Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Jangan Berpikir Terlalu Jauh


__ADS_3

Aku senang sekali Kak Tisha pulang ke Ibukota walaupun sebenarnya dia harus menjalani terapi dan pengobatan lanjutan. Jauh-jauh ke negeri orang malah mendapat trigger yang memicu kecemasan dan ketakutannya.


"Makanya tinggal disini saja, kalau disana Kak Tisha kenapa-kenapa tidak ada keluarga yang bisa menolong," keluhku mendekati dirinya yang sedang bermain dengan Baby Zean.


Dia diam dan tersenyum, senyum yang hanya berupa garis lengkung ke atas tanpa rasa. Tangannya asyik menggelitiki perut keponakan lucu kami.


"Hormati keputusannya. Kalau Kak Tisha merasa tidak baik disana, dia bisa segera pulang dengan pesawat pribadinya Mas Rayyendra," sergah Kak Litha.


"Haishh ... Itu namanya merepotkan orang lain."


Plak.


Lenganku di tepok Kak Litha, "Jaga omonganmu!"


Aku langsung mengunci mulut, sadar salah bicara. Anxiethy Kak Tisha kembali muncul setelah keluarga dari kakek tua yang dirawat di panti jompo setuju untuk memenuhi permintaan sang kakek termasuk cucu laki-lakinya yang akan dijodohkan dengannya. Ternyata hal tersebut membuat psikis Kak Tisha terganggu, gejala-gejala depresi mulai muncul sehingga akhirnya kami menjemputnya pulang. Dokter Siska menyatakan trigger terbesar bagi Kak Tisha adalah sebuah hubungan intens antara pria wanita. Kakak sulungku itu memiliki trauma mendalam akan cerita masa lalu yang merekam bahwa setiap lelaki yang dekat dengannya akan menyakiti seperti Lucas.


Anehnya lagi, sang cucu langsung setuju dijodohkan dengan Kak Tisha dan terang-terangan menyatakan perasaannya, seperti cinta pada pandangan pertama. Kak Tisha menolaknya dan mengajukan cuti karena surat pengunduran dirinya ditolak oleh yayasan panti tersebut. Ternyata baru diketahui, kakek yang menyukai Kak Tisha adalah donatur utama panti jompo tempat Kak Tisha bekerja. Jadi tidak perlu dijelaskan alasannya kan, kenapa pengunduran diri kakakku ditolak.


"Maaf, aku merepotkanmu terus, Tha. Beri aku waktu untuk mandiri, setelahnya aku tidak akan merepotkan kalian lagi," sendu Kak Tisha.


Seketika rasa bersalah menyerangku apalagi jari -jari runcing kakak keduaku mencubit pahaku. Aku pasrah menahan sakit tanpa suara. Tangannya benar-benar neraka bagiku.


"Kak Tisha ngomong apaan, sih! Justru aku senang Kakak masih membutuhkanku, sampai kapanpun. Jangan diambil hati omongannya Nia, Kak. Tahu sendiri kalau dia ngomong, nyelekit."


Kak Tisha tersenyum, senyum milik ibuku dan Nyonya Pradipta. Senyum yang dapat menghipnotis mata. Lengkung bibir keatas yang simetris dengan bentuk bibir yang pas, tidak tebal dan tidak tipis sehingga mampu menghangatkan kebekuan hati dan mendinginkan amarah semua yang memandangnya. Tidak seperti senyumku yang judes, sama dengan senyum nenek dari Ayah, huh.


"Aku sangat bersyukur memiliki kalian. Terimakasih," kata Kak Tisha mengusap sudut matanya yang berair.


"Maaf Kak, aku tidak bermaksud menyinggungmu," ucapku merasa bersalah.


"Aku mungkin tersinggung kalau orang lain yang bilang, tapi kau Vania, siapa yang tidak kenal dengan kalimat tajammu, mirip–"


"Mirip Mbah Temi, argghhh ..." sambungku kesal karena tahu apa yang akan diucapkan Kak Tisha.


Kedua kakakku terbahak melihatku marah. Ya, entah kenapa emosiku memuncak jika disamakan dengan Mbah Temi yang judes dan suka menyindir Ibu.


"Tapi biar begitu Zean sangat menyukai Bibi Nia," bujuk Kak Litha menghiburku.


"Tapi Nia, apa kau berbicara seperti itu dengan tunanganmu? Apa dia tidak tersinggung dengan setiap kalimatmu yang kadang menusuk?" tanya Kak Tisha tiba-tiba.


Ck. Aku berdecak, kesal.


Kak Litha menggendong putranya karena sudah merengek kehausan, sambil mengeluarkan sumber ASI dan disodorkan ke mulut mungil Tuan Muda Kecil, dia santai berkata, "Hubungan mereka rumit, Kak. Akupun tidak memahami siapapun dari mereka."


