Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Putri Salju


__ADS_3

POV Author


Liburan musim panas akhir Juni, 10 tahun lalu di Tangu Montain Park, Daerah C.


......................


Seorang anak perempuan sekitar umur delapan tahunan digandeng ayahnya berkeliling tempat wisata di dataran tinggi Daerah C. Hawa pegunungan yang dingin di siang hari memaksa mereka berdua memisahkan diri dengan tiga anggota keluarga lainnya untuk mencari minuman hangat di rest area.


"Ayah, kenapa Ibu dan kedua kakakku senang sekali ke pegununungan?" tanya Si Anak.


"Mungkin mereka suka melihat sesuatu dari ketinggian atau– udaranya yang sejuk," jawab Si Ayah menatap wajah putrinya dengan tersenyum, "Walaupun ibumu menyukai pemandangan dari ketinggian tapi yang sebenarnya paling disukainya adalah suasana di sekitar sungai."


"Sungai? Apa yang Ibu sukai dari sungai? Sungai AB sangat membosankan, hanya disukai sama orang yang suka memancing," tanya putrinya keheranan tapi juga antusias.


Si Ayah tergelak keras, baginya putri bungsunya ini berwatak berbeda dari kedua kakaknya yang penurut. Vania -namanya- begitu kritis dan banyak bertanya tentang ini itu tanpa sungkan.


"Hahaha ... Kalau begitu anggap saja ibumu suka memancing ikan di sungai."


"No. Ibu tidak suka memancing ... Yang suka memancing itu adalah Ayah dan Kak Litha, kalau Ibu hobinya melamun melihat air sungai yang coklat."


Deg.


Kalimat polos yang keluar dari bibir mungil menghantam dada ayah tiga anak itu, membuatnya langsung menghentikan gelak tawa dan bersikap sangat canggung.


"Me– melamun?"


Si Anak mengangguk, "Kadang-kadang malah menangis. Ayah saja dan Kak Litha yang asyik memancing, Kak Tisha juga sibuk kesana-kemari sampai tidak tahu kalau Ibu menangis."


Hati pria itu bagai teriris sembilu mengetahui istri tercintanya diam-diam menangis melihat air sungai. Dia tahu, sungai bagi kehidupan istrinya adalah identitas dan pemilik rindu terdalam di hatinya. Pria paruh baya itu berpikir kalau dirinya sudah memberikan seluruh kebahagiaan untuk menghilangkan kesedihan istrinya selama ini, ternyata ikatan darah adalah ikatan terkuat di bumi untuk bisa dilupakan.


"Ini Pak, teh panasnya." Kalimat pemilik kedai mengembalikan pikiran Si Ayah ke tempat semula.


"Ayah, aku mau," rengek Si Anak manja.


"Ya, minumlah perlahan. Ini teh panas." Si Ayah menyodorkan gelas dengan hati-hati dan penuh kasih sayang.


"Nia, apa Ibu terlihat sedih waktu kamu melihatnya menangis?"


"Ih, Ayah ini bagaimana sih! Kalau orang menangis tentu saja sedih," protes gadis kecil yang disapa Nia dengan menggemaskan.


"Kan, ada juga tangis kebahagiaan– saking senangnya."


"Umm ... tapi Ibu tidak lagi senang waktu itu. Selalu melamun sebelum menangis."


"Apa ibumu tahu kalau kamu melihatnya menangis?"


Si Anak menggeleng, "Tidak, Ibu tidak akan menangis kalau ada yang melihatnya. Nia hanya mengintip sedikit, pura-pura main."


Slruup.


Vania menyeruput nikmat teh panasnya. Lelaki itu tersenyum pahit menatap putri bungsunya, hatinya sakit. Dirinya merasa sangat bersalah karena masih menyisakan tangis pada kehidupan istri yang sangat dicintainya. Dia merasa belum cukup membahagiakan istrinya tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa untuk menghapus rasa sedih di hati istrinya. Memilih suami pilihan sendiri dibanding calon suami pilihan ayahnya adalah keputusan terberat dalam hidup seorang perempuan bahkan meninggalkan status, kekuasaan, kemewahan dan kenyamanan yang selalu bergelimang demi anak seorang anak petani atas nama cinta.


"Ayah, lihat!"


