Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Cantik Sekali


__ADS_3

Aku dan Kakak Ipar jalan beriringan menuju kantin rumah sakit -sebenarnya lebih cocok disebut cafetaria- setelah menuruni lima lantai.


"Tumben sendirian Kak, Asisten Yan mana?" tanyaku.


"Dia menggantikan aku rapat siang ini," jawab Kakak Ipar mengetikkan sesuatu di ponselnya.


"Oh. Kenapa Kakak Ipar tidak rapat? Ada keperluan apa disini?"


"Keperluan?" nadanya sedikit meninggi, "Aku perlu menemui istriku, dia sudah rindu padaku," ketus Kakak Ipar.


"Cih."


"Sekarang cepatlah pilih dan makan eskrim-mu agar aku bisa segera menemui istriku. Aku sudah memberitahunya kalau kau sekarang bersamaku."


Ck.


Aku gerah mendengar semua perkataan Kakak Ipar yang hanya ada Kak Litha di kepalanya. Semenjak insiden kemarin perhatiannya ke sang istri sangat intens, dia tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali mengingat otak pelaku masih buron.


"ITU DIA!"


Aku berteriak menunjuk pada seorang pemuda yang akan melakukan pembayaran setelah membeli sesuatu.


"Siapa?" tanya Kakak Ipar yang terkejut dengan lengkingan suaraku.


"Pemuda yang aku tabrak tadi," jawabku tanpa menoleh sambil berjalan cepat meninggalkan Kakak Ipar ke arah pemuda yang mengenakan kaos abu-abu dipadu dengan kemeja kotak-kotak tanpa dikancing dan celana jeans belel.


"HEI KAMU!" teriakku dengan setengah berlari setelah melihatnya menerima sebuah kantongan cukup besar dari Mbak Kasir.


"NIA, TUNGGU!"


Suara Kakak Ipar menyita perhatian semua orang di kantin termasuk pemuda itu. Dia menoleh dan raut mukanya seperti melihat hantu. Ternyata benar tadi dia kabur karena Kakak Ipar, tapi kenapa Kakak Ipar terlihat begitu menakutkan di matanya?


"TUNGGU!"


Tanpa berpikir, pemuda berambut ikal dan berkulit coklat itu tunggang-langgang meninggalkan Cafetaria tanpa membayar.


"Eh, Mas– belum bayar!" teriak Mbak Kasir.


"Nanti aku kembali!" sahutnya tak kalah lantang.


Aku melongo mendengarnya. Bisa-bisanya dia kabur lagi tanpa membayar dan akan kembali nanti.


"Kenapa dia kabur, Mbak?" tanyaku pada Mbak Kasir.


"Tidak tahu. Tiba-tiba saja– aku juga kaget."


"Dia belum bayar?"


Mbak Kasir itu mengangguk, "Mudah-mudahan dia benar kembali, kalau tidak aku yang ganti rugi."


"Nia, kau ini kenapa mengejarnya? Lihat, dia kabur lagi!" Suara Kakak Ipar sudah di belakangku.

__ADS_1


"Selamat siang, Tuan," sapa Mbak Kasir kaku, wajahnya sedikit tegang, dia mengenali Kakak Ipat.


"Aku berhutang maaf padanya." Aku menjawab pertanyaan Kakak Ipar, lalu menoleh kembali ke Mbak Kasir, "Dia pasien disini? Atau keluarganya barangkali?"


Mbak Kasir menggeleng, "Bukan, dia pencari berita, Nona."


"Wartawan?" tanyaku terkejut, begitu juga Kakak Ipar.


"Setahuku masih magang, karena dia selalu disuruh untuk membeli makan dan minum disini."


"Oh, jadi dia salah satu dari mereka yang bawel?" tanya Kakak Ipar dingin.


"I– i– iya, Tuan," jawab Mbak Kasir terbata, sedikit takut.


"Apa masih belum cukup konferensi pers kemarin? Apa lagi yang mereka cari?" Kakak Ipar terlihat tidak senang, Mbak Kasir pun semakin takut.


"Itu artinya Kak Litha dicintai publik. Apalagi followers akun BeautyHeartPradipta semakin bertambah."


Kakak Ipar terkekeh, meski dia tidak suka istrinya menjadi konsumsi publik tapi hatinya juga senang karena persepsi publik tentang istrinya sangat positif. Akun BeautyHeartPradipta adalah akun fanbase Kak Litha, mirip-mirip Shortpink Fans Club, dimana semua berita yang mendukung profil Nyonya Pradipta tersaji dengan apik. Entah siapa admin dari akun tersebut, yang jelas dia sangat pintar bersembunyi karena sampai saat ini Kakak Ipar belum mengetahuinya.


"Oh ya, Mbak, berapa yang harus dibayar pemuda tadi?" tanyaku pada Mbak Kasir.


"Semuanya 437.500"


"Ha? Banyak sekali! Apa saja yang dibelinya?"


"Eng– itu– semuanya minuman kemasan pesanan semua wartawan di halaman rumah sakit."


"Ah ya ... Dia kan anak magang, pasti disuruh-suruh."


"Eh, maaf, Kak. Aku tadi mau membayar untuknya sebagai permintaan maaf ... tetapi banyak sekali dan juga bukan barang miliknya."


Kakak Ipar menghela nafasnya, "Kau mau eskrim apa?"


"Vanilla, dua," jawabku cepat mengangkat jari telunjuk dan tengah bersamaan.


