
Seminggu setelah kelahiran penerus Keluarga Pradipta diadakan acara besar nan meriah. Kebun belakang tempat ditanamnya plasenta dihias menyambut kelahiran Baby Zean. Menurut Kepala Pelayan, ini adalah pertama kalinya dalam sejarah semenjak Nyonya Rianti -ibunda Tuan Muda- wafat, kediaman utama Keluarga Pradipta menyelenggarakan pesta atau acara besar yang mengundang banyak orang. Selama kurang lebih tiga puluh tahun rumah ini begitu sepi dan dingin, namun sekarang suasana begitu ceria dan hangat.
Didominasi warna putih tulang kombinasi biru muda, kebun disulap menjadi lokasi pesta kebun yang indah. Tiga tenda super besar nan megah didirikan juga dilengkapi dengan area bermain anak dan kids corner agar anak-anak yang dibawa serta para undangan juga dapat merasakan kebahagiaan si empunya acara. Jangan ditanya mengenai menunya, Si Nyonya Rumah sangat menyukai makanan, jadi bisa dipastikan makanan dan minuman yang tersedia tidak akan mengecewakan.
Aura kebapakan menguar di sekitar sosok Presdir Pradipta Corp., Baby Zean selalu dalam gendongannya ketika menyapa para tamu undangan sedangkan Kak Litha hanya akan mendapat kesempatan menggendong jika Baby Zean ingin menyusu. Ucapan selamat dan doa dari semua yang hadir disitu terdengar tiada henti, termasuk beberapa pemuka agama yang diundang untuk turut mendoakan Zeandra Putra Pradipta, keponakanku yang sangat tampan dan menggemaskan.
"Lihat! Bayiku sangat mirip denganku, bukan? Ketampanannya memang sudah terlihat sejak lahir, itu karena ayahnya juga sudah tampan dari lahir. Rambutnya juga sangat lebat dan kulitnya putih kemerahan sepertiku dulu."
Kalimat itu berulang-ulang didengungkan Kakak Ipar setiap kali ada yang menyapanya, "Apa Kakak senarsis itu?" bisikku di telinga Kak Litha.
"Suamiku memang narsis, tapi kian bertambah sejak Zean lahir. Huufftt ..."
"Sah juga kau jadi Ayah, Ray. Aku ikut bahagia, semoga sifat pemarahmu tidak menurun padanya," sahut Kak Bona menepuk pundak Kakak Ipar sambil melihat Baby Zean.
"Aih, Zean sudah bangun. Tapi aku agak takut sama matanya, Tha. Kenapa dia tidak memiliki mata ibunya saja?" gumam Kak Ninda yang membuat Si Ibu Bayi tergelak.
Kak Ninda benar, mata keponakanku mata yang penuh kewaspadaan, hahaha ...
"Masih bayi, dia sudah bisa mengintimidasi, hiii ..." Kak Bona bergidik menanggapi gumaman kekasihnya.
"Kenapa semua orang mengharapkan sifat anakku sama seperti ibunya? Apa tidak ada yang menginginkannya sepertiku yang tampan, kuat, berwibawa dan ditakuti?" keluh Kakak Ipar yang disusul kekehan istrinya.
Tidak berapa lama, semua perhatian tertuju pada dua mobil box yang baru saja memasuki pekarangan rumah utama, langsung parkir di depan salah satu tenda.
"Tuan, Nyonya, ini semua hadiah dari London. Tuan Firza ingin melakukan panggilan video setelah semua hadiah diterima," ujar Pak Is menjelaskan.
Aku takjub melihat begitu banyak hadiah yang dikirimkan dari benua Eropa. Ternyata Tuan Firza sangat pemurah, meski jauh tidak lupa menaruh perhatian besar bagi keponakannya.
Berbagai bingkisan hadiah dibungkus apik dengan bentuk ukuran yang berbeda-beda, "Yang besar itu pasti boneka, Kak?" ujarku menunjuk bingkisan yang paling besar setinggi badanku baru diturunkan dari truk.
"Tahu dari mana? Masa Zean dikasih boneka besar," Kak Litha memicingkan matanya.
"Apalagi kalau bukan boneka, besar begitu ... Kalau bukan boneka beruang besar ya robot berbentuk manusia dengan Artificial Intelegensia terbaru."
"Bayi baru lahir, kok dikasih robot. Biasanya kan perlengkapan mandi, popok, baju atau–"
"Itu hadiah orang di kampung, Kakak, ditambah beberapa kaleng susu kental manis untuk Si Ibu, hahaha ...."
