
Aku sangat enggan kembali ke sekolah. Tanpa sepengetahuan Kakak Ipar, aku menghubungi Kepala Sekolah dan mengatakan bahwa Tuan Muda Pradipta memberi perintah untuk menemani istrinya selama masa pemulihan. Ajaibnya, mendengar nama Kakak Ipar, Kepala Sekolah langsung menyetujui izin yang belum sempat aku lontarkan. Katanya lagi, aku hanya perlu kembali saat seremonial kelulusan sebab aku sudah mengikuti Ujian Akhir Sekolah. Segala informasi nanti akan disampaikan oleh Bu Burne. Ah ... tentu saja aku senang sekali apalagi mendengar protes keras Keysha ketika aku memberitahunya melalui email, dia memakiku sebagai Pencari Keuntungan, hahahaha ....
Kak Litha juga sudah kembali ke kediaman Keluarga Pradipta. Kakak Ipar benar-benar memproteksi istrinya dari dunia luar. Istrinya pun dengan ikhlas menerima kemauan suaminya. Kurang lebih dua minggu sudah waktunya dihabiskan dengan membaca buku, menonton serial drama dan berbagai macam film termasuk film dokumenter di National Geographic.
"Nia, film ini mengingatkan pada suamiku sendiri, hehehe ...."
"Di film ini tidak ada manusianya. Apa yang bisa mengingatkan Kak Litha pada Kakak Ipar?" tanyaku heran karena film dokumenter ini berkisah tentang kehidupan singa di gurun savana.
"Kakak iparmu dijuluki Singa Pradipta, tentu saja begitu melihat singa jantan itu aku ingat padanya. Hihihi ...." Kak Litha tertawa geli sendiri menutupi wajahnya dengan bantal, "Apalagi tadi, hihihi ... waktu singanya mengamuk– mirip Mas Rayyendra, amukannya membuat perutku menggelembung."
"Hah!"
Mataku terbelalak tidak percaya, Kak Litha bisa se-'bocor' ini ngomongnya, hahahaha ....
"Hmpftt ... aku mengantuk Nia. Aku mau tidur dulu, mau memimpikan suami singa-ku. Terimakasih, kau sudah menemani kakakmu ini sejak dari rumah sakit, tapi apa sekolahmu tidak apa-apa begitu lama ditinggalkan?" tanya Kak Litha sambil mematikan TV dan mulai mengatur posisi tidurnya,
"Tidak, yang penting aku sudah melaksanakan kewajiban sekolah. Kepala Sekolah pun sudah mengizinkan aku untuk menemanimu disini. Istirahat yang baik ya Kak, kalau ada apa-apa panggil aku pertama kali sebelum Bibi Lidya," jawabku sebelum dia curiga kalau aku yang sebenarnya enggan kembali ke sekolah, bisa habis aku dimarahinya.
"Nia, Kakak sangat bersyukur memiliki adik sepertimu, kau pasti akan menjadi Bibi yang hebat buat keponakanmu," ucapnya tersenyum mengelus pipiku.
Aku membalas senyumannya dengan senyuman juga, "Jangan terlalu banyak berpikir. Utamakan kesehatan Kakak dan keponakanku. Selalu buat hati Kakak senang, apapun itu termasuk bermimpi singa jantan yang mengamuk."
"Apa-an sih! Sudah sana!"
Hahahaha ... Dia sendiri yang ngomong, dia sendiri yang malu, Kakakku memang kadang-kadang kelewat polos. Sudahlah, lebih baik aku tidak menganggunya, kalau tidak dia akan mengadu pada Kakak Ipar dan aku bakal kena imbasnya. Aku segera keluar dari kamar utama setelah memastikan posisi tidur kakakku dalam keadaan paling nyaman.
Biasanya kalau tidak menemani Kak Litha, aku akan ke rumah belakang -rumah pelayan- untuk bercengkrama dengan para pelayan disana tetapi langkahku terhenti melihat Bibi Lidya membuat sesuatu di dapur rumah utama.
