Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Wanita Manipulatif


__ADS_3

PoV Abyan Pratama


Dalam perjalanan ke rumah Vivian, aku menelepon panggilan darurat ambulans Pradipta Hospital tempat Vivian bekerja sebagai tenaga medis.


"Kau sudah aman sekarang. Rekan sejawatmu akan mengurus kalian dengan baik," kataku sambil berjalan beriringan dengan Vivian setelah Dokter Indra -suaminya- berada di atas brankar dan di dorong menuju mobil ambulans.


"Ya, terimakasih Aku tidak tahu bagaimana kalau tidak ada kamu."


Aku sungguh kasihan melihat keadaannya sekarang. Rambut berantakan, badan kurus dengan perut buncit seperti orang yang terkena busung lapar, ditambah lagi kondisi mental akibat 'penolakan' dari keluarga suaminya setelah menikah.


"Aku permisi dulu, Vania menungguku," pamitku.


Dia terdiam sejenak lalu berkata dengan sangat lemah, "Bisakah kau menemaniku sebentar di rumah sakit? Keluarga suamiku pasti akan datang dan menyalahkan aku lagi."


Aku gamang, di satu sisi aku sangat merasa bersalah dengan Vania -menghancurkan kenangan kami di masa depan- tapi aku juga tidak bisa tidak mengabaikan wanita di sampingku ini.


"Ambulans akan segera berangkat!" seru sopir ambulans pada kami.


"Aku mohon ..."


"..."


"Disana mereka tidak mungkin macam-macam, banyak rekanmu disana yang akan melindungimu."


"Tidak ada satupun yang bisa kuandalkan sepertimu, Yan."


"..."


Tiitt ... Tiiittt ...


Klakson panjang dibunyikan dua kali pertanda sang sopir tidak sabar menunggu.


"Kalau begitu aku tetap di rumah saja kalau kau tidak bisa menemaniku."


"Sebaiknya kau ikut ke rumah sakit, sekalian periksakan kondisimu yang semakin kurus. Ibu hamil tidak baik terlihat kurus, kasihan bayinya."


Dia diam saja menatap lantai, akhirnya dengan berat hati aku menuruti kemauannya, "Baiklah, aku ikut. Aku hanya menemanimu sampai keluarga suamimu datang."


Wanita berlesung pipi itu mengangguk. Kubiarkan begitu saja mobil di depan rumah Vivian dan langsung masuk ke dalam ambulans karena sopir membunyikan klakson lagi. Sepanjang perjalanan kami hanya diam, entah apa yang dipikirkannya– yang jelas pikiranku sekarang hanya dipenuhi gadis seputih salju yang aku tinggalkan di kencan pertamanya.


"Maaf aku merusak malam minggu kalian," ujarnya membuka percakapan


"Tidak apa-apa. Vania adalah gadis yang penuh pengertian. Aku akan memberi kabar padanya terlebih dahulu,"


Kurogoh saku jaket– tidak ada, saku celana– juga tidak ada. Astaga! Ponselku tertinggal di mobil.


"Ponselku ketinggalan," gumamku yang ternyata didengar olehnya.


"Aku juga tidak membawa ponsel," timpalnya.


"Tidak apa-apa. Sesampainya di rumah sakit aku akan meminjam telepon resepsionis," ujarku tersenyum.


"..."


"Aku iri pada mereka," keluhnya.


"Mereka?"


"Tisha dan kedua adiknya. Mereka semuanya bisa mendapatkan pria yang berhati tulus."


"..."


"Ah, maaf. Aku tidak paham apa yang aku bicarakan Jangan dianggap ya," sahut Vivian cepat meralat ucapannya barusan.


"..."


"Beruntung suamimu memiliki istri seorang dokter. Disaat kritis dia bisa mendapat pertolongan pertama," ujarku menatap Dokter Indra yang tidak sadarkan diri. di atas brankar.


"Beruntung juga wanitamu, memiliki seorang pria yang penuh perhatian."