Tiba-tiba Si Anak berseru memanggil ayahnya karena ada seorang anak perempuan dengan raut muka kuyu bagai tak bertenaga berada di dekatnya.


Tentu saja Si Ayah kebingungan, "Nak, kau mau minum?" tanya Si Ayah lembut pada anak itu, "Atau kau ingin makan sesuatu?"


Anak perempuan yang ditanyai hanya diam membisu, pandangan matanya pun tidak lepas dari sosok putrinya, "Kau sendirian? Orangtuamu mana?" tanya ayah Vania lagi, tapi hanya dibalas kebisuan oleh anak itu.


"Ini. Minumlah. Kakak pasti haus dan kedinginan makanya mau teh panasku," sahut Vania memberikan gelas berisi teh yang sudah mulai menghangat.


Anak perempuan itu masih tidak bersuara, namun pandangan matanya beralih menatap pada tangan si pemberi minuman. Dia berusaha menarik otot bibirnya ke atas dengan susah payah. Perlahan diminumnya teh hangat yang sisa setengah hingga hampir tandas.


"Dimana orangtua Kakak?" tanya putri kecil yang bernama Vania.


Anak perempuan itu bergeming, diam seribu bahasa tapi semakin mengamati lekuk wajah dan tubuh Vania.


"Apa aku cantik?" tanya Vania memutar-mutar bola matanya.


"Emm ... Se– kali." jawabnya sedikit terbata.


"Ayah, ternyata dia tidak bisu," bisik Vania yang dijawab dengan anggukan ayahnya.


"Nak, apa kau kehilangan orangtua?" tanya Si Ayah pelan agar anak perempuan yang seumuran dengan putri keduanya itu mau berbicara dengannya, sayangnya lagi-lagi anak itu hanya diam menatap Vania.


"Ih, Ayah ini pakai ditanyain segala... kalau Kakak ini tidak kehilangan orangtuanya tidak mungkin sendirian bingung seperti ini. Ayo kita umumkan saja! Siapa tahu orangtuanya juga kebingungan mencari."


"Iya juga ya. Lebih baik begitu. Ayo kita ke bagian informasi untuk mengumumkannya! Putri Ayah ini kenapa begitu pintar? Pasti kau menghabiskan semua sisa kepintaran Ibumu." Si Ayah mencubit hidung mungil putrinya.


"Tentu saja. karena Nia anak terakhir, hehehe ..." Vania memeluk pinggang Si Ayah karena senang dipuji.


"Kakak, ayo ikuti kami."


Vania menarik tangan anak perempuan itu untuk menuju ke bagian informasi bersama ayahnya tetapi reaksi yang muncul justru keengganan untuk pergi.


"Ayah, Kakak ini tidak mau pergi. Bagaimana?"


"Bagaimana ya?" Si Ayah terlihat memikirkan sesuatu untuk membujuk anak perempuan itu, "Nak, ikutlah dengan kami, kamu akan menemukan kembali keluargamu."


Si Ayah berusaha berbicara dengannya tetapi matanya justru melihat lengan putrinya dengan seksama.


"Putih– Putri Salju?" serunya tersenyum gembira melihat lengan Vania yang dianugerahi kulit seputih salju.


"Eh, apa?" Si Ayah menjadi kebingungan menghadapi anak perempuan ini.

__ADS_1


Mata Vania memicing, seperti tiba-tiba mendapat ide brilian, "Ah, aku ketahuan ... Aku memang Putri Salju yang sedang menunggu Pangeran. Kau siapa?"


"Apa kau tidak mengenalku? Aku Dopey."


"Benarkah? Oh, maafkan aku. Aku terlalu gugup untuk mengenalimu," ucap Vania dengan mimik kaget, lalu berjinjit dan berbisik pada anak itu, "Sebenarnya aku sedang bersembunyi dari penyihir jahat yang diutus Ibu Ratu. Kau tahu kan dia akan memaksaku untuk memakan apel beracun."


"Tapi kau harus tetap memakannya agar Pangeran mencium-mu."


"Ya, aku harus memakannya dan kudengar Penyihir itu ada di suatu tempat, ayo kita kesana!"


Anak itu mengangguk, "Apa nanti Sneezy, Happy, Grumpy, Doc, Bashful, dan Sleepy akan menyusul?"


