Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Ingin Ikut


__ADS_3

Beberapa waktu telah berlalu, pikiranku tidak menentu karena fakta yang kudapatkan kalau Kak Tala adalah putra satu-satunya dari saudara satu ayah dari Ibu yang tidak lain adalah Gubernur Provinsi BX. Itu artinya, kami masih memiliki hubungan darah. Aku semakin gusar tatkala aku ragu-ragu memberitahu Kakak Ipar mengenai hal ini karena dia sudah bertekad menutup tabir asal-usul keluarga Ibu demi agar Kak Litha tidak mengetahuinya. Dia sangat khawatir jika Kak Litha akan kembali demi mengembalikan status Putri Mahkota yang terbuang.


"Oh ya, sabtu nanti Dokter Vivian menikah. Undangannya ada di kantor, aku lupa membawanya," kata Kakak Ipar setelah meminum air putih yang disajikan istrinya.


"Menikah dengan siapa?" tanya Kak Litha mengatur posisi kereta dorong Baby Zean di antara kursi.


"Tidak tahu. Titelnya di undangan juga tertulis dokter," jawab Kakak Ipar sekenanya. Dia melirik ke arah Asisten Yan, "Carilah penggantinya Yan. Apa kau masih berharap padanya? Padahal dia akan resmi menjadi milik orang lain sabtu nanti."


Ehemm.


Bibi Lidya berdehem, Asisten Yan salah tingkah.


"Berharap jandanya kali," celetukku.


"Nia! Jaga bicaramu!" Kak Litha memperingatiku dengan matanya yang membola.


"Ya maaf," kataku acuh tak acuh.


Kakak Ipar sekilas mengedarkan pandangannya di seputaran meja makan, "Aku akan memberinya hadiah pernikahan karena telah memberikan kesaksian kemarin. Aku juga tidak akan memaksamu untuk ikut datang ke acara pernikahannya, Yan. Aku akan datang bersama Litha dengan membawa mobil sendiri."


"Aku akan datang, memberinya ucapan selamat," sahut Asisten Yan.


Aku mencebik lalu menyanyikan sepenggal lirik yang kukira cocok buat lelaki yang menyebutku Bulan Kesiangan itu.


Harusnya aku yang di sana


Dampingimu dan bukan dia


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia


Harusnya kau tahu bahwa


Cintaku lebih darinya


Harusnya yang kau pilih bukan dia


(Harusnya Aku by Armada)


"NIA, STOP!" geram Kak Litha dengan bola matanya yang nyaris keluar sedangkan Kakak Ipar menahan tawanya supaya tidak meledak.


"Daripada kau menggoda Asisten Yan, lebih baik ceritakan tentang kuliahmu," ujar kakakku tegas setelah melihat Asisten Yan sekuat tenaga menahan emosi.


"Baik. Semuanya baik," jawabku singkat


"Tapi kenapa terkadang aku melihatmu muram. Ada apa?"


"Apa kuliahmu tidak menyenangkan?" tanya Kakak Ipar, "Atau ada yang mencoba menyakitimu?"


"Bagaimana bisa tidak menyenangkan? Justru dia sangat menikmati pergaulannya dengan teman prianya," sindir Asisten Yan dengan sangat menyebalkan, dia sedang membalasku rupanya.


"Ya, aku sangat menyukai mereka. Semuanya peduli padaku, bahkan ada seorang kawan yang membuatku kagum meski dia sempat tertunda kuliahnya namun pengetahuan literasi digitalnya luar biasa. Aku belajar banyak darinya," tandasku menyerang balik serangannya.


"Oh ya, apa dia berteman dengan tulus? Atau karena kau Nona Pradipta?"


Ya Tuhan, aku mengeratkan genggaman garpu dan pisau untuk menyantap sandwich, kali ini aku yang menahan emosi. Orang ini benar-benar menjengkelkan.