Aku canggung tapi berusaha untuk tidak terlihat canggung, padahal maksudku berkata barusan hanya untuk menaikkan kepercayaan dirinya di depan keluarga suaminya bukan untuk menyinggung diriku.


Sesampainya di rumah sakit, petugas medis dengan sigap memberi tindakan pada pasien yang baru datang. Kami menunggu di depan ruang periksa yang langsung menghadap taman terbuka. Sebenarnya aku ingin permisi sebentar ke resepsionis menelepon Vania tetapi tidak tahu kenapa ada saja permintaan Vivian yang membuat aku mengurungkan niatku.


"Mau pakai jaketku?" tawarku karena melihatnya sedikit menggigil kedinginan.


Dia mengangguk dan menerima jaket yang aku berikan, "Jangan stress, tidak baik untuk bayimu," kataku menasehati.


"Aku tidak akan stress jika ditemani olehmu."


"..."


"DIMANA ANAKKU!"


Aku terkesiap mendengar suara lantang yang mengarah ke kami. Mata Vivian terbelalak melihat ibu mertuanya ditemani seorang perempuan muda di sampingnya. Refleks dia menggenggam lenganku.


"KAU!" tunjuk wanita paruh bayaitu di depan muka Vivian, "APALAGI YANG KAU LAKUKAN PADA INDRA, HAH?"


"..."


Vivian tidak menjawab sepatah katapun saking takutnya.


"Maaf Nyonya, ijinkan aku yang akan menjelaskannya." sahutku mengambil insiatif.


Mata keduanya menyipit, lalu Si Ibu Mertua berkata, "Anda Asisten Yan, bukan?"


Aku mengangguk sembari tersenyum, "Benar Nyonya, Vivian adalah temanku. Dia menghubungiku untuk membantunya membawa putra Anda kesini karena tiba-tiba kehilangan kesadaran."


Kedua wanita itu saling bertatapan sebelum yang lebih muda berkata, "Tuan, sebaiknya Anda menjauh darinya. Adikku masuk dalam perangkapnya, dia sungguh manipulatif. Wanita ini siluman berkepala ular– setiap omongannya adalah muslihat."


Aku mengernyitkan dahi, sebegitu bencinya mereka pada ibu dari calon cucu mereka. Aku merasa tangan Vivian semakin mengeratkan pegangan tangannya di lenganku.


"Mungkin diantara kalian memiliki masalah keluarga yang harus diselesaikan," kataku perlahan melepas tangan Vivian dari lenganku dan berkata padanya, "Aku pamit dulu. Bicaralah dengan mereka dari hati ke hati. Aku yakin semua ini hanya salah paham."


Vivian menggeleng dan matanya mulai berair, tiba-tiba ...


BRUK.


Mataku terbeliak kaget melihat tubuh ringkih Vivian jatuh ke lantai.


"DOKTER! SUSTER!" teriakku panik meraih badannya yang tergolek lemah tidak berdaya.


.


.


.


"Aku takut sekali bertemu mereka. Kau lihat sendiri kan, bagaimana jahatnya mulut mereka menuduhku macam-macam," sahut Vivian terisak setelah siuman di kamar inap.


Aku menghela nafas, aku tidak ingin ikut campur dalam masalah Vivian dengan keluarga suaminya.


"Yang penting, suamimu tetap mencintaimu. Pelan-pelan saja, aku yakin hati mereka akan melunak."


Dia menggeleng dan mengusap airmatanya. Hatiku gelisah setelah melirik arloji di pergelangan tangan. Waktu menunjukkan nyaris mendekati tengah malam, itu artinya aku sudah meninggalkan tunanganku sendirian cukup lama.


"Maaf, Vivian. Aku tidak bisa menemanimu disini sepanjang malam. Aku harus pulang, kasihan Vania sendirian menungguku tanpa kabar," kataku sambil berdiri bersiap pergi.


"Tung– Maaf. Siapalah aku memintamu untuk menemaniku."


