Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Mood-ku Jadi Jelek


__ADS_3

Di rumah aku merasa sangat di-istimewakan. Semua orang perhatian, termasuk tunanganku. Setiap pagi dan pulang kantor pasti disempatkannya mengurusku, entah menyuapiku makan, menemani ngobrol sampai menuliskan rangkuman dari video dosen memberikan perkuliahan yang dikirim Anna selama aku tidak masuk.


"Ada lagi yang kau butuhkan?" tanya Asisten Yan lembut setelah selesai merangkum mata kuliah Algoritma fan Pemrograman di akhir pekan.


Aku menggeleng dan tersenyum. Ah, mengapa hubungan kami jadi manis begini?


"Kukumu sudah panjang. Kupotong ya?"


"Ha? Ti– tidak perlu," tolakku cepat.


Apaan sih!


"Nia, Bibi sisirkan dulu rambutmu, ya? Maaf Bibi tidak sempat mengeringkan rambutmu tadi karena menyiapkan Tuan Muda Kecil ke rumah sakit," ujar Bibi Lidya membawa sekeranjang peralatan pribadiku.


"Zean sakit? Ke rumah sakit sama siapa?"


"Katanya semalaman Tuan Muda Kecil demam dan rewel, mungkin giginya mau tumbuh. Sekarang dibawa Nyonya dan Tuan ke rumah sakit," jawab ibu dari tunanganku itu meraih rambut panjangku yang sedikit masih basah


"Aku saja Bu, yang menyisir rambutnya." Asisten Yan langsung merebut keranjang itu tanpa menunggu persetujuan.


"..."


Ibunya tercengang, akupun demikian– kaget dan heran. Tapi kubiarkan saja dia melakukannya.


"Rambutmu ternyata sangat indah dan– harum," gumamnya pelan sembari menyisir.


Dia tidak tahu saja bagaimana hatiku berdebar-debar saat mendengar gumamannya, mana Bibi Lidya pelan-pelan meninggalkan kami berdua dengan senyuman penuh arti lagi, buat aku salah tingkah jadinya.


"Asisten Yan, maaf sudah membuatmu repot. Aku tahu kau hanya menjaga sikap agar semuanya melihat hubungan kita baik-baik saja."


Ucapanku langsung menghentikan gerakan menyisirnya, lalu dengan santainya dia berkata, "Entah kau percaya atau tidak, aku menikmati diriku melayanimu."


Glek.


Salivaku tersangkut di tenggorokan. Apa lelaki ini salah makan obat? Perilakunya begitu jauh berbeda dari sebelumnya.


"Nia, kenapa kau berminat kuliah di jurusan IT?" tanyanya.


Kali ini dia mengambil alat pemotong kuku setelah duduk di sampingku. Tanpa permisi mengambil tanganku perlahan dan meletakkan jemariku di pahanya.


"Emm ..."


Aku berusaha menarik tanganku, tapi ditahannya dengan lembut, "Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Aku sudah terlatih memotong kuku perempuan."


Aku spontan menarik tanganku, kesal. Untung saja ini tangan kiri. Bukannya kaget dia malah tergelak, "Perempuan itu namanya Dinda, seumuran dengan Nyonya. Rewelnya minta ampun kalau akan dipotong kuku bahkan Ibu saja tidak sanggup. Hanya aku yang dia perbolehkan. Dia menyebutku Pangeran."


"Oh maaf," ujarku tidak enak karena mengingatkannya pada adiknya yabg telah meninggal.


"Tidak apa-apa. Makanya, kemarikan tanganmu," pintanya tersenyum mengulurkan tangan.


Sempat ragu tapi akhirnya aku berikan juga tanganku. Dia seorang yang penyayang dan peduli, terlihat bagaimana sikapnya pada ibu dan adiknya, juga Kak Litha yang sudah dianggap seperti adiknya sendiri. Tidak salah aku menaruh hati pada sosok yang mirip dengan Ayah, sayangnya aku bukanlah wanita yang dia cintai karena hatinya sudah dimiliki Dokter Vivian.


"Kau belum jawab pertanyaanku," suaranya membangunkan lamunanku.


"Pertanyaan apa?"


"Kenapa kau memilih jurusan IT? Apa cita-citamu?"


"Cita-citaku jadi dokter."


"Kenapa tidak pilih jurusan kedokteran?" tanyanya lagi, kali ini dia mengambil jemari kananku dengan sangat hati-hati. Dipotongnya dulu kuku jari kelingking terlebih dahulu baru jari lainnya.


