Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Apa Ini Takdir?


__ADS_3

Tok. Tok.


Suara pintu kamar diketuk lalu menyusul suara lembut, "Apa Bibi boleh masuk, Nona?"


"Masuklah, Bi. Kamarku tidak dikunci," jawabku mengusap airmata.


"Apa Nona terluka? Apa anak Bibi menyakiti Nona?" tanyanya setelah mengamati wajahku.


Kugelengkan kepala, wanita paruh baya itu mendekati dan mengambil kedua tanganku, "Jika dia menyakiti Nona, Bibi sebagai ibunya minta maaf. Mungkin Bibi belum cukup baik mengajarkannya bagaimana cara memperlakukan perempuan."


"Tidak, Bibi ... Mungkin saja aku yang keterlaluan tapi– sudahlah."


"Apa ada yang ingin Nona ceritakan?"


"Maaf Bi, aku lagi tidak ingin menceritakannya dan Bibi jangan bilang apapun yang Bibi lihat hari ini ke Kak Litha juga ke Kakak Ipar ya?"


Lidya tersenyum, "Baiklah. Bibi akan menutup rapat mulut Bibi," katanya seraya membuat gerakan menutup mulut yang kusambut dengan pelukan.


"Bibi, apa Asisten Yan pernah mencintai wanita sebelumnya?" tanyaku seraya mengurai pelukan.


"Kenapa tiba-tiba Nona menanyakannya?" Bibi Lidya menyampirkan rambut panjangku yang menutupi sebagian wajah ke belakang telinga.


"Dia sensitif sekali ketika ku singgung dokter itu. Aku takut dia benar-benar marah. Dia tidak pernah membentakku sebelumnya, Bibi."


Bibi Lidya menghela nafas, "Abyan tidak pernah berlaku kasar pada perempuan. Bibi akan sangat marah jika dia sampai melakukan hal tersebut terhadap seorang wanita, siapapun wanita itu."


"Tapi tadi dia membentakku, bahkan dia menyebutku Bulan Kesiangan di depan wajahku. Bagaimana aku tidak sakit hati. Apa kulitku sangat jelek?" Aku mengadu pada ibu Si Pengumpat, biar tahu rasa kau nanti dimarahinya.


Apa sekalian kuberitahu saja pada Bibi Lidya kalau anaknya sudah menodai bibir perawanku dengan paksa? Ah, jangan! Hal ini akan membuat hubungan ibu dan anak semakin berjarak karena menambah kekecewaannya. Biarlah kusimpan sendiri penyebab aku menabrak kandang burung tadi.


"Benarkah? Bibi akan memarahinya. Semua perkataannya tidak benar. Justru kulit Nona adalah idaman para wanita– seputih susu, halus dan lembut. Ini anugerah dari Yang Maha Kuasa. Mata Abyan yang rusak!" belanya menyentuh lenganku.


"Jangan Bi. Jangan berkata apapun padanya, nanti dia makin membenciku dan mengataiku Pengadu. Jangan ya .... "


Aku memohon dengan sangat pada Bibi Lidya. Aku tidak mau dia menambah sebutan sebagai Pengadu setelah banyak sebutan yang ditujukannya padaku.


"Ya, Bibi tidak akan mengatakan apapun. Tapi Nona harus percaya diri lagi dengan kulit Nona ini, ya."


Aku tersenyum kecut, mengingat penyebab Serena Cs merundungku dan teman yang lain hanya diam saja seolah ikut mendukungnya. Hal ini terjadi karena mereka sangat iri dengki pada penampakan kulit putihku. Itu sudah berlalu namun sekarang lebih lucu lagi, seorang pria dewasa yang berpikiran matang -bahwa setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh pertimbangan- malah menudingku layaknya bocah.


Jika dulu ada Kak Litha tempatku mengadu kala dirundung Serena Cs bahkan dengan memeluknya bisa menenangkan kesedihanku tetapi sekarang aku ragu mengatakannya. Asisten Yan adalah seseorang yang berarti dalam hidup Kak Litha dan Kakak Ipar. Andaikan aku berkata jujur, itu akan membuat jarak antara mereka bertiga dan tentu saja memaksa Kak Litha dan Kakak Ipar dalam pilihan sulit. Ah, sebaiknya aku lupakan saja kalau Asisten Yan mencuri ciuman pertamaku. Aku yakin kalau kutukan itu nyata, maka dia akan menerima hukumannya.


.


.


.


