Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Patah Hati Kedua Kalinya


__ADS_3

Sejak aku lolos seleksi penerima beasiswa Pradipta Asa Foundation, entah mengapa Kepala Sekolah bersikap baik padaku. Ya, mungkin saja dia menerima donasi dari yayasan penyelenggara beasiswa. Apapun itu, aku tidak peduli yang penting bagaimana aku akan mengakhiri pendidikan di tahun terakhir di sekolah ini dengan sebaik-baiknya.


Impianku saat ini adalah namaku disebut sebagai peraih nilai tertinggi yang disaksikan oleh Ibu dan Kak Litha. Inilah caraku berterimakasih pada mereka yang telah bersusah payah selalu mendukungku. Akan tetapi kenyataan tidak seindah yang diharapkan, Paman kembali menjemputku di sore hari setelah aku berlatih taekwondo. Kali ini seorang diri tanpa Bibi, gelagatnya tergesa-gesa dan panik menandakan ada sesuatu yang serius.


Ibumu koma. Segera pulang. Dokter bilang waktunya tidak banyak.


Kata-kata Paman bagai palu godam menghantam kesadaranku hingga terhuyung-huyung mencari sesuatu yang bisa di pegang sebagai tumpuanku berdiri. Terbayang sudah sesuatu yang paling buruk di benakku. Dua minggu sebelumnya Ibu terlihat membaik dan menuju arah kesembuhan, ternyata Tuhan hanya ingin memberi tanda bahwa kuasa-Nya tidak dapat diprediksi manusia.


Sepanjang perjalanan aku berusaha untuk menguasai hati yang berkecamuk, meski firasatku mengatakan aku akan kehilangan Ibu, namun hatiku menolaknya.


"Paman, apa Kak Litha sudah diberitahu?" tanyaku memecah kesunyian.


"Bibimu yang akan menghubunginya. Semoga saja Litha bisa pulang segera."


"Pasti bisa, Kak Litha tinggal minta diantarkan dengan pesawat pribadi Kakak Ipar sekarang juga," kataku yakin, "Apa yang terjadi pada Ibu?"


"Tidak tahu, tadi pagi ibumu tiba-tiba pingsan saat akan sarapan. Paman dan Bibi langsung membawa Ibumu ke rumah sakit dan dokter menyatakan koma setelah memeriksanya."


"Tiba-tiba? Bukannya Ibu membaik dua minggu terakhir ini, bahkan saat aku pulang wajah Ibu terlihat lebih segar dari biasanya."


"Ya, itu benar tapi minggu lalu setelah melalukan video call dengan kakakmu, kondisi kesehatannya perlahan menurun. Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya, berkali-kali bibimu menanyakan ada apa, ibumu selalu menjawab tidak tahu. Entah mengapa dia merasa sangat sedih pada Litha. Ibumu khawatir karena Litha berada jauh di Ibukota, khawatir kalau kakakmu berpikiran bodoh lagi."


"Maksud Paman?" kataku tersentak kaget, jantungku berdetak lebih cepat.


"Hmmppfhhh. Jangan katakan pada siapapun kalau Paman yang menceritakannya."


"Iya, kenapa?" tanyaku tak sabar.


"Dari beberapa bulan lalu ibumu merasa ada sesuatu yang terjadi pada Litha, tapi selalu dialihkan dengan berpikir positif. Tetapi begitu melihat kakakmu saat video call minggu lalu, ibumu yakin Litha sedang berada dalam masalah. Keberadaan Litha yang jauh saat ini yang membuatnya semakin khawatir."


"Kak Litha sangat tegar, tidak seharusnya Ibu khawatir berlebihan padanya dan merasa sedih. Selama aku bersamanya di Ibukota, meskipun sulit dia pasti berusaha semua baik-baik saja," sanggahku kesal karena pada akhirnya kesehatan Ibu menjadi taruhannya.


"Terang saja khawatir karena ibumu pernah mendapati Litha nyaris meminum cairan pembersih lantai dua hari setelah ayah kalian dimakamkan."


Zinggg.


