
Bruaakhh ....
Kak Litha jatuh tidak sadarkan diri. Beruntung jasad Ibu masih berada di rumah sakit ketika dia datang, jadi pingsannya Kak Litha bisa langsung ditangani tenaga medis. Aku, Paman dan Bibi panik sekaligus bingung, siapa yang harus kami urus terlebih dahulu, jasad Ibu atau Kak Litha?
Kuamati tubuh kakakku. Kurus dan pucat, kantong matanya begitu terlihat dengan lingkar hitam yang samar di matanya. Benar dugaan Ibu kalau keadaan Kak Litha tidak baik-baik saja dan itu pasti berhubungan dengan suaminya.
Bagaimana tidak ada hubungannya, dia datang seorang sendiri menggunakan kereta api kelas ekonomi dengan kondisi lemah begini tanpa ditemani siapapun. Aku tidak bisa membayangkan kalau pingsannya Kak Litha terjadi sebelum bertemu kami. Dimana lelaki yang seharusnya menjadi pelindungnya dan menjaganya? Aaarrrggghhh! Perasaanku tidak enak dan ingin marah pada Tuan Muda yang sombong itu.
"Nia, kamu tolong jaga kakakmu disini dulu ya. Paman mengurus jenazah ibumu, Bibi mau ke dokter yang memeriksa Litha," ujar Bibi Rima membagi tugas.
Aku mengangguk, "Kukira Kak Litha hidupnya senang karena menikah dengan kakak ipar yang katanya kaya raya. Tapi kenapa Kak Litha badannya sangat kurus?"
Bini Rima terkesiap mendengar celetukanku lalu diperhatikannya wajah Kak Litha yang sedang tidur di pembaringan dengan sedih, "Sudahlah. Kamu jangan berpikir macam-macam. Bibi tinggal ya."
Aku mengangguk lagi.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Kak? Apa suamimu menyakitimu? Kalau iya, jangan diam saja. Tolong katakan sesuatu." batinku menatap wajahnya.
Jika benar Kak Litha disakiti suaminya sendiri, apa salahnya? Setahuku kakakku ini adalah orang yang tahu diri. Dia tidak akan merugikan siapapun, bahkan dia cenderung mengalah karena tidak ingin mencari masalah.
...***...
Hatiku sangat pilu memandangi Kak Litha bersimpuh di jasad Ibu, menangis tiada henti. Dia menyesal datang terlambat sehingga tidak dapat menemui Ibu di saat terakhir.
"Ibu, Ibu, aku minta maaf Ibu. Minta maaf .... "
Bibi terus mengusap pelan pundaknya, memberi kekuatan yang tidak seberapa karena Bibi juga sangat terpukul ditinggal Ibu, sahabat sejak kecil yang selalu bersama. Tanpa terasa, airmataku kembali luruh melihat mereka.
"Ibuuuuu ... Aku berdosa padamu Ibu. Aku berdosa telah berbohong padamu. Ibuuuuuu!!!" jerit Kak Litha masih belum bisa menerima kepergian Ibu.
"Ibuuuuu ... maaf, maaf Ibuuuu ...." lengkingnya lagi.
Sejak awal kondisi fisik Kak Litha sangat lemah, walaupun sudah diinfus tetap tidak bisa menampung beban tubuh dalam kesedihan. Jiwanya terguncang hebat, aku sangat cemas sesuatu yang buruk akan terjadi jika dia tidak bisa mengendalikan pikirannya.
"Kak, mundurlah sedikit. Jangan terlalu sedih begini," bujukku menarik badan Kak Litha perlahan mundur dari jenazah Ibu.
"Bagaimana bisa aku tidak sangat sedih, Nia. Ibu– Ibu pergi tanpa pamit padaku, sama seperti Ayah. Kenapa? Apa Ibu membenciku karena aku tidak mengurusnya? Apa aku mungkin terlalu sibuk dengan urusan pribadiku sendiri dan Ibu marah padaku? sampai tidak mau menunggu sedikiiit saja untuk berpamitan denganku " ceracau Kak Litha menguras emosinya.
Aku memahami apa yang dirasakannya saat ini. Aku yang masih diberi kesempatan untuk bersama Ibu di saat terakhirnya saja masih belum ikhlas apalagi Kak Litha, pasti dia akan selalu menyalahkan dirinya.
"Ibu tidak marah sama Kak Litha. Aku sudah mengatakan kalau Kak Litha sedang dalam perjalanan, tapi Ayah sudah tidak sabar menunggu Ibu untuk menjemputnya pergi bersama."
"Tidak! Aku yang salah. Salahku kenapa naik taksi sudah tahu jalanan macet, harusnya aku naik ojek. Ini memang salahku, aku terima kalau Ibu marah tapi jangan begini. Ibu meninggalkanku sendirian di dunia ini. Kalau memang Ibu tidak bisa menunggu sekalian saja bawa aku pergi bersamanya."
