku memotong kalimatnya, "Ayo Zar, biar aku yang mengantarmu pulang setelah itu baru aku pulang bersama Kak Litha," lanjutku membuka pintu mobil untuk penumpang depan di samping pengemudi.
"Nia," kata kakakku lembut menyentuh pundakku, "Antarlah Nezar, aku akan pulang bersama Asisten Yan."
"Tapi–"
"Tidak ada tapi, lakukan saja."
Pada akhirnya Nezar berada di mobilku dan Kak Litha di mobil yang dikendarai asisten suaminya.
"Kau cemburu, Nia?" tanya Nezar setelah kulajukan mobil keluar area rumah sakit diikuti mobil Asisten Yan.
Kulirik sekilas mobil di belakangku dari spion samping kanan, "Tidak."
"Bohong. Kau cemburu, kan? Hatimu pasti sakit melihat mereka begitu."
"Jangan cerewet! Atau mau kutambahi memar di wajahmu?"
"Hiii! Kau menakutkan sekali, Nia. Sama saja dengan tunanganmu. Apa kalau kalian bertengkar kalian akan adu jotos?"
"Kau bisa diam tidak?"
Hening sejenak.
"Nia, aku tadi sudah mengatakan pada tunanganmu," sahutnya. Huft ... Lelaki ini memang banyak bacot.
"Aku katakan kalau aku menyukaimu," sambungnya lagi.
"Hah! Kau gila, Zar!" pekikku tertahan.
"Dia tidak melarangku untuk menyukaimu jadi aku katakan saja aku akan berjuang untuk mendapatkan hatimu."
"Aku menanyakan apa dia mencintaimu."
Deg.
Jantungku berdentum. Kulirik lagi mobil yang berada di belakangku. Garis wajahnya yang tersamar oleh riben kaca mobil semakin membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Cit.
Mendadak aku menginjak rem karena tidak memperhatikan ada lampu lalu lintas tengah berwarna merah. Tubuhku dan Nezar sedikit terdorong ke depan.
"Eh, Nia! Kau melamun rupanya!"
Aku malas menanggapi omongan kawanku ini. Kulanjutkan kembali menatap spion di sampingku, namun aku kesulitan menangkap sosok Si Pengemudi karena posisi mobilnya satu garis lurus di belakang mobilku. Setelah perempatan lampu lalu lintas ini kami akan berlawanan arah, aku ke kiri dan dia lurus ke depan. Aku tersenyum pahit menyadarinya, seakan ini menjadi pertanda semesta kalau kami memang tidak sejalan.
"Nia, lampu hijau!" teriakan Nezar mengagetkanku.
Spontan kuarahkan setir ke kiri sembari melihat ke arah jendela sebelah kanan. Mobil Asisten Yan dan Kak Litha melaju lurus, tapi sedetik kemudian mataku terbelalak. Mobil hitam yang kuduga mengikuti kami saat menuju rumah sakit dari kantor Kakak Ipar kini mengikuti mobil yang ditumpangi kakakku dengan mengatur jarak di belakangnya.
Kubelokkan arah dan menyusul mereka. Instingku mengatakan kalau mobil Alphard hitam ber-list kuning oranye seantero body mobil itu memiliki niat buruk terhadap kakakku.
"Nia, mau kemana?" tanya Nezar bingung.
"Aku akan mengantarmu pulang setelah aku memastikan kakakku tiba di rumah dengan selamat," jawabku dengan konsentrasi penuh mengejar mereka.
"Nyonya Pradipta kan sama Asisten Yan, apa yang perlu dikhawatirkan?"
"Jangan cerewet!"
"..."
"Maaf Zar, aku juga tidak tahu ada apa. Aku hanya ingin memastikan kakakku baik-baik saja. Aku trauma dengan peristiwa yang hampir merenggut nyawanya waktu lalu," bathinku.
Siapa pengendara mobil itu? Mengapa menargetkan Kak Litha? Dia tidak pernah menyinggung seseorang. Apa mungkin musuh suaminya atau– identitasnya sendiri sebagai anak putri mahkota dari sebuah kerajaan telah terendus?
...***...
PoV Abyan Pratama
Perasaanku campur aduk mendengar apa yang diceritakannya padaku. Posisinya sekarang pasti berat– akan memiliki anak dari suami yang hidupnya divonis tidak lama karena penyakit bawaan yang bermutasi di usia dewasa.
"Maaf, tidak seharusnya aku mengatakannya padamu tapi cerita ini begitu berat kutanggung sendiri."
__ADS_1
Aku refleks mengelus bahunya, sekedar menenangkan. Di ruangan praktek ini hanya ada kami berdua, karena itulah dia bisa mencurahkan semua keluh kesahnya.
"Dokter–"
"Panggil namaku saja, akupun juga akan memanggil namamu. Tidak keberatan, kan?"
"..."
"Andai saja kita bertemu lebih awal, tentu ceritanya tidak se-menyakitkan ini," ujar wanita pertama yang berhasil menerobos relung hatiku.
"Itu takdir, Dok– Vivian. Kita tidak bisa merubah takdir yang telah dilewati."
Dia menyeka ujung matanya. Mataku tertuju pada perut buncitnya, tersenyum getir menyadari bahwa anak itu akan menjadi anak yatim sebelum melihat ayahnya.
"Aku juga menyesali kenapa Indra tidak pernah menceritakan riwayat penyakitnya bahkan dia menolak keras keinginanku untuk menunda punya anak saat kami akan menikah. Apa dia sengaja ingin menjadikanku janda dan hidup dengan anak yang dia tinggalkan? Apa dia tidak memikirkan perasaanku fan anaknya nanti?"
