Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Tidak Sendiri Lagi


__ADS_3

Di Ruang Anggrek 01, Kak Litha tergolek lemah tidak berdaya, efek bius masih menguasainya. Setelah diobservasi setelah operasi, kini dia dipindahkan ke kamar inap untuk perawatan. Operasinya berjalan lancar, bayinya pun dalam keadaan baik, meski sempat terjadi penurunan tekanan darah saat operasi.


"Nia, kamu tunggu kakakmu disini ya sama Ninda. Aku akan ke ruangan duka dan ke pemakaman Pak Sas. Kalau kakakmu sadar, jangan katakan yang sebenarnya. Katakan saja ada hal penting yang harus ku lakukan. Aku takut dia shock, dia baru melewati masa kritisnya," ucap Kakak Ipar.


"Baik Kak, sampaikan salam belasungkawaku pada keluarganya Pak Sas."


Kakak Ipar tidak tidur semalaman, meski sudah mencuci mukanya dan berganti baju, tetap saja wajah lelahnya tak bisa ia tutupi, Semalaman hatinya seperti diterpa badai, menunggu kepastian keadaan istri dan anaknya. Belum lagi kabar wafatnya Pak Sas, tergambar jelas kesedihan dan penyesalan di raut mukanya. Tanpa ragu pria tua itu melindungi istrinya yang sedang hamil besar meski bertaruh nyawa.


Berkaca pada pengalaman, kini kamar inap Kak Litha dijaga oleh sejumlah pengawal, setiap dokter dan perawat yang akan masuk terlebih dahulu harus menunjukkan kartu identitas dan dicocokkan dengan nametag ber-barcode yang dimiliki mereka sebagai identitas pekerja di rumah sakit.


Ada sebuah kejutan mengakhiri insiden ini, didapati fakta bahwa Pak Sas adalah paman kandung Asisten Yan dari pihak ibu. Kok bisa Kakak Ipar baru tahu hubungan kerabat mereka? Apa kakak iparku hanya bisa menghitung untung rugi uang saja, Semoga keponakanku nanti berotak encer sebab menurut penelitian kepintaran seorang anak 60% diturunkan dari ibunya.


Di luar keterkejutanku itu, aku menaruh simpati pada Asisten Yan. Aku pernah di posisinya, kehilangan seorang anggota keluarga yang disayang tentu sangat kehilangan, terlebih lagi Kakak Ipar mengatakan bahwa sesibuk apapun Pak Sas melayani Keluarga Pradipta, peran ayah pengganti untuk keponakannya setelah mereka menjadi anak yatim dilakukan dengan sangat baik.


Hufftt ... Sekarang kepalaku pening memikirkan jawaban jika Kak Litha bertanya bagaimana keadaan Pak Sas. Baginya, pria bernama lengkap Sasmita itu sudah dianggap ayah, begitupun sebaliknya. Masih segar dalam ingatan, betapa heroiknya Pak Sas menggendong kakakku saat nyaris keguguran di makam ibu dan di rumah sakit, bahkan aku tidak sengaja mendapati Pak Sas mengintimidasi petinggi rumah sakit untuk menyelamatkan janin Kak Litha karena dia tahu janin itu penyemangat hidup kakakku selain alasan penerus Keluarga Pradipta. Aku mengagumi ketegasannya, sikapnya bertindak dan kesetiaannya melindungi Kak Litha. Itu terlihat tulus meski mungkin awalnya hanyalah sebuah perintah. Secara tidak langsung aku juga sangat berduka untuk kepergiannya dengan cara seperti ini.


...***...


Tuhan mengasihaniku dengan rahmatNya. Aku pun begitu takjub atas kuasaNya, Dia menghadirkan seseorang dengan golongan darah sama persis disaat Kak Litha sangat membutuhkannya dan bukan menyelamatkan satu nyawa tapi dua.


Pemulihan luka tusuknya akan memakan beberapa hari perawatan di rumah sakit. Aku selalu menemaninya kecuali– suaminya mengusirku pulang. Kondisi Kak Litha berangsur membaik meski lukanya masih perlu dirawat intensif, bayinya juga memberikan respon yang baik bahkan akhir-akhir ini Kak Litha sering meringis kecil sembari mengusap perut besarnya.


"Kak, aku tidak mau kembali ke sekolah. Aku ingin melihatnya langsung setelah lahir ... pasti lucu sekali. "


"Nia, berhentilah bicara tentangnya. Dia selalu merespon kalau mendengar suaramu dan Mas Rayyendra berceloteh. Lihat!"


Benar saja, perut besar Kak Litha bergerak seperti gelombang air yang naik turun, kadang ada sesuatu yang menyembul lalu tenggelam.


Cup.


"Nah, kutangkap kau bayi kecil! Apa ini sikumu atau lututmu? Cepatlah lahir ... Bibi Nia sudah tidak sabar ingin bermain denganmu."


"Hahahaha ... geli Nia!" gelak Kak Litha menepis tangan dan bibirku yang menciumi perutnya, dia kegelian karena aku menciumi dengan gemas dimana sembulan dari dalam perut muncul.