Jujur ... Aku sudah tidak nyaman dengan situasi seperti ini, Vivian semakin bergantung padaku. Dalam hati, aku membenarkan kalimat Vania sebelum pergi meninggalkannya.


Aku tersenyum, menjaga agar dia tidak tersinggung, "Kau bisa menelepon keluargamu di Pulau S, mintalah mereka datang untuk menemanimu sampai kau benar-benar dalam kondisi yang baik. Aku hanya bisa membantumu sampai disini. Terus terang aku sudah melewati batas dari jarak yang seharusnya tidak aku lewati. Kau istri orang dan aku tidak memiliki hubungan keluarga denganmu, nanti citramu sendiri yang menjadi buruk di mata orang-orang."


Dia terdiam, seakan tidak suka atau entahlah– aku juga tidak tahu.


"Kalau begitu pinjami aku jaket ini," pintanya menunjuk jaket yang dipakainya.


Aku mengangguk, "Pakailah kalau memang kau membutuhkannya. Jaga dirimu dan bayimu."

__ADS_1


Aku keluar kamar inapnya sambil memikirkan bagaimana caraku pulang karena selain ponsel, dompetku juga tertinggal di mobil yang kuparkir di depan rumah Vivian.


"Asisten Yan!"


Aku berbalik, kakak ipar Vivian memanggilku. Sendirian dia menghampiriku dengan menenteng kantong plastik.


"Dimana dia?"


"Vivian?"


"Ya."


"Sedang dirawat di kamar Mawar 04," jawabku.


Dia menghela panjang nafasnya. "Sebelum Vivian mengenal Tuan Muda Pradipta sikapnya sangat manis pada kami semua. Namun entah kenapa dia menjadi orang yang berbeda setelah mengaku mengenal semua keluarga Tuan Muda Pradipta. Kami pun sempat ragu untuk meneruskan pernikahan Vivian dan Indra, tetapi adikku itu sangat mencintainya dan meminta untuk mempercepat hari pernikahan. Ternyata setelah mereka menikah, baru kami dapati bahwa dia sedikit 'aneh'."


"Aneh?"


"Vivian pintar memutar-balikan fakta. Wanita ular itu bisa membuat orang yang ditunjuknya menjadi tersudut dengan cerita versinya sendiri. Anda tahu? Tiba-tiba saja kami di-cap sebagai keluarga jahat yang tidak mau menerimanya karena dia berasal dari kota kecil di Pulau S bahkan Indra juga berpikiran buruk tentang kami gara-gara mulutnya yang berbisa."


Astaga! Kenapa aku terperangkap dalam masalah mereka? Entah siapa yang benar, aku hanya ingin segera kembali ke Grey Savanna Restaurant.


"Maaf, saat ini tunanganku menunggu. Aku tidak bisa berlama-lama disini."


"Ah ya ... Maaf. Aku hanya ingin memberitahu Anda untuk berhati-hati dengan Vivian. Dia nampak polos tetapi sesungguhnya pribadinya sangat rumit."


Aku tersenyum, "Terimakasih." Lalu aku pergi menuju resepsionis untuk meminjam telepon.


"Halo, Grey Savanna Restaurant. Ini Asisten Yan. Apa Nona Pradipta masih disitu?"


.


"Hah! Apa! Kemana dia?"


.


"Baiklah. Terimakasih."


Aku termangu sebentar, mengira-ngira dia pergi kemana? Pulang? Sendirian? Bagaimana kalau Ray tahu adik kesayangannya pulang sendirian? Segera kutekan tombol angka di pesawat telepon.


08915688–


Aarggghhh! Aku tidak hafal nomornya. Rasanya aku ingin membanting pesawat telepon ini saking kesalnya dengan diri sendiri.


"Mbak, bisa orderkan ojek online? Dompet dan ponselku ketinggalan," pintaku ke Mbak Resepsionis.


"Bisa, tujuannya kemana, Tuan?"


"Rumah Dokter Vivian."


Resepsionis itu melongo, lalu merespon, "Baik."


.


.


.


