Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Jangan Pergi Lagi!


__ADS_3

"Ray, aku ijin mengantar jemput Vania ke kampus. Meski sudah sembuh, tangannya belum terlalu baik dipakai menyetir," pinta Asisten Yan saat sarapan.


Semua mata penikmat makan pagi saling melihat satu sama lain.


"Tidak perlu. Aku pergi diantar Pak Wisnu saja dan pulangnya diantar Nezar," tolakku datar.


"Ternyata kau lebih bergantung pada laki-laki lain ketimbang tunanganmu sendiri," ketusnya.


Aku hanya berdecak cuek, malas meladeni. Masih teringat kejadian malam minggu lalu. Wanita memang mudah memaafkan tapi sulit melupakan, termasuk aku.


"Ray, aku cuti hari ini. Aku mau antar jemput adikmu."


Eh.


"Tidak bisa. Aku yang mau cuti hari ini. Mau temani Litha ke dokter, mau memastikan dia hamil atau tidak."


Aku tak enak hati sama Kak Litha. Dia semakin merajuk setelah mendengar Bibi Lidya memanggilku, Nia-ku sedangkan dia masih tetap disebut Nyonya. Apalagi saat aku menyerukan panggilan Ibu untuk ibu tunanganku di depannya. Kak Litha langsung menangis dan mengadu pada suaminya– tidak terima alasanku memanggilnya seperti itu karena Bibi Lidya adalah calon ibu mertuaku. Melihat kesempatan, Kakak Ipar membujuk istrinya supaya mengetes urine menggunakan testpack yang kubeli. Tetapi, karena dia marah padaku, testpack tersebut malah dibuang dan merasa lebih baik minta ditemani ke Dokter Lena saja keesokan harinya.


"Kak Litha masih marah, Kak?" tanyaku melihat kursinya di meja makan saat sarapan tidak ditempati


"Sedikit, tapi aku senang– dia marah padamu jadi dia manja padaku, hehehe ...."


"Haissshh ...."


Kakak Ipar pandai sekali mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Yan, semua urusan kantor kuserahkan semua padamu hari ini," titah Kakak Ipar.


"Ck." Asisten Yan berdecak kesal, "Tapi aku tetap yang menjemput pulangmu, perginya diantar Pak Wisnu," katanya padaku.


"Eh, kenapa main perintah-perintah saja. Aku tidak mau."


"Harus mau!"


"Apaan! Tidak mau!"


"Aarrggghhh ... Berisik!" Kakak Ipar mengepalkan tangan dan memukul meja.


"Nia-ku pulang jam berapa?" tanya Bibi Lidya menenangkan suasana.


"Sekitar jam 3, Bu. Kenapa?"


"Kalau Tuan dan Nyonya sudah pulang dari rumah sakit, nanti Ibu yang menjemputmu ya sama Abyan. Ibu mau mengajakmu ke tempat yang kemaren Ibu tunjuk."


"Oh, rumah makan nasi soto yang kemaren ya?


"Iya, dari tampilan rumah makannya sepertinya enak."


"Oke deh, Ibu jemput ya, tapi– kenapa mesti sama dia," tunjukku dengan mengerlingkan mata ke tunanganku.


"Ibu kan, tidak bisa menyetir."

__ADS_1


"Eh iya, ya, hehehe ...."


Sekilas nampak Asisten Yan memberi kode mengangkat jempol pada ibunya. Senang sekali dia, Ibu memihaknya kali ini.


.


.


.


"Aku temani ya, sampai jemputanmu datang," kata Nezar saat aku menolak tawarannya mengantarku pulang.


Aku mengangguk, masa aku tolak juga tawarannya menungguik. Sampai mobil Asisten Yan menghampiriku, Bibi Lidya langsung keluar begitu mobil berhenti.


"Nia-ku, Ibu tadi membelikanmu ini," sambutnya antusias dengan menyodorkan segelas perasan jeruk baby.


"Makasih, Bu. Pas lagi haus nih,"


"Minumlah sekarang, asli 100% tanpa gula."


Aku menyeruput minuman itu dengan nikmatnya, membiarkan raut kesalnya tunanganku melihat siapa yang berdiri di belakangku. Sejak kemarin Bibi Lidya lebih perhatian padaku dari sebelumnya, wajar jika Kak Litha iri.


"Oh iya, Bu. Ini Nezar, dia menemaniku menunggu Ibu menjemputku."


"Oh."


"Nia, bukannya ibumu sudah–" bisik Nezar.


Jawabanku mematikan rasa ingin tahunya seketika. Tapi meski begitu, dia tetap berlaku sopan, "Kenalkan, saya Nezar, Bu– teman kuliah Vania"


"Sudah tahu," celetuk dengan nada yang tak bersahabat.


"Ya, Nia-ku sudah pernah bercerita tentangmu. Minta tolong jagain Nia-ku di kampus ya, biar tidak ada yang mendekati, soalnya dia sudah punya calon suami," sahut Bibi yang disambut dengan senyum kemenangan putranya.


