Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Aku Menantangmu!


__ADS_3

"Ray, dia adik iparmu."


Meski singkat, ucapan itu aku mengartikannya sebagai pembelaan untukku dan aku senang mendengarnya, aihh ....


"Benar, dia selamat karena adik kesayangan istriku. Kalau tidak sudah kucekik lehernya."


Spontan kuraba batang leherku, meyakinkan aku masih bisa bernafas lega, "Sial! Aku terintimidasi olehnya. Ini tidak benar! Maka harus tunjukkan kalau aku tidak takut."


"Kakak Ipar bisa saja menipu Kak Litha, Paman dan Bibi, tapi tidak bisa menipuku," kataku mengumpulkan kembali keberanian, tapi keberanian itu menguap kala kedua lelaki di depanku ini memicingkan mata. Kulantangkan dan kukembangkan lagi nyaliku, "Aku tidak percaya padamu. Masih membekas dalam ingatan, bagaimana sakitnya kakakku diabaikan dalam keadaan rapuh. Beruntung dia sanggup mempertahankan kewarasannya, kalau tidak aku akan mempunyai dua kakak perempuan yang gila akibat perbuatan laki-laki bejat."


Air muka Kakak Ipar berubah, dari yang menunjukkan amarah perlahan mereda dan menunjukkan seraut penyesalan. Yes! Aku berhasil membalikkan keadaan, ini momentum buatku.


"Lalu apa maumu?" katanya datar namun tegas, nada suaranya mencerminkan sifatnya yang tidak bisa diajak kompromi.


"Aku mau menantang Kakak Ipar sparing denganku. Aku mau melihat sejauh mana Kakak Ipar sungguh-sunguh mencintai kakakku."


"Sparing?" Suara kehersnan terdengar dari keduanya bersamaan mendengar tantanganku.


"Ya, aku ingin sparing taekwondo denganmu. Apa Kakak Ipar takut?"


"Hah! Apa! Aku takut? Kau jangan mulai memprovokasiku, Tawon Kecil." Nada suaranya kembali meninggi, tangan Asisten Yan menyentuh bahunya.


"Aku tidak memprovokasi Kakak Ipar. Jangan melihatku sebagai gadis kecil. Aku pemegang sabuk hitam siap menghajarmu"


"Sombong sekali dengan sabuk hitam taekwondomu! Tetap saja kau bukan tandinganku."


"Aku hanya mengimbangi kesombonganmu Kakak Ipar. Kalau Kakak Ipar tidak bersedia, aku anggap permintaan maaf Kakak Ipar pada Kak Litha tidak tulus."


Matanya menatap tajam ke arahku, membuat hawa di sekitarku dingin. Aku tahu dia sedang menelisikku dengan seksama.


"Yan, cari Dojang untuk sparing besok sore. Aku mau lihat apa kemampuan anak ini sama besar dengan mulutnya," ketusnya lalu dia berbalik dan meninggalkanku tanpa mengizinkanku membalas perkataannya.


"Eh!"


"Nona Vania, aku akan menghubungimu mengenai tantangan tersebut," sahut Asisten Yan sopan, suaranya mampu menurunkan kadar emosiku dan membuat jantungku berdentum kesana-kemari.


...***...


Bukan tanpa alasan aku menantangnya sparing, menggunakan kemampuan bela diriku sebagai peringatan bahwa jika dia mencoba untuk menyakiti kakakku, dia harus hadapi selain Paman dan Bibi.


"Kau bernyali juga menantangku. Apa kau tahu aku pemegang sabuk hitam taekwondo dan karate," kata kakak iparku saat melihat aku memasang kuda-kuda sikap sejajar.


"Tidak usah banyak bicara Kakak Ipar, mari kita buktikan saja. Aku tidak segan untuk benar-benar menghajarmu."


"Cih, Aku juga tidak segan melayangkan tendanganku meski kau adik kesayangan istriku," balasnya tidak mau kalah.


Kami ditemani Asisten Yan yang duduk bersila di salah satu sudut ruangan. Nampak kelelahan darinya yang menyandarkan tubuh di tembok.


