Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Ada Apa Ini?


__ADS_3

Dua hari tinggal di rumah Kakak Ipar, secara otomatis aku menjadi seorang yang disapa dengan sebutan Nona. Ternyata menjadi Nona keluarga kaya sangat menyenangkan, semua kebutuhan disediakan tanpa batas dari yang primer hingga sekunder. Selama dua hari ini juga aku menjelajahi dan mengagumi setiap sudut rumah dan sekitarnya, bertanya banyak hal pada Pak Is dan bercengkrama dengan mantan teman seprofesi Paman Tino di rumah pelayan yang berada di belakang rumah utama. Hmm ... aku membayangkan bagaimana eksklusifnya hidup keponakanku kelak.


"Pak Is, apa setiap hari rumah utama sepi begini?" tanyaku menyela pekerjaannya yang tengah mengatur menu dan segala sesuatunya di meja dapur.


Dia terkekeh, "Rumah ini sudah ramai sejak kedatangan Nyonya Muda."


"Hah! Berarti sebelum ada Kak Litha rumah ini seperti kuburan dong!"


Ups, aku keceplosan asal bicara, kututup mulut dengan kedua tangan. Tapi Kepala Pelayan itu malah terbahak, "Bisa jadi. Dahulu Nyonya pun sedikit takut dengan rumah ini. Katanya rumah ini besar, kamarnya banyak tapi penghuninya hanya sedikit, Nyonya takut hantu yang akan mendiami kamar-kamar itu, hehehe ..."


Aku ikut terbahak mendengar penuturannya, "Menurut Pak Is, apa yang membuatku kakakku diwasiatkan Nyonya Besar untuk menikahi cucunya? Padahal setahuku dari berita, Tuan Muda Pradipta sudah memiliki kekasih yang sangat serasi."


"Entahlah, apapun itu Nyonya adalah pribadi yang baik dan pantas mendapatkan perhatian dari mendiang Nyonya Besar."


Aku mengangguk, "Ya, tentu saja. Kakakku itu luar biasa, aku pun sangat menyayanginya."


"Kami semua disini juga menyayangi Nyonya," selorohnya menatapku tersenyum, ada ketulusan terpancar di mata lelaki paruh baya itu


"Hemm ... Kalau Asisten Yan-- menurut Pak Is orangnya bagaimana?" tanyaku dengan nada suara makin mengecil di akhir kalimat.


"Tuan Muda mempunyai dua orang sahabat, Tuan Bona dan Asisten Yan, saya pribadi menyebutnya Abyan. Tapi diantara keduanya Abyan-lah yang paling dekat karena dia yang mengurusi segala keperluan Tuan Muda."


"Apa-- apa dia punya kekasih?" tanyaku ragu.


"Tidak. Dia tidak pernah punya kekasih sampai saat ini."


"Apa dia normal?"


Hahahaha ....


Pak Is kembali terbahak mendengarnya, "Tentu saja. Abyan terlahir sebagai pria normal, kesibukan Tuan Muda yang membuatnya jadi tidak normal, hahahahaha ... Saking tidak normalnya membuat Nyonya menjadi merasa bersalah karena menyita hampir semua waktu Abyan mengurusi Tuan Muda. Saat ini Nyonya sibuk mencarikan wanita untuk Abyan, hehehehe ...."


Ingatanku kembali saat kemarin Kak Litha mengatakan Asisten Yan akan segera memliki wanitanya, aihh ... tiba-tiba ingatan ini merusak mood-ku.


"Pak Is, aku ke rumah pelayan di belakang ya, mau lihat tempat Paman Tino bekerja dulu," sahutku kemudian yang diangguki Pak Is.


.


.


.


"Apa ini? Siapa yang berjualan kelapa muda disini?" tanyaku dengan mata terbeliak melihat tumpukan gunung buah kelapa muda di samping rumah pelayan.


"Ini persediaan untuk diminum kakakmu, Nia," jawab Paman Tino yang tengah melepas rindu dengan teman-temannya.


"Hah! Sebanyak ini?"

__ADS_1


"Kami menggemuk selama ada Nyonya di rumah ini. Nyonya sangat suka makan dan membelinya dalam jumlah banyak yang cukup dibagikan buat kami semua. Termasuk kelapa muda ini, alih-alih buat Nyonya minum sendiri, Pak Is memesan satu truk buat siapa saja yang juga ingin meminumnya," jawab seorang wanita seumuran kurang lebih Bibi Rima. Namanya Bik Tati, pelayan yang sudah lama bekerja sejak Tuan Muda kecil, kepanjangan tangan dan mata Pak Is di rumah pelayan.


