Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Sepupu


__ADS_3

Melewati hari menginjak pergantian bulan ke bulan-bulan berikutnya dengan penuh kehati-hatian untuk bertemu Kak Tala bukan perkara mudah. Aku selalu meminta Nezar sebagai mataku sebelum menampakkan diri di ruang terbuka kampus. Tahu susah begini sepertinya lebih baik menuruti perintah Kakak Ipar untuk pindah kampus. Hufftt ....


"Apa kau menghindari seseorang?" tanya Nezar saat aku baru keluar dari mobilku.


"Apa begitu nampak?"


"Nih orang, ditanya malah balik nanya. Kalau tidak nampak ngapain juga aku nanya," katanya, wajahnya cemberut dengan rambut ikal terlihat sangat lucu, "Bagaimana tidak nampak, mataku ini selalu menjadi CCTV berjalanmu," sungutnya lagi.


Aku tergelak. Entah kenapa juga dia mau mengikuti kemanapun aku pergi selama di kampus.


"Aku tidak ingin ketemu sama Kak Tala."


"Wow! Ternyata dia ... Sudah tahu ya?"


Aku terkesiap, sudah tahu? Sudah tahu apaan?


"Bentala itu suka jika ada cewek yang mengejar-ngejarnya, terus dengan sok kegantengan dia menolak. Bikin sakit hati!"


"Hah! Hahahaha ... Kenapa kamu yang sakit hati?" Aku tertawa keras sekali, "Aku tidak mengejarnya, Nezar. Justru aku takut dia yang mengejarku, hahaha ... dan dia memang ganteng, bukan sok kegantengan, hahaha ...."


"Cih. Makan tuh ganteng! Menang tinggi sama putih doang, kok," sahutnya sangat jengkel.


"Kenapa kamu yang marah, ha?"


"Ck. Aku tidak marah, aku hanya tidak suka–"


"Tidak suka apa?" Muncul suara seseorang yang kuhindari dari belakang.


"Kak Tala," desisku canggung.


"Dia menyukaiku atau aku menyukainya tidak ada urusannya denganmu, kan. Sebaiknya kau urusi saja fanbase Nyonya Pradipta," ketusnya tajam ke arah Nezar.


"Fanbase Nyonya Pradipta? Maksudnya?" Aku bingung.


"Eng ... eng ...." Nezar berdengung tidak jelas karena panik.


"Kau tidak tahu? ... Selama ini kalian terlihat selalu bersama tapi kau tidak tahu kalau dia admin dari akun media sosial BeautyHeartPradipta?" jawabnya pura-pura kaget melihatku kemudian kembali menatap Nezar, "Atau kau memang sengaja mendekati Nona Vania Pradipta dari awal untuk menjadikannya sumber informasi akurat? Berapa banyak keuntungan yang sudah kau dapat dari fanbase itu? Atau ada yang menyuruhmu?" cecar Kak Tala mengintimidasi.


Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. Aku berharap Nezar segera membantah semua tuduhan Kak Tala terhadapnya, tetapi dia hanya gagap menatapku dengan sorot mata pengampunan.


"Hubungan pertemanan kalian buruk karena diawali dengan ketidakjujuran. Nia, sebaiknya kau berpikir kembali untuk berteman dengannya. Kau hanya dimanfaatkan olehnya," sambung Kak Tala lagi.


Aku bergeming menatap sosok pemuda yang kukira tulus berteman denganku, ternyata hanya karena nama belakangku makanya dia mendekatiku. Cih, dia tidak ada bedanya dengan rubah licik.


"Zar, apa kau mau menjelaskannya?" tanyaku dingin.


"Umm ... Nia, a– aku, aku–"


"Tidak usah hiraukan dia. Ikutlah denganku, Nia. Aku ingin bicara padamu," pinta Kak Tala.

__ADS_1


"Nia ...." lirih Nezar.


Sayangnya aku kadung kecewa pada lelaki berambut ikal dan berkulit coklat itu. Bisa-bisanya dia menyembunyikan hal itu dariku atau apa yang dikatakan Kak Tala kalau dia memanfaatkan aku sebagai Nona Pradipta adalah benar. Aih, aku merasa benar-benar dibodohi olehnya.


