
Lelaki yang usianya terpaut jauh denganku ini laksana dua sisi mata uang. Satu sisi sangat menyebalkan sedangkan sisi lainnya– memberiku kenyamanan.
"Baiklah," katanya santai, "Cobalah lagi. Mungkin hanya beberapa kali kau sudah bisa."
Aku tersenyum senang, "Apa dia memujiku pandai?"
"Kulihat beberapa waktu terakhir ini kau sering mengobrol dengan ibuku," sambungnya setelah aku mulai melaju lagi.
"Ya." Aku mengangguk, "Menemani ngobrol kalau kakakku istirahat."
"Apa yang kalian biasa obrolkan?"
"Apa kau berharap kami mengobrol tentang dirimu?"
"Hem, tidak juga."
Aku tergelak mendengarnya berkelit, tanpa melihat aku tahu pria 'tua' ini salah tingkah.
"Kenapa kau tertawa?"
"Hahaha ... Apa kau penasaran dengan apa yang kami bicara–"
"Pindah ke gigi dua!" teriaknya melihat jalan di depan kami sedikit menanjak.
Aku spontan menyentuh persneling dan tanpa aba-aba tangannya juga sudah berada di atas tanganku untuk berpindah ke gigi dua.
DEG.
Ya Tuhan ... jantungku kenapa berdentum sangat keras ketika tangan kami bersentuhan. Aku bisa merasakan kehangatan dalam telapak tangannya yang besar saat melingkupi tanganku.
" ... "
"Apa kau kaget karena teriakanku tadi?"
Aku menggeleng lalu lekas menarik tanganku. Aku harus cepat mencari cara sebelum dia sadar wajahku telah berubah warna.
"Aku senang mengobrol dengan Bibi Lidya. Banyak hal yang bisa kami jadikan bahan obrolan dan berkembang kemana-mana."
Tidak ada jalan lain selain mengalihkan perhatian pada hal yang membuatnya tadi penasaran– topik obrolanku dengan ibunya. Memangnya apa yang ingin dia ketahui sih?
"Oh ya? Padahal Ibu sangat pemilih dan hati-hati dalam memilih teman bicara?" tanya sedikit heran.
Aku menekan pedal rem dan berhenti tidak jauh dari area kebun belakang tempat ulangtahun Kak Litha. Di sekitarnya ada berbagai macam hewan yang dipelihara dengan sangat baik. Bisa dibilang itu adalah peternakan kecil yang berguna untuk menghilangkan penat. Sekitar seratus meter di depan mobil yang kami tumpangi terdapat kandang burung besar tempat koleksi burung-burung mahal milik Kakak Ipar.
"Aku tidak tahu kalau Bibi orangnya pemilih dan hati-hati." Aku tersenyum memandang burung-burung yang berterbangan di dalam kandang, "Ternyata kami sama, tidak heran obrolan kami mengalir begitu saja padahal kami belum lama kenal dan perbedaan usia kami juga terpaut jauh, tapi serasa satu frekuensi."
"Apa aku menjadi topik pembicaraan kalian?" tanyanya juga menghadap ke depan, arah pandangan yang sama denganku.
"Astaga! Dari tadi dia menanyakan hal ini, bilang saja kau kepo dengan apa yang kami gosipkan tentang dirimu, Tuan Asisten!"
"Salah satunya."
Kepalanya menoleh padaku, ketertarikan yang meningkat.
"Banyak hal yang kami bicarakan. Tentang Daerah C, Kota A, jaman Bibi sekolah, sekolahku, keluargaku, cinta Bibi terhadap almarhum Paman sampai pandangan kami masing-masing mengenai berita terkini– dan banyak lagi."
__ADS_1
"Kau tadi tidak menyebut diriku sebagai bahan obrolan."
"Memangnya Asisten Yan ingin Bibi bicara apa tentangmu? Hehehe ...."
"Aku hanya ingin tahu perasaannya padaku?" tanyanya gamang.
"Bibi tidak banyak bercerita tentang anak-anaknya. Bibi hanya berbagi hal-hal yang baginya menyenangkan dan bersifat umum."
"Apa aku tidak menyenangkan buatnya?"
"Hei! Apa komunikasimu dengan Bibi Lidya begitu buruk sampai kau harus bertanya seperti itu?" seru bathinku.
"Kurasa ya. Mungkin Bibi hanya tidak ingin mengingat kesedihannya ... Mendiang Kak Dinda sudah cukup membuat Bibi menata ulang hati dan pikirannya, ditambah lagi putra satu-satunya sekarang terasa jauh meski jaraknya dekat."
"Maksudmu?" protesnya tidak terima.
Aku menoleh padanya, menampakkan mimik wajah tidak terima juga. Bukankah tadi dia yang terus memintaku untuk menceritakan obrolan antara aku dan ibunya, kenapa sekarang dia marah? Emosiku jadi sedikit terpancing.
