Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Pemakaman Ibu (2)


__ADS_3

Pagi hari Kota A matahari bersinar dengan hangat, tidak panas dan tidak mendung. Aku menemani Kak Litha sarapan di pembaringan.


"Enak sekali, Nia. Sudah lama aku tidak makan soto gerabah Mbok Giyem. Terima kasih kau sudah membelikannya buatku, setahuku kau paling malas jika disuruh beli soto disana." Wajah Kak Litha masih menampakkan gurat kesedihan, tapi sekarang lebih baik karena dia sudah mau makan.


"Yang bikin malas itu ngantrinya Kak, ampun-ampun dah. Tapi demi calon keponakanku, selama apapun aku mengantri tidak masalah."


"Calon keponakan?"


Mata Kak Litha menyipit penuh selidik. Ah, ya informasi ini kan kudapat hasil menguping tadi malam.


"Kau menguping lagi, hah! Tidak sopan!"


"Maaf. Aku tidak sengaja mendengarnya."


"Sampai sejauh mana kau menguping?" cecar Kak Litha panik, dari gelagatnya ini aku tahu ada hal yang dia tidak ingin aku dengar.


Kak Litha sama halnya dengan Ibu yang sangat menghormati privasi. Biasanya aku akan diomeli habis-habisan dan dihukum jika ketahuan melanggar privasi orang lain tanpa izin –termasuk mencuri dengar percakapan orang lain– untungnya kali ini fisik Kak Litha sedang lemah, jadi aku cukup menebalkan telinga saja.


"Aku– aku dengar Kak Litha lagi hamil dan sedang dalam proses perceraian dengan Kakak Ipar," jawabku pelan, tidak berani menatap matanya.


"Benar hanya itu? Tidak ada yang lain?" selidik Kak Litha.


"Aku sebenarnya masih ingin dengar tapi keberadaanku hampir diketahui Bibi karena suara yang aku timbulkan saat memukul pintu. Jadi aku langsung pergi dari tempatku menguping."


"Kenapa kau memukul pintu? Tapi syukurlah jadi tidak semuanya kau dengar. Itu bukanlah sesuatu yang bisa didengar oleh anak dibawah umur," kata Kak Litha lega. Nada suaranya tidak setegang barusan, berarti memang ada hal-hal yang dia jaga, yang hanya boleh diketahui oleh Paman dan Bibi saja.


"Dibawah umur? Padahal dua bulan lalu aku sudah mendapatkan KTP masih dibilang dibawah umur?"


Kak Litha terkekeh mendengar gerutuanku, aku senang melihatnya tertawa kecil, "Aku juga baru tahu minggu lalu kalau ada kehidupan kecil dalam perutku, Nia. Pertama kali mengetahuinya aku sangat kacau karena kami sedang dalam proses perceraian."


"Makanlah dengan baik, jam 9 kami akan memakamkan ibumu." Bibi Rima duduk di samping Litha menatap wajah keponakan tercintanya.


"Bi, aku ikut ya?"


"Sebaiknya di rumah saja, kau belum begitu kuat. Nanti kalau disana kamu pingsan lagi gimana?"


"Nggak kok, Bi. Kemarin aku pingsan karena gak makan seharian, tapi sekarang aku sudah menghabiskan semangkuk soto. Pasti kuat, Bi."


"Kamu gak mual, Tha? Biasanya kan orang hamil mual dan muntah di pagi hari."


"Nnggg .... sampai sekarang aku belum mengalami sih Bi, biasa saja ... tapi memang ada beberapa jenis masakan tertentu yang baunya sangat menyengat dan tidak nyaman buatku."


Bibi Rima tersenyum dan mengusap kepala calon ibu muda itu, dia sudah tidak terlihat sesedih kemarin.


"Tha, Tuan Sasmita datang ingin bertemu denganmu."


Deg.


Hatiku menegang, sebenarnya seperti apa masalah yang Kak Litha hadapi? Tidak sesederhana yang nampak dan banyak hal-hal yang disembunyikan selain kehamilannya. Ah ... apapun itu, aku tidak peduli. Itu ranah pribadinya, pokoknya yang terpenting aku lihat dan merasakan Kak Litha bahagia, itu sudah cukup atau sebaliknya, aku tidak akan rela jika airmatanya menetes lagi.