"Aku masih menunggu penjelasanmu, Zar, karena selama ini kau bersikap baik padaku," sahutku sebelum aku berbalik mengikuti Kak Tala.


"Beruntung sekali dirimu mendapatkan kepercayaan Nona Pradipta. Pikirkanlah dengan baik dan katakan siapa sebenarnya dirimu daripada dia tahu dari oranglain," tandas Kak Tala dengan nada mengancam, lalu merangkulku untuk menjauh darinya.


"Apa-apaan sih! Jangan merangkulku! Aku tidak ingin membuat permusuhan dengan fans fanatik Kak Tala." Tanganku melepas rangkulannya.


Dia tergelak, "Oh ya, begitu susah-kah punya sepupu yang digandrungi kaum hawa?"


Langkahku terhenti, detak jantungku juga berhenti.


Sepupu?


Kutarik tangannya segera mencari tempat sepi, berjalan cepat tanpa sadar menggenggam tangannya sampai di pinggiran taman area kampus.


Dengan gemuruh di dada setelah aku memastikan tidak ada orang di sekitar kami, aku bertanya, "Kak Tala mengetahuinya?"


"Mengetahui apa?" jawabnya acuh dengan balik bertanya.


"Sepupu."


"Sepupu?"


"Tadi Kak Tala mengatakan sepupu."


"Aarrrgghhh!" teriakku kesal karena telah masuk dalam perangkapnya.


Dia tertawa senang, "Sudahlah, karena kita sudah saling mengetahui bisa kau ceritakan bagaimana kehidupanmu selama ini, Sepupu?"


"Shi*t!"


"Putri bangsawan tidak pernah mengumpat," ejeknya.


"Heh, siapa yang putri bangsawan. Aku hanya anak pedagang kelontong di pasar."


Kak Tala menghela nafas, ada rasa bersalah dalam helaan nafasnya, "Sepulang kami dari hotel aku terus menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orangtuaku, apalagi Ibu terus-terusan menangis. Aku tidak pernah melihatnya menangis dengan penuh penyesalan seperti itu."


"Apa yang mereka katakan padamu?" tanyaku getir.


"Semuanya. Kemarahan Tuanku Raja ketika mengetahui putri kesayangannya jatuh hati pada teman kuliahnya. Kepedihan ibumu sewaktu menerima hukuman dan pengusiran dari istana, ditambah lagi Ibunda Ratu juga diusir karena dianggap tidak berhasil mendidik putrinya. Meski begitu tidak menghapus rasa dengki Pangeran Drana terhadap Putri Mahkota. Dia mengejar dan ingin membunuh ibumu dan shinayangnya untuk menjamin mereka tidak kembali suatu hari nanti. Ayahku-lah yang membantu mereka kabur keluar dari Pulau BX, setelah itu ibumu berjanji akan menghubungi kedua orangtuaku jika mereka sudah sampai dengan aman di tempat tujuannya, Sayangnya, mereka tidak pernah menghubungi, malah kabar kematian yang diterima."


"Ya, Putri Mahkota kalian sudah mati saat itu. Jadi, aku bukan siapa-siapa bagi kalian," ujarku menegaskan.


"Nia, semua anggota keluarga kerajaan meyakini ibumu telah meninggal, hanya ibuku yang bersikukuh tidak percaya sampai membujuk ayahku untuk menyelidiki tapi akhirnya hanya jalan buntu yang mereka temui. Mereka baru menyadari setelah melihat video wisuda. Fakta bahwa ibumu saat itu masih hidup lalu melahirkan seorang putri yang menjadi Nyonya Pradipta."


"Seorang putri?"

__ADS_1


"Mereka hanya tahu karena hanya Nyonya Pradipta yang nampak, namun mereka terkejut saat aku mengatakan bahwa kau sebenarnya adik ipar Tuan Pradipta dan didukung matamu yang juga mirip dengan mata–"


"Mata ibuku," potongku.