Segera kusambar ponselku setelah membuka pintu mobil. Ada pesan dari Vania.


Kakak menunggumu di ruang kerjanya. Jangan tanya padaku, aku tidak akan menjawabnya.


Aku menggenggam erat ponselku. Ray tahu aku meninggalkan Vania dan dia pasti minta penjelasannya sekarang. Namun, sebenarnya bukan itu yang aku cemaskan. Aku bisa menghadapi kemarahan sahabatku, tapi tidak dengan istrinya. Aku akan sangat kehilangan muka jika Nyonya Pradipta mengetahuinya.


Pesan itu hanya aku balas dengan sebuah kata 'Oke' sebelum menginjak pedal gas. Vania bukan gadis pengadu maupun cengeng, maka Ray pasti mengetahuinya secara kebetulan. Ngomong-ngomong tentang Vania– aku merindukannya sekarang.


Aku melewati jalan dimana terdapat sebuah angkringan yang masih ramai dikunjungi. Beberapa pemuda tertawa dan berjoget gembira seperti merayakan sesuatu. Andai saja aku menghabiskan malam ini bersama tunanganku, hati kami pasti bersorak seperti mereka. Ah, rasa bersalah menyerangku membabi buta.


.


.


.


Aku mengetuk pintu ruang kerja Tuan Muda Pradipta.


"Masuk." Suara dari dalam memerintahkan aku untuk masuk


Pintu belum terbuka sempurna tapi suara Ibu sudah lantang meneriakkan namaku. Melihatnya jalan ke arahku lebih menakutkan dari film-film horor yang pernah kutonton.


"Terus meminta maaf pada orang yang selalu bisa memaafkan adalah tindakan paling bodoh yang pernah dilakukan pria sepertimu. Kau kira kau hebat? Kau justru merendahkan dirimu sendiri di matanya," bisik ibuku pelan namun bagai belati tajam menghunus semua organ di tubuhku.


"Bibi permisi istirahat dulu, Tuan," pamit Ibu sebelum meninggalkan ruangan.


Kulihat sekilas Vania duduk di sofa sedangkan Ray di kursi kerjanya menghadap laptop. Aku mengambil posisi duduk bersebrangan dengan tunanganku. Maniknya menjelajahi tubuhku, tiba-tiba dia bertanya "Dimana jaketmu?"


"..."


Jaket itu dipinjam Vivian, ah salah ... kutinggal di mobil, seharusnya kujawab begitu. Ah, kenapa bibirku kelu tidak bisa berkata apapun menjawab pertanyaannya. Sh*it!


"Kenapa kau tinggalkan adikku sampai dia harus bersama Nezar di kencan pertamanya? Sudah kubilang bawa dia kembali pulang utuh seperti kau membawanya pergi," kata Ray berdiri di belakang Vania, dari bahasa tubuhnya menunjukkan perlindungan untuk adik iparnya tapi yang menarik perhatianku adalah nama Bocah Bau itu disebut.


"Nezar? Kau bersamanya saat a–"


"Aku bertanya padamu, Abyan!" hardik Ray padaku mencengkram sandaran sofa untuk mengendalikan emosinya.


Aku memaklumi amarahnya dan mencoba memberi pengertian, "Dia membutuhkan bantuanku. Aku hanya membawa suaminya ke rumah sakit dan sedikit menenangkannya. Tidak lebih."


"Siapa?" tanya Ray dingin, aku tahu dia sedang menahan emosinya.


"Vivian," jawabku singkat.


"KAU!"


Rayyendra menarik kerah bajuku dan siap meninju wajahku. Aku tidak menghindar, aku merasa pantas mendapatkannya.


"KAK! HENTIKAN!"


Disaat aku pasrah menerima bogem mentah saudara susuku itu, Vania menahan lengan Ray sampai posisinya seperti bergelantungan di lengan kakak iparnya.


"Hentikan, Kak. Aku mohon ..." pintanya memohon dengan sungguh-sungguh.


