
"Nia. Bisa kau keluar sebentar?"
Hari sudah malam, aku terperanjat kaget mendengar suara Kak Litha di balik pintu.
"Kak Litha!" seruku melihatnya sambil menyusui Baby Zean mengenakan apron di kursi roda.
"Apa yang kau lakukan seharian tidak keluar kamar?" tanya Kakak Ipar di belakang istrinya.
"Tidur. Hari ini aku sangat lelah."
"Lelah? Istriku yang melahirkan kenapa kau yang lelah?"
Aku menghela nafas, malas berdebat dengan kakak iparku. Aku benar-benar lelah seharian ini dan aku hanya tidur dari tadi– baru saja terbangun 20 menit yang lalu.
"Dia lelah dan butuh istirahat, Mas," ujar Kak Litha menyudahi kalimat suaminya, lalu bertanya padaku, "Apa kau masih ingin istirahat, Nia?"
Aku menggeleng, "Tidurku sudah cukup, Kak. Ada apa?"
"Kemari, ikutilah kami."
Meski bingung dengan bareface sehabis bangun tidur dan rambut panjang terurai, aku ikuti saja mereka dengan gontai menuju ruang keluarga.
Demi Tuhan. Mataku terbuka selebar-lebarnya, orang yang paling menyebalkan sedang memegang kue ulangtahun dengan lilinnya yang menyala.
"Selamat ulangtahun, Vania-ku Sayang ...." ujar Kak Litha.
Astaga! Aku lupa kalau hari ini hari ulangtahunku yang ke- 18. Itu artinya, tanggal lahirku dengan Tuan Muda Kecil sama. Aku menutup mulutku yang menganga saking terkejutnya.
"Anakku ternyata sangat menyukaimu sampai-sampai dia lahir duluan lima hari dari tanggal perkiraan dr. Lena hanya untuk menyamakan tanggal lahir bibinya," timpal Kakak Ipar.
Lengkap sudah kebahagiaanku hari ini, aku dan Baby Zean akan selalu merayakan ulangtahun bersama. Yeayy! Maksudnya numpang dirayakan karena ulangtahun Tuan Muda Kecil Pradipta pasti selalu dirayakan dengan meriah.
"Lihat di atas meja! Hadiah ulangtahunmu dariku," kata Kak Litha sembari mengusap lembut pantat bayi Baby Zean yang masih menyusu.
Mataku kembali membeliak, "Laptop baru! Kakak! Ini laptop impianku!" teriakku kegirangan mengagumi kardus persegi berisi laptop dengan spek mumpuni.
"Untuk kuliah nanti. Pergunakanlah dengan baik."
Aku beralih mendekati kakakku dan mencium pipinya, "Terimakasih, Kak. Kakak selalu tahu apa yang aku butuhkan."
"Nona, selamat ulangtahun. Ini hadiah dari Bibi."
Bibi Lidya memberiku sebuah kotak kecil berbahan kain beludru warna biru tua.
"Bu!"
Asisten Yan spontan memanggil Bibi Lidya dengan nada protes melihat apa yang akan diberikan ibunya padaku.
"Ini kesayangan Dinda. Liontin kepingan salju," kata Bibi Lidya membuka kotak itu tanpa mempedulikan protes putranya.
Aku bengong, Kesayangan Dinda? Asisten Yan protes? Apa artinya benda ini punya nilai tinggi buat mereka? Tetapi kenapa Bibi malah memberikan padaku?
"Dinda terobsesi dengan cerita Putri Salju. Semua barang yang dia punya pasti selalu ada hubungannya dengan Putri Salju dan liontin ini adalah benda yang selalu dia simpan dengan hati-hati sekali. Pernah Abyan menyentuhnya, kepalanya sampai bocor dipukul botol kaca bekas minuman soda, hahaha ... Dinda ingin memberikan ini pada sosok Putri Salju yang pernah dia temui tapi sampai dia meninggal pun tidak pernah menemui gadis itu lagi ... Bibi sudah menganggap Nona putri sendiri, simpanlah ini jika Nona berkenan."
"BU!" protes putranya lebih keras.
"Ibu sudah pernah bilang jangan mencampuri urusan Ibu karena Ibu tidak akan pernah mengganggu urusanmu dengan dokter itu!"
Glek.