__ADS_1
Tangis Kak Litha makin menjadi terus menyalahkan dirinya sendiri. Aku langsung memeluknya, tangis kami melebur menjadi satu, tapi hanya suara isak tangis Kak Litha saja yang terdengar.
"Ibuuuuu ... maaf, maaf Ibuuuu ... Jangan marah padaku, jangan menghukumku seperti ini."
Kak Litha tidak berhenti meraung, sangat menyedihkan melihatnya seperti orang tidak waras, seperti raungan Kak Tisha saat meninggalnya Ayah. Rasa bersalah yang mendera jiwanya telah membuat luka paling dalam yang nantinya sulit dipulihkan.
Tidak disangka, Kak Litha kembali ambruk di samping jenazah Ibu. Mukanya begitu pucat hampir menyamai wajah Ibu yang ditutupi kafan. Semua panik, Paman langsung mengangkat Litha ke kamar. Bibi berlari ke dapur membuat teh panas dan aku mencium-ciumkan minyak kayu putih ke hidungnya untuk mengembalikan kesadaran.
"Nia, istirahatlah. Kau juga pasti lelah, Nak. Besok kita akan memakamkan ibumu, biar kami yang berjaga." Paman Tino memintaku untuk segera beristirahat setelah Kak Litha siuman.
Aku mengangguk dan dan beranjak keluar dari kamar Ibu yang sekarang ditempati Kak Litha. Wajah kakakku begitu menyedihkan.
"Ikhlaskan ibumu, Litha. Ibumu tidak akan bisa pergi dengan tenang kalau kau seperti ini." Paman Tino memberi nasehat yang kudengar ketika di ambang pintu kamar.
Bibi Rima membantunya bangun duduk bersandar pada kepala dipan, lalu dia menyodorkan teh hangat untuk diminum Kak Litha, namun kakakku menggeleng lemah.
"Minumlah, Nak. Hari ini hanya cairan infus yang masuk di tubuhmu. Tentu akan sangat buruk bagi janinmu kalau keadaanmu lemah begini. Dia bisa kekurangan nutrisi karena ibunya tidak mau makan dan minum."
Zingg.
Janin.
Jantungku seakan berhenti berdetak. Segera aku mencari posisi terbaik untuk mencuri dengar. Aih, sebenarnya aku sudah berjanji pada Ibu agar menghentikan kebiasaan buruk menguping, tapi ini berita penting, sangat penting.
Kuintip mereka bertiga dari celah antara dinding dan daun pintu, nampak air muka Kak Litha kaku, "Apa Bibi dan Paman sudah tahu? Da– darimana?" katanya gugup.
"Dokter yang memeriksamu saat kau pingsan di rumah sakit." Kak Litha sudah tidak bisa mengelak, dia tersenyum canggung.
"Apa Tuan Muda sudah tahu?" tanya Paman Tino.
Litha menggeleng, "Aku dan Tuan Muda saat ini sedang dalam proses perceraian, Paman. Pengacara Keluarga Pradipta yang mengurusnya."
"Apa!?!" teriak Paman dan Bibi bersamaan.
Bagai disambar petir, kedua bola mataku nyaris keluar. Aku menutup mulut erat, takut suaraku tidak bisa ditahan. Berita ini terlalu mengejutkan dan tentu menyakitkan.
Cerai .
Bagaimana mungkin mereka tengah berada dalam proses perceraian? Bukankah mereka saling mencintai? Dan ini baru saja hitungan bulan mereka menikah, kalaupun berpisah setidaknya menunggu beberapa tahun dulu untuk bosan.
"Mereka bercerai saat Kak Litha mengandung buah hati mereka. Apa ini lelucon? Tega sekali Tuan Muda itu! Karena banyak uang, setelah bosan istri dan anaknya pun tidak diinginkan lagi. Heh! Bisa jadi inilah yang disembunyikan Kak Litha, sayangnya sampai mati Ibu tidak bisa dikelabui."
Kukepalkan kedua tangan dan mengatupkan geraham, menahan amarah. Mataku terasa panas dan hatiku sangat sakit.
__ADS_1
"Pantas saja, Kak Litha datang sendiri dengan kereta, ternyata mereka sudah berpisah sebelumnya– tinggal menunggu resmi secara administrasi. Kurang ajar kau, Tuan Muda Brengsek!" desisku tertahan, tanpa sadar kepalan tanganku memukul pintu.
"Bunyi apa itu?" tanya Bibi Rima, matanya melihat ke arah pintu dan berjalan mendekat ke arahku.