Aku dengan agresif memberi Kakak Ipar pukulan, tusukan dan tendangan. Dia masih sengaja hanya menangkis, namun begitu tendangan Dollyo Chagi milikku mengenai bagian perutnya saat dia lengah menganggap remeh lawan, suami kakakku itu mau tidak mau harus meladeni Si Tawon ini yang berusaha menyengatnya.


Walaupun aku sendiri merasa Kakak Ipar bukanlah lawan yang seimbang, aku tetap menyasar perut dan kepalanya menjadi sasaran tendanganku. Beberapa kali dia tersungkur, tapi dengan cepat dia kembali memasang kuda-kuda lagi.


"Menyerahlah," kata Kakak Ipar terengah-engah setelah menjatuhkan badanku untuk ke sekian kali. "Lawanmu tidak seimbang, meski kau terus mencobanya, kau tetap tidak akan menang melawanku," sambungnya lagi, masih dengan terengah-engah.


Akhirnya, aku duduk di lantai dan melepaskan pelindung kepala, peluh membanjiri kepala dan leherku. Kakak Ipar juga melakukan hal yang sama, lalu Asisten Yan mendekati kami memberikan handuk dan air minum.

__ADS_1


"Kakak Ipar, apa kau benar-benar sayang pada kakakku?" tanyaku tiba-tiba.


Kedua lelaki itu kaget mendengarnya, seakan mengerti situasi dan kondiri yang tercipta Asisten Yan menjauhkan dirinya memberi ruang privasi buat kakak adik ipar yang akan berbicara serius.


Kakak Ipar menenggak air minumnya lalu meletakkan botolnya ke lantai, "Kenapa kau meragukan aku?"


"Aku hanya ingin Kak Litha tidak terluka lagi."


"Aku memang bersalah telah menyakitinya, tapi aku jamin itu tidak akan terulang lagi, baik dariku maupun dari orang lain."


"Kak Litha tidak tahu kalau aku bisa beladiri."


Mataku menerawang ke depan, rentetan memori dari tiga tahun silam bersliweran di pikiranku. Meski tidak melihat, kurasakan kalau Kakak Ipar mengamatiku dengan seksama.


"Aku dari dulu rentan sakit, bisa sebulan dua tiga kali aku berobat ke dokter dan itu berlangsung sampai lulus SD. Makanya Kak Litha tidak setuju aku belajar beladiri, ia takut aku terluka dalam latihan karena menganggap badanku masih lemah seperti dulu. Aku menurutinya karena dia sangat menyayangiku, bahkan rela mengorbankan tabungannya untuk menambah uang masuk sekolah asrama untukku, kemudian ia bekerja apapun untuk membiayai sekolahku yang tidak murah."


Mataku mulai berkaca-kaca mengingat perjuangan Kak Litha mulai dari membujukku masuk sekolah berasrama sampai menjadi wali yang harus menurunkan ego dan harga dirinya. Berjuang diantara kewajibannya tanpa memedulikan hak yang seharusnya dia terima.


"Tapi aku berpikir, tidak ada pelindung di keluarga kami setelah Ayah meninggal. Bagaimana kalau kami disakiti? Bukan karena kami ingin menang, tapi setidaknya kami masih bisa melawan walau akhirnya kalah. Kami bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa. Dimana keluarga Ibu, kami pun tidak tahu sama sekali, Ibu seperti anak yatim piatu tanpa keluarga. Lalu keluarga Ayah sering meremehkan Ayah, mengata-ngatai buat apa menyekolahkan ketiga anak perempuannya hingga tidak punya harta karena nantinya kami juga akan berakhir di dapur."


Aku menarik nafas, mengeluarkan sesak yang selama ini ditahan sendiri, sangat tidak nyaman rasanya.