"Lithaaaaa ...."


Tiba-tiba ada suara yang meneriakkan nama kakakku. Keberadaan Pak Sas sedikit tersingkirkan dengan kehadiran Kak Ninda yang langsung memeluk kakakku dengan erat. Perlahan mereka berjalan menjauhi Pak Sas mendekati jenazah Ibu yang sebentar lagi akan dikebumikan.


Aku disuruh Bibi menyajikan kopi hitam untuk Pak Sas, "Silakan diminum Pak."


"Terimakasih, Nona."


"Umm ... Pak Sas, bolehkah aku bertanya sesuatu?"


"Katakan apa itu," jawab pria paruh baya itu sembari menyesap kopinya.


"Apa kakakku akan baik-baik saja? Aku dengar dia akan bercerai," tanyaku hati-hati.


Pak Sas mengulas senyumnya, "Jangan khawatir, Nyonya dan bayinya akan baik-baik saja apapun statusnya. Aku sendiri yang menjamin itu," tegasnya.


Ada kelegaan yang bercampur dengan kesedihan, tangan Pak Sas menepuk pundakku seolah untuk meyakinkan aku bahwa apa yang dikatakannya tidak perlu diragukan sama sekali.


# Di Pemakaman #


Kami mengantar Ibu ke tempat peristirahatan terakhir. Seperti yang kuduga sebelumnya, keluarga besar Ayah yang datang hanya sekedar menggugurkan kewajiban karena status Ibu adalah istri Ayah, tetapi tidak sedikitpun empati yang mereka berikan pada kami yang ditinggalkan. Parahnya, mulut mereka sangat tidak tahu malu mengomentari kehidupan rumah tangga Kak Litha akibat suaminya tidak mendampingi saat pemakaman. Begitu banyak rumor yang mereka ciptakan sendiri, semakin gurih ditambah dengan spekulasi yang tidak jelas. Andai saja ini bukan momen pemakaman Ibu, ingin ku hajar mulut mereka yang tajam.


"Waduh, kok yo bojone Si Litha ora teko, padahal iki ibu mertuane yang meninggal lho. Ndak ada perhatiannya sama sekali, karangan bunga sing okeh ngarep omah yo untuk opo?"


"Iya ih, padahal aku arep ketemu, mau nitip Si Laras gawe di ibukota."


"Lah, arep gawe opo to Si Ratih di Ibukota? Wong cuma tamatan SD arep gawe neng kono. Dodol sego kucing karo es teh wae."

__ADS_1


"Kan, perusahaan gone bojone Litha, mosok sih ora diterimo."


Ehem ... ehem ...


Kudengar Pak Sas berdehem menghentikan ocehan mereka. Aku tidak begitu mempedulikan mereka lagi, pikiranku hanya terfokus pada Kak Litha yang kembali menangis saat Ibu dimasukkan ke liang lahat. Hatiku rasanya juga ikut masuk ke dalam sana, tapi apa daya ... aku tidak boleh terlihat sama menyedihkannya dengan Kak Litha. Setidaknya aku bisa menjadi sandaran untuk kakakku saat ini.


"Ibuuuuuu....." rintihnya tertahan.


"Kak, sudah Kak. Kakak jangan nangis lagi. Ibu sudah gak sakit. Ibu sudah tenang disana, asal jangan ditangisi seperti ini Kak. Ratapan Kakak akan menyiksa Ibu disana," kataku mengeratkan pelukan ketika airmata Kak Litha makin deras mengucur.


"Nia, Kakak merasa bersalah pada Ibu," ujar Kak Litha masih terisak.


"Kak, pasti ibu memaafkan dan memaklumi kalau Kakak melakukan kesalahan sama Ibu. Ibu hanya tidak bisa bicara lagi untuk memaafkan. Kakak kan, tadi sudah janji tidak menangis kalau ikut ke pemakaman, nanti Kak Litha bisa pingsan lagi."


Litha menyandarkan kepalanya di bahuku, masih juga terisak melihat jasad almarhumah Ibu terkubur tanah. "Nia, aku kok lihat Ibu di bawah pohon itu, dia tersenyum pada kita. Nia, kau lihat tidak?"


Aku mengikuti arah yang ditunjuk Kak Litha, tetapi tidak ada apa-apa di sana.