"Itu cita-citaku dulu sewaktu Ibu masih hidup. Aku ingin jadi dokter untuk mengobati ibuku. Sekarang Ibu sudah tiada, tidak ada yang bisa kulakukan lagi untuknya." Aku menjeda kalimatku, "Pernah aku terbangun dini hari dan merasakan rindu yang sangat luar biasa sampai rongga dada terasa sesak. Aku jadi berpikir andai saja ada robot atau hologram yang memiliki karakter dan kenangan Ibu, rinduku pasti sedikit terobati."


Hening sejenak.


Cup.


Astaga! Dia mencium tanganku.


"Aku tahu rasanya, Nia. Kehilangan ayah, adik dan pamanku juga membuatku rongga dadaku sesak. Apapun cita-citamu, aku yakin kau mampu mewujudkannya karena kau mampu apalagi didukung previlage dari Keluarga Pradipta."


Aku termangu tanpa kedip lalu dia berseloroh, "Melihatmu memerah seperti tomat membuatku ingin menggigitmu." Kemudian dia tertawa, "Kau menggemaskan sekali kalau tersipu malu, aku benar-benar ingin menggigitmu."


"Asisten Yan!"


Dia semakin terbahak, "Sudah-sudah, kemarikan kakimu," perintahnya sembari meletakkan tangan kananku dan memundurkan posisi duduk, bersiap menerima kakiku yang kukunya akan dipotong, "Aku hanya bercanda. Percayalah aku bukan pria cabul, yang pernah terjadi benar-benar di luar kendaliku, seakan ada magnet luar biasa di bibirmu."


"Aarrggghhh ... Kau kira bibirku ini kutub magnet apa? Kau menyebalkan sekali, Tuan Asisten!"


Dia tidak membalas ocehanku, malah menatapku lekat seperti aku ingin dimakannya. Aku jadi sedikit takut, kutarik kakiku tapi ditahannya dengan kuat, "Tambahkan 'ku' pada panggilanmu untukku."


Hah?


"Kalau kau tidak mau aku tidak akan melepaskan kakimu," ancamnya.


Huffttt ... Kenapa dia jadi kekanakan begini? Sudahlah, ku ikuti saja kemauannya.

__ADS_1


"Bisa kau lepaskan, Tuan Asisten-ku."


Seringai nampak di wajah tampannya, "Baik, tapi berikan kakimu yang satunya."


"Untuk apa?"


"Ya untuk dipotong kukunya. Kan, kaki satunya belum?"


Astaga! Aku sudah berpikiran aneh-aneh.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Tidak. Tidak ada," jawabku cepat, "Boleh aku bertanya?"


"Hem," jawabnya dengan mata yang tidak lepas dari kuku kakiku.


"Apa yang kau bicarakan dengan Dokter Vivian waktu itu?"


Dia melirikku dan berujar, "Kau penasaran rupanya? Kukira kau tidak peduli. Jangan-jangan kau cemburu."


"Apa salah kalau aku cemburu dengan tunanganku sendiri?"


Senyuman menggaris di lekuk wajahnya, "Ternyata ada juga yang cemburu padaku, hehehe ... Kau memang ingin tahu?" katanya kembali melanjutkan memotong kuku kakiku.


"Ya."


"Dia menceritakan suaminya sakit dan sudah divonis dokter kalau umurnya sekarang dalam hitungan bulan."


Aku terkesiap, "Dia curhat padamu? Apa dia menangis di hadapanmu dan menunjukkan kelemahannya?"


"Sudah selesai," katanya menurunkan kakiku, acuh dengan pertanyaanku.


"Dia curhat padamu? Apa dia menangis saat menceritakannya?" Ku ulang lagi pertanyaanku.


"Mungkin bisa dibilang begitu," jawab tunanganku sekenanya.


Ah, mood-ku tiba-tiba menjadi jelek.


"Memangnya kenapa?"


"Dengar, Tuan Asistenku. Tidak ada namanya curhat dengan lawan jenis itu pure curhat– pasti ada maksudnya, minimal untuk menarik simpati. Ingat! Dia wanita bersuami meskipun belum janda!"


"Nia! Kata-katamu tidak elok didengar. Kalau seperti itu penilaianmu, maka sudahi juga kedok persahabatanmu dengan Nezar."


"Kenapa merambat ke Nezar? Kita tidak sedang membahasnya," sengitku.


"Istirahatlah, Nia. Kau mungkin terlalu lelah dan banyak pikiran akhir-akhir ini."


Cih.


Aku berdiri dan beranjak menuju kamar dengan hati yang kesal. Masih adakah Vivian dalam hatinya? Lalu dia baik padaku beberapa hari terakhir ini apa artinya?


"Nona, ada apa? Apa Abyan melakukan hal buruk lagi?" tanya Bibi ketika kami berpapasan di dekat pintu kamarku.


"Bi, mulai besok Bibi saja yang mengurusku," pintaku.