"Bisa dikatakan selama di asrama aku hanya tidur beberapa jam saja. Aku terus belajar agar lebih unggul dari teman-temanku, targetku mendapat beasiswa agar tidak merepotkan Kak Litha soal biaya, dan tanpa sepengetahuannya aku juga mulai belajar taekwondo. Dalam waktu dua tahun aku sudah bisa memegang sabuk hitam dengan nilai memuaskan. Tujuanku hanya satu, melindungi keluargaku, aku merasa airmata mereka sudah dihabiskan kemarin saat tragedi Kak Tisha dan meninggalnya Ayah. Aku tidak ingin melihat terutama Kak Litha, menangis lagi."


Tess.


Air mataku akhirnya luruh juga dari mata kananku. "Awalnya kukira Kak Litha menangisi Ibu, tapi aku merasa ada yang aneh, ternyata benar, ia akan dibuang suaminya dalam kondisi hamil. Tekadnya membesarkan anaknya seorang diri membuatku semakin sakit hati. Kakakku yang baik kenapa harus bernasib buruk? padahal setahuku ia tidak pernah menyakiti siapapun."


Jebol sudah pertahananku, kini airmatan bergantian turun dari kedua mataku, menangis terisak tanpa suara. Tidak disangka Kakak Ipar mendekatiku dan memelukku.


"Kakakmu adalah wanita paling baik yang kutemui dalam hidupku, bagaimana mungkin aku membuangnya?"


Tangisku makin menjadi, Kakak Ipar melepas pelukannya dan menghapus air mataku.


"Siapa bilang aku mau menceraikannya? Apalagi ada anakku dalam kandungannya, aku tidak segila itu."


"Lalu kenapa Kakak Ipar tidak datang saat Ibu dimakamkan?" cecarku.


"Hhhhh .... Dalam rumah tangga pasti ada selisih paham. Aku akui aku yang salah, aku telah membuat kakakmu menangis. Tapi untuk sekarang dan seterusnya, kupastikan ia hanya akan tersenyum bahagia. Kau juga tidak perlu khawatir, fokus saja pada pendidikanmu. Apalagi namamu sudah masuk dalam penerima beasiswa ekslusif."


Cling.


Mataku mendelik tajam, "Darimana Kakak Ipar tahu namaku masuk dalam daftar penerima beasiswa eksklusif?"


Kakak Ipar tergelak keras, "Huahahahaha ... Litha, adikmu ini persis sama denganmu ... Beasiswa ekslusif itu kan, program khusus Pradipta Asa Foundation, nama yang sama dengan nama belakangku kan?"


"Apa Kakak Ipar sengaja memasukkan namaku? Berarti aku masuk dengan cara yang tidak baik, itu nepotisme!" protesku tidak suka.


Aku tidak menyadari dan tidak bisa membayangkan jika di sekolah diketahui aku adalah adik ipar dari pemilik Pradipta Corp. yang menaungi yayasan yang disebutkan tadi. Namun Kakak Ipar masih saja tergelak, dia merasa lucu denganku.


Setelah menghentikan tawanya Kakak Ipar berujar, "Awalnya seperti itu, tapi setelah aku melihat secara keseluruhan nilaimu, kau cukup layak dan scoremu saat tes ujian penerimaan beasiswa juga tinggi. Jadi tidak ada alasan menolakmu sebagai kandidat penerima beasiswa."


"Tapi kalau teman-teman dan guru-guruku tahu pasti akan berpikiran negatif."


"Ya, jangan dikasih tahu. Kalaupun mereka tahu, peduli amat! Fokus saja pada belajarmu, tunjukkan bahwa kau memang layak memperolehnya."

__ADS_1


Kakak Ipar berdiri, mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri.


"Jangan beritahu Kak Litha ya, kalau aku bisa beladiri."


"Kenapa? Bukannya bagus?"


"Aku tidak mau dicerewetinya. Cerewetnya lebih berisik dariku. Kalau Kakak Ipar menyebutku Tawon, Kak Litha adalah ratu tawonnya. Kakak Ipar pasti belum pernah dicerewetinya, makanya belum tahu betapa berisiknya dia."


"Hah! Apa?"


Giliranku yang tergelak. Entah mengapa aku merasa nyaman dengannya setelah berbincang dengannya barusan. Perasaan memiliki seseorang yang akan melindungi kami, yang aku idam-idamkan dari sosok saudara laki-laki.