"Nia, kenapa aku tidak mendengar kabar Pak Sas? Tiap aku menanyakannya, Mas Rayyendra selalu bilang dia akan mengantarku menemuinya nanti. Tapi nanti kapan? Anehnya, aku juga dilarang membuka semua akun media sosialku dan tidak boleh nonton TV. Dia menyuruhku istirahat tanpa melihat dunia luar sampai aku melahirkan."


Nah, ini!


Ini yang aku takutkan, jawaban apa yang bisa masuk di akal Kak Litha? Kakak Ipar sih, enak ... Cukup menjawab seadanya, kakakkku tidak akan banyak membantah karena dia memang orangnya penurut pada suami, tapi ... dibalik itu dia akan mencecarku sampai dia puas.


"Mmm ... Pak Sas lagi berbaring," jawabku sekenanya, tidak ada jawaban lain, "berbaring di tanah."


Aku sedikit menjauh darinya, menghindari kontak mata karena konon mataku ini sama dengan mata ibu dan matanya, mata yang selalu jujur meski mulut berbohong.


"Engg ... Pak Sas lagi istirahat," kataku lagi, "Istirahat dalam damai. Semoga Tuhan memberinya tempat terbaik di sisiNya."


"Hei, Nak. Nanti kalau kita melihat Kakek Sas, kau harus sopan dan mengucapkan terima kasih dengan tulus ya ... karena kau sudah dua kali diselamatkan olehnya. Kelak nanti kau yang menjaga di usia tuanya."


Kak Litha berbicara pada perut buncitnya. Ah, aku tidak bisa membayangkan betapa hancur perasaannya jika mengetahui kebenaran. Kenapa juga Kakak Ipar pakai acara merahasiakan kematian Pak Sas dari Kak Litha hanya untuk menjaga hatinya agar tidak sedih? Hei! ... Itu bukan menjaga hati, tapi menunda, memperlambat– yang ujung-ujungnya juga akan merasakan kesedihan– malah bisa lebih menyakitkan karena merasa dibohongi. Tetapi namanya titah Tuan Muda siapa yang bisa membantah?


"Terus, apa Bibi dan Paman tidak mengabarimu?"


"Eh."


"Satu selesai, satu muncul lagi. Kenapa semua orang memintaku berbohong sih? Lama-lama aku jadi ratu pembohong kalau begini." Aku menggerutu dalam hati.


"Sejak kalian kembali ke Kota A, aku kehilangan kontak dengan Paman dan Bibi. Aku ingin menelepon ke sekolahmu waktu itu untuk bertanya kenapa mereka tidak bisa dihubungi, tapi kau sedang menghadapi persiapan tes beasiswa dan Ujian Akhir Sekolah. Aku tidak ingin merusak konsentrasimu." Mata Kak Litha menerawang sambil mengusap perutnya, "Lalu sekarang, aku terluka hanya kau yang menemaniku disini. Bibi tidak pernah seperti ini ... Luka kecil di tubuhku saja dia menjerit heboh, apalagi luka tusukan, dia pasti menangis menanyakan apa aku kesakitan ... Tapi–"


Suara Kak Litha bergetar dan tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Dia menangis. Oh, tidak! Aku harus menguatkan hati agar tidak ikut terbawa suasana hatinya walaupun hatiku juga tersayat. Demi permintaan terakhir Paman dan Bibi di surat itu, mau tidak mau aku jadi seorang pembohong besar.

__ADS_1


"Kak, jangan nangis ya ... Bayi di dalam perut bisa merasakan segala emosi ibunya. Kasihan dia, ponakan kecilku akan tidak lucu lagi karena ikut menangis di dalam."


Kak Litha tersenyum hambar, "Tahu apa kamu!"


"Hahahaha ... Jangan dipikirkan Kak. Percayalah, andai Bibi tahu keadaanmu pasti dia datang dengan kehebohannya dan Paman sibuk menenangkannya, hahahaha ...."


"Tapi mana mungkin mereka tidak tahu."


"Aduh! Susahnya kalau mau ngebohongin orang pintar ya begini ... Pusiiingg ... Menghindar aja, ah ...."


"Kak, aku keluar bentar dulu ya."


"Kemana?"


"Keluar," jawabku berdiri hendak melangkahkan kaki menuju pintu.


"Ngapain?"


"Cari angin."


"Hah. Kau kepanasan?"


"Iya."


"Turunkan saja suhu AC- nya."


"Aku bukan cari suhu yang dingin tapi angin."


"Ha?"


"Sudah ya, Kak. Bentar aja, kok," pintaku saat memegang handle pintu, siap untuk membukanya.


"Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu. Aku hargai keinginanmu untuk enggan memberitahuku karena aku yakin pasti ada alasannya. Tapi apapun alasannya, aku minta jangan jadikan beban itu hanya ada di pundakmu. Aku kakakmu– harusnya aku yang menanggung beban itu. Aku akan menunggu sampai kau bersedia mengatakannya."


Tess.