Segera aku lari menjauhi tempat dimana posisiku menguping tadi. Untuk sementara, aku akan diam berpura-pura tidak tahu apa-apa karena jenazah Ibu belum dikebumikan. Aku akan fokus mengurus pemakaman Ibu dulu.
Sayup-sayup kudengar suara tangisan yang memilukan. Suara tangis itu milik kakakku, tangisan yang berbaur menjadi satu kehilangan, kehilangan ibundanya juga rumah tangganya. Kini, hanya kami tempatnya bersandar dan kembali setelah sekian waktu dia berusaha menutupinya sendiri. Ah, betapa menyakitkan yang kakakku rasakan, betapa nasib lagi-lagi tidak berpihak padanya. Dia wanita rapuh yang selalu mengajarkanku untuk tegar meski hatinya sudah terinjak-injak.
.
.
.
Belum masuk ke kamar, Bu Yuni, salah satu tetangga yang ikut mengurusi pemakaman Ibu menghampiriku, "Nia, ada yang mencari kakakmu, datang dari Ibukota. Kukira tadi suaminya Litha, ternyata bukan."
"Siapa?"
"Katanya tadi asistennya Litha, dia juga menyebut kakakmu Nyonya."
"Oh," sahutku mengerti, "Kak Litha, juga Paman dan Bibi ada di kamar Ibu. Bu Yuni beritahukan saja langsung pada mereka. Biar aku yang menyambutnya terlebih dahulu."
Begitu aku ke pekarangan rumah yang dipasang tenda, terlihat ada banyak sekali karangan bunga yang aku sendiri tidak tahu dari siapa. Karangan-karangan bunga itu di bawa oleh seseorang laki-laki paruh baya nan berwibawa berpakaian necis. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Sasmita, Asisten Nyonya Muda yang tidak lain adalah Kak Litha.
"Memang kudengar Kak Litha diberi asisten pribadi, namanya Pak Sas. Tapi kenapa dia datang berbelasungkawa sendirian? Meskipun dalam tahap proses perceraian paling tidak Tuan Muda Brengsek itu menunjukkan empatinya sedikit saat ibu mertuanya meninggal, selain itu menjaga marwah Kak Litha di depan keluarga besar Ayah. Bagaimanapun juga mereka belum bercerai, kan?" gumamku dalam hati menatap hampa Pak Sas.
"Ada apa Nona? Kenapa melihatku seperti itu?"
"Engg ... Aku hanya berpikir kenapa Pak Sas datang sendirian? Kukira–"
Ucapanku terhenti melihat Bibi dan Paman datang mendekat, aku menunduk dan segera pamit. Sebelum kembali ke kamar untuk beristirahat, aku berhenti sejenak di samping jenazah Ibu.
"Bu, aku akan menepati janjiku. Apapun yang terjadi pada Kak Litha, aku pastikan dia akan baik-baik saja. Apakah Ibu tahu kalau Kak Litha sedang hamil? Ibu pasti senang sebentar lagi akan menjadi nenek, sama seperti aku akan menjadi bibi. Meskipun dia nanti tumbuh tanpa mengenal ayahnya, tidak akan ada siapapun yang boleh menyakitinya," kataku lirih, bicara pada seonggok daging yang sudah tak bernyawa.
"Ibu, kuatkan aku– demi menjaga Kak Litha dan Kak Tisha," pintaku dalam hati sambil memejamkan mata, mengikrarkan pada diriku sendiri agar tidak menangisi Ibu dan Ayah di hadapan kedua kakakku.
"Nyonya, terima kasih Anda telah mengizinkan putri Anda masuk dalam Keluarga Pradipta. Anda tidak perlu khawatir, saya akan memegang janji saya pada Nyonya, menjaga dan melindungi Nyonya Muda. Beristirahatlah dengan tenang, Nyonya."
Kubuka mataku setelah mendengar sebuah suara, Pak Sas menunduk memberi hormat pada Ibu. Entah mengapa ucapannya membuatku terenyuh. Andai saja yang berkata seperti itu adalah suaminya.
Hatiku kembali sakit, seperti diremukkan dengan sekali remasan. Kukira roda kehidupan kami tengah merangsek naik ke atas, ternyata kami harus lebih bersabar karena jalan terjal dan berlubang yang kami lewati membuat roda kehidupan kami tersendat.
Kulihat Paman dan Bibi mengajak Pak Sas ke salah satu sudut ruangan, nampak pembicaraan serius diantara mereka. Aku tahu Paman dan Bibi tidak akan tinggal diam menyaksikan keponakan yang sudah dianggap putri mereka sendiri disakiti. Terlebih lagi Bibi, dia pasti maju memperjuangkan hak-hak Kak Litha yang ditindas tanpa takut meski yang dihadapinya adalah seorang Tuan Muda dari keluarga yang berkuasa.
__ADS_1
- Bersambung -