"Tidak ada, Kak. Kak Litha hanya berhalusinasi karena terlalu sedih, jadi Kakak seperti melihat Ibu. Ayo, Kak, kita pulang saja. Kakak harus istirahat," sanggahku.


"Nia ... kenapa pandanganku berputar–"


"KAK!"


Seketika Kak Litha jatuh di pelukanku. Aku sempat terpaku tidak menyangka Kak Litha tidak sadarkan diri untuk ketiga kalinya. Kak Ninda panik setelah melihat darah segar mengalir di betis kakakku.


Tanpa menunggu Pak Sas yang berjaga di barisan paling belakang langsung berlari ke depan. Dia segera mengangkat tubuh ringkih Kak Litha dan berlari membawanya ke mobil. Aku, Bibi dan Kak Ninda ikut ke rumah sakit sedangkan Paman Tino masih harus mengurus sisa-sisa pemakaman.


Hati kami semua sangat kacau, takut sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku tidak bisa membayangkan kalau sampai Kak Litha kehilangan janinnya, bisa-bisa dia depresi seperti Kak Tisha karena mengalami kehilangan beberapa hal dalam satu waktu.


"Ya Tuhan, aku mohon pada-Mu. Berikan jalan dimana kami sanggup melewatinya, jalan dimana ada alasan buat kami selalu percaya akan kemurahan-Mu."


Tidak henti-hentinya aku berdoa, tanpa suara aku memeluk Kak Litha di pangkuanku dan tidak bisa menahan airmata ini mengalir deras turun ke pipi.


...***...


# Rumah Sakit Medical Health #


Aku lega dan sangat bersyukur Tuhan masih bermurah hati pada kami. Janin yang berada dalam perut Kak Litha berhasil dipertahankan setelah nyaris keguguran. Dia juga harus bedrest selama beberapa hari di rumah sakit agar selalu dalam pantauan dokter.


"Kak, aku numpang tidur di sofa ya?" ijinku pada Kak Litha ketika Bibi Rima keluar ruangan mencari Paman Tino yang kebingungan menemukan kamar rawat inap keponakannya.


"Tidak, Kak. Yang penting Kak Litha sekarang jangan overthinking. Jaga keponakanku ya, Kak. Aku sudah tidak sabar bermain dengannya," ujarku mengusap tangan Kak Litha yang diinfus. Kemudian pergi merebahkan diri di sofa bermain ponsel, membelakangi Kak Litha yang sedang ngobrol dengan Kak Ninda.


"Tha, terus terang aku bingung, kamu bisa hamil bukannya–"


Kalimat Kak Ninda yang menggantung membuatku penasaran, apalagi pernyataannya yang mengatakan kalau Kak Ninda bingung kenapa Kak Litha bisa hamil. Bukankah hal yang wajar seorang istri hamil dalam pernikahan sahnya? Justru yang harus bingung itu kalau hamil di luar pernikahan.


"Yah, namanya kami tinggal dalam satu kamar selama pernikahan, Nin. Wajar ada satu waktu kami khilaf. Tapi sudahlah, aku tidak ingin mengingatnya lagi."


Aih ... tanggapan Kak Litha makin membuatku semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi. "Khilaf bagaimana? Kan, sesuatu yang wajar juga kalau mereka berhubungan intim." batinku.


"Bukannya kamu bilang mau menyerahkannya pada orang yang kamu cintai dan mencintaimu. Kamu gak tahan yaaaa?? hihihihihi ...." Kak Ninda meledek Kak Litha.


"Apa ini!" seruku makin bingung


"Halah, kamu juga dicium Bona, diam aja."


"Aihhh, jangan diingat-ingat lagi dong kejadiannya, Tha. Pokoknya kamu berhutang cerita malam pertama padaku, titik."


Kemudian mereka berdua tertawa bersamaan. "Apa Tuan Rayyendra tahu kalau kamu hamil, Tha? Kalian kan sudah mau berce–"


Hening sejenak.


"Iya, iya ... ih, sakit, Tha. Tapi apa suamimu tahu kalau kamu hamil anaknya?" Ninda mengulang pertanyaannya dengan berbisik.


"Ya, ya, ya ... Kalian teruskan saja obrolannya, biar aku bisa mengurai benang merah yang kusut di kepalaku karena kalian semua menganggapku anak kecil yang belum boleh tahu urusan dewasa." batinku dengan mata terpejam, pura-pura tidur.