Aku terpana tidak percaya dia melakukan hal ini. Menurut sifatnya, dia pasti membiarkan Ray memukulku. Berbeda dengan Litha -kakak perempuannya- yang pasti akan mencegah segala bentuk kekerasan di depan matanya.


Ray menghempas tubuhku dengan kasar, "Kau masih menyimpan rasa buat dokter itu walaupun dia sudah menikah? Apa kau ingin menjadi perebut istri orang, hah?"


Apa?


Kenapa Ray bisa berpikir seperti itu? Aku memutuskan untuk tidak lagi menyukai Vivian sejak dia resmi menikah. Karena itu juga, aku mencoba tidak menghalau perasaan aneh yang begitu saja muncul untuk gadis pemilik ciuman pertamaku, Vania.


"Aku hanya membantunya saja," jawabku enteng tanpa beban. Ya, karena aku memang hanya benar-benar kasihan, tidak ada hal lainnya.


"Oh ya? Konyol sekali, dengan relasinya yang lumayan luas, dia hanya bisa meminta bantuan padamu? Hanya dua kemungkinan, kau masih berharap padanya atau otakmu korslet!"


Sialan! Bocah Egois ini mengintimidasi dan mengumpatku di depan Vania.


"Ray, kehidupannya setelah menikah sulit untuk dijelaskan." Aku berusaha tidak ikut terpancing emosi Ray yang meledak-ledak.


Sekonyong-konyong kakinya mengarah cepat akan menendangku, tapi tidak kalah cepat Vania menangkap kaki kakak iparnya dan menahan sekuat tenaga.


"NIA!"


Aku dan Ray memanggil namanya bersamaan, nampak dia sedikit meringis. Apa dia terluka? Aku ingin mendekatinya tetapi Ray langsung membopongnya duduk kembali ke sofa.


"Kau tidak apa-apa? Apa mengenaimu?" tanya Ray cemas, sama sepertiku.


Vania menggeleng, dengan sangat kesal Ray memarahinya, "Bodoh! Seharusnya kau tidak menghalangiku!"


"Kak, bisa kan, dibicarakan baik-baik?"

__ADS_1


Ya Tuhan, perasaanku kian makin bersalah pada gadis ini. Sekarang dia memperlihatkan dirinya yang dewasa– tidak lagi meletup-letup seperti pertama kali aku mengenalnya.


Mata Ray beradu denganku, "Sekarang aku tanya. Bagaimana kau menyikapinya, Yan? Meninggalkan tunanganmu sendiri demi wanita lain yang bersuami, padahal kau bisa saja menyuruh orang lain. Apapun alasanmu, tidak etis dilihat dari sisi manapun."


Aku tahu aku salah, saking merasa bersalahnya lidahku kaku berat untuk berucap.


"Hubungan pertunangan kalian selesai sampai disini," kata Rayyendra dingin.


"Ray!" seruku tidak terima.


Aku tidak mau memutuskan pertunangan ini. Aku–


Kulihat tunanganku hanya diam saja, apa dia menyetujuinya? Oh, tidak! Aku harus melakukan sesuatu.


"Kenapa? Bukannya kau harusnya senang, kau bisa lepas dari ikatan yang dibuat Vania," sindir Ray.


Untung kau kakak ipar dari tunanganku, kalau tidak aku juga tidak bisa kau sindir-sindir seenaknya.


"Aku tidak ingin memutuskan pertunangan ini. Aku mulai menyukai adikmu, Ray," kataku akhirnya.


"..."


"Hahahaha ...."


Suara tawa Ray membahana, tapi tidak lama, "Lalu kenapa kau masih peduli pada Vivian?" tanyanya tajam.


"Kasihan. Aku hanya kasihan padanya karena mengurus suami yang lagi sakit dalam keadaan hamil sendirian. Keluarga suaminya tidak peduli sedikitpun dengannya, malah menuduhnya yang tidak-tidak," ujarku.


Aku tidak boleh diam saja, aku tidak ingin pertunangan ini berakhir malam ini.