"Sombong kau ya, Nia. Mentang-mentang akan menjadi Nona Pradipta."
"Haishh ... Siapa yang mau menjadi Nona Pradipta? Suami Kakak itu Tuan Pemaksa, kalau tidak dipaksanya, tidak mungkin aku pasrah menerimanya."
Kak Litha tergelak, "Hei! Itu julukanku buatnya selain Tuan Muda Congkak."
Aku terbahak mendengarnya, syukurlah jika dulu Kak Litha membenci Tuan Muda, sekarang dialah pria yang paling dicintainya dan mencintai dirinya.
"Sayang, aku akan menelepon Firza, kau mau ikut menyapanya?" Kakak Ipar akan melakukan videocall setelah semua hadiah di letakkan di salah satu tenda khusus untuk kado-kado Tuan Muda Kecil.
Kak Litha mengangguk, "Ya."
"Kalau begitu aku menikmati makanan dulu ya Kak," kataku menunjuk tempat makanan yang tersaji.
Begitu indah dekorasi pesta, semuanya ditata dengan begitu pas sesuai porsinya. Aku tidak tahan untuk tidak mengabadikan setiap moment ini. Kuambil ponsel dari kantong gaunku dan memotretnya.
Cekrek.
Cekrek.
Cekrek.
Cek–
Tiba-tiba sorot mataku menangkap sosok perempuan berkacamata dan berlesung pipi yang dihampiri Asisten Yan. Aku tidak tahu siapa gadis itu, tapi dari ciri-ciri yang pernah Kak Litha sebutkan, aku yakin perempuan itu adalah dr. Vivian.
Aku mengambil posisi sedekat mungkin, membelakangi Asisten Yan untuk mendengar apa yang mereka bicarakan. Ya ampun, padahal aku sudah berjanji akan menghilangkan kebiasaan buruk ini tetapi sekarang hatiku jelas menolaknya, aku ingin tahu apa isi perbincangan mereka.
"Selamat siang Dokter, bagaimana kabar Anda?" sapa Asisten Yan memberikan segelas Mocktail pada lawan bicaranya.
"Baik," jawab dokter itu singkat dengan senyum lesung pipitnya yang manis.
"Dalam waktu dekat Dokter akan dimintai keterangan sebagai saksi di pengadilan. Semoga semua berjalan lancar."
"Ya. Semoga kesaksianku bisa memberatkan hukuman lelaki bejat itu."
Sang pria mengangguk dengan meneguk minuman dalam gelasnya hingga tersisa setengah, "Dokter datang sendiri?"
__ADS_1
"Ya. Tuan kira aku akan datang dengan siapa?"
"Tunanganmu."
Glek.
Hampir saja gelas di tanganku terlepas. Strategi apa yang sedang dimainkan oleh Asisten Yan? Kenapa hatiku gusar seketika? Terlebih dokter itu mengurungkan meminum isi gelasnya yang hampir ditelannya. Apa dia berharap sesuatu? Lihatlah– wajahnya tegang dan ragu.
" ... "
Suasana menjadi canggung.
"Ku– kupikir undangan hanya untuk yang bersangkutan. A– aku tidak tahu kalau bisa membawa teman."
Asisten Yan tergelak, "Teman? Hahaha ... Kau jahat sekali Dokter– harusnya kau ajak tunanganmu, bukan temanmu."
" ... "
Sh*it!
"Aku menyukaimu, Dokter."
BLAM.
Jantungku bergemuruh kencang mendengar ungkapan perasaannya. Pria itu dengan sadar mengakui tanpa ragu sedikitpun hingga muncul rasa kecewa menelusup ke dalam hatiku.
"Hah! Apa?"
"Maafkan aku, jika pernyataanku barusan mengagetkanmu. Jangan terbebani, Dokter ... Aku tahu Dokter akan segera menikah dan aku tahu Dokter bukanlah seorang wanita yang bisa kumiliki meski aku memperjuangkannya. Aku hanya ingin berusaha melepasmu saja dengan mengakui langsung perasaanku di depan orangnya, biar tidak ada penyesalan nantinya."
Apa-apaan ini! Dia menjiplak caraku! Caraku melepas perasaan. Apa dia tahu apa yang dilakukannya justru makin sulit untuk melupakannya. Kenapa aku tahu? Karena aku seperti itu! Damn!