"Vania, apa yang kalian bicarakan?" tanya Si Ayah dengan wajah kebingungan yang tak berujung karena berusaha memahami maksud putrinya.


"Ya, mungkin mereka akan menyusul. Cepat! Aku harus memakan apelnya sebelum Pangeran menemukanku," ujar Vania langsung menarik tangan anak perempuan itu sembari mengedipkan mata ke ayahnya sebagai jawaban dari pertanyaan barusan.


Si Ayah tersenyum, mulai memahami maksud putrinya. Vania mengikuti ayahnya ke bagian informasi untuk mengumumkan hilangnya seorang anak perempuan yang mengira dirinya Putri Salju.


.


.


.


# Di tempat berbeda di waktu yang sama #


"Ada apa Kak?" kata seorang gadis berusia sekitar 13 tahun menghampiri kakak perempuannya


"Bibi itu kehilangan putrinya yang se-usiamu dan menanyakan apa aku melihatnya. Dia sangat khawatir di tempat wisata seperti ini putrinya yang autis akan tersesat ke hutan," jawab Si Kakak.


"Autis? Apa itu?"


"Umm ... Kurang lebih seperti gangguan perkembangan seseorang yang mengganggu kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi."


"Oh. Kasihan sekali, Kak, kalau putrinya hilang dan kesulitan berkomunikasi,"


"He– eh. Itu juga yang dikhawatirkan ibunya tadi."


"Mudah-mudahan segera ditemukan ya, Kak."


"Iya, Tha. Oh iya, Ibu masih betah duduk disana?"


Si Adik mengangguk, "Entah apa yang sedang Ibu pikirkan sampai lama duduk disana, kalau tahu begini aku mending ikut Ayah dan Vania mencari minuman hangat. Aku sudah mulai kedinginan, Kak," keluhnya menggosok-gosokkan kedua telapak tangan.


Si Kakak terkekeh melihat penyesalan sang adik yang memiliki watak lebih polos dari adik bungsunya.


Pengumuman ... Pengumuman ... Telah ditemukan seorang anak perempuan berusia kurang lebih 13 tahun, berbaju merah dan bercelana panjang jins biru yang bernama Dinda di sekitaran rest area wisata Tangu Montain Park. Bagi orangtua atau keluarga yang merasa kehilangan, bisa segera menghubungi bagian informasi di bagian timur resepsionis. Sekali lagi kami sampaikan ...


"Kak, apa anak bibi itu yang dimaksud?" tanya Si Adik merujuk pada pengumuman yang baru saja dikumandangkan.


"Syukurlah sudah ditemukan," ucap Si Adik lega.


.


.


.


Sebelumnya, diantara sekian banyak pengunjung kawasan wisata pegunungan di Daerah C di akhir pekan, ada seorang ibu dan anak lelakinya ditemani kawannya terlihat panik dan sibuk mencari anggota keluarga mereka yang tiba-tiba menghilang dari pengawasan mereka.


"Maaf, Bu. Ini semua salahku, aku tidak bisa menjaganya dengan baik," sesal putra ibu itu dengan wajah pucat saking cemasnya.


"Tidak, Bi. Ini salahku, aku yang mengajak kalian ke tempat ini," sahut kawan putranya tidak mau kalah.


"Sudahlah. Kalian jangan menyalahkan diri sendiri. Sekarang fokus saja mencari Dinda. Dia pasti kesulitan berkomunikasi, mudah-mudahan ada orang baik yang membawanya ke bagian informasi," kata si ibu dari anak hilang menutupi kecemasannya.


"Aku akan segera meminta Pak Sas mengirimkan orang kesini untuk menemukan Dinda," sahut kawan putranya lagi.


"Terima–"


Pengumuman ... Pengumuman ... Telah ditemukan seorang anak perempuan berusia kurang lebih 13 tahun, berbaju merah dan bercelana panjang jins biru yang bernama Dinda di sekitaran rest area wisata Tangu Montain Park. Bagi orangtua atau keluarga yang merasa kehilangan, bisa segera menghubungi bagian informasi di bagian timur resepsionis. Sekali lagi kami sampaikan ...


Tiga manusia itu saling berpandangan dengan pikiran yang sama untuk sejenak, pun dengan gerakan yang sama mereka segera berlari ke bagian informasi.


.


.


.


# Sebelum Pengumuman #


"Nama Kakak siapa?"