"Padahal Bibi Lidya nampak sangat menyukaimu."


"Sebelum menjadi tunangan putranya, Bibi Lidya memang sudah menyukai Vania, yang membingungkan ya mereka berdua ini ... Absurd."


"Apa–"


"Sudahlah, Kak. Jangan membahasnya lagi. Aku tidak suka."


"Ba– bagaimana tidak suka? Kalian kan, sudah bertunangan. Tentunya adalah hal yang menyenangkan kalau membicarakan tentang pasangan kita, seperti Litha dan suaminya," tanya Kak Tisha keheranan yang tidak tahu latarku dan Asisten Yan menjadi sepasang kekasih resmi di mata orang-orang.


Kak Litha mengedikkan bahunya, tidak mau tahu dan menyibukkan diri membetulkan posisi putranya yang sedang menyusu.


"Oh iya, Kak. Besok katanya Kak Litha mau ke kantor Kakak Ipar ya? Apa bisa minta waktu sebentar gak?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Ada apa?" Kak Litha balik bertanya namun wajahnya enggan beralih dari manik Zean yang sedang menatap mesra ibunya.


"Ada seseorang yang ingin aku kenalkan sama Kakak Ipar, sekalian biar ada Kak Litha juga."


Wajahnya seketika menoleh ke arahku, "Siapa?" tanyanya penasaran.


"Nanti saja. Bisa tidak?"

__ADS_1


"Ck. Bukan perempuan, kan?" suaranya langsung berubah ketus.


"Bukan. Bisa tidak?" tanyaku lagi.


"Umm ... Besok jam 10 aku dan Mas Rayyendra ada jadwal temu Tuan dan Nyonya Anderson dari AutoTech Inc. di kantor sampai jam makan siang. Mungkin setelah itu kau bisa membawanya, nanti akan aku sampaikan ke Mas Rayyendra agar menyediakan waktu."


"Oke," jawabku tersenyum, "Kak Litha tidak penasaran dengan siapa orangnya?"


"Lah, tadi kan sudah aku tanya tapi kau bilang nanti saja. Gimana sih, ni anak, ckckck ...."


Kak Tisha tertawa, "Hahahah ... Sudah tahu kakakmu satu ini paling cuek, paling anti ikut campur dan mau tahu urusan orang lain gak kayak kamu, Nia ... suka menguping. Eh, tapi sekarang sudah tidak, kan?"


"Sekali lagi kedapatan dia menguping, kupotong telinganya," jawab Kak Litha yang membuatku bergidik.


"Eh Kak, tadi Kakak bilang besok founder AutoTech Inc. ke kantor Kakak Ipar?"


"Hem."


"Wuihhh ... keren banget Kakak Ipar bekerjasama dengan AutoTech Inc. karena yang aku tahu perusahaan digital raksasa itu sangat rewel dalam memilih partner bisnisnya."


"Eits! Itu juga ada turut campur kakakmu ini. Tanyakan saja sama kakak iparmu atau tunanganmu, siapa yang mereka inginkan presentasi saat penawaran Pradipta Corp. diajukan," sahut Kak Litha bangga.


"Tha, Zean sudah tidur. Sini, aku bantu letakkan dia di box," ujar Kak Tisha mengulurkan tangannya ingin menggendong keponakan kami.


"Ah iya, tumben cuma sebelah minumnya, biasanya harus kanan kiri dulu baru dia puas."


"Mungkin Zean merasa seperti dinina-bobokan mendengar suara ibu dan kedua bibinya berbincang. Iya kan, Sayang? Kau tampan sekali .... Jadi anak yang berbakti, penyayang, kuat dan berani ya, Zeandra." suara lembut Kak Tisha membisiki Baby Zean yang tertidur pulas dan hendak dipindahkan ke box bayi.


"Selain memiliki relasi profesional, Tuan dan Nyonya Anderson ingin menjalin relasi secara pribadi. Maka aku berinisiatif untuk mengundang mereka makan malam disini," kata Kak Litha sembari membetulkan pakaiannya.


"Oh ya? Apa yang membuat mereka tertarik untuk menjalin relasi secara pribadi?"


"Entahlah. Aku sempat berkenalan dengan seseorang sebelum AutoTech Inc. menjawab proposal penawaran Pradipta Corp. Aku tidak menyangka ternyata dia adalah keponakan sekaligus tangan kanan Mr. Anderson yang sedang liburan di Kota A. Dialah yang memintaku melakukan persentase ketimbang CEO Pradipta Corp. sendiri"


"Hahaha ... yang ada Mas Rayyendra sangat cemburu, padahal persentase itu direkam untuk dikirimkan ke Mr. Anderson karena tidak bisa mengikutinya langsung," gelak Kak Litha, kami pun ikut tertawa.


