
PoV Main Character
Aku mendapat kecaman dari teman sekampus lantaran tidak mengabarkan pertunanganku dengan Asisten Yan. Semua meracau dan memprotesku, kecuali Nezar. Dia bahkan menjauh jika aku berada di sekitarnya.
"Kok Nezar seperti menghindariku ya?" tanyaku ketika melihat Nezar memutar balik motornya padahal sebelumnya nampak akan menghampiri kami yang tengah berkumpul di halaman kantin.
"Dia sakit hati kamu sudah tunangan," jawab Anna sekenanya.
"Duh, aku memang sengaja tidak memberitahu sebelumnya. Dia pasti marah."
"Yeee ... bukan marah karena itu kali, Nia. Dia emang beneran sakit hati. Masa kamu gak peka sih? Friendzone kalian terlalu nyaman sih," sanggah Niko.
"Maksudnya?"
"Nezar itu suka sama kamu. Ba-nget! Kamunya aja yang gak sadar. Dengar kamu tunangan, nangis di pojokan tuh anak," jawab Niko terang-terangan.
Hah. Nezar menyukaiku? Sejak kapan?
"Dia tahu diri menyukai seorang Nona Pradipta, makanya tidak pernah diungkapkan sama kamu. Dia pernah bilang pada kami semua kalau dia akan memantaskan dirinya sebelum mengatakannya padamu, tapi orang yang dia sukai keburu tunangan, sama orang penting di Pradipta Corp. lagi. Makin jauh, eh salah, sudah tidak tergapai jadinya, hehehe ...."
Aku terdiam, tidak percaya dengan apa yang Anna katakan. Lebih konyol lagi, semuanya tahu kecuali aku sendiri.
"Tidak apa-apa, Nia. Nezar cuma butuh waktu menerima kenyataan," kata Winie tersenyum.
"A-Aku benar-benar tidak menyangka kalau–"
"Dia melarang kami semua untuk mengatakannya padamu. Kalau ada yang melakukannya, kami tidak akan dibantu lagi olehnya."
"Dibantu apa?" tanyaku heran.
"Semua tugas kami selalu dibantu Nezar, individu maupun kelompok."
"Apa! Dasar kalian semua!" umpatku pada kawan-kawanku ini.
"Hanya Nezar yang bisa kami harapkan. Mahasiswa pintar lainnya terlalu pelit untuk sharing ilmu," timpal Anna.
Aku melongo, sharing ilmu? Hahaha ... yang ada dimintain jawaban atau disuruh ngerjain, haishh ... Banyak kawan-kawan begitu loyal pada Nezar, tidak terbatas pada teman kuliah tapi siapapun yang mengenalnya. Pemuda itu dikenal ringan tangan, meski tidak punya apa-apa secara materi, dia tulus membantu dengan apa yang dia miliki walau hanya berupa tenaga atau pikiran. Hal itu juga yang membuatku senang berkawan dengannya, tapi tidak menyangka sama sekali bahwa perasaanya terhadapku lebih dari sekedar teman baik. Astagaaa ....
"Nezar orang baik. Seandainya kalian setara, tanpa diminta aku akan mencomblangi kalian," sahut Winie, gadis yang berbadan gempal.
"Lah, memangnya aku tidak setara dengan Nezar?"
"Bukan kau yang tidak setara dengan Nezar tapi Nezar dan kami semua yang tidak setara denganmu. Meski begitu kau tidak sama dengan gadis dari keluarga kaya lainnya yang angkuh dan suka merendahkan orang. Kau bersikap dan berbicara sama seperti kami dan tidak pelit," jawab Roni yang sedari tadi diam.
"Dia juga salah satu dari sekian banyak orang yang menyukaimu selain Nezar, tapi dia lebih sadar diri sehingga bisa menerima kenyataan atas pertunanganmu," sahut Anna menunjuk Roni dengan ekor matanya, jelas saja membuat Roni kalang kabut.
Hah. Lagi-lagi aku terkejut, "Bisa-bisanya ada yang suka sama aku, dua orang lagi, hahaha ...."