Bibi Lidya adalah ibu dari Asisten Yan, adik perempuan satu-satunya Pak Sas. Sejak adik Asisten Yan meninggal, Bibi Lidya diajak putranya ke Ibukota dan setelah itu diminta Kakak Ipar tinggal di rumah kediaman Keluarga Pradipta untuk menemani Kak Litha. Bibi Lidya merupakan mantan perawat di salah satu rumah sakit ternama di Daerah C, namun setelah anak perempuannya yang bernama Dinda lahir, dia tidak lagi bekerja guna fokus merawat Dinda yang memiliki kelainan jantung bawaan dan autis.
Perempuan paruh baya ini sangat ramah dan begitu perhatian pada Kak Litha, kataya dia sudah menganggap kakakku seperti putrinya sendiri. Menurutku, mungkin itu pelampiasan rindunya pada Dinda. Satu hal yang membuatku terkejut, Bibi Lidya sangat menginginkan segera mempunyai menantu, maunya yang seperti Kak Litha tapi apa daya anak lelakinya selalu enggan kalau disinggung tentang pernikahan atau calon istri. Bahkan kata Kak Litha, Bibi Lidya pernah dimarahi Asisten Yan karena ikut membantu mencarikan calon istri untuknya sampai Bibi Lidya akhirnya menyerah dan seakan tidak peduli lagi.
"Apa yang sedang Bibi buat?" tanyaku melihatnya mengaduk tepung.
__ADS_1
"Ini, Nyonya ingin minum es dawet yang harus Bibi buat sendiri. Katanya rindu es dawet Kota C."
"Whaa ... aku juga mau Bibi, Sudah beli tape ketannya?"
"Sudah, ada di kulkas."
"Apa aku boleh makan tapenya duluan?"
Bibi Lidya mengangguk sembari terkekeh, "Silahkan, Nona. Untuk Nyonya tapenya hanya sedikit, hanya untuk penggugah rasa rindu saja sama es dawet Kota C."
"Bi, tidak disangka ya, kita tinggal bersebelahan kota. Saya sering rekreasi ke Daerah C dulu satu keluarga," ujarku sembari membuka bungkus tape .
"Daerah C memang dikenal banyak tempat wisatanya, apalagi daerah pegunungan."
"Iya, dingin sekali. Mendiang Ibu senang sekali kesana, kalau aku lebih suka ke pantai. Tapi Ayah selalu menuruti keinginan Ibu, jadinya ya kesana terus."
Bibi Lidya tergelak, "Bibi juga lebih senang ke pantai, itu yang membuat Bibi dan Abyan sering berdebat kalau ingin rekreasi, karena pegunungan ke utara sedangkan pantai ke selatan, hahaha ...."
Ah, kenapa Bibi jadi membahas lelaki itu. Entah kenapa sejak mengetahui Asisten Yan menyukai orang lain ada sedikit rasa kecewa.
"Pasti. Tidak ada wanita tua yang tidak bahagia kalau mengetahui dirinya menjadi nenek. Bibi juga berharap, tapi sudahlah ... Lebih baik Bibi menganggap dan mengasuh bayi Nyonya saja seperti cucu sendiri."
"Bibi ingin punya cucu sendiri?"
"Tentu saja, Nona. Kelak Bibi juga ingin menimang cucu sendiri tapi ya– Bibi harus ekstra sabar karena putra Bibi saat ini enggan mencari pengganti wanita yang disukainya."
"Kenapa memangnya harus diganti?" tanyaku pura-pura tidak mengerti tapi hatiku berdebar menanti jawaban Bibi Lidya.
"Karena wanita itu tunangan orang lain dan akan segera menikah. Andai saja Abyan bertemu dengannya lebih cepat tentu ceritanya tidak serumit ini. Harusnya dia juga bisa menjaga hatinya agar tidak jatuh pada wanita yang sudah ada pemiliknya."
Kok dadaku rasanya tidak nyaman ya?
"Kalau begitu cari saja wanita lain, bukankah sekarang populasi wanita lebih banyak dari pria," ucapku canggung.
