Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Mengendalikan Diri


__ADS_3

Seakan ingin melakukan teleportasi ke hadapan kakak iparku, tapi aku bukan Nobita yang bisa meminta bantuan Doraemon dengan Pintu Kemana Saja-nya. Beberapa foto Kakak Ipar berpelukan mesra dengan mantan kekasihnya yang ditunjukkan Riri barusan membuat darahku mendidih. Betapa teganya Kakak Ipar berbuat seperti itu di saat istrinya sedang mengandung darah dagingnya. Bagaimana perasaan Kak Litha saat dia melihat foto-foto tersebut? Pasti hatinya remuk redam.


"Kakak Ipar bodoh! Tolol! Gagal Move on! Tidak berperasaan! Bagaimana bisa dia sampai hati melakukannya? Mau menyakiti Kak Litha lagi, hah! Apa dia lupa kejadian beberapa bulan sebelumnya? Minta dihajar itu orang! Dasar breng*sek!"


Makian demi makian aku lontarkan dalam hati dengan tangan mengepal dan langkah cepat menuju ruang kepala sekolah, meminta ijin untuk memakai pesawat telepon di ruangannya.


Kutekan nomor Kakak Ipar dan siap-siap menyemprotnya begitu nada panggil tersambung.


"Ha–" sapa suara di seberang telepon.


"Kakak Ipar, apa benar foto-foto itu, ha?"


"Heh, Nia. Sopan sedikit sama Kakak Iparmu! Ini nomor siapa?"


"Ini nomor sekolahku. Aku meminta ijin menelepon Kakak Ipar untuk menanyakan kebenaran foto itu. Apa benar?"


"Emm ... Ya."


"Wah ... Kakak Ipar cari mati rupanya, aku akan izin pada wali kelas untuk ke Ibukota menghajar Kakak Ipar."


"Hah. Kau tidak akan diizinkan tanpa alasan jelas?" cibirannya jelas terdengar di telingaku.


"Kakakku sakit dan dia perlu aku di sana."


"Heh, jangan mengada-ada, Litha tidak sakit."


"Secara fisik memang tidak. Tapi hati jelas berdarah-darah, dan kutebak Kakak Ipar belum membalut luka hati Kak Litha, kan?"


"Sialan! Jaga ucapanmu, Nia!"


Suara Kakak Ipar meninggi, tapi aku tidak peduli, tentu saja aku tim pembela kakak perempuanku disini, terlebih dia pihak yang sangat dirugikan. Aku akan maju di garis terdepan menghadang siapapun yang akan menyakitinya hingga tetes darah terakhir.


"Kakak Ipar yang harusnya menjaga sikap! Sekali lagi Kak Litha pergi dari rumah Kakak Ipar, aku pastikan Kakak Ipar tidak akan pernah bertemu lagi dengan Kak Litha," lantangku menantang ego seorang Tuan Muda.


"Cih, dikiranya aku takut apa! Dimana harus kuletakkan rasa takutku kalau kita masih sama-sama memiliki warna darah yang sama," bathinku semakin mengeraskan hati.


"KAU!"


"Apa cinta Kak Litha kurang besar? Apa dia tidak cukup baik melayani Kakak Ipar sebagai suami? Kenapa Kakak Ipar menyakiti hatinya?"


Saking kerasnya hatiku sampai tidak bisa kukontrol suaraku yang bergetar meski sudah memelankan intonasinya.


"Nia, Ini tidak seperti yang kau kira. Aku mencintai kakakmu dengan seluruh hidupku," Suara Kakak Ipar mulai melunak.


"Lantas kenapa Kakak Ipar memeluk mantan pacar Kakak Ipar?" tanyaku menahan airmata yang sedikit lagi jatuh.


Hatiku ikut perih dan menolak mendengar jawaban Kakak Ipar. Mantan itu seharusnya bukan dipeluk tapi dibuang pada tempatnya. Haishh ... Aku kesal sekali dengan situasi ini. Apa Kakak Ipar masih memiliki cinta pada mantannya? Kalau iya, siap-siap saja kau akan kehilangan istri dan anakmu, wahai Tuan Muda!


"Agar dia bisa melepasku– agar dia berhenti berharap padaku, Nia. Aku melakukannya justru supaya dia tidak mengganggu rumah tangga kami."