"Cih. Ni anak emang gak peka disukai laki-laki hampir separuh kampus. Itu baru jurusan kita, belum jurusan lain dan angkatan selain kita. Makanya, di jurusan tertentu kau dianggap ancaman sama mahasiswinya."
"Pantasan! Anak ekonomi dan kesehatan pada jutek semua kalau melihatku. Sering aku membathin, salah aku apa dan dimana? Ternyata oh ternyata–"
Semua tergelak kecuali Roni yang salah tingkah.
"Ron, gak usah canggung gitu ah, biasa aja kali," ujar Niko menepuk bahu lelaki bertubuh kurus itu.
"Bisa jadi kabar pertunanganmu jadi berita patah hati sekampus, hahaha ... Nona Pradipta mencari pasangan yang setara, yang lain jangan ngarep, hahaha ...."
"Hush! Apaan sih! Aku dan kalian semua setara. Aku bertunangan dengannya karena perintah Tuan Muda Pradipta, tahu kan, tidak ada yang bisa menolak titahnya," kataku.
Semua membelalakkan mata, kaget.
"Wow! Perjodohan di lingkungan orang kaya," cerocos Angel.
"Karena kabarnya Asisten Tuan Muda sulit jatuh cinta, makanya dijodohin, hahaha ...." sambung Winie.
"Berarti kalian tidak ada perasaan dong karena dijodohkan. Apa kau bahagia, Nia?" tanya Roni yang langsung membuat kami semua terdiam, terutama diriku.
__ADS_1
"Apaan sih, Ron! Ngerusak suasana saja." Anna mencubit lengan Roni.
"Eng ... kalian makan saja dulu. Aku mau mencari Nezar," kataku sambil mengenakan ransel.
"Gak ada traktiran nih atas kabar bahagia?" tanya Niko.
"Eh, kalian ini yang dipikirin cuma makan saja. Nantilah ... cari waktunya buat aku traktir. Mau makan dimana kuserahkan pada kalian, oke? Aku nyari Nezar dulu sekarang."
"Oke," sahut mereka berbarengan.
Aku harus mencari Nezar dan bicara dengannya, bagaimanapun juga dia adalah my main support system di kampus. Dia banyak membantuku dalam setiap pengerjaan project sampai urusan pribadi, bahkan motor bebek yang biasa dia kendarai seperti milik sendiri saking bebasnya aku pinjam.
.
.
.
"ZAR, JANGAN KABUR!" teriakku saat melihatnya akan kabur karena melihatku mendekat ke arahnya.
Dia diam dengan tatapan yang tidak sehangat biasanya
"Zar, kita bicara sambil duduk ya? Aku lelah mencarimu dari tadi."
Dia menatapku tanpa suara kemudian berjalan ke tempat duduk yang berada di taman pinggiran area parkir.
"Disini saja," pintanya terus duduk.
Aku mengangguk dan ikut duduk di sampingnya. Tempat ini teduh, hanya akan terkena panas dari sinar matahari saat sore.
"Selamat," katanya tanpa melihatku.
"Apanya?" Aku pura-pura tidak mengerti.
"Atas pertunanganmu, semoga bahagia."
Dia terkekeh tapi yang kudengar malah seperti sindiran untuk menertawai kalimatku barusan.
"Hmmppffhhh ...." Dia menghela nafas panjang.
"Zar, teman-teman bilang kau menyukaiku, benar?" tanyaku langsung to the point.
Dia menolehkan wajahnya dan menatap ke dalam manikku.
"Ya."
Canggung. Aku kehilangan kata-kata untuk membalas satu kata pamungkasnya.
"Tapi aku sadar diri, Nia. Perbedaan kita terlalu jauh. Kemarin-kemarin aku begitu naif bertekad untuk memantaskan diri untukmu. Sekarang aku sadar bahwa itu tidak akan pernah bisa dan aku malu sudah berkoar-koar hal yang mustahil di depan teman-teman."
