Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Akhir dari Kencan Pertama (Part 2)


__ADS_3

Jarum pendek di jam dinding ruang kerja Tuan Muda Pradipta menunjuk ke angka sebelas sedangkan jarum panjangnya ke angka delapan. Ya, dua puluh menit lagi sudah berganti hari tetapi tunanganku belum juga datang.


"Kak, aku ngantuk. Besok saja ya," rengekku setelah menguap beberapa kali.


"Tidak bisa. Aku bukan orang yang suka menunda apapun. Sampai pagi pun kita tetap disini menunggu. Bibi tidak keberatan kan, menemani kami disini sampai Abyan datang."


Bibi Lidya mengangguk. Kakak Ipar sengaja memintanya untuk ikut menunggu– hanya sampai Asisten Yan datang agar tidak menimbulkan fitnah berduaan denganku di ruang kerja sementara istrinya tidur di kamar bersama Baby Zean. Tetapi dia juga meminta agar Bibi Lidya meninggalkan kami setelah putranya datang untuk menjaga perasaan wanita paruh baya itu dan harga diri sahabatnya di depan sang ibu.


Aku senyum-senyum sendiri melihat dua bungkus nasi kucing yang -tadi dibeli seharga dua juta- kini tersisa bungkusnya di samping laptop Kakak Ipar. Sambil menunggu dia melihat email dan melakukan beberapa pekerjaan kantor.


"Ditinggal Kak Litha tidur, akhirnya nasi kucingnya dimakan Kakak sendirian, hehehe ...." bisikku pada Bibi Lidya.


"Iya, malah katanya nasi kucing itu ternyata enak dan menggemaskan karena kemasannya mungil," balas Bibi Lidya ikut berbisik.


"Bibi tahu harganya?"


Calon ibu mertuaku menggeleng, kuangkat saja jari telunjuk dan jari tengahku.


"Dua, dua ribu?" tebaknya.


Aku gantian menggeleng. Bibi Lidya mengernyit bingung.


"Dua juta," bisikku lagi.


"HAH!"


Spontan kutepuk paha Bibi Lidya sebab Kakak Ipar melirik kami yang asyik membicarakannya.


Hening sejenak, sampai aku kembali memulai obrolan kembali, "Bi, kok tumben Kak Litha pengen makan nasi kucing malam-malam?"


"Tidak tahu, Nona. Nyonya juga menutup hidungnya setiap mencium aroma kopi, disuruhnya Pak Is ke rumah pelayan di belakang kalau ingin minum kopi."


"Apa Kak Litha hamil ya? Tingkahnya kayak orang ngidam begitu."


Bibi Lidya mengangkat bahunya, "Nyonya juga lebih sensitif akhir-akhir ini, selalu dihinggapi perasaan sedih setiap melihat Tuan Muda Kecil padahal seminggu lagi ulang tahunnya."


"Mungkin ada persiapan yang belum dilakukan?"


"Sepertinya tidak, Nona. Semuanya sudah siap."


"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Kakak Ipar mengangkat wajahnya dari layar laptop di meja kerja.


"Engg ... tidak– tidak ada," jawabku.


"Sudahlah Nia, jangan berbohong."


"Nona hanya menanyakan perihal Nyonya yang sedikit lain dari biasanya," ujar Bibi Lidya membantuku menjawabnya.


"Litha-ku? Kenapa dia?"


"..."


"Apa menurut Kakak belakangan ini Kak Litha sensitif tidak?"


"Umm ... sensitif? Entah ya, kalau lebih hot dan sexy iya."


Hah.


Aku dan Bibi Lidya saling berpandangan, kami tahu apa maksud dari Tuan Muda Pradipta meski tidak terucap gamblang. Aih ... Kakak Ipar ini, ditanya lain jawabnya lain.


Tok. Tok. Tok.


"Masuk."


Pintu perlahan dibuka, penampilan sosok yang ditunggu nampak berantakan.


"Abyan!" seru Bibi Lidya mendekati putranya di ambang pintu dan nampak mengatakan sesuatu yang membuat tunanganku termangu. Entah apa itu.


"Bibi permisi istirahat dulu, Tuan," pamit Bibi Lidya sebelum meninggalkan ruangan.


"..."


Untuk beberapa saat, suasana di ruang kerja menjadi sangat canggung. Asisten Yan duduk di hadapanku, namun ada yang kurang dari penampilannya.


"Dimana jaketmu?" tanyaku.


"..."


Walaupun dia tidak menjawab pertanyaanku tapi aku tahu dimana jaket itu berada sekarang dan aku hanya memasang senyum palsu di wajah.


"Kenapa kau tinggalkan adikku sampai dia harus bersama Nezar di kencan pertamanya? Sudah kubilang bawa dia kembali pulang utuh seperti kau membawanya pergi."

__ADS_1


Kakak Ipar berdiri di belakangku yang duduk di sofa. Bahasa tubuhnya berkata dia akan menjadi sandaranku dan aku bisa mengandalkannya. Kakak Ipar memainkan peran kakak laki-laki yang selama ini aku impikan– sebagai pembelaku.


"Nezar? Kau bersamanya saat a–"


"Aku bertanya padamu, Abyan!" hardik Kakak Ipar mencengkram sandaran sofa untuk mengendalikan emosinya.