"Kenapa memangnya kalau dia tahu Nona Vania adalah Nona Pradipta? Tidak boleh berteman?" Bibi Lidya balik bertanya pada Asisten Yan yang dijawab dengan dengusan sebal.


"Sejauh ini, aku tahu Nezar orangnya tulus. Anaknya asyik namun tetap sangat menghormatiku. Selain itu juga, aku punya kawan setingkat diatasku, Tyok dan Firman. Mereka teman sekolahnya Nezar dulu, mereka lucu dan baik."


"Nezar?" tanya Kak Litha seperti mengingat seseorang.

__ADS_1


"Iya, nanti kapan-kapan aku kenalkan sama Kakak. Hanya saja dia masih ketakutan kalau melihat Tuan Muda Pradipta, hehehe ...."


"Cih. Dasar mental kerupuk! Katakan padanya orang-orang di sekeliling Keluarga Pradipta harus berani. Kalau dia masih saja takut bawa dia langsung ke hadapanku, aku akan langsung menatarnya apa itu keberanian," sahut Kakak Ipar.


Aku terbahak, "Bisa kencing berdiri dia dengan hanya menatap Kakak, apalagi kalau diajak bicara, pingsan 3 hari kali, Kak, hahaha ...."


"Pecundang," gumam Asisten Yan pelan tapi aku bisa mendengarnya.


"Tingkat keberanian akan sesuatu tiap orang berbeda, rasanya juga wajar kalau dia takut sama Tuan Muda Pradipta. Kharisma dan wibawa Kakak begitu mendominasi, tidak hanya Nezar ... siapapun dia nyali mereka pasti merasa ciut berhadapan dengan Kakak."


Dia tertawa mengejek, entah mengejek siapa, Nezar atau aku? Kali ini tidak bisa kutahan lagi, aku menunjuknya dengan pisau di tanganku, "Dengar! Kau siapa mau mengatur pergaulanku? Bahkan kakakku saja mempercayai dengan apa yang kulakukan."


"Nia, turunkan pisaumu! Tidak sopan menudingkan benda tajam itu ke Asisten Yan," sahut Kak Litha memperingatiku. Kuturunkan pisau kembali ke piring.


"Maaf," kataku tidak niat.


"Yan, lebih baik kau memperhatikan penyebab rinci kenapa penawaran perluasan tambang kita ditolak daripada kau mengurusi teman pria Vania. Sebanyak apapun pria di sekelilingnya, dia pasti bisa menjaga dirinya, pun kalau tidak bisa dia akan mengatakannya padaku."


Yess, Kakak Ipar membelaku, justru kakak perempuanku yang mencebik, hahaha ....


"Memangnya kenapa ditolak Mas? Kukira waktu itu proposal penawaran terakhir memberikan keuntungan banyak bagi mereka. Relokasi daerah tambang yang nantinya sudah tidak terpakai, alokasi tenaga kerja 60% penduduk asli sana, bahkan bagi hasil juga sudah dinaikkan dari penawaran awal," tanya Kak Litha heran.


"Entahlah, ini yang akan diselidiki oleh Abyan," jawab Kakak Ipar.


"Memang agak susah bernegoisasi dengan orang-orang disana. Mereka lebih menjunjung peraturan daerah yang diterbitkan oleh Kesultanan mereka ketimbang peraturan pemerintah setempat, apalagi Gubernur Provinsi BX adalah salah satu putra raja disana," timpal Asisten Yan panjang lebar. Mataku mendelik ke arah Kakak Ipar, memberi kode agar asisten andalannya itu jangan terlalu banyak bicara.


"Lith, kau sudah tahu kabar terakhir Tisha? Bagaimana keadaannya disana? Apa ada yang dia keluhkan?" Kakak Ipar mengalihkan topik pembicaraan dengan baik sekali.


Kak Litha mengangguk, "Ya, dia sangat baik dan bahagia disana. Kak Tisha juga menikmati rutinitas harian di St. Angelica merawat para lansia. Baginya itu seperti menebus rasa bersalah pada Ayah dan Ibu, bahkan katanya ada seorang kakek yang sangat senang berbicara dengannya, karena Kak Tisha mengingatkannya pada mendiang istrinya yang berasal dari Kota A."