Raut wajah dr.Vivian memucat, matanya nanar menahan tangis. Entah apa yang dia rasakan. Insting wanitaku mengatakan kalau dirinya berada diantara senang sekaligus sedih. Senang karena dia juga memiliki perasaan yang sama dengan pria yang baru saja mengungkapkan perasaannya dan sedih karena pria yang akan dia nikahi bukan pria yang dia inginkan.
Konyol! Sungguh konyol! Apakah dia berpikir untuk memiliki keduanya? She is crazy!
Tanpa bicara, dokter itu berlari menjauhi Asisten Yan layaknya pecundang yang berlari saat perang berlangsung.
"Dokter!"
"Kau menguping ya?"
Tiba-tiba suara dari belakang mengagetkanku, hampir saja minuman di gelas tumpah.
"Mmm ... Menguping? Menguping apa? Aku tidak tahu maksudmu?" sanggahku tanpa berbalik pura-pura tidak mengerti.
Lebih baik aku pergi sekarang juga!
"Ah! Si*al!" umpatku pelan saat dia mencengkeram lenganku.
"Kau bisa lihat aku bukanlah pecundang seperti yang kau sebut, kan, Nona?" sahutnya membalikkan badanku hingga wajah kami saling berhadapan, hanya dua centimeter hidung mancungnya berjarak dari keningku.
" ..."
Aku bingung harus berkata apa. Jakunnya bergerak menelan salivanya sendiri saat menatap lekat wajahku– seperti sedang menahan sesuatu. Tidak! Apa dia akan mencoba menciumku lagi? Aku harus berbuat sesuatu ...
"Oh ya? Mengungkapkan perasaan seharusnya adalah suatu kesungguhan hati, bukan karena tidak terima disebut pecundang ... Itu malah membuktikan dirinya adalah seorang pecundang sejati," ujarku sembari mengangkat satu sudut bibir dan memandangnya dengan ujung ekor mata, pandangan yang merendahkan, "Sebaiknya Tuan Asisten berguru pada Tuan Muda bagaimana caranya menyampaikan isi hati," sambungku lagi dan langsung berlalu dari hadapannya setelah melepas cengkeramannya di lenganku.
"KAU!" pekik pria itu emosi.
Aku tersenyum, tertawa puas dalam hati, apalagi mendengar raungan marahnya membahana di udara sampai Kakak Ipar menghampirinya. Hahaha ....
...***...
PoV Litha
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Mas Rayyendra membuyarkan segala teoriku saat sedang menyusui Zean.
"Mas, apa kau percaya kalau yang mengatakan Bulan Kesiangan itu Serena?" Aku balik bertanya pada suamiku.
"Kalau yang dikatakan Nia orang itu Serena Wijaya, berarti dialah orangnya. Dan hari ini perusahaan Keluarga Wijaya sudah diakuisisi oleh Pradipta Corp." jawabnya enteng.
HAH!
Mataku membulat tidak percaya apa yang kudengar, "Kenapa diakuisisi?"
__ADS_1
"Ekspansi perusahaan ke Kota A."
Mataku memicing melihat wajah tampan suamiku, mencari jawaban jujur disana. Dia tergagap, senyum-senyum salah tingkah.
"Eh– beneran ... ekspansi perusahaan di Kota A. Kan, pernah kubilang kalau aku ingin menguatkan Pradipta Corp. disana. Ini salah satu aksinya."
"Kebetulan sekali dengan mengakuisisi perusahaan Keluarga Wijaya?"
"He– eh."
"Mas."
Kutajamkan lagi picingan mataku. Dia mau main rahasia-rahasiaan denganku rupanya.
"Oke, oke. Aku sengaja mengakuisisinya," jawabnya menyerah.
"Kenapa?"
"Karena dia menyakiti Vania. Syukur-syukur aku hanya membuat perhitungan dengan perusahaannya, bukan dengan orangnya langsung," jawabnya lugas.
Aku terperanjat, se-sayang inikah dia pada adik kandungku?
"Sayang, aku adalah kepala keluarga Pradipta, dan sekarang Vania di mata publik adalah Nona Pradipta. Tidak ada yang boleh meremehkannya apalagi mencercanya dengan sebutan-sebutan menyakitkan. Ini caraku melindungi anggota keluargaku agar orang lain tidak bersikap kurang ajar, kalau aku tidak menunjukkan taringku, nama besar Pradipta tidak akan disegani lagi," ujar suamiku panjang lebar menjelaskan.