Bibi Lidya marah pada putranya karena benda yang berada di tanganku sekarang dan merembet kemana-mana.
"Bibi, bukan tidak sopan kalau aku menolaknya, hanya saja liontin ini punya histori di dalamnya. Aku sangat berterimakasih Bibi ingin memberiku benda berharga ini karena Bibi menyayangiku tetapi kasih sayang Bibi saja sudah merupakan hadiah terbaik yang pernah aku terima saat Ibu dan Bibi Rima tidak ada. Biar liontin ini Bibi simpan kembali, berikan saja nanti pada istri Asisten Yan kelak, kalau dia mau menikah tentunya."
"Kau!"
Mata Asisten Yan melotot padaku, tanpa menghiraukannya aku berjalan ke arahnya, lalu aku masukkan kotak itu di saku kiri kemejanya. Dia tidak bisa mengelak karena kedua tangannya menopang cake ulangtahun.
__ADS_1
"Psstt ... Kau rajin berolahraga rupanya. Dadamu keras, Tuan Asisten. Jangan marah, anggap saja kita impas," bisikku saat meraba dada bidangnya.
Hahaha ... aku sangat-sangat puas melihat wajahnya merah padam saat kusentuh dan sedikit mere*mas dadanya.
"Yan, kau kenapa? Apa kau menahan sesuatu. Sementara kupegang kue ini agar kau bisa ke belakang."
Pppfffttt ....
Pak Is benar-benar memberi punchline yang tidak bisa dibantah Asisten Yan. Menahan sesuatu? Apakah itu? Hahaha ....
"Maaf, Nona. Gara-gara anak keras kepala itu Bibi jadi tidak punya hadiah yang bisa diberikan," ujar Bibi Lidya sedih.
"Sudah kubilang, kasih sayang Bibi jauh lebih berharga dari hadiah apapun. Jangan pernah hilang sayangnya Bibi ke aku ya– walaupun Bibi nanti sudah punya menantu perempuan, walaupun dia cemburu nanti karena Bibi menyayangiku," kataku memeluknya.
"Tentu saja, bahkan kalau jika ada wanita yang dikenalkan Abyan sebagai calon istri, Bibi akan menanyakan pendapat pada Nona terlebih dulu."
"Eh, apa-apaan ini! Kenapa masa depanku bergantung pada anak kecil," protes Asisten Yan , dia tidak lagi memegang kue ulangtahun.
"Nona, lilinnya sudah mau habis. Sebaiknya ditiup dulu," sahut Pak Is.
"Bibi dan Pak Is mulai sekarang jangan panggil aku Nona, panggil namaku saja ya, Ni-a. Aku selama ini merasa risih dipanggil Nona. Aku bukan Nona Pradipta, kalaupun orang luar beranggapan begitu, semua yang di rumah utama setidaknya mengenaliku dengan identitas asli."
"Nia." Kakak Ipar menyebut namaku.
"It's okay, Kak. Aku lebih nyaman kalau di rumah dipanggil namaku saja sebab akulah yang berusia paling muda di rumah ini."
Banyak harapan yang ingin aku wujudkan setelah melewati hari ini, salah satunya adalah benar-benar menghapus sosok Asisten Yan dari hati dan pikiranku.
Setelah meniup lilin Kakak Ipar menyerahkan sebuah kotak persegi panjang kecil berwana hitam, "Ini hadiahku. Bukalah! Kakakmu saja tidak tahu apa yang ada di dalam kotak ini."
Kulihat mata Kak Litha membulat, protes karena melangkahinya. Hehehe ... Kehangatan begitu menyelimutiku, di hari spesialku aku masih memiliki perhatian dari orang-orang tersayangku.
"Kakak! I– ini kunci mobil?" pekikku tertahan dengan tangan gemetaran setelah membukanya.
"Mas!"
"Tapi ini berlebihan, Mas!"
"Tawon kita sebentar lagi kuliah, dia perlu kendaraan, dia juga sudah punya SIM, menyetirnya juga lumayan baik, semakin sering pasti akan semakin baik. Kau tidak perlu khawatir, Sayang."
Tawon kita?
Astaga ... Apa itu sebutan sayang mereka buatku? Tawon kita? Hahaha ... Terserahlah, tapi kali ini aku sangat terkejut, diluar dugaan Kakak Ipar memberiku mobil baru tanpa sepengetahuan istrinya. Apa dia tidak takut diomeli dan disuruh Kak Litha tidur di luar kamar?