Aku ingin menghabiskan waktu siang ke sore dengan berjalan-jalan menyusuri Ibukota dengan sepeda motor Aku memaksa Pak Is untuk meminjamkan kunci tapi Pak Tua itu memegang teguh aturan yang diberikan Kakak Ipar padanya. Dia bersikeras akan memberikan kunci kalau ada persetujuan dari Tuan Muda. Aih, mana mungkin Kakak Ipar akan mengizinkanku membawa sepeda motor sendiri karena istrinya pasti melarangku.


Tidak hilang akal, aku membujuk Bibi Lidya untuk meminta kunci motor pada Pak Is. Bibi berkata akan mencoba memberi pengertian pada Kak Litha, barulah Pak Is bersedia menyerahkan kunci motor.


"Nona, kembalilah dalam keadaan selamat sebelum Tuan dan Nyonya pulang," pesan Pak Is khawatir setelah aku menerima kunci.


"Percaya pada Nona Vania, Pak Is. Aku yang menjadi jaminannya," sahut Bibi Lidya.


Yeay! Aku bersorak kegirangan, Bibi Lidya mirip Ibu yang selalu meletakkan kepercayaan pada putri-putrinya dengan mengukur sampai dimana kemampuan yang dimiliki.


"Oh iya Nona, apa Bibi boleh sekalian ikut sampai di depan gerbang utama? Bibi akan menunggu taksi online disana," pinta Bibi Lidya.


"Kau mau kemana?" tanya Pak Is gelisah.


"Aku mau mampir ke apartemen Abyan."


" Apa yang akan Bibi lakukan padanya?" tanyaku gusar dalam hati.


"Nona Vania tidak perlu khawatir, Bibi hanya ingin berbincang sedikit padanya. Bibi janji tidak akan memarahinya dan Pak Is–" katanya seolah tahu apa yang kupikirkan, kemudian matanya melihat ke arah pria paruh baya itu dengan senyuman, "Aku akan kembali dalam keadaan selamat sebelum Tuan dan Nyonya juga pulang."


"Ck."


Pak Is berdecih sebal dan berlalu meninggalkan kami.


"Apa perlu aku membawakanmu pulang seporsi Foie Grass dan Escargot?" seru Bibi Lidya.


Pak Is membalikkan badannya, "Kau tahu aku tidak bisa disuap."


"Siapa bilang aku mau menyuapimu! Aku hanya bertanya apa kau mau seporsi Foie Grass dan Escargot?" Kali ini nada suara Bibi Lidya sedikit menggoda.


Pak Is mengatupkan mulutnya beberapa saat sebelum dia berujar pelan "Foie Grass dan Escargot dari Grey Savanna Restaurant."


Bibi Lidya tergelak nyaring setelah Kepala Pelayan bernama Iskhak itu berbalik dan berlalu dengan langkah cepat, kemudian dia berbisik padaku, "Pak Is memang tidak bisa disuap dengan apapun kecuali– hidangan hati angsa dan keong ala Prancis, hehehe ...."


Mataku terbelalak dan akhirnya tertawa ikut menyusul gelak tawa Bibi yang belum berhenti.


.


.


.


"Bi, biarkan aku mengantarmu. Belum pesan taksi kan?" kataku di depan gerbang utama kediaman Keluarga Pradipta.


"Bibi mau ke apartemen Abyan."


"Kuantar kesana, Bi."

__ADS_1


"Bukankah tadi Nona menangis karena sikap buruk anak itu? Nona pasti tidak nyaman kalau mengantar Bibi ke apartemennya," jawab Bibi Lidya ragu.


"Kenapa tidak nyaman? Toh kata-kata dan kejadian yang sudah lewat juga tidak bisa dikembalikan ... Aku sudah tidak apa-apa, Bi. Tenang saja! Hatiku ini terbukti kuat, bukan terbuat dari kaca tapi dari baja. Ayo!" seruku memaksanya naik di boncengan motor.


Awalnya Bibi ragu tapi akhirnya dia setuju aku mengantarnya setelah meminjam helm di Pak Satpam. Di tengah perjalanan, kami masih tetap mengobrol seperti biasa, tidak ada kecanggungan antara aku dan Bibi Lidya.


"Wow! Ternyata dia tinggal di apartemen mewah ya, Bi," seruku masih di atas motor saat kami memasuki kawasan Skylight Apartment, salah satu hunian mewah Ibukota.


"Tuan Muda yang memberikannya."


"Oh. Kakak Iparku pemurah sekali, Bi."