"Umm ... Dopey– Ninda."


"Oh. Namaku Putri Nia."


"Putri Salju."


"Eh, iya– Putri Salju Nia."


Sampailah ayah, anak dan Si Anak Hilang itu di depan ruang bagian informasi. Si Ayah berbisik pada putrinya, "Kau hebat sekali, Nia, bisa berbicara dengannya sampai dia mau kita ajak kesini. Ayah akan ke Mbak itu–" tunjuk Si Ayah ke arah seorang staf yang duduk di bagian informasi.


Vania mengangguk, "Namanya Dinda, Yah."

__ADS_1


Si Ayah tersenyum, segera dia ke petugas informasi untuk segera diumumkan.


Pengumuman ... Pengumuman ... Telah ditemukan seorang anak perempuan berusia kurang lebih 13 tahun, berbaju merah dan bercelana panjang jins biru yang bernama Dinda di sekitaran rest area wisata Tangu Montain Park. Bagi orangtua atau keluarga yang merasa kehilangan, bisa segera menghubungi bagian informasi di bagian timur resepsionis. Sekali lagi kami sampaikan ...


Suara pengumuman anak hilang dikumandangkan di setiap pengeras suara yang terpasang di seluruh area wisata, berharap agar Si Anak Hilang segera bertemu dengan keluarganya.


"Putri Ayah melakukan hal yang sangat baik dan pintar hari ini. Terimakasih, Sayang." Si Ayah mengusap kepala, "Ayah akan membelikanmu coklat pulang nanti."


"Asyik! Ayah adalah ayah paling baik sedunia," pekik Vania kegirangan langsung memeluk pinggang ayahnya.


"Yah, aku ingin pipis," bisik Vania dalam pelukan ayahnya, Si Ayah menanggapinya dengan tawa kecil dan menciumi pucuk kepala putrinya.


"Aku ingin punya ayah."


Suara memelas menghentikan pelukan Vania, canggung ... begitupun ayahnya Vania, mereka saling bertatapan tanpa berbicara beberapa saat.


"Tapi– aku punya Pangeran, pasangannya Putri Salju," ujarnya menunjuk salah satu dari pemuda yang tergesa-gesa menuju ke petugas informasi dan diikuti oleh seorang wanita paruh baya.


"Nia, mereka sepertinya keluarga anak ini," sahut Si Ayah memperhatikan mereka, "Ayah kesana dulu ya."


"Ya." Vania mengangguk lalu beralih pada anak yang selalu mengingatkannya untuk makan apel beracun, "Apa itu keluarga Kakak?– Tunggulah disini sebentar, aku mau ke toilet dulu."


"Tidak boleh. Putri Salju harus bertemu dengan Pangeran."


"Ya ampun ..." Vania menepuk dahinya, dia lupa kalau dirinya dan Si Anak Hilang sedang dalam dunia dongeng Putri Salju. Gadis kecil yang memiliki kulit seputih salju itu memutar bola matanya mencari akal untuk bisa ke toilet karena sudah tidak tertahankan lagi.


"Dopey-ku, aku harus mencari Si Penyihir untuk memakan apel beracun dan bisa jatuh cinta pada Pangeran," kata Vania sedikit gemetar, menahan sesuatu yang harus segera dituntaskan.


"Tidak. Putri Salju tertidur setelah makan apel beracun dan hanya bisa dibangunkan oleh ciuman dari Pangeran, lalu mereka jatuh cinta."


"Kalau begitu tunggulah disini, oke Kakak!"


Vania sudah tidak bisa menahannya, tanpa persetujuan lawan bicaranya dia langsung berlari menuju toilet.


"Dinda!" Beberapa suara memanggil nama Si Anak Hilang dan berjalan cepat menuju ke arahnya.


"Maaf Bu, bukan bermaksud tidak sopan putri saya pergi begitu saja karena sebenarnya dari tadi dia ingin ke belakang," kata Si Ayah begitu melihat Vania pergi meninggalkan Si Anak Hilang saat mereka berjalan menghampiri.


"Tidak apa-apa, Pak," respon wanita paruh baya itu ramah, "Pasti tidak mudah berkomunikasi dengan Dinda. Putri saya autis apalagi sampai dia bersedia diantar kesini dan menyebutkan namanya. Tidak semua bisa mengajaknya berbicara bahkan ibu dan kakaknya kadang-kadang kewalahan menanggapinya."