Aku masih saja heran dengan Kakak Ipar. Sesibuk apapun urusan kantor, apa tidak bisa didelegasikan? karena hari ini adalah hari pemakaman ibu mertuanya. Toh, kalaupun pada akhirnya bercerai setidaknya dia datang sebagai bentuk penghormatan terakhir pada Ibu supaya cemoohan keluarga besar Ayah tidak kami dengar.


"Awas kau Tuan Muda! Jangan coba-coba kau tunjukkan batang hidungmu setelah Ibu dikubur. Meskipun aku dianggap bau kencur, aku sama sekali tidak takut menghadapimu," geramku dalam hati.


"Terus apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Kak Ninda lanjut bertanya pada Kak Litha.


"Entahlah, Nin. Aku mungkin tinggal dulu disini sampai melahirkan. Aku tidak mungkin melanjutkan skripsiku sekarang. Wira-wiri di kampus dengan perut buncit, apa lagi nanti gosipnya."


"Kukira kamu tidak pernah ambil pusing omongan mereka. Berarti kamu cuti kuliah?"

__ADS_1


"Aku juga manusia biasa lah, Nin. Sekali dua kali atau tiga kali masih bisa aku cuekin, tapi ini selalu aku dengar tiap aku ke kampus. Belum lagi dosen-dosennya juga menudingku memperburuk citra kampus. Hhmppfhh ... iya aku cuti, nanti minta tolong diurusin ya?"


"Wah, bisa-bisa kita wisuda bareng, soalnya aku sudah mulai nyusun proposal. Kamu gak jadi duluan ninggalin aku hehehehe ...."


"Malah kamu nanti lho yang duluan, karena paling enggak aku cuti setahun."


"Apa aku nunggu kamu saja ya? Biar bisa wisuda bareng."


"Janganlah, kita memang sahabat tapi jalan hidup kita masing-masing."


"Terus anak kamu gimana kalau kamu pisah nanti?"


"Ya sudah, aku jalani saja. Aku akan berjuang untuk anakku seperti Ibu yang berjuang untuk anak-anaknya. Kamu tahu, Nin? Pertama kali aku tahu aku hamil, aku tidak terima anak ini dalam perutku. Aku marah, sedih dan menyesal karena kupikir masa depanku sudah tidak ada. Aku tidak bisa mengejar mimpiku lagi karena harus membesarkan anak ini. Begitu dengar kabar Ibu meninggal dan aku tidak punya alasan untuk hidup, justru anak ini menjadi penguatku, Nin. Dia menggantikan Ibu sebagai alasanku bertahan sekarang. Aku menyayanginya, aku akan merawatnya dan membesarkannya meski seorang diri. Aku akan melakukan apapun untuknya dan aku akan melindunginya dengan nyawaku."


Aku mendengar jelas percakapan mereka, lagi-lagi air mataku menetes. Hatiku perih, ternyata apa yang dialami kakakku jauh lebih pedih dari perkiraanku.


Tanganku mengepal, "Kak, tenanglah, aku akan membalas budi baikmu dengan ikut merawat dan membesarkan anakmu. Kau tidak perlu khawatir, kita adalah perempuan tangguh Kak," lirihku dalam hati.


Tidak berapa lama suara pintu kamar dibuka, "Bi, Paman masih suka nyasar ya, ketemu di– "


Hening.


Aku ingin tahu kenapa suara Kak Litha terhenti, kulirik sejauh mungkin dengan ekor mataku untuk melihat, sayangnya posisi baringku membatasi jangkauan penglihatan.


"Ada apa ini? Kenapa senyap begini?"


Tiba-tiba ada tangan Bibi menepuk-nepuk bahuku. Begitu berbalik, aku melihat suami Kak Litha berada tidak jauh dari pintu. Mereka berdua saling pandang dalam diam, suasana menjadi canggung.


"Nia, ayo tidur di rumah saja. Beri kakakmu istirahat," kata Bibi Rima menarik-narik tanganku untuk segera bangkit berdiri.


"Ih, Bibi! Memangnya apa yang kulakukan? Aku kan tidak melakukan apapun disini? Apa karena Kakak Ipar datang?" tanyaku ketus dengan merengut.


