Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Andai Saja Dia Lebih Peka


__ADS_3

Rutinitas pagi hari setelah beribadah, aku akan memanfaatkan ruang olahraga yang terpisah dari rumah utama untuk berolahraga atau joging mengitari rumah utama yang luas cukup membakar kalori, tapi tidak pagi ini. Setelah membaca email dari humas Universitas Nasional yang dikirimkan dini hari, aku langsung berlari dan meneriakkan nama kakakku.


"Kak Litha ... Kak Litha ... Kaakk ...." seruku melambai-lambaikan selembar kertas yang kucetak barusan.


"Ada apa? Pagi-pagi sudah bikin ribut."


"Ini. Kupersembahkan buat kakakku tercinta akan hasil kerja kerasnya selama ini pada adik kesayangannya," jawabku dengan sumringah sembari memberikan lembaran pengumuman penerimaan mahasiswa baru jalur beasiswa.


Kak Litha mengambilnya lalu menelisik semua tulisan di kertas itu dengan wajah tegang.


"Niaaaaa ... !" pekiknya melompat ke arahku untuk memeluk.


Mataku terbeliak, kaget dengan gerak lompat ibu hamil yang mendadak, dengan sigap aku langsung menangkap dan membalas pelukannya. Kakak Ipar sudah panik melihat kelakuan istrinya.


"Ugh. Kak, be– rat!" rintihku menahan bobot perut buncitnya.


"Eh, iya– iya, maaf Nia. Tapi Kakak senang sekali," Kak Litha mencubit pipiku dan diuyel-uyelnya dengan gemas, "Bagaimana aku tidak bahagia kalau kau bisa masuk Universitas Nasional dengan beasiswa penuh dari kampus. Itu kampus terbaik di negeri kita Nia, kau hebat– hebat sekali."


Aku tahu Kak Litha sangat terharu. Airmatanya menetes menatap dalam wajahku, aku yakin kakakku ini pasti sedang mengingat perjuangannya menyekolahanku, menjadi wali juga mencari biaya sekolah yang tidak murah dan sekarang terbayar tunai semua peluhnya.


"Litha, kau hampir membuatku mati berdiri. Apa kau lupa lagi kalau sedang hamil? Mana sudah dekat hari bersalinmu. Kau ini!" ujar Kakak Ipar menarik lengan dan mengurai pelukan istrinya.


"Maaf Mas, tapi aku senang sekali! Lihat Tawon kita sangat hebat, bisa masuk Universitas Nasional." Kak Litha memeluk leher Kakak Ipar, membujuk agar tidak marah, "Nak, kalau kau besar nanti, pintar kayak Bibimu ya," sambungnya mengelus perut dan berbicara pada bayi yang masih di dalam perut.


"Kakak! Kenapa ikut-ikutan memanggilku Tawon? Ih ...." protesku sebal.


Kak Litha memelukku lagi, menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri. Sebuah ciri khas pelukan bahagia seorang Nyonya Pradipta yang membuat siapapun dalam pelukannya akan ikut bergoyang mengikuti gerakannya.


"Selamat Nona. Semoga Nona kelak menjadi orang sukses." Bibi Lidya memberi selamat dengan pelukan hangat setelah aku melepas pelukan kakakku.


"Selamat, Nia. Baguslah, kau lulus dengan beasiswa penuh dari kampus, jadi Yayasan Pradipta Asa Foundation tidak perlu mengeluarkan biaya," tukas Kakak Ipar perhitungan.


"Ya. Tapi dialihkan jadi tambahan uang sakuku ya, Kakak Ipar, hehehe ...."


"Dasar! Tidak mau rugi," celetuk sebuah suara.


"Setidaknya aku tidak merugikanmu," balasku sinis.


"Apa uang sakumu masih kurang?" tanya Kak Litha sambil membuat air putih hangat madu, minuman wajib di pagi hari untuk Kakak Ipar.


"Ya tidak sih, Kak. Tapi aku kan, suka duit."


Uhuk.


Asisten Yan tiba-tiba terbatuk saat minum kopi, lengan kemejanya terkena noda akibat semburan kagetnya.


Kakak Ipar terbahak, "Kau kenapa Yan? Kayak baru kali ini lihat perempuan yang suka uang."