"Hah! Apa aku tidak salah dengar? Apa Tuan Muda Pradipta yang terkenal sangat kompeten di dunia bisnis sesungguhnya adalah bocah polos dalam dunia percintaan?"


"Kata siapa memeluk bisa melepas perasaan?"


"Ramona yang memintanya."


"WHAT! Are you serious?– Damn it!"


Pppfffttt ...

__ADS_1


"Kakak Ipar bodoh!"


Sengaja aku mengumpat keras ditelepon sambil menahan tawa sekuat mungkin. Airmataku yang tadi hendak jatuh karena sakit hati sekarang keluar menjadi airmata konyol menertawai tingkah ayah calon keponakanku. Astagaaa ....


"Kau bilang aku bodoh, ha!?!"


"Iya. Kakak Ipar memang bodoh! Memeluk untuk melepaskan, rumus dari mana itu? Yang ada akan semakin sulit lepas."


Aku memijat pangkal hidungku sambil menghela nafas beberapa kali. "Aku mengenal Kak Litha dengan baik. Dia pasti menangis di suatu tempat, dia tidak akan menunjukkan kesedihannya di depan orang yang membuatnya sedih. Makanya aku mau ijin ke Ibukota, jemput aku Kakak Ipar!" seruku gemas.


"Apa! Setelah kau mengataiku bodoh, kau suruh aku menjemputmu, dasar Ipar aneh! Tapi– apa benar yang kau katakan?– Sepertinya Litha baik-baik saja, dia masih bisa makan banyak tadi."


"Aku satu kamar dengannya sejak pisah tidur dari kamar Ayah dan Ibu. Aku sering memergokinya menangis di kamar kalau dimarahi Ayah atau Ibu, atau sesuatu terjadi di sekolah. Dia sangat pandai memanipulasi perasaannya."


Agak lama keheningan tercipta di telepon Tidak ada suara Kakak Ipar membalas ucapanku, entah apa yang dipikirkannya saat ini. Menyesal, kan? Pastilah. Hanya orang-orang bodoh yang menyesal karena mereka tidak bisa memperhitungkan akibat dari apa yang mereka perbuat saat itu.


"Ya sudah lah kalau Kakak Ipar tidak mau menjemputku. Selesaikan sendiri, bujuk dan dapatkan maaf darinya, karena kalau Kak Litha sampai naik kereta sendirian pulang ke Kota A, aku yang Kakak Ipar hadapi. Daahh."


Tit.


Tanpa permisi aku langsung menutup telepon. Biar saja aku dianggap tidak sopan, bukan-kah sama tidak sopannya dengan seseorang yang mendiamkan lawan bicaranya saat di telepon.


Hahahaha ... akhirnya kuledakkan juga tawa yang dari tadi kutahan. Amarahku berubah menjadi kasihan pada Kakak Ipar karena dia mau saja dibodoh-bodohi Si Mantan.


"Lihat akibatnya sekarang? Reputasi cemerlang Tuan Muda Pradipta yang dibangun susah payah porak-poranda dalam semalam. Setimpal kah dengan pengakuannya 'melepaskan perasaan'? Bullshi*t! Kalau mau lepas ya, lepas saja. Tidak ada urusannya dengan pelukan terakhir. Apa wanita itu tidak bisa mengendalikan diri? Hah, Dasar Ja*lang!" ujarku mengumpat sambil berlalu.


Kalau saja mendiang ayah ibuku masih hidup, sudah pasti aku dihukum karena berkata kasar dan memaki, tapi aku hanya manusia biasa yang punya emosi. Apa Ayah dan Ibu tidak tahu itu sangat melegakan hati yang berkecamuk, hehehe ... Maafkan anakmu ini, Ayah, Ibu ....


...***...


Sore hari setelah berlatih taekwondo, Sabeum Dre memberiku sebuah surat yang dititipkan Paman dan Bibi melalui Kepala Sekolah.


"Dari Paman dan Bibiku?" tanyaku saat surat itu berada dalam genggaman.


"Oh. Kubaca saja sekarang kalau begitu," kataku sambil membolak-balikkan surat.


"Baiklah, tapi tadi Kepala Sekolah juga berpesan agar aku membantunya mengecek desain pakaian seragam olahraga untuk siswi baru setelah latihan, karena kau masih ingin disini, jangan lupa untuk merapikan Dojang dan tutup pintunya saat kau sudah selesai, oke?"


"Siap, Sabeum!"