"Tidak hanya Tuan Muda, seluruh keturunan Keluarga Pradipta sebenarnya sangat pemurah. Hanya saja dalam dunia bisnis memaksa mereka harus tegas dan penuh perhitungan supaya bisa berjaya."


"Pantas saja Tuan Muda berjodoh dengan Kak Litha."


"Jodoh adalah cerminan diri kita, Nona."


Tak.


Aku menurunkan standar motor. Kami sudah sampai di depan lobby apartemen.


"Bi, titip saja helm di petugas jaga. Aku akan menjemput setelah urusan Bibi selesai, tapi jangan bilang sama Asisten Yan kalau aku yang mengantar jemput Bibi ya. Bilang saja naik taksi online."


"Apa tidak merepotkan?"


Aku menggeleng cepat. "Tentu saja tidak. Aku hanya berkeliling sebentar sampai Bibi menghubungiku untuk menjemput, oke?"


Bibi Lidya tersenyum padaku, "Baiklah, apa Bibi boleh mentraktirmu makan sebelum kita pulang?"


"Tentu saja boleh. Aku suka makan! Yeay!" Bibi Lidya tertawa melihat tingkahku, "Bi, aku boleh titip melakukan sesuatu?"


"Apa itu?"


"Bibi mewakiliku menjambak rambut anak Bibi sebagai ganti rugi dia mengatakan aku Bulan Kesiangan."


"Hah?"


"Kalau aku yang melakukannya dia akan mengelak tapi kalau Bibi, dia pasti pasrah, hahaha ... Jambak yang sungguh-sungguh ya Bi, biar hatiku puas."


Bibi Lidya masih terpukau dengan permintaan konyolku bahkan setelah aku menjauh dari tempatnya berdiri.


.


.


.


Aku berdecak kagum dan bertingkah norak saat menginjakkan kaki di restoran termewah yang berada di lantai teratas gedung tertinggi di ibukota. Grey Savanna Restaurant merupakan cabang restoran kelas atas dari Prancis dengan menu berharga fantastis yang memberikan eksklusifitas bagi membernya, artinya yang dapat melakukan reservasi atau dine in hanya member restoran tersebut.


Bibi Lidya mengangguk, "Bibi menabung hanya untuk menjamu makan Abyan dan calon istrinya kelak, tapi sepertinya itu tidak akan pernah terjadi. Lebih baik Bibi habiskan tabungan Bibi makan disini bersamamu."


Kami duduk di meja yang menghadap pemandangan Ibukota melalui kaca yang nyaris tidak terlihat, "Hah! Secinta itukah anak Bibi sampai tidak bisa menemukan pengganti sosok Si Doker? Ah, sudahlah– itu urusannya. Aku hanya kasihan sama Bibi."


"Dulu Bibi berpikir yang akan menemani Bibi ngobrol di hari tua adalah istrinya Abyan karena dia selalu sibuk dengan Tuan Muda. Kadang Bibi sedih memikirkannya karena hari itu Bibi akan sendiri, tapi sekarang tidak lagi. Biarkan saja Abyan dengan pilihannya, Bibi sudah tidak sedih karena sudah ada teman bicara Bibi."


"Maksud Bibi, aku?" tanyaku menunjuk diri sendiri, tidak percaya.


"Tentu saja. Bibi sangat senang mengobrol denganmu, Bibi berharap jika suatu hari nanti Nona menikah, Nona tidak melupakan Bibi dan sudi meluangkan waktu mengobrol apa saja dengan wanita tua ini."


Aku tertegun. Kalau dipikir-pikir, aku kehilangan Ibu tempatku berkeluh kesah dan Bibi Lidya kehilangan tempat bercerita walaupun anaknya masih hidup, apa ini takdir?"


"Andai saja Nona lebih tua dari sekarang dan Nona tidak memiliki seseorang yang disukai, akan Bibi paksa Abyan menikahi Nona. Cinta bisa muncul seiring pernikahan karena Bibi yakin Abyan lelaki yang sangat bertanggung jawab dan bisa membahagiakan istrinya. Sayangnya, Nona masih harus sekolah dan mengejar cita-cita."


Uhuk.


"Apa Bibi berhalusinasi? Ah, aku harus segera mengalihkan pembicaraan sebelum Bibi berkata yang lebih tidak-tidak."


"Nona! Nona tidak apa-apa? Kenapa bisa tiba-tiba tersedak?"