"Memang benar, baru kali ini aku mendengar perempuan secara terang-terangan mengaku dirinya matre. Astaga!" katanya sambil membersihkan noda kopi.


"What! Dia mengira aku matre? Sepertinya aku harus memukul kepalanya agar tidak terus berasumsi buruk tentangku. Kemarin dia pikir aku pendendam, sekarang matre, besok apa lagi?"


"Cih. Aku hanya mencoba jujur sama Kakak Ipar kalau aku suka duit, bukan mat-re. Tolong bedakan ya, Tuan Asisten– antara suka duit dengan matre. Siapapun pasti suka duit. Kak Litha juga saja suka kan?"


Beruntung Kak Litha mengangguk begitu saja tanda setuju dengan argumenku, lain halnya Kakak Ipar yang makin terbahak.


"Tapi aku tidak matrealistis yang menilai segalanya dengan uang. Kak Litha juga begitu kan?"


Kak Litha mengangguk lagi. Yeay! Aku mencintaimu, Kak.


"Sampai disini paham perbedaannya, Tuan Asisten?" Aku memberi penekanan pada ucapan barusan dengan pandangan menghujam.


"Enak saja kau mengataiku matre, hah!" umpatku dalam hati saat mata kami bertemu, pasti dia juga mengumpatku dalam hatinya, hahaha .... Lihat saja raut wajahnya yang begitu kesal.


Bibi Lidya dan Kakak Ipar tertawa melihat Asisten Yan tidak bisa membalas argumenku, namun Kak Litha menengahi, "Nia, lain kali sopanlah sedikit. Bagaimanapun juga Asisten Yan jauh lebih tua darimu, anggaplah dia kakak yang harus kau hormati."


"Tidak cocok menjadi kakakku, ketuaan! Dia lebih cocok jadi Om-om, hahaha ...."


Spontan semua terbahak, terutama Kakak Ipar sampai tidak bisa meneruskan sarapannya karena tertawa. Aku sengaja berkata demikian agar pria itu sadar akan usianya, sadar akan harapan ibunya dan segera sadar dari mimpinya di siang bolong.


"KAU!" desis Asisten Yan berdiri dengan emosi tertahan.


"Pak Is ... Aku sarapan di kamar saja! Aku takut dimarahi sama Om-om!" pekikku sambil lari ke kamarku.


"Wee ... Kau mau marah atau tidak apa peduliku, hahaha ...."

__ADS_1


Aku puas menelanjangi muka Asisten Yan barusan, siapa suruh dia ikut mengomentari apa yang kulakukan.


"Seharusnya dia urusi saja urusannya dengan dokter wanita itu ... belum lagi aku kasihan sama Bibi Lidya. Demi cinta pertama, anak satu-satunya sudah tidak peduli pada harapan ibunya," omelku sendiri di dalam kamar sambil membuka lemari baju, "Tuh orang tidak tahu rasanya kehilangan ibu, malah sok-sok mandiri– tidak mau mendengar pendapat orang lain bahkan pendapat ibunya sendiri diabaikan. Sekali lagi kau ikut dalam urusanku, kucium saja kau biar tahu rasa!"


Siang ini aku diajak ke kantor Kakak Ipar, melihat langsung gedung kantor pusat Pradita Corp. yang prestisius, tempat kerja impian bagi siapapun. Di kantor itulah semua hasil pekerjaan berbagai sektor usaha di bawah naungan Pradipta Corp. berada– dan yang membuatku sangat tertarik adalah sistemnya yang terkomputerisasi dengan sangat baik. Konon, sistem keamanan informasi Pradipta Corp. sangat mumpuni dan susah buat ditembus para hacker.


.


.


.


Dalam benakku, aku akan meminjam sepeda motor di sini untuk pergi ke kantor Kakak Ipar. Ternyata, Nyonya Pradipta juga ikut bersamaku dan kami akan dijemput oleh asisten Kakak Ipar. Oh, tidak!


"Kak, kenapa sih ikutan ke kantor Kakak Ipar?" gerutuku, menunggu jemputan di ruang tamu.


"Memangnya tidak boleh ke kantor suami sendiri? Lagian aku sudah lama sekali terkurung di rumah ini. Tidak mudah membujuk Mas Rayyendra, diijinkan keluar sebentar walaupun hanya ke kantornya aku sudah bersyukur."