"Berikan dua es krim vanilla," titahnya pada Mbak Kasir, lalu diulurkan kartu 'sakti', "Berikan makan siang untuk semua pewarta di halaman rumah sakit, sekalian juga barang yang dibawa pemuda tadi. Katakan pada mereka ini semua permintaan maaf dari Nona Muda Pradipta yang telah menabrak seorang anak magang."


"Ba– baik, Tuan."


Aku terkesiap, bukan– bukan pada permintaan maaf ala Kakak Ipar, tetapi lebih pada sebutannya untukku– Nona Muda Pradipta, padahal aku tidak memiliki darah Pradipta, hanya kerabat karena kakak perempuanku menikah dengan Tuan Muda Pradipta.


"Nona Muda Pradipta? Apa aku tidak salah dengar?" gumamku saat hendak duduk di kursi kantin dan melahap es krim


"Tidak. Kau memang Nona Muda Pradipta."


"Tapi–"


"Berhenti bicara, lekas habiskan!"


Bibirku mengerucut, sebal tapi senang. Banyak mata memandang takjub akan sosok Tuan Muda Pradipta yang tanpa sungkan duduk di kursi kantin dan berbaur.

__ADS_1


Cekrak.


Cekrek.


"Kak, apa-an sih! Kenapa aku difoto? Mulutku kan, lagi belepotan," protesku yang dibalas dengan gelak Kakak Ipar.


"Benar kata kakakmu. Kau itu kadang menyebalkan, kadang menggemaskan. Tingkahmu dewasa tapi sebenarnya kau masih bocah. Hahahaha ...."


"Haishh ... Kalian berdua memang sangat cocok, senang sekali kalau dapat bahan untuk membully-ku. Tapi Kak– kita tidak dapat menutupi kematian Pak Sas terus-terusan dari Kak Litha. Kakak kira dia bisa dibodohi?" tanyaku serius.


"Dia tidak pernah membantah kalau kusuruh sabar menunggu untuk melihat Pak Sas."


"Kak Litha seorang yang penurut– dan itu karena Kakak Ipar adalah suaminya, bukan bisa diperdaya. Dia hanya tidak ingin berdebat."


"Sungguh?"


Aku mengangguk yakin. Aku baru selesai menghabiskan satu es krim, kini siap melahap yang kedua, "Kesabaran kakakku menuruni sifat Ayah. Dia tidak akan menanyakan sesuatu apalagi memaksa orang lain bercerita. Dia selalu pura-pura tidak tahu dan bersikap bodoh padahal sebenarnya dia sudah curiga dari awal."


"Kurasa benar, seperti sekarang– kau punya sesuatu yang disembunyikan tapi kau tidak bisa mengatakan padanya."


Aktivitas mulutku terhenti mencerna maksud Kakak Ipar.


"Aku kebalikan dari kakakmu. Aku tidak pernah punya kesabaran. Apa yang kau sembunyikan dari kakakmu? Kalau tidak ada, tidak mungkin dia menyuruhku duduk di kantin seperti ini. Tuan Muda Pradipta tidak pernah terlihat duduk di tempat umum seperti ini."


Aku terhenyak, apa dia tahu kalau aku mengetahui rahasia ibuku? Duh, itu tidak boleh terjadi.


"Apalagi kalau bukan perihal mendiang Pak Is. Kakak Ipar menjadikanku seorang pembohong besar di mata Kak Litha. Kakak Ipar harus bertanggungjawab kelak jika dia memarahiku karena tidak jujur dengannya. Dia pasti menudingku aku ada di pihakmu."


"Benar hanya itu?" selidiknya.


"Iya, apa lagi memangnya," jawabku berakting meski mataku pasti tidak bisa berbohong.


.


.


.


Setelah menghabiskan dua es krim vanilla, kami kembali ke kamar inap Kak Litha dan seperti yang kuduga Kakak Ipar mengusirku karena aku dianggap tawon yang menganggu dan berdengung di telinganya.


Melalui dinding kaca rumah sakit di loby lantai enam -lantai kamar VIP dan VVIP- mataku terpusat pada sekumpulan orang yang sedang menikmati makan siang dari Kakak Ipar. Mereka semua adalah pewarta berita yang menanti kabar terbaru Nyonya Pradipta. Penglihatanku menangkap lelaki muda yang berulang kabur dari Kakak Ipar. Beberapa kali bahunya ditepuk sesama rekannya dan dia membalasnya dengan mengangguk, mungkin ucapan terma kasih karena berkat dirinya ditabrak olehku, semuanya makan siang gratis, makan siang premium dari kantin Pradipta Hospital.


Cantik sekali


Semu merah di pipinya sangat menggemaskan, seperti tomat


Refleks senyumku mengembang mengingat pujian yang kurasa ditujukan untukku.


"Apa aku secantik itu?" gumamku tersipu sendiri.


Selama ini aku merasa sama sekali tidak cantik. Dari ketiga putri Aryasena -ayahku- akulah yang paling jelek. Tidak seperti Kak Tisha dan Kak Litha yang senyumnya sangat menawan, aku hanya menang jika membandingkan tingkat kecerahan kulit ... malah terkadang aku minder dengan kulit yang nyaris mirip albino.

__ADS_1


Sekarang kudengar sendiri ada laki-laki yang memujiku cantik setelah Ayah. Andai saja 'dia' juga memujiku? Dia siapa?


- Bersambung -


__ADS_2