Tangisnya pecah, aku bingung harus berbuat apa. Aku tidak pernah menghadapi situasi seperti ini sebelumnya. Apa yang harus dilakukan seorang pria jika berada di posisiku? Apa aku harus memeluknya? Tidak mungkin, dia istri orang.
"Tenanglah. Jangan berpikir terlalu jauh. Dampingi suamimu dalam pengobatannya. Perkembangan teknologi dan obat-obatan kini sudah sangat baik, siapa tahu ada upaya untuk melawan penyakitnya," kataku mengelus bahunya, hanya ini yang bisa kulakukan.
"Abyan, maukah kau menemaniku menghadapi kesulitan ini? Aku tidak punya seseorang yang memahamiku."
Glek.
"Mak– maksudnya?" tanyaku tergagap.
"A– aku hanya ingin kau menemaniku di saat aku membutuhkan bantuan orang lain. Tidak ada maksud lain."
"Bukannya ada keluargamu dan keluarga suamimu yang pasti akan membantumu?"
"Semua keluargaku di pulau SM. Disini hanya ada keluarga Indra, tapi beberapa bulan setelah aku menikah ibunya tidak menyukaiku. Dia menudingku tidak merawat anaknya dengan baik hingga penyakit bawaannya kambuh dan berubah ganas tidak terkendali."
Vivian kembali sesenggukan, akupun juga semakin bingung dengan situasi ini. Ku usap-usap kembali bahunya dengan perlahan.
"Dia sudah tidak bekerja karena kondisi kesehatannya yang semakin menurun. Dia pun stres dengan semua keadaan dirinya. Dia menjadi emosional dan bertemperamen kasar, padahal aku hamil anaknya– sesuai keinginannya."
"Bersabarlah, mungkin ini ujian dalam rumah tanggamu," kataku menasehatinya.
DUG. DUG. DUG.
Pintu ruangan digedor dengan keras.
"Jangan menjadi penggedor pintu seperti itu yang tidak sabaran, " kataku berseloroh melucu, menghiburnya
Vivian terkekeh menampakkan manisnya lesung pipi ciptaan Tuhan.
DUG. DUG. DUG.
Gedoran kali ini lebih keras dari sebelumnya, aku sedikit kesal dengan Si Penggedor. Nezar kah? Berani sekali dia melakukannya.
"Apa tidak bisa me–" Kalimatku terhenti setelah membuka pintu. Ada Vania yang mendengus kesal dan Nyonya Pradipta yang kebingungan.
"Siapa pasien sebenarnya? Kenapa bisa kau di dalam sedangkan orang yang terluka di luar?" cecar Vania tanpa permisi.
"..."
Suasana canggung namun terdengar derap langkah yang semakin jelas di belakangku.
"Kak Vivian?" Suara Nyonya Pradipta memecah keheningan.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, serba salah, yang jelas aku tidak ingin Nyonya Pradipta dan tunanganku salah paham.
"Kak Vivian sedang mengandung? Wah, selamat ya," sahutnya lagi setelah melirik Vania yang nampak kesal.
"I– iya, Nyonya," jawab Vivian ragu.
"Jangan panggil Nyonya. Ini bukan dalam situasi resmi, panggil saja namaku seperti dulu, Litha. Berapa bulan?" tanya calon kakak iparku menyentuh perut buncitnya.
"Jalan enam," jawabnya tertunduk.
"Kalau Kak Tisha tahu, pasti dia ikut bahagia. Doa kami menyertai kebahagiaan Kak Vivian dan Dokter Indra," kata Nyonya Pradipta menggenggam tangan Vivian lalu tersenyum dengan menoleh ke arahku dan adiknya, "Doakan juga kebahagiaan untuk kami ya termasuk Vania dan Asisten Yan yang belum lama ini bertunangan. Semoga bisa sampai pada sumpah setia pernikahan."
Airmuka Vivian penuh keterkejutan luar biasa. Aku tidak memberitahu sebelumnya kalau aku dan Vania telah bertunangan.
"Lha, kukira Dokter dan Asisten Yan di dalam ruangan saling mengobrol, apa status pertunangannya tidak dia bahas?"
"..."
Shi*t!
Aku tahu ini hanya cara untuk menyindir kami yang berada di ruangan praktek Vivian. Nyonya Pradipta adalah seseorang yang memiliki caranya sendiri untuk mengeksekusi sesuatu dengan elegan. Itulah yang membuat sahabatku cinta mati pada istrinya.
"Kurasa kalian cukup lama mengobrol berdua di dalam sampai Nezar selesai di tangani suster bahkan harus menunggu kalian mengobrol, padahal Tuan Muda sudah meminta perawatan terbaik untuknya. Aku jadi semakin merasa bersalah pada pemuda yang sudah menyelamatkan nyawaku."
"Maaf Nyonya, ini salahku. Aku yang mengajaknya untuk mengobrol," sahutku cepat sebelum dia menyindir kami lebih jauh dan membuat tunanganku semakin kesal.
Aku yakin Vania mengumpatku dalam hatinya, dia hanya menahan diri untuk tidak melontarkan kalimat tajamnya. Jika tunanganku dijuluki Tawon oleh Rayyendra, maka benar yang dikatakan Vania kalau kakak perempuannya ini adalah Ratu Tawon. Kau tidak akan bisa berkutik apabila disengat olehnya.
__ADS_1
- Bersambung -