"Ya boleh, sering-sering juga tidak masalah tapi setidaknya jangan hari ini."


"Kenapa kalau hari ini?"


"Karena Kakak ikut jadinya kita dijemput sama Asisten Yan. Aku ingin pergi sendiri naik motor," sungutku sebal dengan muka tertekuk.


Kak Litha tergelak keras sampai harus memegangi perut besarnya, "Eh, Nona Tawon ... Apa kau pikir akan diijinkan pergi sendirian naik motor oleh suamiku? Aku ikut atau tidak kau akan tetap disuruhnya menunggu jemputan. Justru kau harus berterimakasih padaku ... Aku akan menghilangkan kecanggunganmu dengan Asisten Yan di dalam mobil."


"Hah?"


"Mas Rayyendra sudah menganggapmu Nona Muda Pradipta, jadi dia tidak akan membuat image Keluarga Pradipta sembarangan dinilai publik."


"Apa naik sepeda motor akan menurunkan image Keluarga Pradipta? Se-arogan itu kah suami Kakak?"


"No!" Kak Litha menggelengkan kepala, "Mas Rayyendra sekarang menjadi kepala Keluarga Pradipta. Dia memiliki tanggungjawab atas semua anggota keluarganya. Prioritas utamanya adalah menjaga semua keluarga tanpa kecuali termasuk para pelayan. Apalagi kau– adik tersayang kami. Kejadian yang menimpaku dan Pak Sas membuatnya sedikit paranoid. Namun, kau jangan berpikir buruk tentangnya, kakak iparmu hanya tidak ingin kau terluka, dia menyayangimu seperti aku menyayangimu."


Aku terdiam, tidak bisa berkata apapun. Di satu sisi aku senang mendapat perhatian luar biasa tapi di sisi lain aku seperti terkekang. Aku perempuan bebas dan mandiri, aku tidak suka didikte dengan apa yang aku lakukan atau pikirkan, tapi biarlah kali ini kuturuti kemauan Kakak Ipar dan Kak Litha karena aku sangat menyayangi mereka.


"Nia, apa kau masih marah sama Asisten Yan?" tanya Kak Litha mengganti topik pembicaraan.


"Marah? Marah kenapa?"


"Itu kan Kak Litha, terserah menganggapnya apa, yang jelas respek-ku padanya sudah jauh berkurang dibanding dulu. Sikapnya yang sok bijak dan tidak memedulikan perasaan ibunya itu sangat buruk di mataku." kataku dalam hati.


"Nia ... apa ada masalah? Apa Asisten Yan begitu menyinggungmu? Aku bisa meluruskan kesalahpahaman di antara kalian."


"Tidak. Aku hanya tidak suka dia memberi kata-kata bijaknya tanpa mengerti posisi dan perasaanku."


"Dasar keras kepala! Dia hanya memberi nasehat baik buatmu."


"Justru itu. Aku tidak suka dia menasehatiku tanpa empati ... seperti orang buta yang menunjuk jalan keluar di persimpangan. Dia tidak mengenalku, lalu atas dasar apa dia memberi nasehat kalau bukan sok bijak? Sedangkan dia sendiri egois, mengabaikan perasaan ibunya."


Sanggahanku membuat Kak Litha melongo, "Nia, apa kau sudah masuk terlalu dalam pada kehidupan orang lain?"


"Aku tahu batasanku, Kak. Bibi Lidya hanya sekedar curhat kalau putranya itu sangat keras kepala ketika dinasehati untuk melupakan tunangan orang lain. Aku tidak akan melewati yang menjadi urusan orang lain, tapi– jika ada orang yang main terabas sok tahu tentangku, akan kubabat habis dia."


"Nia!"


"Kak, keluarga kita tahu orang yang berjenis golongan darah sama denganmu tidak banyak di dunia ini, bahkan saat kau mengandung pun itu berisiko jika bayimu tidak mengikuti golongan darahmu." Kutarik nafas sedalam mungkin dengan mata yang menerawang, "Waktu itu aku di pesawat, dijemput mendadak dini hari menuju Ibukota atas instruksi langsung Kakak Ipar– dengan harapan aku bisa mendonorkan darahku untukmu. Apa kau tahu bagaimana rasanya saat aku mendengar berita Nyonya Pradipta terluka parah? Apa kau tahu bagaimana aku bernafas saat melihatmu tidak berdaya di berita itu dengan darah yang mengalir deras di sela-sela jari tangan Kakak Ipar? Andai saja pintu pesawat sama mudahnya dengan membuka pintu biasa, mungkin saat itu juga aku sudah melompat."