"Tidak apa-apa, Bi. Entah kenapa aku bisa tersedak? Oh iya Bi, sepengetahuanku restoran ini hanya bisa digunakan oleh member dan untuk menjadi membernya itu harus–"


"Harus orang terpandang dan kaya."


"Maaf Bi, bukan maksudku–"


"Aku mengeri maksud Nona. Memang tanpa dukungan Keluarga Pradipta, Mas Sasmita, Iskhak, Prasojo dan Bibi sendiri tidak akan bisa menjadi member meski uang kami banyak. Kami bisa menjadi member termasuk Abyan karena kami menjadi keluarga yang diakui oleh mendiang Nyonya Besar walaupun tidak secara resmi."


"Oh."


"Hidangan hati angsa dan keong favorit Pak Is harus dibeli dari sini. Menu ini selalu dibawa pulang oleh Nyonya Besar jika ada jamuan makan disini semasa hidupnya."


"Hati mendiang Nyonya Besar sangat mulia. Beruntung kakakku bertemu dengannya."


Aku menyesap minuman selamat datang yang diantarkan pelayan sembari membuka buku menu lalu Bibi Lidya menyeletuk, "Bibi sudah menjambak rambut Abyan sesuai permintaan Nona."


Aku terkejut, tidak kusangka dia akan melakukannya, "Benarkah? Bibi melakukannya?"


"Ya, sampai dia berteriak sakit baru Bibi lepaskan, hahaha ... Anak itu memang harus diberi pelajaran agar mawas diri. Selama ini banyak yang mengira kesombongan ada pada Tuan Muda saja, padahal asistennya juga sama hanya saja dia lihai menyembunyikannya."


Aku tertawa dan membenarkan apa yang dikatakan Bibi, kesombongannya tersembunyi di balik sikap sok bijaknya. Hahaha ....


Aku sangat menikmati waktu berdua dengan Bibi Lidya makan di tempat mewah siang ini. Dengan menemaninya ngobrol, aku bisa mengobati rasa rindu pada Ibu dan Bibi Rima karena sosok Bibi Lidya adalah perpaduan antara Ibu dan Bibi Rima.


.

__ADS_1


.


.


"Kak ..." sambutku memeluk kakakku ketika mereka tiba di rumah saat menjelang makan malam.


"Kakak sama Kak Litha lama sekali pulangnya. Kemana saja sih? Sampai aku balik dari jalan-jalan, Kakak berdua belum pulang juga," gerutuku sambil menggandeng erat lengan Kak Litha lalu menunjuk ke perut kakaknya, "Hei, Ponakan, kau curang! Jalan-jalan hanya bertiga dengan Ayah Ibumu. Bibimu ini kau biarkan sendiri berkeliling tidak tentu arah dengan motor."


Ups.


Aku menutup mulut karena keceplosan memberitahukan bahwa aku keluar rumah tadi siang


"Lho, bukannya kamu belajar mengemudi? Kenapa malah jalan-jalan pakai motor?" tanya Kakak Ipar kaget bercampur heran.


"Hhhh ... Semuanya kacau Kak, pokoknya aku lebih baik tidak usah belajar menyetir mobil daripada diajari Asisten Yan. Aku juga masih bisa wira-wiri dengan motor, lebih cepat lagi, gak kena macet."


Akhirnya aku putuskan untuk tidak berbohong mengenai aku keluar dengan motor tanpa ijinnya.


"Pasti kau berkata lancang dan tidak sopan hingga Asisten Yan tersinggung," tuding kakakku.


"Kak Litha jangan menuduhku seenaknya. Aku menabrak kandang burung di peternakan belakang. Aku salah injak, harusnya rem tapi yang kuinjak gas," sanggahku.


"Bagaimana caranya Abyan mengajarimu hingga kau tidak bisa membedakan mana gas mana rem?" tanya Kakak Ipar sedikit emosi.


"Mas ...."


Kak Litha menyentuh pundak Kakak Ipar untuk mengendalikan suaranya yang meninggi karena aku sedikit terkejut. Baru begitu dia sudah marah? Bagaimana jika dia tahu kejadian sebenarnya?


"Maaf Lith," Kakak Ipar meminta maaf pada istrinya, kemudian menoleh ke arahku, "Maaf Nia, aku tidak bermaksud memarahimu. Aku hanya kesal Abyan tidak mengajarimu dengan baik."


Aku menggeleng pelan lalu Kakak Ipar mengusap pucuk kepalaku, "Tidak ada yang boleh melukai adik kesayanganku, Abyan sekalipun. Tenanglah, kau tetap akan diajarinya menyetir sampai bisa."


