Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Something Missing in My Heart


__ADS_3

PoV Abyan Pratama


a.k.a Bonus Pembaca


Tit.


Kututup panggilan telepon pada Ibu. Kukira dia marah dan bersiap pulang kampung karena marah padaku, tetapi tidak kusangka dia malah beristirahat setelah menghabiskan waktunya sepulang dari apartemenku bersama gadis itu di Grey Savanna Restaurant.


Seketika ingatanku kembali mundur di waktu malam hari setelah memakamkan Dinda. Suara paraunya mengisi rongga telingaku seakan itulah impian terbesarnya setelah dua kali kehilangan orang yang disayangi.


Ibu sudah menabung banyak untuk menjamu makan dirimu dan calon istrimu saat nanti kau mengenalkannya pada Ibu di Grey Savanna Restaurant. Ibu akan memperlakukannya dengan sangat baik siapapun yang dicintai putra kebanggaan Ibu. Kuharap dia sudi menjadi teman bicara saat Ibu tua nanti karena ayah dan adikmu sudah meninggalkan Ibu lebih dahulu, sedangkan kau harus selalu mendampingi Tuan Muda.


Aku memandang lepas hamparan suasana Ibukota, "Begitu kecewa kah Ibu dengan perasaanku pada Vivian?" tanyaku sendiri tanpa ada yang menjawabnya, "Apa yang Ibu harapkan dengan aku menikah? Hanya teman bicara? Kalau hanya itu aku akan membagi waktu."


Tangan kananku menggenggam nametag Vivian yang terjatuh tanpa disadarinya. Benda inilah yang menjadi penebus rasa rindu jika aku merindukan dirinya. Sayangnya, Tuhan tidak mempertemukan kami lebih cepat hingga aku harus tersiksa dengan keadaan seperti sekarang. Perasaan yang tak berbalas, kekecewaan Ibu akan harapan yang hilang dan– timbulnya masalah baru.


Vania, adik dari istri sahabatku yang selalu merongrong dengan sindirannya bahkan asamnya sindiran Ibu kalah dengan sindirannya, bukan asam lagi tapi pahit.


"Kenapa anak itu sangat berbeda dengan Nyonya yang lembut dan polos?" gumamku menyesal.


Ngomong-ngomong menyesal, aku sangat menyesali kendaliku yang terlepas begitu saja hanya karena sepintas melihat bibirnya yang berwarna merah muda bergerak-gerak menyudutkanku saat mengajarinya mengendarai mobil.


"Aku bisa menahan diri saat jarakku dengan Vivian sangat dekat tapi kenapa begitu berbeda dengan bocah itu? Aku sangat gemas dengan mulutnya yang tidak bisa berhenti mengoceh. Oh Tuhan ...."


Aku berbalik dari arah jendela kaca yang lebar, meletakkan nametag Vivian di atas meja, lalu menuju dapur mengambil air dingin di kulkas– berusaha menenangkan diri yang gusar setelah ingat perbuatan cabulku.


"Sepertinya Vania tidak memberitahu Ibu kalau aku menciumnya karena tidak mungkin Ibu hanya menjambak rambutku kalau dia tahu." Aku berteori dengan berjalan kesana-kemari mirip setrikaan.


"Bagaimana jika dia mengatakannya pada Nyonya dan Ray?– Mati aku! Ray pasti menghajarku habis-habisan dan Nyonya pasti tidak akan memaafkanku."

__ADS_1


Kuremas-remas rambutku masih sambil kesana-kemari berandai-andai sesuatu yang buruk akan terjadi. Bagaimana jika setelah Ray dan Nyonya tahu, Ibu akan tahu lalu Pak Is ... Aarrrgghhhh ... Bodoh! Bodoh! Bodoh! ... Abyan Pratama kau menggali kuburanmu sendiri!" pekikku memaki diri sendiri.


Satu-satunya solusi adalah membungkam Vania agar tidak mengadu, tapi bagaimana caranya? Bejat sekali aku memintanya untuk merahasiakan setelah aku melakukan perbuatan tak senonoh padanya demi diri sendiri tanpa memikirkan perasaannya.


Perasaannya?