Kak Litha tertegun, menatapku pias untuk beberapa saat sebelum dia memelukku, "Nia, jangan lakukan hal bodoh! Kau tidak boleh meninggalkan Kakak!"


Aku terisak -tanpa suara-, "Kakak yang tidak boleh meninggalkan aku! Apapun akan kutukar termasuk jiwaku asal Kakak tetap hidup. Makanya aku sangat kesal ketika orang lain menyuruhku melupakan dosa si pelaku dan memaafkannya begitu saja. Dia tidak tahu bagaimana rasa sakit yang aku alami."


Kak Litha mengurai pelukannya, "Nia, tapi hidup dengan kebencian akan melukaimu sendiri."


"Aku tidak sebaik Kak Litha yang mudah memaafkan orang lain. Jangan memaksaku menjadi baik hati, Kak."


Dia tersenyum dan mengusap airmataku di pipi, "Aku tidak akan memaksamu. Kau akan menjadi semakin baik hati seiring usiamu bertambah. Semua butuh proses termasuk–" Kak Litha meletakkan telapak tangan kanannya ke dadaku, "Hatimu. Kelak kau akan menjadi manusia dengan penuh kebaikan."


Aku mengangguk, mengambil tangannya lalu menciumi tangan itu. Sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu, tapi sifat keibuannya sudah terlihat. Ah, aku jadi rindu pada Ibu.


"Itulah sebabnya, aku tidak mengizinkanmu bertemu dengan Lucas. Kalau itu sampai terjadi, aku takut kau yang dipenjara menggantikan tempatnya," katanya sembari menarik tangan yang kuciumi.


"Ahhh, Kakak!"


Baru kutahu alasan sebenarnya Kak Litha tidak mengizinkan aku melihat pemer*kosa itu di penjara dan itu sangat menjengkelkan karena aku siap memotong alat kelaminnya.

__ADS_1


"Hahaha ... Itulah fungsiku terus ada di sisimu, sebagai tuas pengaman– sama seperti suamiku, akupun selalu menjadi tuas pengamannya. Maka dari itu aku harus hidup, selama Tuhan belum mengakhirkan usiaku, aku akan terus bersama kalian."


Aku mencebik, membenarkan ucapannya dengan kesal. "Memangnya sifatku sama apa dengan Kakak Ipar?– Menjadi tuas pengaman? Seperti kami ini bom yang bisa meledak kapan saja, haisshh!"


"Nyonya, Asisten Yan sudah datang," sahut Pak Is memberi kabar.


"Oh iya. Aku akan segera kesana."


"Baik, Nyonya."


Aku membantu Kak Litha berdiri dari duduknya untuk menuju mobil jemputan. Selama perjalanan aku tidak banyak bersuara dan nyatanya aku memang harus berterimakasih pada kakakku.


Aku masih sakit hati pada Asisten Yan? Hmm ... sedikit, andai saja dia lebih peka dan berinisiatif meminta maaf langsung padaku, mungkin aku bisa mengembalikan persepsinya seperti dulu dan kembali menjadi fans-nya.


...***...


Aku melongo takjub mengamati lantai teratas gedung kantor pusat Pradipta Corp. dimana ruang Presdir ada disitu. Dijaga dua orang bertubuh besar lagi kekar di depan pintu lift dan seorang sekretaris yang standbye di depan ruang Presdir.


"Satu lantai dipakainya sendiri. Wow! Luar biasa!"


"Selamat datang, Nona Vania. Setahuku Nyonya ikut kemari, dimana beliau?" sapa Kak Sasha, wanita yang sempat kucurigai sebagai wanita yang disukai Asisten Yan.


"Kak Litha langsung menuju ke kantin, sudah janjian sama Kak Ninda."


"Oh ternyata begitu. Baiklah, aku akan menghubungi pengurus kantin agar melayani Nyonya dengan baik."


Aku masuk ke dalam ruangan tempat Kakak Ipar bekerja. Desain interiornya minimalis namun elegan dengan paduan warna hitam dan putih, mencerminkan karakter Kakak Ipar yang jelas antara Ya dan Tidak. Tidak ada abu-abu atau keraguan dalam sikapnya memimpin perusahaan.