"Orang kaya memang beda. Biasanya beli segelas, ini se-truk, ckckck ...." celetukku diiringi gelak tawa para pelayan.


"Nyonya memang berhati baik. Beliau juga suka membagikan uang dengan alasan Tuan Muda akan memarahi Nyonya kalau uang tunai yang diberikan Tuan Muda tidak habis. Makanya waktu Nyonya pergi dari rumah ini, kami sangat sedih dan selalu berdoa agar Nyonya kembali," kata Bik Tati tersenyum, "Syukurlah sekarang Nyonya sudah kembali, bahkan dengan membawa kabar baik, Nyonya Muda hamil. Sekarang kami sangat bahagia," lanjutnya lagi.


"Sebegitu baik kah kakakku di mata mereka? Kak Litha bukanlah seorang Nyonya yang angkuh dengan statusnya," bathinku menatap sebuah lahan yang tidak begitu jauh dari rumah pelayan.


Lahan itu ditata apik dengan berbagai tanaman, di dekatnya ada kolam yang disertai beberapa hewan ternak yang juga dipelihara dengan baik. Aku takjub dengan apa yang aku pandangi disana.


"Itu tempat favorit Nyonya sejak menjadi kesayangan Nyonya Besar. Jika tidak menemani Nyonya Besar, Nyonya pasti bermain dengan ikan, kelinci dan hewan lainnya disana," terang Bik Tati tanpa diminta.


"Aku tahu, pasti disana menjadi tempat Kak Litha untuk menghibur diri saat sedih."


Rumah Keluarga Pradipta secara keseluruhan sangat luas. Selain rumah pelayan dan lahan kebun dan hewan ternak, terdapat juga kolam renang di sisi timur, taman penuh bunga-bunga indah di sebelah barat, area gym dengan peralatan lengkap sampai joging track yang mengelilingi halaman.


.


.


.


"Bibi ... Kakak ... Pak Is memborong kelapa muda satu truk," seruku saat kembali ke rumah utama menemui Bibi dan Kak Litha yang asyik mengobrol di ruang keluarga.


"Hehehe ... sejak sebulan yang lalu secara berkala Pak Is memang membeli banyak kelapa muda untuk aku minum setiap pagi sebelum memakan apapun. Tapi ternyata banyak pelayan dan penjaga juga menyukainya, jadi aku bilang kalau beli jangan hanya untukku tapi untuk mereka juga, dan mereka boleh minum kapanpun mereka mau."


Bibi Rima melongo mendengarnya, aku pun sama meski sudah tahu sebelumnya, "Kak Litha hebat jadi juragan kelapa muda. Aku mau ah, aku minta ya, Kak."


Aku melonjak kegirangan dan langsung berlari ke dapur, "Pak Is, aku mau minum kelapa muda," pintaku.


"Baik, Nona. Tunggulah sebentar saya akan meminta pelayan untuk menyediakannya untuk Nona."


Pak Is melalui interkomnya memberi perintah, "Pilihkan kelapa muda yang terbaik untuk Nona Vania dan antarkan ke dapur rumah utama." Setelah mematikan interkom, dia menghampiriku, "Ada lagi yang Nona butuhkan?"


Aku menggeleng, "Pak Is, sesering apa Asisten Yan ke sini?" tanyaku memulai obrolan yang memiliki tujuan, mengulik informasi apapun tentang lelaki pemilik celana berwarna pink.


"Sangat jarang, namun setelah Tuan Muda kembali tinggal di rumah utama, dia jadi sering ke sini."


"Oh-- Kakak Ipar sebelumnya tinggal dimana?"


"Di apartemen, begitu juga Tuan Firza ... Rumah besar ini hanya ditinggali Nyonya Besar."


"Besok hari ulang tahun Kak Litha. Paman Tino sudah menceritakan dengan singkat rencana kejutan dari Kakak Ipar. Untuk pesta malamnya, siapa saja yang diundang, Pak Is?"


Aku menebak-nebak, mungkinkah wanita yang dimaksud Kak Litha kemarin akan diundang?


"Hanya keluarga dan orang-orang terdekat," jawab Pak Is singkat.

__ADS_1


"Siapa saja orang-orang terdekat itu?"


"Selain keluarga, yang akan ikut memeriahkan hanya Nona Ninda, Tuan Bona dan Sasha."