Aku sengaja mengeraskan suara agar terdengar sampai ke telinga Kakak Ipar tapi Bibi malah mencubit lenganku. Tidak lama Kak Ninda berjalan menuju pintu diikuti Bibi yang menarik paksa lenganku untuk meninggalkan Kak Litha berdua dengan suaminya.


Ketika aku berada pada jarak yang paling dekat dengan manusia penyebab kesedihan kakakku –tanpa melihat sosoknya– kuberanikan untuk menyindirnya, "Pemakaman Ibu sudah selesai, apa yang mau dilihat?"


Seketika suasana yang sedari tadi canggung menjadi lebih dingin. Tidak berapa lama Paman Tino yang juga mendengar celetukanku menjadi salah tingkah, dengan cepat dia menarik tanganku menjauh dari kamar inap Kak Litha.


"Paman, tanganku sakit!" seruku melepas cengkraman Paman di pergelangan tangan.


"Kau ini berani sekali berkata seperti itu pada Tuan Muda. Kau tidak tahu bagaimana kalau Tuan Muda marah," desis Paman dengan bola mata yang nyaris keluar.


"Haisshhh ... Apa alasannya marah? Yang harusnya marah justru Kak Litha, karena dia tidak mendapatkan perhatian dan perlindungan yang layak dari suaminya. Kak Litha sendirian menghadapi masa terpuruknya!" sengitku tak mau kalah.


Tidak peduli balasan Paman, aku kembali menuju kamar kakakku diikuti Kak Ninda dan Bibi. Kuhentikan langkah di depan pintu dan menempelkan telinga di sana, tidak disangka Bibi dan Kak Ninda mengikuti apa yang kulakukan. Astaga!


"Permisi, kalian tidak diperkenankan menguping pembicaraan Tuan Muda dan Nyonya Muda." kata seseorang di sebelahku berusaha mengusir kami.


Tangan Paman juga menarik-narik lengan istrinya, "Ayo Bu, kita menjauh dari sini dulu. Tidak baik menguping pembicaraan orang."


"Bagaimana kalau Litha disakiti Tuan Muda di dalam. Dia lagi hamil dan kondisinya sangat lemah," timpal Kak Ninda, aku dan Bibi mengangguk setuju.


"Justru itu, Tuan Muda tidak mungkin berbuat apa-apa pada Nyonya Muda yang sedang mengandung anaknya. Ayolah kalian pergi dulu," bujuk seseorang di sebelahku lagi.


"Aihhh ... cerewet sekali!" gumamku kesal.


Sekali lagi aku tidak peduli, kakakku adalah prioritasku. Kenapa ada orang lain yang ingin mengatur-ngaturku? Ku tengokkan kepala melihat siapa yang dari tadi berceloteh memihak Tuan Muda.


Deg.


"Dia! Oh Tuhan ... kenapa aku harus melihatnya di saat begini. Maaf Tuan, walaupun aku menyukaimu tapi kita berada di tempat yang bersebrangan. Siapapun dirimu, kakakku tetap nomor satu di hatiku."


"Kakak diam saja kenapa sih! Aku akan menjaga Kak Litha dari sini."


Dia nampak terkejut, "Eh, dia bocil berani menghardikku!" gumamnya jengkel yang dapat didengar olehku.


Ehemm ... ehemm ..


Pak Sas berdehem di belakang kami saat aku ingin membalas gumamannya. Spontan kami semua berbalik melihat Pak Sas yang sudah seperti malaikat pencabut nyawa, mengerikan.


"Tidak baik terlalu banyak tahu. Pergilah! Kalian tidak perlu khawatir, saya yang akan menjaga Nyonya."


Tanpa protes aku, Kak Ninda dan Bibi langsung beringsut dari depan pintu tanpa suara sedikitpun.


"Awas saja! Kalau setelah ini kondisi Kak Litha makin drop, aku akan membuat perhitungan dengan tuan muda angkuh itu. Bercerai, ya bercerai saja ... Jangan tambah menyakiti lagi."


"Vania!" teriak Bibi di telingaku dengan bola mata yang nyaris keluar.

__ADS_1


"Haissh ... Suami istri ini memang sehati, gaya marahnya pun sama."


- Bersambung -


__ADS_2