"Kak, berjanjilah Kakak Ipar tidak akan menyakiti Kak Litha. Jika Kakak Ipar sudah tidak menginginkannya, kembalikan pada kami dengan cara yang baik, setidaknya itu lebih manusiawi," ucapku serius seperti Ayah yang melindungi harkat martabat putrinya.


"Heh. Kenapa kau berpikiran yang tidak-tidak. Litha sudi memaafkanku saja sudah anugerah tak ternilai. Tenanglah, Kakak Ipar mu ini berjanji akan selalu membahagiakan kakakmu."


Kakak Ipar mengusap lembut pundakku, mencoba untuk menghilangkan semua kekhawatiran yang terlintas di kepala.


"Besok Kak Litha sudah boleh pulang ya?"


Dia mengangguk.


"Kalian akan tinggal dimana?" tanyaku lagi.


"Di rumah yang sudah disiapkan Asisten Yan. Kalau kamu, Paman dan Bibi mau ikut tinggal silahkan, kamar di rumah itu cukup banyak."


"Ah, tidak. Kami tetap tinggal di rumah kami saja, kami yang akan sering datang menjenguk Kak Litha," tolakku.


"Sebelum pulang, aku ingin ke makam ibumu, meminta maaf."


"Orang sudah meninggal kok dimintain maaf, siapa yang jawab?" celetukku asal. "Kalau Kakak mau ke makam Ibu, lihatlah makam di sebelahnya."


Wajah Kakak Ipar kebingungan dengan maksudku, "Itu makam Ayah. Kakak Ipar belum pernah sowan kan sama Ayah semenjak menikah dengan Kak Litha, meski hanya berupa nisan sih?"


Kakak Ipar mengangguk dan tersenyum, "Pasti."


Kami berjalan keluar dari Dojang diikuti Asisten Yan. Tidak ada lagi keraguan, kekhawatiran dan sakit hati lagi. Semua terhempas tanpa sisa, melahirkan sebuah harapan baru akan hari esok yang lebih membahagiakan.


"Kuharap dia bukan hanya seorang kakak ipar tetapi kakak laki-lakiku." gumamku tersenyum.


...***...


- Bersambung -


Dollyo Chagi adalah salah satu teknik tendangan taekwondo memutar ke samping


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Hai Readers tersayang ... sudah lama Author ingin menyapa 👋


Senang sekali rasanya menyapa 🤗


Semoga selalu sehat dan dalam keadaan senang, Author ingin menyampaikan permintaan maaf akan beberapa hal.


Pertama, waktu update yang tidak jelas. Author minta maaf karena kesibukan di kehidupan nyata bertambah untuk melayani masyarakat dan keluarga. Tetapi, bagaimanapun Author akan selalu berusaha untuk menjaga kualitas tulisan secara keseluruhan sebaik yang Author bisa lakukan.

__ADS_1


Kedua, Author minta maaf jika dirasa alurnya dirasa lamban dan banyak terjadi pengulangan sama seperti di novel sebelumnya. Hal ini karena Author lakukan agar tidak terjadi kebingungan alur bagi Reader yang tidak/belum membaca Istri Wasiat Tuan Muda. Karya ini menceritakan kisah kehidupan tokoh utama dari remaja hingga dikatakan dewasa, mencakup sekolah, keluarga dan romansa. Dikisahkan melalui sudut pandang orang pertama dengan harapan para Reader bisa masuk ke dalam diri sang tokoh utama dengan berbagai perasaan yang dialaminya, makanya walaupun ada pengulangan Author tetap menambahkan intensitas diri si tokoh utama. Mungkin bagi Reader yang sudah membaca Istri Wasiat Tuan Muda sudah mengetahui alur ceritanya sampai di tahapan tertentu dan merasakan kebosanan. Jadi, Author minta maaf dan mohon pengertiannya 🙏 boleh diskip saja sampai first kiss tokoh utama 😁 baru dilanjut lagi.


Itu saja, akhir kata Happy Ied Mubarak bagi yang merayakan dan selamat liburan semuanya ☺️☺️☺️


__ADS_2