"Kenapa tidak tanyakan sendiri pada Bibi? Kalau Asisten Yan sungkan menanyakannya langsung berarti benar apa yang dikatakan Bibi, terasa jauh meski jaraknya dekat." Kutekankan nada bicaraku di akhir kalimat.
Lelaki itu mendengus lalu membuang mukanya ke kaca di samping dan bergumam pelan, "Apa Ibu tidak bisa menghormati keinginanku untuk tetap menyukai Vivian?"
Deg.
Suara baritonnya memang pelan tetapi aku bisa mendengarnya utuh. Entah kenapa hatiku jadi meradang, tanpa bisa kutahan gejolak di hati ini, aku menudingnya dengan frontal.
"Bagaimana bisa kau menuntut ibumu sendiri untuk menghormati keinginanmu padahal tidak sekalipun kau peduli pada perasaannya? Apa dia pernah menyusahkanmu? Satu-satunya hal yang selalu menjadi beban pikirannya adalah saat dimana dia memintamu mengabdi untuk Keluarga Pradipta. Aku tidak tahu ada cerita masa lalu apa sampai Bibi Lidya mengorbankan hidup putra kandungnya sendiri untuk Keluarga Pradipta, yang jelas dia sangat merasa bersalah padamu. Maka dari itu di usia tuanya, Bibi hanya ingin melihat putranya bisa bahagia supaya jika waktu Tuhan memanggilnya Bibi bisa pergi dengan tenang."
Dia memandangku tidak percaya. Ya, aku mengomelinya. Aku tidak peduli pria 'tua' ini akan marah lagi padaku atau tidak. Aku hanya bereaksi karena gumamannya barusan membuat dadaku sesak. Aarrghhh ....
"What the fu*ck! Kau menuduhku berkata bohong?" geramku dengan mata menyalang, bisa-bisanya dia mengatakan aku berbohong.
"Tuan Asisten! Seharusnya itu menjadi tamparan buatmu. Kenapa sampai Bibi Lidya merasa nyaman mencurahkan isi hatinya pada anak bau kencur sepertiku dibanding anaknya sendiri? Sampai disini paham tidak?– Kalau Si Anak sendiri yang membuat jarak terasa jauh hanya karena kemauannya untuk menyukai tunangan orang lain ingin dihormati."
Tangannya mengepal kuat menahan amarah hingga urat-urat timbul yang ada di punggung tangannya semakin jelas terlihat, tapi aku kepalang tidak peduli, "Apa Tuan Asisten tidak tahu bahwa sebenarnya ini adalah bentuk kekhawatiran seorang ibu pada kehidupan putranya, namun putranya memilih untuk membiarkan dirinya jatuh terpuruk ke dalam cinta yang tidak jelas ujungnya. Kenapa tidak sekalian saja wanita itu kau rebut lalu kau nikahi? Kalau tidak punya nyali untuk melakukannya, masih banyak wanita lain–"
"KAU!"
Rahangnya mengetat. Dia benar-benar terprovokasi sampai memotong ucapanku. "Kalau kau belum pernah mencintai seseorang jangan sok tahu, Bulan Kesiangan! Kau kira aku pria yang yang gampang menyukai wanita, hah!"
"Bulan Kesiangan? Dia menyebutku Bulan Kesiangan! Apa kau tahu sebutan itu melukaiku?"
Mataku panas, bagaimana bisa dia menyebutku seperti itu? Dibanding mata yang panas, hatiku lebih panas. Bulan Kesiangan adalah peribahasa yang menunjukkan seseorang memiliki muka sangat pucat, putih dan lesu, dalam artian sangat tidak menarik.
"Bukan urusanku kau susah atau gampang menyukai wanita! Aku hanya kasihan pada lelaki bodoh yang menyukai tunangan orang lain dan sebentar lagi akan menikah. Apa lelaki itu berniat menunggu jandanya?"
Cup.
Sebuah gerakan cepat di luar dugaan menghujam bibirku hingga terasa ada sesuatu yang lembut juga dingin disana. Wajah kami kini tiada berjarak dengan mata yang saling terbuka lebar dan nafas yang tertahan.
DEG.
Dia menyadari keterkejutan luar biasa dariku, mungkin bunyi detak jantungku yang berdentum sangat nyaring. Dasar pria tua kurang ajar! Bukannya melepaskan, malah mencengkram kuat leher bagian belakang dan menekan bibirku semakin dalam dan intens sampai muncul sesuatu yang tidak pernah kurasakan menggeliat dalam rongga mulut.
Sialan!
__ADS_1
Dia mencuri ciuman pertamaku, ciuman yang nantinya aku berikan pada seseorang yang aku cintai dan juga mencintaiku. Tapi sekarang– dia sudah mengambilnya dengan paksa. Kudorong dadanya sekuat tenaga hingga kami sama-sama terpental ke kaca samping mobil.