__ADS_1
"Abyan bukan lelaki yang mudah jatuh cinta. Dokter ini adalah wanita yang disukainya untuk pertama kali."
"Pertama kali?" pekikku sangat terkejut dan tidak menyangka ternyata setua ini Asisten Yan baru mengenal perasaan jatuh cinta, kemana masa pubernya?
"Oh, maaf Nona. Tidak seharusnya Bibi menceritakan anak Bibi."
Hahah ... Bibi baru menyadari kalau dia membongkar sendiri kisah asmara putranya.
"Tidak apa-apa, Bi. Cuma kaget saja, masa baru cinta per– pertama sih?" tanyaku dengan perasaan yang tidak nyaman.
"Setahu Bibi begitu. Selama ini dia membatasi pergaulan dengan teman-teman perempuannya karena ingin fokus pada studi dan pekerjaan. Tujuannya dia ingin merawat masa tua Bibi dan kesembuhan adiknya jika sudah mendapatkan penghasilan yang baik," jawab Bibi Lidya tersenyum hambar, dia pasti mengingat mendiang putrinya lagi, "Sudahlah, tidak usah membahas anak tidak tahu diri itu lagi. Bibi sakit hati pernah dimarahinya karena berusaha mencari pengganti dokter wanita itu– padahal yang Bibi lakukan untuk kebaikannya juga agar tidak terpenjara cinta yang tidak ditakdirkan buatnya."
"Eh, maaf Bi, kalau aku membuatmu tidak nyaman," sahutku tidak enak, ternyata Bibi Lidya benar-benar kecewa akan sikap Asisten Yan.
"Tidak, jangan berpikiran seperti itu. Bibi senang bisa curhat dengan Nona dan Nyonya. Kemana lagi Bibi bisa curhat? Biasanya ke Pak Sas, tapi sekarang sudah tidak bisa. Tidak enak kan, kalau kita curhat sama batu nisan?"
Ada sedikit kegetiran dalam kalimatnya, bagaimanapun juga kehilangan dua anggota keluarga dalam waktu berdekatan sangatlah menyakitkan dan sekarang ini pasti Bibi Lidya sangat kesepian, ditinggal seorang kakak dan diabaikan anaknya.
"Meski usia Nona Vania jauh lebih muda dari Abyan, tapi sikap Nona dalam menghadapi sesuatu kadang lebih dewasa darinya. Dia hanya berlagak bijak saja di depan Tuan Muda, tapi sebenarnya dia juga bingung dengan dirinya sendiri," lanjut Bibi Lidya lagi.
Aku tersenyum mendengarnya, Bibi Lidya seperti Bibi Rima yang cerewet, kalau sudah bicara tidak akan berhenti sampai unek-unek di hatinya keluar semua. Seketika aku sangat merindukan pukulan dan cubitan bibiku saat ini.
"Maaf Nona, kalau jengah dengan curhatan Bibi."
"Tidak apa-apa, Bi. Saya juga senang kok bisa mendengar Bibi cerita, mirip-mirip bibiku, hehehe ...."
"Kalau Nona Vania menyukai sosok lelaki seperti apa?" tanya Bibi Lidya yang spontan membuatku tertegun.
"Aku sangat mengagumi Ayah. Kelak suatu saat aku ingin menikah dengan sosok sepertinya– yang selalu berusaha sekuat tenaga membahagiakan Ibu dan anak-anaknya," jawabku diplomatis, tapi memang kenyataannya memang seperti itu.
"Bibi doakan kelak Nona bisa mendapatkan jodoh yang baik seperti ayah Nona."
Seulas senyuman di bibirku mendengar kalimatnya tapi kalimat Bibi Lidya selanjutnya membuatku tersedak asam manisnya tape ketan hingga terasa sampai ke rongga hidung.
__ADS_1
Abyan juga lelaki yang selalu berusaha membuat orang yang dicintainya bahagia. Andai saja Nona seumuran dengannya pasti Nona menyukainya, hahahaha ....
- Bersambung -