Suasana seperti inilah sangat kami rindukan, berkumpul dan bercengkrama hangat. Sejauh ini aku sangat kasihan pada kakakku yang paling ayu, kata Kak Leon, 'anak lelaki Ayah'. Kondisi kejiwaannya membuat kami semua khawatir akan masa depannya. Dia tidak bisa menjalin hubungan intens dengan pria manapun karena bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan masih bercokol kuat dan membuatnya merasa tidak berharga di mata siapapun. Semoga saja Kak Tisha bisa mendapatkan belahan jiwa sejati yang bisa menerima keadaan dirinya dengan tulus dan mampu membantu mengatasi trauma psikisnya, syukur-syukur bisa menyembuhkan.


...***...


Esoknya Nezar menolak mentah-mentah saat aku mengutarakan niat mengajaknya ke kantor pusat Pradipta Corp. Lelaki berambut ikal yang diikat sembarangan itu tidak punya nyali menghadapi Kakak Ipar apalagi membuat pengakuan dosa.


"Nia, itu namanya kau mau membunuhku. Kau tahu sendiri temperamen Tuan Muda Pradipta, dia dikenal sangat emosional."


"Itu dulu. Sekarang sudah berkurang sejak dia menikah dan menjadi ayah. Tenang saja, ada tuas pengamannya disana jadi kau tidak perlu takut," bujukku dengan menepuk pundaknya, "Katanya kau akan memperjuangkan aku. Dia waliku sekarang, mau tidak mau kau harus berhadapan dengannya, kecuali kalau kau sudah menyerah dan selamanya kita hanya berteman saja."


Sedetik, dua detik Nezar penuh kebimbangan untuk menyatakan kesediaannya.


"Baiklah. Aku tidak bisa menyerah sebelum janur kuning melengkung," tekadnya kemudian.


"Nah, gitu dong. Keberanian dan kejujuranmu akan menambah poin di mataku."


Hahaha ... mudah sekali membujuk Nezar, seperti anak kecil yang diiming-imingi permen langsung setuju dengan perintahku.


"Jam berapa kita kesana?"


"Hari ini mata kuliah terakhir hanya sampai jam 12.30 kan? Kita makan dulu, baru kesana. Kakak Ipar dan Kak Litha juga sedang menjamu tamu dari AutoTech Inc. jadi tidak perlu buru-buru."


"AutoTech Inc.?"


Aku mengangguk, "Keren, kan? Pradipta Corp menjadi satu-satunya partner AutoTech Inc. di Asia Tenggara."


"Nia, bisa kita lebih cepat kesana? Kalau perlu tidak usah makan, tidak masalah kita menunggu. Aku mau melihat langsung owner-nya. Bekerja disana adalah mimpiku sejak aku kelas dua di SMK," sahutnya antusias.


Aku mencebik, "Heh, tidak masalah kalau kau tidak makan, tapi perutku akan bermasalah dan bisa kau bayangkan apa yang kakak iparku lakukan kalau dia tahu kau membuatku menahan lapar."

__ADS_1


Mulutnya manyun, lucu sekali, "Terserah kamu lah. Demi cintaku aku mengalahkan mimpi besarku."


Aku terbahak mendengarnya, ah ... Nezar, sebenarnya aku lebih suka hubungan persahabatan kita seperti sekarang tetapi aku tidak ingin mengecilkan hatimu dan tidak ingin kau menjauhiku. Aku egois, ya ... aku egois disini, memberimu harapan yang aku sendiri tidak tahu kemungkinannya ada atau tidak. Maafkan aku, Zar ....


.


.


.


Di gedung kantor pusat, kami berdua menunggu di ruang tunggu lantai Presdir Pradipta Corp. Pandangan dan gerak tubuhnya tidak bisa menyembunyikan kekaguman atas perusahaan Kakak Ipar.


"Tuan Muda Pradipta luar biasa sampai bisa berada di titik sekarang ini," bisiknya dengan posisi duduk yang tegang.


Aku tersenyum dan setuju dengan pernyataannya, lalu dia berbisik lagi, "Nia, kenapa semua mata orang disini mengintaiku seperti pencuri padahal aku cuma duduk diam."


Aku tergelak melihat Pak Andi dan Pak Gito sebagai penjaga lantai Presdir dan Kak Sasha yang tidak kalah awas memperhatikan Nezar.


"Itu hal yang biasa mereka lakukan pada tamu Presdir mereka, hehehe ...."


Kaka Sasha menghampiri kami, "Nona, sambil menunggu apa ada yang ingin Nona dan teman Nona makan atau minum?"