Dunia seakan terhenti dengan nafas yang tercekat di tenggorokanku. Mendengar penuturan Paman yang menjadi alasan Ibu mengkhawatirkan Kak Litha membuatku terpaku diam tidak bergerak.


"Maaf, Nia. Seharusnya Paman tidak menceritakannya padamu. Kau sendiri tahu kan, bagaimana hebatnya kakakmu memakai topeng didepan orang lain, bahkan sampai kau tidak menyadarinya. Litha tidak setegar yang kau kira, dia hanya berusaha terlihat kuat dan mencoba mengobati dirinya sendiri yang rapuh," lirih Paman tersenyum pahit.


Aku sudah tidak bisa berkata-kata apapun lagi. Hatiku terasa diiris sembilu tak kasat mata, perih dan sangat menyakitkan.


"Kau tahu kenapa dia rajin mengunjungi Tisha di Dharma Yasa? Selain menjenguk Tisha, dia juga ingin bertemu dengan dr. Siska untuk konsultasi. Dokter itu pernah mengatakan pada Paman kalau selangkah saja pikirannya tidak bisa dia kendalikan, nasibnya akan sama dengan Tisha."


DUG.


Jantungku memberontak ingin keluar dari rongga dada saking kerasnya darah yang terpompa.


"Beruntung Litha masih punya sisa harapan yang terletak pada ibu dan adiknya untuk menghalau rasa putus asanya. Jadi dia berusaha mengobati dirinya sendiri dengan berkonsultasi mandiri pada dr. Siska tanpa biaya– karena dr. Siska tahu Litha tidak memiliki cukup uang untuk ke psikiater."


"Tapi– tapi Kak Litha–"

__ADS_1


Airmataku sudah mengucur deras, Kak Litha yang kusayangi, yang selalu ceria dan optimis di depanku ternyata tidak lebih memilukan dariku. Kukira selama ini dialah yang paling waras di keluarga kami, ternyata dia sama denganku– bermain peran. Perannya pun dimainkan dengan sangat baik sampai aku tidak menyadarinya.


"Paman–" panggilku pelan.


"Ya."


"Apa Paman lihat bagaimana keadaan Kak Litha saat video call dengan Ibu?"


"Tidak ada yang aneh, biasa saja. Hanya saja dia sedikit kurus dan wajahnya sedikit kuyu, seperti orang yang kurang tidur di malam hari."


Aku tersenyum kecut dan membenarkan Ibu yang mengatakan bahwa Kak Litha sedang mengalami masalah, hanya saja dia menyimpan sendiri tanpa pernah mau berbagi. Aku jadi ingin bertanya pada Kakak Ipar, apa mereka sedang bertengkar atau ada kesalahpahaman diantara mereka, sayangnya aku tidak menyimpan nomornya.


...***...


Tengah malam di ruang ICU ini, aku menemani Ibu yang semakin kritis. Dokter mengatakan Ibu tidak akan bertahan lama, mau tidak mau aku harus siap menghadapinya jika memang Ibu harus pergi meninggalkan kami semua.


Kubelai lembut pipinya, disana bermunculan garis usia, namun tidak sekalipun menutupi kecantikannya. Lalu kugenggam tangan Ibu, kutempelkan ke pipiku, menciuminya dan menghirup aromanya.


"Ibu, kalau Ibu pergi apa yang harus aku lakukan? Kak Litha sudah menikah, hanya ada Paman Tino dan Bibi Rima. Bibi sangat cerewet dan Paman terlalu takut dengan Bibi. Aku nanti sama siapa?"


Untuk kesekian kalinya, aku meneteskan airmata seakan tidak ada habisnya.


"Ibu, aku selama ini diperlakukan buruk di sekolah, tapi aku bisa melewatinya sampai di tahun terakhir demi melihatmu bertepuk tangan bangga saat hari kelulusanku tiba."


Aku mengusap airmataku dengan memandang wajah cantiknya, "Apa Ayah datang menjemputmu? Apa Ayah terlalu mencintaimu sampai dia sudah tidak tahan sendirian disana? Katakan padanya, sekalian saja bawa kami semua bersamamu agar tidak menyisakan rasa sakit ditinggalkan," pekikku tertahan.