Terlihat raut wajah wanita paruh baya itu kebingungan tapi mood-ku benar-benar jelek sehingga aku hanya sekedarnya saja pamit dan masuk ke dalam kamar.


.


.


.


Di dalam ruangan tidur mewah ini, aku merindukan sosok kedua orangtuaku. Bagi kami -ketiga putrinya- kehilangan mereka bagai kehilangan setengah nyawa. Hati kami sakit mendapati bagaimana kehidupan mereka di dunia berakhir sekaligus membuka tabir masa lalu yang tidak sederhana.


Bibi Rima dan Paman Tino, dimana kalian?


Aku juga sangat merindukan mereka, omelan Bibi dan keluguan Paman. Mereka adalah dua pribadi yang berbeda tetapi menyatu dalam kata jodoh. Bersama Paman, aku tidak pernah tidak tertawa dan Bibi yang selalu siap sedia jika aku butuh dukungan, entah aku salah atau benar, di kepalanya keponakannya selalu berlaku baik dan benar, hahaha ....


Dari kejauhan yang lama-lama mendekat, sosok Paman Tino menyapaku dengan tawanya yang khas.


"Paman, Bibi mana?" tanyaku pada Paman Tino.


Paman tidak menjawab, hanya tersenyum. Lalu sekonyong-konyong muncul Ibu menghampiriku diikuti Ayah. Aku sangat senang bertemu dengan mereka dan kupeluk erat keduanya. Kehangatan menyeruak di sekitarku, aku tidak ingin saat ini berakhir.


"Nia, kami akan selalu menjagamu, jangan takut ya," ujar Ibu yang hendak melepaskan dekapannya.


"Ibu, Ayah jangan lepas pelukan kalian. Aku– aku rindu, sangat rindu dengan kalian," kataku enggan menarik kembali dekapan Ibu.


Ayah membelai pucuk kepalaku, "Sampaikan salam buat kedua kakakmu. Kami sangat bahagia dengan kehidupan mereka sekarang. Semoga keberuntungan selalu menyertai kalian."


Ibu mendorong paksa tubuhku dengan pelan, "Tetaplah menjadi Xena-nya kami. Kami sangat menyayangimu," katanya sendu.


Lalu bayangan Ibu, Ayah dan Paman Tino mengabur perlahan menghilang, tinggal aku seorang diri di sebuah tempat tanpa batas. Seketika aku ketakutan– sangat takut.


"IBU! IBU! HUAAAAA .... NIA TAKUT! IBU DIMANA! AYAH! HUUUUUU ... PAMAN!"

__ADS_1


Aku tersentak bangun, peluh membanjiri kening dan leher. Ternyata aku barusan bermimpi, mimpi yang sangat aku inginkan. Meski begitu, rindu ini belum puas terobati. Kutarik nafas dari hidung dan kuhembuskan melalui mulut beberapa kali hingga detak jantungku kembali normal.


Kuseret langkah kaki ke depan cermin yang setinggi badanku, mematut dan melihat detail diri sendiri. Sehari setelah insiden Kak Litha dikuntit, aku menghubungi Kak Tala dan menanyakan pendapatnya. Dari informasi yang dia berikan, bisa kupastikan kalau mobil hitam Alphard ber-list kuning seantero body mobil adalah property milik Kerajaan Sungai Bulan. Terang saja, pikiranku sudah liar kemana-mana, memikirkan segala kemungkinan yang bakal terjadi.


.


.


.


Aku duduk menanti matahari terbenam di taman bagian barat, tempat dimana Kak Litha merubah kehidupan kami yang terpuruk menjadi singgasana. Begitu banyak sosok yang melintas dalam kepalaku seperti slide show di film-film terutama sosok dalam mimpiku tadi siang.


"Kenapa kau dan Abyan? Dia berbuat tak senonoh lagi?"


Suara bass Kakak Ipar tiba-tiba mengagetkan aku yang sedang asyik menonton film di kepalaku sendiri.


"Lho, bukannya Kakak tadi menemani Kak Litha dan Zean jalan sore?"


"Bibi Lidya yang menggantikanku menemani mereka. Tadi dia juga bilang wajahmu sangat masam meninggalkan Abyan."


Aku menghela nafas, "Kak, sudah tahu siapa penguntit Kak Litha?"


Sengaja aku mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih menarik perhatian Kakak Ipar.


"Platnya bodong, sulit melacaknya."


Aku tertawa kecil mengejek, "Harus diakui kekuatannya sangat besar dibandingkan kemampuan seorang kepala keluarga Pradipta."


"Maksudmu?" tanyanya dengan mimik serius.


"Penguntit itu berasal dari Kerajaan Sungai Bulan Entah apa maksudnya mengikuti Kak Litha, yang jelas identitas Nyonya Pradipta sudah diketahui oleh mereka."