Ternyata apa yang dikhawatirkan Kakak Ipar benar, menyematkan nama Pradipta di belakang namaku adalah bentuk perlindungan yang diberikannya. Dia tahu resiko publikasi Nyonya Pradipta saat wisuda kakakku, maka dia melakukan segala cara untuk melindungi kami.


Aku ingat setelah masa Ospek selesai dan setiap bertemu Kak Tala, dia selalu menanyakan apakah aku adik Kakak Ipar. Ketika itu aku tidak tahu tujuan Kakak Ipar mengangkatku sebagai adiknya, malah dengan gamblang mengatakan bahwa sebenarnya aku adalah adik ipar yang diberi nama Pradipta.


"Nia, kau bisa mempercayaiku. Banyak intrik kerajaan yang penuh dengan kelicikan dan keserakahan. Ayahku berpesan untuk menjauhimu demi keamanan kalian."


"Lalu kenapa Kak Tala mendekatiku sekarang?"


"Aku penasaran apakah kau tahu identitasmu? Sebab itu aku tadi memancingmu dan– kau terpancing, hahaha ...."


Aku mendengus kesal, aku yang biasanya selalu waspada ternyata bisa lengah juga.


"Apa ibumu yang menceritakannya padamu?"


Aku melihat ke dalam maniknya, memastikan tidak ada kebohongan disana.


"Kau bisa percaya padaku, Vania. Aku akan melindungimu. Aku diajarkan sebagai lelaki untuk selalu menjaga ucapanku, tidak berjanji jika ragu bisa menepatinya."


Tatapan matanya jujur bahkan dia berani menatapku, "Matamu mirip dengan mata kakakku, karena itulah aku sangat terkejut saat melihatmu pertama kali. Aku heran darimana matamu kau dapatkan, benar saja itu dari Tuanku Raja."


"Tuanku Raja?"


"Ya, diantara semua turunannya yang memiliki matanya hanya kakakku. Dia menjadi kesayangan raja karena itu. Ternyata ada dua cucunya yang mewarisi matanya."


"Heh. Secara biologis mungkin dia kakekku tapi selama aku hidup kami, anak-anak Ibu, tidak merasa punya kakek ataupun nenek."


Dia diam dan aku tersenyum, "Aku tidak sengaja mendengar semuanya ketika Bibi Rima menceritakan asal usul dan masa lalu ibuku pada Tuan Muda Pradipta. Bibi meminta untuk melindungi kami dari buruan saudara ibu yang jahat."


"Siapa Bibi Rima?"


"Shinayang Putri Mahkota, itu namanya setelah memalsukan kematiannya sendiri."


Mata Kak Tala membulat, "Dimana dia sekarang?"


Aku menggeleng, "Tidak tahu. Setelah wisuda Kak Litha, Bibi dan suaminya pulang ke Kota A lalu menghilang. Mereka sengaja menjauhi kami supaya terhindar dari saudara ibu yang jahat. Dia hanya berpamitan melalui surat, Bibi juga tidak tahu kalau aku menguping ceritanya."


Mungkin karena nada suaraku yang semakin pelan, Kak Tala meraih pundakku dan memeluk dengan erat. Tidak terasa airmata hangat keluar dari sudut mataku. Entah mengapa aku percaya dengannya.


Tapi ... aku seperti melihat sesuatu yang familiar dari balik pohon-pohon pucuk merah yang ditata seperti pembatas antara lingkungan kampus dan area parkir. Segera aku melepas pelukan Kak Tala, untungnya dia tidak menyadari apa yang kulihat barusan.


"Nia, walau nanti kalian tidak kembali ke istana tapi rumah orangtuaku terbuka lebar menyambut kalian." sahutnya memegang pundakku dengan kedua tangan dan mata kami yang saling menatap.


Aku mengangguk, "Terimakasih, Sepupu. Salam buat kedua orangtua Kak Tala."


Aku kembali ke kampus, mencari pemuda yang telah mengelabuiku selama ini. Pantas saja dia begitu ketakutan berhadapan dengan Kakak Ipar karena dia punya dosa besar padanya. Nezar Abigail, siapkan dirimu!

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2