Seiring Sabeum Dre melangkahkan kakinya keluar Dojang, aku ke sudut ruangan untuk membaca surat dari Paman dan Bibi.


"Tumben sekali Paman dan Bibi ingin menyampaikan sesuatu melalui tulisan, apa ini sangat spesial? Aih ... Paman dan Bibi aku jadi terharu kalau kalian romantis begini padaku, hehehe ...." gumamku membuka lipatan kertas.


Nia kami tersayang ...


Maafkan kami harus menyampaikannya melalui tulisan karena kami tidak sanggup menyampaikannya langsung, terlebih dengan otak pintarmu itu akan memberi kami berbagai macam pertanyaan yang tidak bisa dijawab sekarang.


Paman dan Bibi ingin berpamitan pergi ke suatu tempat. Tempatnya belum bisa kami beritahukan dan juga berapa lama waktunya, tunggu saja kabar dari kami ya, Nia.


Oh ya, satu hal terakhir yang kami minta darimu, bantu jawab dengan jawaban terbaik kalau kakakmu bertanya tentang kami, apapun itu yang penting tidak membuatnya berpikiran yang aneh-aneh.


Sekali lagi kami minta maaf, Nia, harus melibatkanmu pada posisi tidak menyenangkan. Kau tahu kenapa? Karena saat ini kau-lah yang paling kuat hatinya untuk melindungi kedua kakakmu. Bahkan sebelumnya kami tidak percaya kau melalui ketidakadilan sendiri di sekolah dalam waktu yang lama. Kau sangat kuat, Sayangku ....


Paman dan Bibi minta maaf kalau nanti kami tidak bisa mendampingi hari kelulusanmu, juga sampaikan maaf kami pada kakakmu kalau tidak bisa datang melihat cucu pertama kami. Bukannya tidak ingin, tapi kami terpaksa melakukannya. Jangan tanyakan terpaksa kenapa ya, Nia, karena itu keterpaksaan bagi kami yang tidak bisa kami ceritakan.


Kau pasti marah dan bingung. Paman dan Bibi juga sangat sedih saat menulis ini, lihat saja ada tinta yang berpendar terkena airmata Bibi. Kalau kau ingin marah, marahlah pada kami, jangan marah dengan keadaan. Keadaan ini sudah memiliki ketetapan-Nya, tidak patut kita menolaknya walaupun dengan sedikit keluhan.


Percayalah, Paman dan Bibi selalu menyebutkan nama kalian sebelum nama kami sendiri dalam doa yang kami panjatkan pada Tuhan.

__ADS_1


Kami menyayangi kalian, sangat-sangat menyayangi kalian. Semoga kalian semua hidup dengan bahagia dan penuh keberuntungan ...


Mataku nanar menatap tangan yang gemetar menggenggam kertas surat. Rahangku mengetat menahan emosi yang membuncah. Entah emosi apa ini? Marah, kecewa dan sedih melebur menjadi satu mengalirkan deras air dari mataku. Perasaan ini hancur lebur tak berbentuk. Kuremas kuat-kuat kertas surat itu, lalu membuangnya ke lantai.


Bagaimana bisa aku kehilangan orangtua untuk kedua kalinya? Bagaimana bisa aku menjadi yatim piatu untuk kedua kalinya? Bahkan mereka lebih jahat– karena dengan sengaja meninggalkan aku di akhir perjuangan di sekolah yang lebih banyak memberiku penderitaan.


"KENAPA! Kenapa Paman dan Bibi meninggalkanku?"


Tangisku meledak, lagi-lagi tanpa suara– hanya airmata yang mengalir deras hingga aku kesulitan bernafas. Aku benar-benar jatuh ke dalam ruang hampa, melayang tanpa dasar dan tujuan.


"APA KALIAN BERSEMBUNYI KARENA KERAJAAN SIALAN ITU, HAAA! KERAJAAN BANG*SAT!!! KERAJAAN LAK*NAT!!! AAARRRGGGHHHH ...."


Aku bangkit dan menyasar sansak. Semua ini gara-gara takdir kami terikat pada kerajaan, tempat asal muasal ibuku. Paman dan Bibi pasti menjauhkan diri dari kami -anak-anak Tuanku Putri Mahkota- demi menyelamatkan kehidupan kami dari saudara tiri Ibu yang serakah.


DUGH. DUGH. DUGH. DUGH.