Airmataku jatuh, untungnya posisi badanku membelakanginya. Aku mengangguk dan menarik handle pintu, lalu keluar ruangan. Begitu pintu menutup aku segera berlari mencari toilet untuk membasuh wajah.


BRUK.


"Ugh."


"Nona, maaf. Kau tidak apa-apa?"


Aku menabrak seseorang lagi, kali ini hingga sedikit tersungkur ke lantai. Kudongakkan kepala, "Rasanya aku pernah melihatnya."


"Ya, aku tidak apa-apa," kataku sambil berdiri.


Badan pemuda yang baru kutabrak mematung, matanya fokus melihatku tanpa berkedip. Apa ada yang salah di wajahku? Kayaknya tidak ada yang aneh selain mata– yang mungkin terlihat merah.


"Ma– maaf," ujarnya terbata, masih belum berkedip.


"Tidak. Aku yang menabrakmu, seharusnya aku yang minta maaf."


Cantik sekali


Aku mendengar dia bergumam memuji seorang wanita, tapi– tidak ada wanita, bahkan orang selain diriku yang bersamanya. Apa dia memujiku? Aih ...


"Maaf, apa kau kesakitan?" tanya pemuda itu, sepertinya kesadarannya sudah kembali karena matanya sudah berkedip.

__ADS_1


Aku menggeleng, "Kenapa?"


"Wajahmu tiba-tiba memerah. Apa kau merasa sakit karena tadi menabrakku?"


"Hah!"


Semu merah di pipinya sangat menggemaskan, seperti tomat


Lagi-lagi kudengar dia bergumam. Astaga ....


"Ayo kubawa kau ke dokter sebelum kau tambah kesakitan! Wajahmu makin memerah."


"Ti– tidak. Aku tidak sakit. Jangan hiraukan merahnya wa–"


"Nia!"


Suara Kakak Ipar memanggilku dari belakang. Kubalikkan badan, "Kakak Ipar bukannya di kantor?" tanyaku heran melihatnya muncul tiba-tiba.


"Aku dalam perjalanan kesini saat Litha meneleponku untuk mencarimu. Dia menyuruhku membelikanmu es krim kalau ketemu. Katanya kau membutuhkannya sekarang. Memangnya kau tidak bisa membeli es krim sendiri, hah?"


"Es krim?"


Aku bingung dengan apa yang Kakak Ipar katakan, tapi itu tidak lama– setelah aku menyadari bahwa sesungguhnya Kak Litha ingin menunjukkan bahwa aku tidak sendiri, ada dia dan Kakak Ipar yang akan selalu bersamaku apapun yang terjadi.


"Oh, iya. Tapi tunggu Kak, tadi aku baru saja menabrak seseorang, kuselesaikan dulu masalahku dengannya."


"Siapa? Apa maksudmu pemuda yang kabur setelah melihatku memanggilmu?"


"Kabur?" sahutku bingung dan berbalik.


"Dimana dia? Apa benar dia kabur?"


"Hahahah ... sudah, biarkan saja! Tentu saja dia takut melihatku. Siapa yang tidak takut melihat Tuan Muda Pradipta? Ayo kita ke kantin! Beli es krim dan segera kembali ke kamar. Aku ingin segera bertemu dengan kesayanganku."


"Ya Tuhan, Kakak Ipar ini sombong sekali!" bathinku menepuk dahi.


"Cih. Aku bisa pergi sendiri membeli es krim." Aku mendahului langkahnya menuju kantin.


"Tidak bisa. Kakakmu bilang aku harus memfotomu memegang es krim sebagai bukti kalau aku memang melaksanakan perintahnya."


"Hah! Ya ampun ...."


Aku menggeleng-gelengkan kepala mendengar ucapan Kakak Ipar yang sudah seperti sapi yang dicucuk hidungnya oleh Kak Litha.


Selagi berjalan menuju kantin kusaksikan siapa saja yang melihat Kakak Ipar memberi hormat. Aura dan kuasa Kakak Ipar memang tidak bisa dianggap remeh, pantas saja tadi dia bilang pemuda itu kabur setelah melihatnya karena tidak mau mencari masalah dengan Tuan Muda Pradipta alias takut. Oh, keponakan kecilku, kau harus bersyukur dilahirkan dari kedua orangtua yang sangat hebat.


"Ah, Aku ingat! Pantas saja aku seperti pernah melihatnya."


"Kau mengagetkanku saja. Ingat siapa?" tanya Kakak Ipar terperanjat.


"Pemuda yang kabur tadi, Kak ... Aku ingat! Aku pernah menabraknya saat berlari menuju kamar operasi. Malam itu dia terlihat pucat. Mungkin dia pasien disini karena aku menabraknya lagi barusan."


"Oh. Karena kau yang menabraknya, kubiarkan– beda halnya kalau dia yang menabrakmu, akan kucari dia sampai di lubang semut."


Sshh ...


Kenapa perkataan Kakak Ipar ini membuat hatiku terasa hangat, merasa dilindungi seutuhnya dan sangat senang. Aku sudah tidak sendiri lagi, aku benar-benar merasa punya kakak lelaki yang siap membelaku kapan saja. Yippiee ....


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2