"Umm ... Kami sudah makan sebelum kesini. Tapi kalau aku boleh meminta, susu coklat hangat saja Kak, soalnya temanku ini membeku melihat Pak Andi, Pak Gito dan Kak Sasha, hahaha ...."


"Haishhh ... baru melihat kami sudah membeku apalagi kalau berhadapan dengan Tuan Muda, dia bisa seketika berubah jadi patung," sahut Kak Sasha yang malah makin mengintimidasi Nezar sedangkan dua bapak-bapak yang siaga di dekat lift terkekeh geli.


Aku tertawa dan membenarkan kalimat Kak Sasha sebab Nezar makin membeku dan wajahnya kian memucat. Beruntung, tidak berapa lama dua gelas susu coklat hangat dan dua piring kudapan yang lezat dari kantin premium kantor pusat tersedia di atas meja untuk kami.


"Minumlah selagi hangat. Kak Litha selalu memberiku susu coklat hangat kalau melihatku gelisah. Dia bilang minuman ini bisa merilekskan pikiran kita," kataku menyodorkan gelas pada Nezar.


Dia mengambilnya lalu mencoba menikmati apa yang kuberikan barusan, "Hmmpphhh ... terasa lebih baik. Terimakasih."


Klik.


Pintu ruang Presdir dibuka, kami berdiri dan nampak sosok tegap berwibawa yang pertama keluar dari sana. Dia melirik ke arahku, tersenyum tapi senyumnya berubah kecut melihat Nezar. Saat dia berpapasan dengan kami, dengusannya terdengar kasar. Dengusan itu menarik perhatian Kak Litha sampai matanya tertuju pada teman yang kubawa, wajahnya sedikit terkejut menatapnya.


"Ni– Nia, i– itu–"


Uhuk. Nezar terbatuk dan sedikit menyemburkan makanan yang ada di dalam mulutnya di mukaku.


"Telan makananmu dulu kalau mau bicara. Lihat, kau menyemburku!" omelku dan seketika dia langsung diam menundukkan kepala, persis seperti anak kecil yang bersalah.


Tanpa berkedip temanku ini memperhatikan Kakak Ipar dan Kak Litha berinteraksi dengan orang-orang dari AutoTech Inc. Kabarnya mereka adalah suami istri pemilik perusahaan tersebut dan keponakan yang dipercayai sebagai mata, telinga dan tangan dalam menjalankan bisnis mereka.


Seorang wanita paruh baya yang kutebak istri dari Mr. Anderson mengembangkan senyumnya padaku dan mengangguk hormat, aku pun spontan merespon yang sama dengannya.


"Tunanganmu sangat menjengkelkan, Nia," bisik Nezar, matanya melekat pada Asisten Yan.


Aku hanya tersenyum mendengarnya tanpa membalas apapun. Setelah lift tertutup, pandangan Kakak Ipar, Kak Litha dan Asisten Yan berpusat pada Nezar. Terang saja gugupnya datang kembali dan tanpa sadar dia meremas pergelangan tanganku. Mata Asisten Yan menyalang melihatnya.


"Lepaskan tanganmu! Bagaimana bisa kau menyentuhnya saat kau berhadapan dengan tunangannya!" geram Asisten Yan yang langsung membuat Nezar melepaskan genggamannya.


Kakak Ipar dan Kak Litha saling pandang, akupun juga bingung kenapa dia begitu marah? Apa Asisten cemburu?


"Maaf, maksudku tidak sopan dia berlaku demikian di depan kakakmu Vania. Jangan berpikiran terlalu jauh," ralatnya dengan cepat, mungkin dia tidak ingin aku salah paham.


Ehem.


Kakak Ipar berdehem lalu masuk begitu saja ke ruangannya. Kak Litha mengembangkan senyumnya, "Senang bertemu denganmu lagi, Nezar," ujarnya dan menoleh ke arahku sembari berkata, "Nia, bawa temanmu masuk."


Aku mempersilakan Nezar berjalan duluan masuk kemudian mengikutinya dari belakang. Melewati Asisten Yan, aku berusaha tersenyum meski berat, "Hari ini kau telah menjelaskan padaku, Asisten Yan. Tenang saja ... Apapun yang kau katakan besok-besok, aku tidak akan berpikiran terlalu jauh."


Tidak ada balasan darinya, hanya suara langkah yang berderap di belakangku. Yup ... Aku tidak akan bisa menyentuh hatinya dan aku bodoh ternyata masih menyisakan asa buatnya sedangkan di depanku ada asa yang begitu besar untuk kuabaikan. Seseorang pernah berkata padaku, apa yang kita kejar kadang datang dari seseorang atau hal lain yang justru kita hindari dan itulah drama kehidupan.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2