"Wow! Luar biasa! Begitu kasihannya hingga tidak jelas batas pedulimu antara orang yang pernah kau sukai dengan yang kau sukai sekarang," sindir Ray bertepuk tangan. "Besok aku akan memecat dokter itu dan menerbitkan rekomendasi buruk atas kinerjanya agar dia tidak bisa bekerja di rumah sakit manapun di Ibukota dan sekitarnya."


Apa? Dia gila!


"Harusnya kau tahu bagaimana aku menyikapi suatu hal yang tidak aku senangi kan, Yan? Apa kau lupa siapa tunanganmu? Dia memiliki nama Pradipta di belakang namanya," tandas Ray arogan.


"Tapi kau juga tidak bisa tidak se-manuasiawi itu, Ray! Vivian sedang hamil dan suaminya sedang sakit parah. Justru mereka membutuhkan banyak bantuan moril dan materil," kataku berkelit.


"Kalau mereka membutuhkan bantuan, kau bisa daftarkan mereka di yayasan sosial milik Pradipta untuk menerima bantuan."


Aku sudah tidak tahan, Rayyendra benar-benar menguji batas emosiku. Dia pikir, aku bisa diperlakukan sesuka hatinya. Aku memang bawahannya tapi dalam hubungan pertemanan– kita menjadi setara. Aku berdiri menantang arogansinya, ingin melihat sampai dimana dia bisa bertinggi hati.


"Kau ternyata memang superhero-nya, Abyan Pratama," sahut Vania ikut berdiri dan maju menangkis tatapanku yang menusuk manik kakak iparnya.


Aku sangat kaget mendengar Vania menyebut nama lengkapku. Ini pertama kalinya dia menyebutku seperti itu.


"Sebagai tunanganmu aku akan membantumu membujuk Kakak mengurungkan niatnya memecat Dokter Vivian. Duduklah dan jaga sikapmu pada kakakku. Tidak pantas kau ingin menyerangnya. Kalau sampai itu terjadi, maka aku yang kau hadapi secara terang-terangan."


Hei! Gadis kecil ini berani mengancam dan memerintahku, tapi– biarlah aku turuti apa maunya.


"Kak, boleh aku meminta sesuatu?" pintanya pada Ray.


"Apa?"


"Pertunangan ini tetap berlanjut sampai pada waktunya seperti kesepakatan awal. Apa yang sudah aku mulai akan aku selesaikan. Apa yang sudah terjadi, aku menganggapnya sebagai konsekuensi."


Aku terkesima dan juga senang, rasanya aku ingin menari-nari di depan Ray yang sudah mengejekku barusan.


"Silahkan, itu akan semakin menguatkan alasanku memecatnya– agar tidak menjadi duri dalam hubungan kalian."


Apa-apaan! Tuan Muda Sombong ini mulai membahasnya lagi?


Vania menatapku dan menampakkan senyumnya- senyuman penuh kegetiran.


"Kak, tidak perlu sampai memecatnya. Memecat seorang karyawan dalam keadaan hamil karena alasan pribadi akan membuat citra Pradipta Corp. buruk dan menjadi sasaran kritik publik."


"Tapi Nia, itu akan–" sanggah Ray.


"Menyakitiku? Tidak masalah, aku dijuluki Xena oleh keluargaku tentu ada alasannya. Salah satunya menghadapi situasi begini."


"Kau yakin?"


"Dengan alasan kemanusiaan– aku yakin, Kakak." Mata indah Vania mengerling tersenyum ke arahku lagi– senyum yang berbeda dari sebelumnya, "Benarkan, Tuan Asisten-ku?"


Uhuk.


"Tuan Asisten-ku?" tanya Ray kaget.


"Iya, panggilanku buatnya, hehehe ...."


"Cih."


Hatiku berdesir, ternyata hatinya seluas kakak perempuannya. Aku tidak bisa menahan gejolak dalam dada, "Nia, maafkan aku," ujarku pada akhirnya.