Kakak Ipar mengodeku dengan pandangan matanya, aku tahu dia meminta bantuan untuk membujuk istrinya. Ckckck.
"Kakak jangan marah. Mood Kak Litha harus senang terus supaya produksi ASI-nya lancar, kasihan keponakanku nanti, Kak. Maafkan Kakak Ipar kali ini, dia begitu demi adik tersayangmu ini."
"Hhh. Pintar sekali bicaramu, Nia!"
"Nah gitu dong. Kakak Ipar sudah tersiksa selama masa nifas, jangan tambahi deritanya, Kak."
"NIA!"
Kak Litha dan Kakak Ipar kompak berteriak padaku. Di dalam apron nampak Baby Zean menggeliat dari aktivitas menyusu karena teriakan ayah ibunya. Kakakku langsung menepuk-nepuk lembut badan mungil itu dan mengarahkan kembali mulutnya pada sumber ASI.
"Awas kalau kau membuat putraku menangis! Kunci itu tidak jadi kuberikan padamu," ancam Kakak Ipar.
"Eh, apa! Tidak begini konsepnya, Tuan Muda. Mengambil kembali hadiah yang sudah diberikan saat ulangtahun itu pamali." protesku dalam hati.
"Mobil apa yang diberikan sebagai hadiah, Mas?" tanya Kak Litha.
"Mini Cooper."
"APA!"
Giliran aku dan kakakku yang terperanjat kaget mendengar jenis mobil hampir satu miliar diberikan begitu saja untukku.
__ADS_1
Oekkk.
Keponakanku akhirnya menangis mendengar jeritan dua perempuan yang tidak terkontrol. Mati sudah! Kakak Ipar akan mengambil kunci mobil ini karena putranya menangis.
"Ush ... Ush ... Ini Ibu, Nak. Ayah nakal membelikan bibimu mobil mahal hanya buat kuliah. Harusnya dia belikan motor bebek saja," adu Kak Litha sembari menenangkan bayi yang belum genap sehari.
"Masa Nona Pradipta kuliah menggunakan motor bebek. Aku yang akan dicerca orang-orang. Jangan berdebat lagi! Satu kali lagi siapapun yang mempermasalahkan hadiahku, Mini Cooper kuning yang ada di depan akan kuhancurkan!"
Dari nadanya dapat dipastikan kalau Kakak Ipar marah dan kami semua bungkam tanpa menyelanya, termasuk tangisan Baby Zean yang juga ikut terhenti.
"Kuning? Tahu darimana warna kesukaan Nia?" tanya Kak Litha, aku juga heran darimana Kakak Ipar tahu warna kesukaanku.
"Dia yang menyarankan," jawab Kakak Ipar dengan kerlingan mata ke arah Asisten Yan.
Apa! Dia? Aku memang menyukai warna kuning, tapi tidak sejak minggu lalu.
"Apa kau menyelidikinya, Asisten Yan? Vania suka segala hal yang berwarna cerah, kuning adalah warna yang paling cerah," tanya Kak Litha takjub.
Lelaki yang menyarankan warna pada Kakak Ipar itu tersenyum senang.
"Tapi tidak sekarang, Kak. Aku lebih menyukai warna merah sejak aku disebut Bulan Kesiangan minggu lalu," sanggahku yang membuat Asisten Yan dan Bibi Lidya terhenyak.
"Bulan Kesiangan?" tanya Kakak Ipar kebingungan.
"Itu peribahasa yang menyatakan kalau Nia terlihat jelek karena pucat seperti orang sakit," jawab istrinya, "Tapi jangan dimasukkan ke hati ya, Nia. Kakak tahu kau pasti sakit hati, tapi berusahalah untuk lebih kuat."
"Maksudnya?" tanya Kakak Ipar belum paham.