Eh.


"Tidak perlu, Kak. Aku sudah tidak mau," sahutku cepat.


"Kau menyerah? Tidak malu sama ini?" Kakak Ipar menunjukkan SIM A dan SIM C atas namaku.


Aku tidak dapat berkata apa-apa saat melihat dua kartu di tangan Kakak Ipar. Mataku otomatis terbuka selebar-lebarnya saking senangnya. Dia benar-benar menyayangiku setulus hati ... Mau cari dimana kakak ipar yang begitu perhatian seperti ini?


"Kalau bukan kakakmu yang mengurusnya aku tidak akan setuju. Apa-apan SIM tembak? Cih, aku saja mendapatkannya dengan jalur yang semestinya," sahut Kak Litha mendudukkan dirinya di sofa, Kakak Ipar yang membantunya hanya terkekeh geli.


"Besok kau tetap belajar. Aku dan Litha akan di rumah menemanimu," kata Kakak Ipar ikut duduk di sebelah istrinya


"Kenapa harus Asisten Yan sih, yang mengajariku?" tanyaku pelan.


"Hanya dia yang aku percaya, Nia."


"Ck."


Sekonyong-konyong Pak Is datang diikuti tiga orang pelayan lain di belakangnya, tangan mereka penuh dengan segala macam kotak dan tentengan, "Nyonya, ini mau diletakkan dimana?"


"Engg ... Disini saja dulu Pak Is."


Mataku membulat, "Buat apa Kak Litha beli coklat sebanyak ini? Terus cupcake, es krim, roti, puding, dan kue-kue– Astaga! Ini semua kesukaanku ...."


"Iya, ini kesukaan kita, Nia! Bentuknya lucu-lucu dan pasti rasanya enak," ujar Kak Litha dengan mata berbinar senang.


Kakak Ipar hanya menggeleng-gelengkan kepala, tidak memahami isi dalam kepala istrinya. Mungkin dia kira istrinya akan shopping baju, tas, sepatu, perhiasan atau yang lainnya seperti wanita kebanyakan. Tapi aku tahu benar bahkan walaupun dia tidak hamil dia lebih suka memuaskan hasrat makannya ketimbang hasratnya fashionnya.


"Tapi, Nyonya, kadar gula pada makanan ini–"


"Ih, Pak Is ... berilah kelonggaran sedikit padaku. Aku selalu makan makanan sehat di rumah selama ini, lagipula Suamiku yang membelikan semuanya."


Pak Is melirik Kakak Ipar meminta penjelasan namun lelaki bertubuh tinggi tegap nan kekar itu hanya bisa tersenyum salah tingkah, "Anakku yang menginginkannya," kilahnya.


"Apa sebagian sudah di bagikan ke belakang, Pak Is?" tanya Kak Litha menyudahi lirikan Pak Is.


"Sudah, Nyonya."


"Oh ya, mana Bibi Lidya? Aku tidak melihatnya dari tadi?" tanya kakakku lagi.


"Tadi siang dia pergi ke apartemen Abyan dengan taksi online. Urusan dengan putranya hari ini menyita energinya hingga dia meminta ijin untuk beristirahat sebentar."


"Ternyata Bibi Lidya sudah meringankan pekerjaanku," sahut Kakak Ipar.


"Maksudnya?" tanya Kak Litha nampak kebingungan, sama halnya denganku.


"Aku tidak perlu bicara dengan Abyan karena sudah diwakili Bibi," jawab Kakak Ipar sambil berdiri dan mengulurkan tangan pada istrinya untuk membantu berdiri, "Yuk, ganti baju ... Buat dirimu nyaman."


"Nia, makanlah duluan apa yang kau mau. Tapi ingat, jangan sampai membuatmu kekenyangan karena kita akan makan malam," kata Kakak Ipar lagi setelah istrinya berdiri dan akan beranjak ke kamar.


"Lah, Kak Litha tidak ikut makan ini bersamaku?" Aku menunjukkan sebuah cupcake berbentuk lucu.


"Dia punya appatizer lain yang harus di prioritaskan ... Auw!"


Kak Litha mencubit kuat perut suaminya, namun malah dibalas dengan rangkulan mesra dan sedikit cumbuan. Aku tertawa bahagia melihatnya. Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis, persis seperti ayah ibuku.


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Mengingatkan saja Kak, waktu rambut Asisten Yan dijambak ibunya di Novel sebelumnya.


__ADS_1


__ADS_2