"Keterlaluan! Barusan kau bilang kalau kau tidak gampang menyukai wanita lain, tapi kenapa begitu mudahnya mencium anak bau kencur sepertiku?" Mataku yang panas sedari tadi kini berair, "Aku memang tidak punya orangtua yang bisa melindungi dan membelaku tapi bukan berarti aku bisa diperlakukan seenaknya olehmu. Kalau kau marah padaku kau boleh membalasnya, tapi bukan dengan cara begini. Cara Anda membalas benar-benar merendahkan harga diriku. Apa aku memang sampah yang tidak berharga di mata Anda, Tuan Asisten?"
Dari gestur tubuhnya, aku yakin dia terhenyak dan juga tidak menyangka dengan perbuatan tidak senonohnya sendiri. Mau tidak sengaja atau diluar kendali tetap saja nasi yang sudah terlanjur menjadi bubur tidak akan bisa menjadi beras kembali.
Bbbrrmmm ....
"NIA, REM!"
Kuinjak sekuat-kuatnya pedal gas dengan mengarahkan kemudi lurus ke depan. Kalau dia di luar kendali aku juga bisa diluar kendali. Tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, aku begitu saja menabrakkan mobil ke kandang burung.
BRUAKKHH ....
Suara benturan keras disusul dengan riuhnya cuitan suara burung-burung membuat kaget para pelayan dan segera mendatangi mobil kami.
"VANIA! APA KAU TIDAK BISA MEMBEDAKAN REM DAN GAS? APA KAU MAU MATI? KALAU MAU MATI, MATI SENDIRI SAJA!"
Kuangkat wajahku yang terbenam di airbag kemudi, menatapnya tanpa ekspresi dengan lelehan airmata hangat di pipi. Aku sudah malas berbicara apapun padanya, aku sudah enggan bersinggungan dengannya dan aku ingin segera menjauh darinya.
Pintu mobil dibuka, aku disambut panik oleh para pelayan seraya berseru memanggil namaku. Aku menepis semua uluran tangan yang meraihku untuk membantu keluar. Perasaan kecewa yang melingkupiku membuatku langsung berlari menuju rumah utama setelah keluar dari mobil.
.
.
.
GUBRAKK.
Aku mendorong keras pintu dapur rumah utama. Bibi Lidya dan Pak Is yang tengah berbincang terperanjat kaget. Aku melihat sekilas ke arah mereka yang nampak bingung dengan sikapku.
Yan, Nona Vania kenapa?
Dari pintu kamar kudengar Bibi Lidya bertanya pada Asisten Yan. Aku urungkan menutup pintu, ingin mendengar jawabannya.
Dia menabrak kandang burung di peternakan belakang. Kubilang injak rem, dia malah injak gas. Kerjaannya ngoceh mulu.
Astaga! Aku tidak percaya dia menjawabnya seperti itu. Dasar pria tua tidak bertanggungjawab! Dia masih berlagak tidak berdosa di depan ibunya. Aku sungguh hilang respek padanya. Aku keliru dan menyesal selama ini ikut menyanjungnya, bahkan pernah menjadi ketua dari Shortpink Fans Club.
Aku menutup pintu kamar, duduk di depan meja rias memperhatikan dengan seksama wajahku terutama kulit yang dikatakannya pucat seperti orang sakit.
"Aku juga tidak mau dilahirkan dengan kulit seputih ini," ujarku bermonolog menyentuh pipi, "Jahat sekali dia! Sudah mengatakan aku mendendam, matre, meremehkanku dengan sebutan anak bau kencur dan terakhir menghina kulitku ... Aku masih bisa menerima kalau mungkin saja dia kesal padaku, tapi– ketika dia menciumku seperti itu membuatku sangat muak."
Aku menatap wajahku sendiri di cermin, ada sebulir air lagi yang jatuh dari mata sebelah kanan, "Bagaimana bisa dia menciumku di saat hatinya ada pada wanita lain? Konyol!"
Andai saja dia bukan orang kepercayaan Kakak Ipar dan kakakku, aku sudah mengadu dan minta dia untuk tidak terlihat lagi di depan mataku.
Kutarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan beberapa kali untuk menenangkan badai gejolak di hati, "Baiklah ... Aku akan menguatkan diri lagi. Aku akan bersikap seperti biasa– seperti tidak terjadi apa-apa, hanya saja aku tidak akan pernah mau bersinggungan denganmu meski kau menyinggungku. Aku tidak akan membahasnya dan membalas perbuatanmu ... Sekarang kita impas." kataku seolah-olah pantulan bayanganku sendiri di cermin adalah Asisten Yan.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu dan terkekeh, "Hehehe ... Kita lihat kekuatan kutukan wanita Suku Ragnaya. Apa benar itu nyata atau hanya mitos belaka?"
Ternyata– identitas asliku bisa menghibur di saat hatiku sakit. Sayangnya jika kutukan itu bekerja, aku mungkin tidak lagi memiliki perasaan padanya meski hanya sebentuk kekaguman seperti dulu karena aku sudah memutuskan tidak ingin bernasib sama dengannya, mencintai dalam kesendirian.
- Bersambung -
__ADS_1