Satu tanganku memegang dadaku menahan rasa sakit yang dalam, tersedu-sedu dalam tangisan tanpa suara. Tanpa sengaja, aku melihat sudut mata Ibu yang sedikit basah. Seketika aku sadar, perkataanku telah menyakiti hati Ibu. Jika ini takdir Tuhan harus memanggil Ibu kembali pada-Nya, aku bisa apa? Yang jelas, aku tidak mau Ibu menyesali kepergian yang juga tidak diinginkannya. Tidak ada jalan lain, apapun yang terjadi aku harus tetap tersenyum dan mengikhlaskan apa yang sudah digariskan Sang Pemilik Kehidupan.


Kubuka album biru


Penuh debu dan usang


Kupandangi semua gambar diri


Kecil bersih belum ternoda


Pikirku pun melayang


Dahulu penuh kasih


Teringat semua cerita orang


Tentang riwayatku


"Kak Litha sedang dalam perjalanan kesini, Bu. Aku tahu Ibu lebih mengkhawatirkan Kak Litha daripada aku, karena Ibu pernah mengatakan aku adalah Xena-nya Aryasena. Tenang saja, meskipun dia sudah menikah, aku akan menjaganya sampai sisa terakhir nafasku. Tidak akan ada yang bisa menyakitinya, begitu juga dengan Kak Tisha. Ibu tidak perlu khawatir, sekarang Ibu bisa menyambut tangan Ayah yang sudah menjemputmu. Ibu tidak akan merasakan sakit lagi. Aku mewakili kedua kakakku merelakan Ibu jika harus–"


Kata mereka diriku selalu dimanja


Kata mereka diriku selalu ditimang


Aku sudah tidak sanggup lagi meneruskan kata-kataku –hanya memanggilnya dalam hati sekuat mungkin– lalu mengumpulkan kepingan hati yang hancur berserakan.

__ADS_1


Nada-nada yang indah


Selalu terurai darinya


Tangisan nakal dari bibirku


Takkan jadi deritanya


Tangan halus dan suci


Telah mengangkat tubuh ini


Jiwa raga dan seluruh hidup


Rela dia berikan


Jemari Ibu bergerak membuatku menerbitkan sedikit harapan, namun jatuh kembali ke dalam jurang yang lebih dalam begitu tanda-tanda kehidupan di elektrokardiogram berbunyi panjang dan monitor menampakkan garis lurus tanpa henti.


Kata mereka diriku selalu dimanja


Kata mereka diriku selalu ditimang


Oh, bunda ada dan tiada


Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku


Tangisku tenggelam di tangan Ibu yang kugenggam erat. Nyatanya, kata ikhlas yang terucap sebelumnya sangatlah sulit, bahkan sejatinya aku belum bisa melakukannya ... Ternyata hatiku tidak setegar yang kukira.


Pikirku pun melayang


Dahulu penuh kasih


Teringat semua cerita orang


Tentang riwayatku


Sekelebat memori terlintas dalam kepalaku bagai video yang diputar. Sejak aku kecil dan mulai bisa mengingat hingga terakhir bercengkrama dengan Ibu dua minggu lalu. Perasaanku remuk redam tatkala Ibu berbisik di telingaku.


'Nia, anak Ibu yang paling tangguh. Apapun masalah yang kau hadapi, Ibu percaya kau dapat mengatasinya dengan baik. Kau memang tidak dapat menaklukan seisi dunia, tapi dalam duniamu sendiri kaulah yang berkuasa untuk menentukan pilihanmu. Kau tidak perlu belajar berani, karena kau sudah memilikinya. Belajarlah menjadi bijaksana.'


Sungguh, aku patah hati untuk kedua kalinya, ditinggal Ayah lalu ditinggal Ibu. Bagai tidak bernyawa raga ini mengembara di dunia, terus berjalan tanpa pelindung. Panas kepanasan, hujan kebasahan, badai pun diterjang jua walau jiwa terkoyak.


Kata mereka diriku selalu dimanja


Kata mereka diriku selalu ditimang


Oh, bunda ada dan tiada


Dirimu 'kan selalu ada di dalam hatiku


Lagu : Bunda by Melly Goeslaw

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2