"Nezar, kau sangat baik padaku, tidak pernah berbicara kasar dan perhatian tapi aku tidak mengira sedikitpun kalau kau menyukaiku."
"Kenapa? Karena aku memang tidak pantas buatmu, kan? Aku hanya cocok menjadi pembantumu," sindirnya pedas.
"Zar! Ngomong apaan sih kamu! Bukan masalah pantas atau tidak disini. Selama ini aku insecure dengan diri sendiri karena kulit pucatku. Aku tidak pernah berharap ada seseorang bahkan lelaki akan menyukaiku. Makanya aku sangat terkejut saat mengetahui perasaanmu padaku."
"Oh ya? Apa pertunangan itu lelucon?" Nezar masih menyindirku.
"Apa maksudmu?"
"Kau bilang tidak percaya diri akan disukai orang lain, tapi kenyataannya kau menjalin ikatan serius lalu kau bertanya apa maksudnya! Oh shi*t!" sahutnya penuh emosi tertahan.
Aku menghela nafas sebelum berkata, "Zar, aku hanya memenuhi permintaan Tuan Muda Pradipta. Aku sangat menghormati keputusannya."
Raut wajahnya terkejut, "Atas dasar apa dia melakukannya?"
"Karena tunanganku sudah mengambil ciuman pertamaku, hehehe ...." jawabku menyeringai sambil mencoba meringankan suasana.
__ADS_1
"Apa!" pekiknya tertahan. Raut wajahnya lebih mengejutkan dari sebelumnya .
"Ini hanya masa penjajakan, Zar. Keputusannya tetap berada di tanganku setelah lulus kuliah untuk lanjut atau tidak. Aku sengaja mengikat Asisten Yan agar dia kehilangan empat tahun umurnya."
"Kau menggantung jodohnya selama empat tahun. Apa kau tahu yang kau lakukan, Nia? Menghalangi jodoh orang akan membawa hidupmu berada dalam kemalangan, kecuali–"
"Kecuali apa?"
"Kecuali kau sebenarnya juga memiliki perasaan padanya."
Aku menghela nafas lagi, berat.
"Mungkin dulu aku punya perasaan padanya tetapi dia berkali-kali menyakiti hatiku, jadi sekarang aku tidak tahu perasaanku bagaimana terhadapnya. Aku hanya ingin menghukumnya karena dia pernah menciumku."
"Edan! Apa kau tidak sadar kau masih menyimpan perasaan buatnya? Kalau tidak, buat apa kau menghukumnya? Itu menjelaskan posisinya dalam hatimu dan kau bukan hanya menyia-nyiakan waktunya tapi juga waktumu."
"Tapi aku sangat sakit hati dengan semua sebutan yang dia lontarkan padaku, Zar. Dari bulan kesiangan, matre, pendendam sampai seperti wanita murahan itu dia ucapkan begitu entengnya."
"Sudah tahu begitu kenapa masih mau bertunangan dengannya? Waktunya empat tahun yang hilang tidak layak dengan waktumu yang juga ikut terbuang, Nia. Andai saja kau bisa menunggu, aku bisa memantaskan diri dan membuatmu jatuh cinta padaku," ucapnya memegang kedua bahuku dengan suara bergetar.
Aku menggeleng dan menurunkan tangannya dari bahuku, "Berlakulah seperti biasa. Ada atau tidak pertunanganku dengannya sama sekali tidak mempengaruhiku. Itu hanya sebuah status yang tidak tahu akhirnya bagaimana. Sekarang aku fokus pada diriku, Zar."
Suasana kembali canggung, tanpa dia sadari sahabatku ini menyatakan perasaannya langsung padaku.
"Ada yang ingin aku sampaikan padamu," kutatap matanya sembari tersenyum, "Aku tidak bisa menahan perasaanmu– dan jika kau berkeras ingin membuktikan siapa dirimu padaku, aku pun tidak bisa melarangnya. Masa depan adalah misteri, yang bisa kita lakukan sekarang hanya melakukan terbaik untuk diri sendiri."