"Tidak apa-apa. Masih banyak waktu untuk mengulangi kencan kita lagi. Semoga saja saat itu dia tidak meminta bantuanmu lagi, mengantarnya melahirkan misalnya, hahaha ...." guraunya dengan senyum yang masih mengembang.


"Jika terjadi lagi, aku pastikan besoknya dia tidak akan pernah menggunakan jas dokter lagi," kata Ray memberi peringatan.


"Tidak akan, Kak. Tunanganku akan menolaknya setiap ada permohonan bantuan darinya. Bukan begitu, Tuan Asisten-ku?"


"Ya," jawabku singkat.


"Oh ya, satu lagi. Jangan biarkan Kak Litha tahu apa yang terjadi malam ini, Kak. Biarkan dia tahu kalau kami menghabiskan kencan pertamaku dengan bersenang-senang," pintanya pada Ray lagi.


"Kau mau merahasiakan darinya?"


"Iya."


"Kenapa?"


"Alasan yang sama seperti yang Kakak sampaikan padaku," jawabnya beralasan, "Kesusahan aku dan Kak Tisha adalah bebannya. Dia sudah cukup terbebani dengan selalu memikirkan Paman Tino dan Bibi Rima yang keberadaannya tidak jelas sampai saat ini. Jadi, setidaknya aku bisa mengurangi sedikit bebannya."


"..."


"Baiklah, kalau itu mau-mu. Kau masih ingat, kan? Kakakmu pernah mengatakan, kami akan selalu mendukung kebahagiaanmu, Nia– apapun itu. Jangan pernah ragu untuk melangkah."


Vania mengangguk, "Sudah selesai, kan? Apa aku boleh ke kamar sekarang?"


"Ya, istirahatlah. Bermimpilah yang indah karena kau sudah melewati hari yang buruk," jawab Ray mengizinkan.


Baru kali ini aku seperti dipecundangi. Benar kata Ibu, terus meminta maaf pada orang yang selalu bisa memaafkan adalah tindakan paling bodoh yang pernah aku lakukan. Aku merendahkan diri sendiri di hadapan tunanganku.


"Yan, aku sangat kecewa. Aku tidak bisa membayangkan kecewanya Litha mengetahui ini. Saat ini Vania masih menjaga harga dirimu di mata kakak perempuan yang paling dia hormati," ujar Ray setelah Vania keluar.


"Aku tahu, Ray."


"Dia sangat menyukaimu, tetapi kalau kau tidak bisa membalas perasaannya janganlah menyakitinya."


"Sialan kau, Ray! Itu kan yang aku katakan dulu waktu kau juga menyakiti istrimu."


"Kadang kita membutuhkan orang lain untuk melihat sisi yang berada di belakang karena kita hanya punya mata yang menatap ke depan."


"Sejak kapan kau bisa bijak begini?" tanyaku setengah meledek.


"Sejak Litha memberiku anak."


"Ck. Itu juga karena Firza yang menyadarkanmu."


"Ya, anggap saja posisi Nezar seperti posisi Firza kala itu– selalu ada saat dibutuhkan. Beruntung aku belum terlambat, Litha masih menyisakan cinta dan kesempatan buat aku memperbaiki segalanya."


"Hahah ... Bisa jadi pertimbangan Litha waktu itu karena dia terlanjur mengandung anakmu. Coba kalau tidak, Firza adalah pilihan terbaiknya."


"Dasar Kutu Kupret! ... Kuberitahu, tunjukkan kalau kau memang menyukai Vania sebelum dia hanya menyisakan kecewa buatmu."


Aku tertegun dengan ucapan Bocah Egois ini. Sejak menjadi seorang Ayah pemikirannya jauh lebih panjang dan matang juga lebih manusiawi dan bijak. Sedangkan aku? Umur yang semakin bertambah tidak juga merubah ke arah lebih baik dari kemarin, justru aku makin mengecewakan orang-orang yang aku sayangi.


Vania, maaf ... Aku akan lebih memperhatikanmu lagi.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2