"Iya Bu, tenang saja. Vania saya jagain di kampus," balas Nezar melirik ke tunanganku, senyumnya terpaksa.


"Sudah ya, Zar. Aku pulang dulu, jangan lupa email aku kalau progres project kita sudah 75%," pamitku seraya membuka pintu mobil.


"Sip," kata Nezar mengangkat jempolnya, "Kuusahakan sebelum jam sembilan aku sudah mengirimkannya supaya kau bisa tidur lebih awal karena besok Pak Ginanjar tidak menoleransi mahasiswa yang terlambat," sambungnya.


"Cih." Muka Asisten Yan menekuk dan berseru, "Kali ini aku bukan sopir. Kau duduk di depan, Nia!" perintah Asisten Yan galak menyuruhku duduk di sampingnya. Meski enggan, kuturuti saja maunya.


Mobil pun melaju keluar lingkungan kampus, Bibi memulai obrolan, "Nia, temanmu itu sangat perhatian padamu. Apa hubungan kalian dekat?"


"Ya. Kami lumayan dekat dan dia selalu menuruti apapun permintaanku," jawabku santai.


"Jangan-jangan dia menyukaimu?" tanya Bibi Lidya lagi.


"Iya, dia pernah terpaksa mengatakannya padaku dan menyesal kenapa tidak berada dalam posisi mapan saat bertemu denganku sehingga harus sungkan mengakuinya."


Aku tidak mau melihat ekspresi tunanganku di samping, aku sudah bisa memperkirakan bentuk mukanya.

__ADS_1


"Apa kau juga menyukainya?" tanya Bibi Lidya.


"Tidak. Aku hanya menganggap dia teman, tidak lebih– dia tahu itu dan dia juga tahu diri. Tidak memaksaku untuk membalas perasaannya."


"Huh. Omong kosong! Jelas-jelas dia siap berkompetisi denganku untuk merebutmu, kau bilang dia tahu diri? Pencitraan!" umpat Asisten Yan emosi.


Aku bingung mau menanggapi bagaimana pria yang sepertinya tengah dilahap api cemburu.


"Justru Ibu mengkhawatirkanmu, Yan. Selagi kau tidak mengecewakan Nia-ku, Ibu rasa akan baik-baik saja– akan tetapi kalau kau mengabaikannya bahkan sampai membuatnya sakit hati, maka rivalmu siap merebut hati tunanganmu. Jadi, semuanya tergantung dirimu, Nak."


"Dengerin tuh orangtua ngomong!"


"Heh. Apa kau bisa jamin kalau kau tidak akan luluh jika diberi perhatian terus menerus?" ejeknya meragukanku.


"Aku jamin. Aku tahu batas dimana aku bisa menerima perhatian dari pria lain sehingga aku tidak akan terbawa perasaan," kataku percaya diri.


"Abyan, sebaiknya kau memberikan perhatianmu sebelum dia menerima perhatian dari pria lain," nasehat ibunya datar namun memiliki ketegasan dalam nada bicaranya.


Tunanganku hanya diam saja melajukan mobilnya, aku pun juga begitu, entah mengapa aku tidak ingin berkata apapun saat ini.


Tiba-tiba mobil berhenti, "Kenapa?"


"Mau beli es krim," sahut Asisten Yan melepas sabuk pengamannya.


Hah.


"Tunggu sebentar ya," ujarnya membuka mobil yang masih menyisakan kebingungan.


"Bu, dia kenapa?" tanyaku setelah tunanganku menghilang dari pandangan, masuk ke dalam kedai es krim yang penuh dengan antrian anak-anak dan remaja.


"Entahlah. Ibu juga bingung dia membiarkan kita menunggunya. Apa dia tidak lihat sepanjang apa antriannya? Bukankah dia harus segera balik ke kantor karena Tuan Muda cuti?"


"Eh, iya ya. Apa tidak bisa ditunda makan es krimnya? Tapi– sudah ada kabar pemeriksaan Kak Litha, Bu?" tanyaku antusias.


"Tuan dan Nyonya sudah pulang, wajah mereka biasa saja. Ibu tanya, mereka hanya tersenyum tanpa ekspresi apapun."


"Eh, kenapa begitu? Ke–"


Kalimatku terhenti melihat sosok yang tengah menyebrang jalan dengan langkah cepat. Pakaiannya tertutup, memakai kerudung dan masker, tapi aku bisa pastikan gaya jalan itu milik Bibi Rima.


Jantungku berdentum tidak karuan, refleks kubuka sabuk pengaman dan pintu mobil dengan tergesa-gesa. Saking tergesa-gesanya pintu mobil yang terbuka tidak lagi aku tutup dan teriakan panik Bibi Lidya tidak aku hiraukan.


Aku tidak bisa kehilangannya!


Aku mengejar menyebrang jalan dengan langkah lebih cepat darinya. Airmataku sudah berada di kantong mata.


Bibi ....


Bibi ... Jangan pergi lagi!


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2