Mata Kakak Ipar terbuka lebar dan wajahnya memerah menahan emosi.


"Identitas mereka terletak pada garis kuning di seluruh body mobil. Warna itu bukan sekedar variasi, kuning mendekati jingga adalah warna resmi kerajaan. Warna tersebut merupakan salah satu identitas pada setiap property di luar wilayah kekuasaan mereka. Ketika mengikuti Kak Litha, mereka sudah mengantisipasi dengan plat mobil palsu agar tidak terlacak. Targetnya jelas, yang belum diketahui adalah tujuan dan siapa mereka."


"Kau bertanya siapa mereka dan apa tujuannya? Siapa lagi orang-orang Kerajaan Sungai Bulan yang ingin melenyapkan keturunan ibu mertuaku."


Nada suara Kakak Ipar meninggi tapi sekuat mungkin dipelankan hingga urat-urat lehernya nampak.


"Kerajaan tengah mengalami konflik perihal kekuasaan. Kita tidak tahu siapa yang memberi perintah untuk mengikuti mobil yang ditumpangi Kak Litha, saudara jahat Ibu atau Raja?"


"Darimana kau tahu hal ini?"


"Aku menelepon Kak Tala. Kuceritakan kejadiannya dan keadaanku. Dia mengatakan agar kami berhati-hati, terutama Kak Litha. Akupun meminta informasi mengenai Kerajaan Sungai Bulan yang tidak bisa dicari di internet." jawabku.


"Kau mempercayainya?"


"Ya. Aku percaya keluarga Kak Tala memihak Ibu."


"Jangan naif, Nia. Kita tidak tahu mana kawan, man lawan, yang jelas mereka sangat licik– bisa jadi ini salah satu cara mendekatimu untuk menggali informasi mengenai putri yang sudah mereka buang."


"Tapi perasaanku mengatakan tidak seperti itu, Kak. Aku yakin mereka baik– hanya saja namanya kerajaan penuh intrik seperti di film-film, makanya keluarga Kak Tala pasti sangat hati-hati dalam melangkah," sanggahku masih berkeyakinan kalau keluarga dari sepupuku tidak memiliki niat buruk.


Kakak Ipar terlihat masih ragu, "Tetap waspada. Jika kau butuh sesuatu akulah orang pertama yang harus kau hubungi, oke?"


Aku mengangguk, "Dan apa ini masih jadi rahasia untuk Kak Litha?"


"Ya. Kurasa itu lebih baik, dia cukup berdiam saja di rumah, tidak usah kemana-mana. Kalaupun dia harus keluar rumah, aku sendiri atau Abyan yang mengantarnya."


"Wah, kasihan dong kalau begitu– kakakku dikurung," protesku tidak setuju.


"Demi kebaikannya, Nia."


"Tapi kalau dia bertanya alasannya, Kakak akan terus berbohong– dan jika suatu hari Kak Litha tahu Kakak berbohong padanya, itu akan jadi masalah besar buat hubungan kalian. Kak Litha benci dibohongi," kataku memperingatinya, membayangkan hal itu akan terjadi saja sudah membuatku bergidik ngeri.


"..."


"Kakakku akan menurutimu tanpa protes karena baktinya pada suami, tapi dia wanita yang tidak sesederhana yang Kakak lihat," sambungku masih memperingatinya


"Aku tahu."


Matanya menerawang ke mega yang mulai kemerahan bersamaan helaan nafasku yang panjang.


"Aku perlu waktu untuk memikirkannya," ujar Kakak Ipar lirih, "Aku terlalu mencintai kakakmu, Nia. Aku hanya ingin dia bahagia tanpa memikirkan beban apapun. Tidak tahu apa ini karena kutukan suku Ragnaya atau bukan, tapi aku sadar sepenuhnya– buatku, dirinya tidak bisa dibandingkan atau terganti dengan wanita manapun."


Hatiku berdesir mendengarnya namun juga pilu, apakah hal yang Kakak Ipar rasakan juga akan dirasakan tunanganku. Rasa bimbang menggelora seiring matahari kembali ke peraduannya.


"Mas, Nia!"


Suara Kak Litha menggema saat kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Dia berjalan mendekat seorang diri, mungkin Zean diserahkan pada Bibi Lidya.


Diraih mesra lengan suaminya dan berujar, "Matahari terbenam disini begitu dramatis, melihatnya bagai membuka kunci memori-memori yang telah lewat hanya untuk sebatas kenangan, tidak lebih."


"Lith, apa kau akan terus begini? Bersama suamimu, apapun yang telah kulakukan padamu."


Aku sedikit terkejut, kupalingkan wajah pada mereka berdua. Jantungku berirama cepat, akankah Kakak Ipar akan membuka asal-usul kami sekarang pada kakak perempuanku?

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2