"Kak!" seruku mencegah Kak Litha tidak menjelaskan lebih rinci pertanyaan suaminya
"Sejak kecil Nia selalu di-bully karena kulitnya yang sangat putih, selalu dikaitkan dengan penyakit dan kelainan pigmen kulit yang kita sebut albino, padahal kulitnya hanya lebih cerah dan putih dari orang kebanyakan di kampung kami yang berkulit sawo matang," ujar Kak Litha tersenyum, "Itu yang membuatnya membenci kulitnya sendiri sampai Ayah harus turun tangan memarahi siapapun yang membully kulitnya Nia. Tidak jarang Ayah berselisih paham dengan warga karena anak-anak mereka selalu mengejek putri bungsunya, yang menyedihkan beberapa dari mereka mengatakan kulit Nia adalah kutukan karena Ayah menikah dengan Ibu yang tidak jelas asal-usulnya."
"Kak."
Aku menggeleng-gelengkan kepala untuk menyudahi ceritanya, tapi tetap saja dia mengoceh.
"Barulah sejak booming Korea Selatan di negeri kita, Nia menemukan kepercayaan dirinya karena banyak yang menginginkan warna kulit seperti kulitnya. Jadi, aku tahu sebutan Bulan Kesiangan buatnya tentu akan mengorek luka yang sudah lama terkubur."
Bibirku kelu, tidak bisa membantah apapun karena apa yang dikatakan kakakku semuanya benar. Sekarang cerita masa laluku diketahui oleh lelaki yang justru mengungkitnya.
"Kurang ajar! Siapa orangnya, Nia? Berani-beraninya dia mengatakan kau Bulan Kesiangan. Apa dia tidak tahu siapa dirimu?" geram Kakak Ipar yang membuat Asisten Yan dan Bibi Lidya salah tingkah.
"Mas."
"Yan, besok kau urus penambahan nama Pradipta di belakang nama Vania di semua dokumen resminya agar semua orang tahu siapa dia dan tidak ada lagi yang berani mengatainya. Kalau masih ada yang nekat, dia akan berurusan langsung denganku!"
"B- Baik, Ray," sahut Asisten Yan tergagap.
"Satu lagi. Cari tahu siapa orang yang mengatakan Nia Bulan Kesiangan dan bawa dia ke hadapanku, akan kujahit mulutnya."
Mata Bibi Lidya dan Asisten Yan terbuka lebar, kaget akan reaksi Kakak Ipar. Aku jadi bingung harus bagaimana karena semua ucapan yang sudah keluar dari mulut Tuan Muda Pradipta tidak bisa dibantah, kecuali –
"Kak, hatiku sudah kuat. Tidak perlu mencari orang itu, justru kalau Kakak Ipar mencarinya, aku semakin mengingatnya dan bisa jadi kekuatan hatiku akan melemah," kataku berlutut memohon di depan kursi roda Kak Litha.
Raut wajah Kak Litha bengong sesaat, tapi sedetik kemudian dia paham maksudku, "Mas, sudahlah. Nia sudah memaafkannya, jadi jangan diperpanjang. Aku yakin setelah ini orang itu tidak akan berani lagi, kalau dia melakukannya, aku sebagai kakak kandungnya yang akan turun tangan langsung," ujarnya membujuk suaminya.
Benar saja, setiap kata yang terucap dari Tuan Muda adalah titah tetapi ucapan yang keluar dari mulut Nyonya Pradipta lebih tinggi dari titah Tuan Muda, hahaha ... dan tidak ada yang bisa dilakukan selain mematuhinya.
"Kalian kakak beradik sama saja! Mudah sekali memaafkan orang, kemarin Si Thanos sekarang Bulan Kesiangan, besok apalagi?" sindir Kakak Ipar.
Aku cengengesan sebab siasatku berhasil. Bayangkan saja kalau Kak Litha dan Kakak Ipar tahu siapa yang mengataiku Bulan Kesiangan lalu menciumku pasti mereka akan sangat kecewa.
Sepintas kulihat Bibi Lidya dan Si Biang Kerok menarik nafas lega, tapi itu hanya sementara. Degup jantung kami saling bersahutan satu sama lain ketika Nyonya Muda Pradipta berkata, "Meskipun kami memaafkan orang yang mengataimu Bulan Kesiangan, tapi kami harus tahu siapa orangnya. Kau tidak akan bilang lupa, kan?"
Hah?
Mati aku! Aku tidak bisa mengelaknya, aku harus segera mencari alasan paling masuk akal untuknya. Asisten Yan ... Kalau sampai kakakku tahu, aku tidak bisa lagi melindungimu.
__ADS_1
- Bersambung -