Glek.


"Sasha?" tanyaku dengan degup jantung yang berlari.


"Dia sekretaris sekaligus orang kepercayaan Tuan Muda di kantor, sangat loyal pada Keluarga Pradipta sejak mendiang Nyonya Besar masih hidup," terang Pak Is sambil berjalan menuju pintu dapur.


"Pasti-- pasti dia orangnya, wanita yang dimaksud Kak Litha ... Wanita yang sebentar lagi akan dimiliki Asisten Yan."


"Nona, ini kelapa mudanya, mau ditaruh dimana?"


Aku tersenyum kecut melihat buah kelapa di tangan Pak Is. Seleraku seketika hilang, "Untuk Bapak saja," ujarku dan berlalu meninggalkan dapur dengan raut kebingungan di wajah Kepala Pelayan itu.


...***...


Jam dinding kamarku menunjukkan hari sudah tengah malam namun mataku enggan terpejam. Entah kenapa ada satu nama terlintas yang disebut Pak Is tadi siang sangat menggangguku, memikirkan bagaimana sosok dan rupanya. Ingin rasanya tadi kutanyakan langsung pada Kak Litha mengenai dugaanku, tapi aku tidak punya cukup alasan untuk menanyakannya.


Akibatnya, aku gelisah sendiri dengan membolak-balikkan badan di tempat tidur. Sesekali membuka gorden dan melihat langit malam dari jendela, namun tak jua meredakan kerisauan di hati.


"Apa yang sebenarnya aku lakukan? Vania, kau hanya mencari informasi untuk Shortpink FC, jangan berlebihan! Berlebihan memikirkan dirinya," kataku bermonolog menatap langit-langit kamar.


Aku berdiri dan berjalan keluar kamar, ingin mengambil air minum. Tenggorokanku sangat kering berdebat dengan diri sendiri. Kubuka pintu perlahan karena takut akan menimbulkan suara. Celingak-celinguk ke semua arah mata memandang, kalau-kalau ada penampakan di rumah besar ini, hiiii ...


Tiba-tiba retinaku tertuju pada dua orang yang berjalan menuju ruang kerja yang terletak di dekat ruang keluarga.


"Apa yang akan Kakak Ipar dan Bibi lakukan di dalam ruang kerja?" gumamku.


Aku lupa pada niatku mengambil air minum di dapur, aku malah mengikuti mereka diam-diam. Beruntung, pintu ruangan itu tidak tertutup sempurna, ada celah yang membuat suara di dalamnya dapat aku curi dengar.


"Vania, apa kau melakukannya lagi? Kau sudah berjanji tidak akan melakukan hal tercela ini lagi. Ayo lekas ke dapur, ambil air minum sesuai tujuan awalmu dan segera kembali ke kamar. Istirahatlah! Karena besok hari besar Kak Litha."


Sisi baik diriku memperingatkan. Benar, aku tidak boleh menguping lagi, perbuatan tidak sopan itu pasti akan melukai hati almarhum Ibu. Kulangkahkan kaki menjauh dari tempatku berdiri, namun kuurungkan niatku karena Bibi Rima menyebut asal-usul keluarga Ibu dengan begitu hati-hati. Selama ini keluarga Ibu sangat misterius sampai tidak ada sedikitpun kisah yang diceritakan pada kami bertiga, anak-anaknya.


"Nak Rayyendra, jawablah dulu pertanyaan Bibi sebelum Bibi menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan asal usul keluarga istrimu."


Hatiku berdebar, jantungku berdetak lebih cepat. Apa yang membuat Bibi percaya pada Kakak Ipar dan mengatakan rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat?


Kuintip dari celah pintu dan kudorong sedikit lagi agar lebih jelas. Disana terlihat Kakak Ipar mengangguk, Bibi Rima menghela nafasnya dengan berat, "Sebesar apa cinta Nak Rayyendra pada Litha?"


"Sangat besar, saking besarnya sampai memenuhi mata, kemana mata memandang, cintaku ke Litha akan selalu di temukan."


Bibi Rima terkekeh, "Termasuk jika Litha mengancam Pradipta Corp.?"


Apa maksudnya? Apa hubungannya keluarga Ibu dengan perusahaan Kakak Ipar? Kenapa penuturan Bibi Rima sangat hati-hati bahkan diawali dengan pertanyaan yang sifatnya menguji.

__ADS_1


Ada apa ini?


- Bersambung -


__ADS_2