"Ya, putriku menanggapi omongannya bahwa dialah Putri Salju, hehehe ...."


"Itu dongeng favoritnya yang selalu ingin diceritakan tiap malam sebelum tidur. Dia juga beranggapan kalau kakak lelakinya adalah Sang Pangeran."


Bruk.


Anak hilang yang bernama Dinda itu tiba-tiba pingsan, beruntung tubuhnya segera ditangkap kakaknya dengan sigap.


"Mungkin dia kelelahan, sejak bertemu di rest area kami menawarkan untuk makan tetapi dia tidak mau, hanya minum setengah gelas teh hangat milik putriku," sahut ayah Vania dengan sedikit panik, dia takut dituduh melakukan hal yang buruk pada anak itu.


"Ayo, lekas bawa Dinda ke ruang kesehatan!" teriak kawan dari anak lelakinya. Dia juga nampak panik melihat Dinda tidak sadarkan diri dan dengan segera Si Kakak beranjak meninggalkan ruangan informasi


"Kami mengerti, Pak. Kondisinya memang sejak lahir sangat lemah, saya akan mengantar Dinda dulu ke ruang kesehatan, nanti saya balik lagi," kata ibu anak itu mohon pamit sejenak kemudian menyusul langkah putranya yang menggendong Dinda.


Ayah Vania hanya tersenyum dan mengangguk.


"Ayah, mana Kakak itu?" tanya Vania sekembalinya dari toilet.


"Kondisi badannya tidak sehat jadi tadi dia pingsan, untungnya dia sudah berada pada keluarganya. Jadi tugas kita sudah selesai."


"Ah! Padahal aku belum bertemu dengan Pangeran, Ayah."


"Hahahaha ... Apa kau masih berada dalam dunia dongeng, Nia? Ibunya mengatakan Dinda autis dan sangat menyukai dongeng Putri Salju sejak kecil sampai sekarang– dan juga masih menjadi pengantar tidurnya."


"Oh."


"Kau akan bertemu dengan Pangeranmu suatu saat. Sekarang kau hanya bertugas menjadi putri yang baik supaya kelak akan dipertemukan dengan pangeran yang baik pula ... Ayo, kita ke ibu dan kakak-kakakmu!"


"Ayo!" seru Vania menggandeng tangan kanan ayahnya keluar dari ruang informasi, "Ayah ... Aku sudah bertemu dengan pangeranku, yaitu dirimu, Ayah ... Aku sangat menyukaimu ...."


Betapa manis ucapan Vania yang menyiratkan bahwa Si Ayah adalah yang cinta pertama bagi putrinya. Bukankah itu impian setiap ayah di dunia ini?


.


.


.


"Apa mereka sudah pulang?"


"Sepertinya begitu, Bu."


"Ibu belum sempat berterimakasih padanya dan putrinya yang membujuk Dinda ikut ke ruang informasi. Namanya pun Ibu tidak tahu."


"Mereka orang baik, Bi. Beruntung Dinda ditemukan oleh mereka ... Juga tidak meminta balasan, padahal apapun yang mereka minta pasti akan aku berikan karena aku sudah menganggap Dinda seperti adikku sendiri."


"Aku yang lalai menjaganya, tapi kau benar Ray– beruntung Dinda ditemukan oleh mereka sehingga dia bisa kembali di saat yang tepat, kalau tidak kondisinya akan semakin memburuk. Andai saja aku tahu namanya, akan aku selipkan namanya dalam doaku untuk kebaikannya."


"Dia disebut Putri Salju oleh Dinda, begitulah kata ayahnya– dan sangat ingin mempertemukannya denganmu sebagai pangerannya, hehehe ...." kekeh ibunya Dinda mengingat percakapan singkat dengan ayah Vania.


"Hahahahah ... Dinda masih terobsesi dengan dongeng favoritnya ternyata. Tapi mana tahu Yan, kalau kau ternyata memang pangeran untuk Putri Salju versi Dinda."


Si Kakak hanya tersenyum kecil, menanggapinya hanya sebatas candaan. Tidak disangka mereka semua akan bertemu satu dekade kemudian.


- Besambung -

__ADS_1



__ADS_2