"Apa itu artinya kau– kau masih memberiku peluang mendapatkanmu?"
Aku terkekeh, "Aku tidak bilang begitu. Aku hanya ingin kita seperti biasanya. Persahabatan kita tidak seharusnya terpengaruh oleh pertunanganku atau perasaanmu, tetapi kita juga tidak bisa menebak masa depan. Jodohmu siapa, jodohku siapa ... Aku tidak ingin berandai-andai untuk itu ... Kalau kau masih mau memperjuangkanku, aku tidak bisa melarangnya tapi aku juga tidak bisa menjanjikan apapun."
Dia tersenyum, memahami ucapanku, "Aku akan terus memperjuangkanmu, Vania. Tidak peduli kau sudah bertunangan, aku akan merebut hatimu sampai kapanpun. Jangankan tunangan, pernikahan saja bisa cerai."
"Heh! Jaga ucapanmu! Beda cerita kalau sudah menikah."
"Terserah, pokoknya aku akan tetap menunggumu."
"Ingat, aku tidak menjanjikan apapun, Nezar. Apa kau siap akan takdirnya nanti, meski kecewa?"
"Ya. Ada janjimu atau tidak, bukan urusanku. Urusanku hanya berada di sampingmu sampai kau tidak menginginkanku."
"Silahkan, tapi sebaiknya kau juga jangan menutup hati untuk yang lain Siapa tahu ada seseorang yang bisa menarik perhatianmu? Aku tidak mau hidupku malang karena menghalangi jodohmu."
Dia menggeleng kuat-kuat, berdiri lalu mengangkat kedua tangannya seperti sikap berdoa dan menengadahkan kepalanya ke langit, "YA TUHAN, JODOHKAN AKU DENGAN WANITA DI SAMPINGKU INI MESKI DIA TIDAK INGIN. KAU MAHA PEMBOLAK-BALIK HATI DAN TAKDIR, KABULKANLAH DOAKU."
Semua mata di area parkir memusatkan perhatiannya karena ucapan lantang Nezar. Benar-benar memalukan!
"Mau menjadi penikung?"
Suara yang sangat akrab tiba-tiba mengagetkan kami.
"Kusarankan pemuda sepertimu tahu diri. Selain dia Nona Pradipta, dia juga tunanganku."
Asisten Yan langsung merangkul bahuku yang segera kutepis dengan sikap berdiri. "Dia benar-benar sudah menjadi penguntit, selalu mengikutiku ke kampus."
"Kenapa kau ada disini, Asisten Yan? Tidak bekerja?" Kubuat suara senormal mungkin.
"Bagaimana aku bisa bekerja kalau tunanganku mau direbut? Aku kira siapa yang berani menjadi rivalku– ternyata hanya mahasiswa kumal seperti ini."
"Berhenti merendahkan temanku, Asisten Yan! Cukup aku saja yang bebas kau nilai." kataku geram.
"Kalau begitu jaga sikapmu. Ingat statusmu! Dan kau–" Dia memperingatiku kemudian menunjuk Nezar dengan pandangan mata tajamnya, "Kau juga harus tahu statusmu. Berkawan dengan Nona Pradipta itu sudah seperti mendapat dewi keberuntungan. Jangan serakah, Anak Muda!"
PAK.
Kuinjak kuat kaki tunanganku dengan sangat kesal, tanpa menghiraukan kesakitanya, aku justru menarik tangan Nezar, "Zar, ayo balik ke kelas. Tidak perlu didengar ucapannya."
Dari ekor mataku, kutangkap senyum kemenangan Nezar yang dipamerkan pada Asisten Yan. Aku pastikan lelaki berbadan tegap dan bermata coklat itu pasti dongkol setengah mati, hahaha .... Bagaimana, sakit tidak? Harga dirimu merasa dilukai, kan karena aku lebih memilih pergi dengan sahabatku ketimbang tunanganku? Iya, iya ... Aku akan ingat statusku karena hubungan kita hanyalah status belaka.
__ADS_1
- Bersambung -