Kutinju dan kutendang berkali-kali dengan mengerahkan seluruh tenaga, melampiaskan amarahku yang terlanjur membara. Sakitpun tidak lagi dirasa, hanya kebencian yang bercokol di hati, kebencian terhadap diri sendiri. Mengapa setengah darahku berasal dari kerajaan antah berantah dengan kutukan tidak masuk akal. Aaarrggghhhh ....


DUGH. DUGH. DUGH.


Dengan airmata berderai, kaki dan tanganku tidak henti-hentinya menyasar alat olahraga itu. Tidak peduli seberapa sakitnya, yang jelas hatiku lebih sakit. Aku akan berhenti setelah sakit hati ini menghilang.


DUGH. DUGH. DUGH.


"VANIA! BERHENTI!"


Spontan tubuhku merespon untuk berhenti mendengar teriakan Sabeum Dre. Aku menoleh ke arahnya, membiarkan wajahku yang kacau terlihat olehnya.


Tatapan tidak lepas dari pandanganku, dia berjalan mendekat, "Hentikan menyiksa diri, Vania. Apapun masalahnya, kendalikan dirimu."


Setelah aku memasang sikap berdiri sempurna, baru kurasakan sakit di sekujur tubuh, benar kata Sabeum Dre, aku menyiksa diri sendiri. Tanpa diminta airmataku luruh kembali.


"Aku kembali kesini karena melihat pintu terbuka. Maaf kalau kau butuh ruang sendiri, Vania."


Aku menggeleng, sorot matanya menampilkan rasa iba padaku, "Selama aku mengajar delapan tahun di sekolah ini, kau-lah siswi paling kuat yang pernah aku temui. Aku percaya kali ini kau juga bisa melaluinya."


Airmataku mulai mereda, "Aku tidak mau menjadi kuat, aku tidak mau punya masalah– aku lelah, aku ingin istirahat dengan damai," lirihku pelan.


"Hah? Kau ingin beritirahat dengan damai. Mau mati? Rest In Peace, beristirahatlah dengan damai ...."


Tik tok– tik tok– tik tok–


Hahahahahahahahah ....


Kami bersamaan tergelak nyaring setelah menyadari arti kalimatku sendiri. Astaga ... aku malu sekali.


"Idolamu dalam seni bela diri masih Bruce Lee, kan?" tanyanya setelah tawa kami mereda, kujawab dengan anggukan.


"Dia mengatakan, jangan biarkan pikiran negatif memasuki pikiranmu karena itu adalah rumput liar yang mencekik kepercayaan diri. Salah satu caranya adalah dengan mengendalikan diri– dan untuk mengendalikan diri, pertama-tama kau harus menerima diri sendiri dengan mengikuti dan tidak melawan sifatmu."


Aku diam sejenak untuk mencerna kata-katanya, apakah ini relate dengan keadaanku sekarang? Huffttt ... entahlah, tapi setidaknya aku tidak sesedih sebelumnya. Aku harus belajar menerima tanpa menyalahkan siapapun termasuk diri sendiri. Sulit memang tapi bukan berarti tidak bisa.


Kuraih surat Paman dan Bibi yang terkepal, kubuka kembali dengan mengurai kusutnya bekas kepalan. Bagaimanapun, surat ini adalah peninggalan terakhir mereka buatku dan akan menjadi pengobat rindu jika ingin bertemu dengan mereka, Bibi yang galak dan Paman yang lucu.


"Bertahanlah Paman dan Bibi, tetaplah hidup sampai kita bertemu lagi. Aku juga akan selalu menyebut nama kalian dalam doaku sebelum aku menyebut namaku sendiri. Aku sangat menyayangi kalian."


Airmataku menetes kembali namun segera kuhapus, "Terimakasih Sabeum," ucapku menunduk memberi hormat, "Aku mohon cerita hari ini hanya bergema di Dojang ini saja, Sabeum."


"Tentu saja. Ceritamu tidak akan pernah keluar dari pintu itu," tunjuknya pada pintu ruangan.

__ADS_1


Sabeum Dre adalah salah satu guru yang aku respek setelah wali kelasku -Bu Burne-. Mereka berdua saksi hidup bagaimana diriku berkembang selama tiga tahun di sekolah ini dan ikut membentuk diriku yang sekarang, kuat dan tahan banting.


- Bersambung -


__ADS_2