"Oh ya? Jangan-jangan mau dijodohkan sama cucunya lagi," selorohku asal.


"Cerita cinta orang kaya selalu demikian, tidak usah jauh-jauh Kak Litha sama Kakak juga begitu. Hufftt ... Dimana aku bisa menemukan lansia yang akan menjodohkan dengan cucu mereka?" kataku menerawang.


Kakak Ipar tergelak, "Kau mau cari yang bagaimana tidak usah mencari lansia, cukup katakan padaku akan kupastikan dia bersamamu atau pakai cara sakti saja pria manapun pasti bertekuk lutut, hahaha ...."


Astaga, Kakak Ipar keceplosan bicara mana tertawanya sangat lepas lagi.


"Cara sakti apa?" selidik Kak Litha.


"Noh, rasain! Cara sakti apa? Jangan coba-coba Kak Litha berhenti bertanya sebelum dia puas," sahutku dalam hati menunduk dan fokus pada sandwichku yang sisa seperdelapan.


"Eng ... eng ... Ca– cara sakti apa ya? Nia, kau punya cara sakti apa?" gagap Kakak Ipar mencari bantuan padaku.


Aku tidak mau melihat ke arah Kakak Ipar, pura-pura sibuk dengan piring yang hampir kosong karena aku juga tidak tahu mesti menjawab apa.


Tiba-tiba suara rengekan halus terdengar, Baby Zean bangun dan sepertinya haus. Kak Litha mengurungkan niatnya mengejar jawaban. Digendong dan akan dibawanya ke kamar untuk disusui. Kakak Ipar menghela nafas yang sangat panjang, lega.


"Putra kesayangan Ibu sudah bangun. Haus ya ... Kita ke kamar dulu ya, baru Zean minum," timang Kak Litha, lalu menatap tajam pada suaminya, "Jangan kira aku lupa, aku masih menunggu jawaban Mas. Aku susui Zean dulu baru–"


Wajah Kakak Ipar seketika memucat, helaan nafas panjangnya menjadi percuma, "Yan, ayo kita berangkat sekarang! Aku baru ingat ada hal yang harus segera kubahas di divisi IT menyangkut project dengan Auto Tech Inc."


Auto Tech Inc.? Bukankah itu perusahaan IT yang sekarang sangat populer? Banyak perusahaan yang ingin bekerjasama dengannya namun kabarnya perusahaan internasional itu sangat pemilih dan rewel. Jika Pradipta Corp. mampu menjalin kerjasama dengannya itu berarti perusahan Kakak Ipar akan menjadi nomor satu dalam bisnis dunia digital di negeri ini.


"Maaf Sayang, aku akan ke kantor sekarang. Susui-lah Zean dengan damai dan tenang agar ASI-mu banyak. Jangan berpikir macam-macam. Cara sakti itu hanya bercanda karena aku tahu pria mana yang tidak bisa menolak pesona adikku," pamit Kakak Ipar cepat-cepat sebelum mata istrinya mengintimidasi.


"Dah Kakak! Kapan-kapan aku belajar ke divisi digital Pradipta Corp. ya?" Aku menyambut pamitan Kakak sebelum Kak Litha bersuara.


"Ya, katakan saja kapan kalau kau mau," ucap Kakak Ipar seraya bangkit dari kursinya lalu melangkah mendekati anak istrinya, "Aku mencintaimu, Lith," ujarnya lembut mengecup kening kakakku yang disambut senyuman manja.


Ah, kami yang jomblo bisa apa? Kemesraan mereka selalu bikin iri.

__ADS_1


.


.


.


"Nia, coba kamu ceritakan tentang teman barumu di kampus, siapa tadi namanya– Nezar?" tanya Kak Litha sesaat setelah meletakkan keponakanku di box bayi setelah kenyang menyusu.