"Kakak Ipar sangat keren," ujarku memandang kagum dan menyentuh dinding-dinding kaca. "Pemandangan malam hari dari sini pasti sangat indah."


"Lebih indah pemandangan di kamarku," sahut Kakak Ipar dari kursi kebesarannya.


"Hhhh ... percuma bicara sama orang yang bucinnya tingkat dewa," bathinku.


"Kau mau bekerja disini setelah lulus kuliah?" tanya Kakak Ipar.


"Tergantung."


Aku terkekeh melihat Kakak Ipar menunjukkan raut wajah bingung karena tidak menyangka jawabanku, mungkin dikiranya aku akan mengangguk senang, hahaha ....


"Tergantung kalau gajinya cocok," selorohku.


"Cih. Lihat betapa sukanya dia dengan uang," gumam Asisten Yan namun aku bisa mendengarnya dengan jelas.


"Hahah ... Aku bisa memberikan kemampuan terbaikku, tentu dengan harga yang sepadan atas hasil kerja kerasku. Aku bisa beri jaminan, jika aku tidak berkompeten, silahkan berhentikan aku tanpa hak yang seharusnya diterima karyawan saat di PHK."


"Wohooo ...! Ini baru adikku! I'm so proud of you, Vania. Percaya diri, ambisius, berani, bertekad kuat, Ya Tuhan ... mengapa kau lebih mirip denganku ketimbang kakak kandungmu." ucap Kakak Ipar sangat bersemangat.


"Ckckck ... Persis! Sama-sama suka uang!" Asisten Yan berdiri dan berjalan ke arah pintu, "Aku akan ke kantin melihat Nyonya."


Muka Kakak Ipar langsung berubah khawatir, "Ada apa dengannya?"


"Nyonya Pradipta membebani tagihan makan siang menu ala carte untuk semua karyawan kantor padamu. Lihat!" gelak Asisten Yan kemudian menyodorkan ponselnya pada Kakak Ipar.


"Hah! Apa-apan ini!" protes Kakak Ipar membuang ponsel asistennya ke sofa namun dalam sekejap dia tersenyum, "Hehehe ... Yan, biarkan saja Litha melakukan apapun yang dia inginkan."


Tidak ada permintaan Kak Litha yang tidak dituruti suaminya, layaknya jin yang bisa mengabulkan semua keinginan. Walaupun begitu Kak Litha bukanlah orang serakah, justru apa yang diberikan padanya akan dibagikan pada orang lain. Seperti cerita para pelayan di kediaman Keluarga Pradipta yang mengatakan sejak Tuan Muda menikah, para pelayan kerapkali mendapat uang dari kakakku, termasuk Paman Tino. Alasannya Nyonya Muda Pradipta tidak tahu cara menghabiskan uang tunai dari suaminya dan akan dimarahi jika tidak dihabiskan, padahal segala keperluannya sudah terpenuhi semua di rumah.


"Nia."


Kakak Ipar memanggil namaku dengan nada yang sangat serius setelah Asisten Yan keluar. Aku sedikit awas terhadapnya. "Kita tidak punya banyak waktu untuk membicarakannya, jadi aku langsung saja. Sejauh mana kau mengetahui asal usul ibumu?"


Glek. Salivaku tersangkut di tenggorokan.


"Apa ini! Apa Kakak Ipar tahu kalau aku juga mengetahuinya? Gawat!"


"Ma– maksud Kakak Ipar apa?" tanyaku pura-pura bodoh.


"Kau kira aku tidak tahu kemampuan mengupingmu? Katakan saja dengan jujur."


"Engg ..." Aku menggaruk leher yang tidak gatal, bingung harus menjawab apa.


"Kau tahu perihal Kerajaan Sungai Bulan, Suku Ragnaya dan Putri Mahkota, kan?"


Kakak Ipar terus mencecar tanpa bisa membuatku beralasan. Aih, sepertinya dia sudah terbiasa menghadapiku sampai tahu celah dimana aku bisa dibungkam. Apa aku harus berkata jujur? Apa dia bisa memaafkanku? Ah, aku benci situasi seperti ini, situasi dimana aku tidak bisa memegang kendali.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2