Ya, sejak semua dokumen Vania ditambahkan nama Pradipta di belakang nama lengkapnya, secara resmi Vania bukan lagi adik ipar suamiku melainkan Nona Pradipta sebagai adik angkat Tuan Muda Pradipta. Perlakuan orang padanya pun tidak lagi sama, begitu hormat dan menjaga sikap.
"Ya, tapi apa kau yakin Serena orangnya?" tanyaku ragu.
"Siapa lagi kalau bukan gadis pembully itu? Nia juga mengatakannya dengan jelas meski dia meminta kita untuk tidak membalasnya."
"Tapi firasatku mengatakan bukan dia orangnya."
Giliran mata suamiku yang memicing. Ah, kenapa dia semakin tampan dengan mata seperti itu, tidak pernah bosan aku memandangi paras eloknya. Beruntung, Zean banyak mengikuti jejak fisik ayahnya.
"Entah mengapa aku yakin yang mengatakan itu bukan seorang perempuan tetapi laki-laki," ujarku sambil merubah posisi Zean ke payu*dara satunya untuk melanjutkan minumnya. Bayi ini seakan tidak pernah puas dan serakah, tangannya selalu menguasai dadaku.
"Nia bersekolah di asrama putri dan tidak pernah bergaul dengan teman laki-laki. Firasatmu berlebihan Lith."
"Mudah-mudahan, Mas. Tapi coba Mas ingat ... Perubahan sikap Nia pada Asisten Yan semakin berjarak sekarang, padahal dulu Nia sangat menyukainya sampai-sampai menjadi pendiri Shortpink Fans Club."
"Apa kau mau bilang orang yang sebenarnya mengatakan Nia seperti bulan kesiangan itu Abyan?" tanya Mas Rayyendra dengan suara tertahan.
Aku mengangguk pelan dan ragu, bagaimanapun juga ini hanya firasat yang tidak memiliki bukti apapun.
"Berdasarkan sifatnya Abyan, dia tidak pernah mengumpat seseorang kalau tidak benar-benar kesal. Dia adalah pria paling sabar yang pernah aku kenal," sanggahnya.
Aku membenarkan pendapatnya, Asisten Yan bukan orang yang mudah terpancing emosi. Dia sangat pandai mengendalikan diri, berbanding terbalik dengan suamiku.
"Tapi–"
Tiba-tiba kalimatnya meragu. Aku makin lekat menatap wajah yang selalu aku rindukan padahal tiap hari kami bertemu apalagi setelah aku melahirkan putranya, aura kebapakan menjadikannya hot daddy. Halah ... bicara apa aku!
"Bisa jadi apa yang kau katakan benar. Sikap mereka tidak seperti dulu, Vania lebih sering menghindar jika ada Abyan."
"Lalu apa yang Mas lakukan jika memang Abyan yang mengatakannya?"
"Tentu dia harus mempertanggungjawabkan perkataannya terlepas dari dia asisten atau sahabatku, tetapi aku harus memastikannya terlebih dahulu."
"Kalau saja masih ada Pak Sas, aku akan mudah mengetahuinya."
Suamiku tersenyum mendengarnya lalu mengelus pucuk kepalaku, "Kau merindukannya?"
Aku mengangguk, pria paruh baya bernama Sasmita adalah penyelamat dan pendukung utamaku disaat terpuruk dan tiada siapapun di sampingku. Entah karena perintah Nenek atau bukan tapi ketulusannya bisa aku rasakan, terlebih kalau mengingat bagaimana caranya menjemput ajal karena melindungi nyawaku dan nyawa bayiku– aku sangat merasa bersalah.
"Kenapa dia lama sekali minum susunya?" kata Mas Rayyendra mengubah topik pembicaraan agar aku tidak sedih dengan mengusap pipi Zean yang sedang menyusu, tangan mungilnya memegang kuat sumber minumannya.
Aku terkekeh mendapati suamiku menelan saliva berkali-kali. Kini daerah favoritnya di tubuhku sudah dikuasai oleh mahluk kecil nan egois. Seakan tidak mau berbagi, Zean akan menangis kencang jika pu*ting payu*daraku terlepas dari mulut kecilnya, sekalipun dia tertidur.
"Egoisnya sama denganmu, Mas," ujarku tersenyum menatap gerak mulut putra kami saat meminum ASI.
Mas Rayyendra hanya bisa menghela nafas panjang, pasrah. Hahahaha ....
...***...
- Bersambung -
__ADS_1