"Ya, Nezar– Nezar Abigail. Tidak ada yang istimewa, penampilannya juga sangat biasa tapi dia tahu banyak tentang dunia informatika, Kak."


Kuperhatikan mimik wajah Kak Litha berubah dan juga semakin antusias menanyakan sampai detail tentang Nezar, ada apa?


"Apa dia bekerja lepas di Media Online Babun?"


Aku mengangguk, "Kok tahu?"


Bukannya menjawab malah menyuruhku untuk membawanya ke hadapannya.


"Tidak. Kak Litha tahu kan bagaimana posesifnya suami Kakak itu. Kalau dia tahu aku membawanya ke hadapan istri tercintanya bisa dibekukan semua kartuku. Lagian ada apa sih? Apa Kakak kenal sama Nezar?"


"Aku belum tahu pasti, itu orangnya atau bukan. Harus kupastikan dulu dengan melihat wajahnya."


"Kenapa? Siapa dia?" selidikku.


"Kalau memang dia orangnya, aku harus berterimakasih padanya. Dia yang mendonorkan darah sewaktu aku ditusuk."


Mataku terbelalak, tidak percaya dengan apa yang kudengar, "Kok bisa?"


"Makanya itu, aku juga bertanya 'Kok Bisa', 'Kok timingnya pas', 'Kok golongan darahnya juga sama denganku'. Lebih lengkapnya nanti kuceritakan padamu setelah aku memastikan semuanya."


"Tapi aku tidak mau mengambil resiko suami Kakak membekukan kartuku. Jadi gembel nanti aku."


"Cih." Kakakku menjitak kepalaku, dengan gemasnya dia berujar, "Sombong sekali kau sekarang ya. Apa nama Pradipta mempengaruhimu?"


"Auuww ... Sakit, Kak! Sedikit banyak memang nama Pradipta sangat mempengaruhi kehidupanku terutama status sosial ... Oh ya, Kak, sabtu nanti kalau Kakak sama Kakak Ipar pergi ke acara pernikahan Dokter Vivian, aku ikut ya?


"Ikut? Ngapain?"


"Eng ... Tadi– tadi Bibi Lidya memintaku untuk mengamati anaknya selama disana. Bagaimana reaksinya apa sudah bisa move on atau tidak?" Sepertinya Jawabanku ada yang aneh.


Kak Litha memicingkan matanya menatapku tajam, "Bibi Lidya atau kau yang ingin memastikannya? Kalau memang Bibi ingin seperti itu dia pasti mengatakannya padaku bukan padamu."


"Bibi tidak ingin mengganggu perhatian Kakak. Kakak Ipar juga pasti tidak suka kalau Kakak mengamati pria lain," sanggahku cepat.


"Jago ngeles! Suamiku malah akan ikut mengamati sahabatnya."


"Tapi–"


"Sejak kapan kau menyukai Asisten Yan?"


DUARR!!!


Seperti disambar geledek jantungku sampai berhenti berdetak. Kenapa pertanyaan itu muncul bahkan aku sendiri sama sekali tidak pernah memikirkannya.


"Kau tahu, kan. Selain matamu, kulit putihmu itu juga tidak bisa berbohong. Kau kira bisa membohongi kakakmu yang sudah mengenalmu dari orok. Kau jawab saja, kalau tidak mau jangan berharap bisa ikut kami ke acara pernikahan," ancamnya.


Pikiranku masih nge-blank dengan pertanyaan menusuk ditambah ancaman yang mengintimidasi. Memangnya aku suka apa sama Asisten Tua itu? Bagaimana bisa aku menyukai lelaki yang sudah menghinaku Bulan Kesiangan? Sh*it!


- Bersambung -


NB : Maaf jika ada up-nya lama karena Author akhir-akhir ini sangat disibukkan di real life bahkan sampai sakit seperti sekarang ini. Semoga semuanya diberi kesehatan ya ....

__ADS_1


__ADS_2