Ah, aku lupa akan satu hal ini. Aku sibuk memikirkan diriku hingga lupa perasaannya padahal tadi banyak kata kecewa yang ditujukannya padaku. Bodoh! Sekali lagi aku bodoh kenapa tidak langsung meminta maaf, aku malah justru memikirkan hal konyol. Tau apa itu? Aku ingin mengecup bibirnya lagi.


"Edan kau Abyan! Singkirkan pikiran kotormu sebelum Ibu dan Ray membunuhmu!" Aku berteriak seperti orang gila.


Situasi ini benar-benar yang tersulit selama aku hidup. Bunyi panggilan masuk di ponselku, Bocah Egois meneleponku. Nama kontak itu aku berikan buat Rayyendra Putra Pradipta yang selalu menyebalkan jika sudah memberi perintah. Kenapa dia meneleponku? Apa dia mau menanyakan kejadian tadi siang?


Aku terkesiap, aliran darah melaju cepat menuju jantung dan otakku. Mau kuangkat tapi tidak tahu alasan apa yang harus kuberi nanti tapi kalau kutolak pasti makin runyam.


Siapa yang bisa menolongku?


Panggilan berhenti, aku menarik nafas lega dan duduk di sofa, merilekskan diri. Hanya berselang satu menit nada dering kembali menggema.


Ray menelepon lagi.


Is this the feeling I need to walk with?


Apa harus kuangkat?


Tell me why I can't be there where you are


There's something missing in my heart


"Ya Ray."

__ADS_1


Akhirnya kuangkat, jantungku berdetak tidak karuan seperti maling yang ketahuan mencuri pakaian dalam di jemuran Bu RT.


"Yan, apa yang terjadi saat kau mengajar Vania menyetir?" tanya Ray tanpa basa-basi.


Benar kan, dugaanku Ray mau menanyakan kejadian tadi siang?


"Maaf Ray, perutku sakit. Aku harus ke kamar mandi sekarang, sudah kebelet nih. Besok aku akan menjelaskan semua pada kalian," sahutku menyudahi.


Tit.


Aku langsung menutup sambungan telepon tanpa persetujuannya. Tidak peduli dia marah atau tidak, aku langsung mengaktifkan mode senyap dan bergegas ke kamar mandi, bukan untuk buang air seperti yang kukatakan barusan pada Ray tapi untuk mandi. Mengguyur sekujur tubuh terutama kepala agar bisa berpikir jernih mencari alasan yang paling bisa diterima kenapa aku tiba-tiba mencium adik kesayangan mereka.


.


.


.


Pukul 02.10 dini hari aku terbangun setelah bermimpi. Sedikit melamun di pembaringan, aku menyadari bahwa hari ini benar-benar kacau, semua di luar kendaliku. Untuk pertama kalinya dalam hidup, aku kehilangan arah pikiran dan disaat hilang arah itu entah kenapa pikiranku tertuju pada Si Tawon Kecil. Caranya berucap tajam kini tidak bisa kubenci meski dia menyiletku dengan kata-katanya. Aneh ... Ini sangat aneh, karena sebelumnya aku akan sangat kesal jika dia sudah mulai bermanuver dengan kalimat-kalimatnya.


Seperti mimpi barusan, sambil menangis dia mengutukku akan selalu ditemani kesepian yang tidak berkesudahan juga akan selalu berada di persimpangan tanpa tahu harus memilih yang mana, beruban disitu dan akhirnya mati dalam keadaan menyedihkan.


Aku memegangi kepalaku dengan satu tangan. Menarik nafas dalam dan– mendadak muncul aroma manis yang baru kukenal tadi siang di sekitar indra penciumanku. Apa aku sudah gila? Aku memikirkan ciuman paksa yang kuberikan pada adik ipar sahabatku– memikirkannya dengan darah yang berdesir. Ah, ini tidak benar!


Aku memutuskan bahwa besok aku harus menyelesaikan semuanya apapun yang terjadi dan bertanggungjawab terhadap segala konsekwensinya. Apakah itu akan membuatku dihajar Ray, dimaki Ibu, atau dipandang benci oleh Nyonya aku tidak peduli daripada aku terus memikirkan gadis itu. Aku yakin ini hanya implikasi dari rasa bersalah yang membuatku kehilangan sesuatu di dalam hati, yaitu kendali akal sehat.


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Karena kemarin ada yang minta dibuatkan PoV Asisten Yan biar tahu isi hatinya, hehehe ... Semoga berkenan ☺️


__ADS_2