Asisten Yan sedikit menghela nafas, "Dia membutuhkan bantuanku. Aku hanya membawa suaminya ke rumah sakit dan sedikit menenangkannya. Tidak lebih."


"Siapa?" tanya Kakak Ipar dingin, rahangnya mengeras.


"Vivian."


"KAU!"


"KAK! HENTIKAN!"


Aku memekik menahan Kakak Ipar yang telah menarik kerah baju tunanganku dan siap meninju mukanya. Menahan lengannya yang besar sampai posisiku seperti bergelantungan di lengannya.


"Hentikan, Kak. Aku mohon ..."


Inilah yang aku takutkan selama ini. Persahabatan mereka terancam karena diriku. Aku tidak ingin menjadi penyebab rusaknya hubungan persahabatan solid mereka. Dalam hidup Kakak Ipar hanya memiliki dua teman dekat saja, Bona Santoso dan Abyan Pratama. Yang terakhir disebut adalah tunanganku sekaligus asisten untuk urusan kantor maupun pribadi. Bisa dibayangkan, dilemanya perasaanku saat ini, bukan?


Dihempaskannya tubuh sahabatnya dengan kasar, "Kau masih menyimpan rasa buat dokter itu walaupun dia sudah menikah? Apa kau ingin menjadi perebut istri orang, hah?"


"Aku hanya membantunya saja," jawab Asisten Yan tenang.


"Oh ya? Konyol sekali, dengan relasinya yang lumayan luas, dia hanya bisa meminta bantuan padamu? Hanya dua kemungkinan, kau masih berharap padanya atau otakmu korslet!"


"Ray, kehidupannya setelah menikah rumit untuk dijelaskan."


Kakak Ipar mengernyitkan dahi, mencoba mencerna kalimat Asisten Yan dan tiba-tiba kakinya mengarah cepat akan menendang tunanganku dalam kondisi duduk. Ini bisa mengenai dadanya. Akupun tidak kalah cepat menangkap kaki Kakak Ipar dan menahannya sekuat tenaga meski tendangannya sedikit mengenai tulang rusukku.


"NIA!"


Kakak Ipar dan Asisten Yan memanggil namaku bersamaan. Setelahnya, Kakak Ipar menarik kakinya dan membopongku duduk kembali ke sofa.


"Kau tidak apa-apa? Apa mengenaimu?"


Aku menggeleng, dengan sangat kesal dia memarahiku, "Bodoh! Seharusnya kau tidak menghalangiku!"


"Kak," Kutatap manik Kakak Ipar memohon, "Bisa kan, dibicarakan baik-baik?"


Dia duduk di sampingku, menghela nafas sembari mengusap rambutnya dengan kasar.


Kakak Ipar akhirnya sudah bisa sedikit mengendalikan emosinya. Sayangnya, Asisten Yan hanya diam tanpa sepatah kata pun terucap dari mulutnya.


"Hubungan pertunangan kalian selesai sampai disini," kata Kakak Ipar dingin.


"Ray!" seru tunanganku tidak terima sedangkan aku hanya diam saja, pikiranku kosong.


"Kenapa? Bukannya kau harusnya senang, kau bisa lepas dari ikatan yang dibuat Vania," sindir Kakak Ipar.


"Aku tidak ingin memutuskan pertunangan ini. Aku mulai menyukai adikmu, Ray."


"..."


"Hahahaha ...."


Suara tawa Kakak Ipar membahana, tapi tidak lama, "Lalu kenapa kau masih peduli pada Vivian?" tanyanya tajam.


"Kasihan. Aku hanya kasihan padanya karena mengurus suami yang lagi sakit dalam keadaan hamil sendirian. Keluarga suaminya tidak peduli sedikitpun dengannya, malah menuduhnya yang tidak-tidak."


"Wow! Luar biasa! Begitu kasihannya hingga tidak jelas batas pedulimu antara orang yang pernah kau sukai dengan yang kau sukai sekarang," sindir Kakak Ipar bersorai bertepuk tangan.


"Besok aku akan memecat dokter itu dan menerbitkan rekomendasi buruk atas kinerjanya agar dia tidak bisa bekerja di rumah sakit manapun di Ibukota dan sekitarnya."


Mataku membulat, begitupun Asisten Yan. Aku sama sekali tidak menyangka Kakak Ipar mengambil keputusan seperti ini.


"Harusnya kau tahu bagaimana aku menyikapi suatu hal yang tidak aku senangi kan, Yan? Apa kau lupa siapa tunanganmu? Dia memiliki nama Pradipta di belakang namanya," tandas Kakak Ipar tegas.


"Tapi kau juga tidak bisa tidak se-manuasiawi itu, Ray! Vivian sedang hamil dan suaminya sedang sakit parah. Justru mereka membutuhkan banyak bantuan moril dan materil," protes Asisten Yan.


"Kalau mereka membutuhkan bantuan, kau bisa daftarkan mereka di yayasan sosial milik Pradipta untuk menerima bantuan," ejek Kakak Ipar yang menyulut amarah tunanganku.


Asisten Yan seketika berdiri hendak mengumpat Kakak Ipar. Aku pun langsung ikut berdiri dan maju menangkis tatapannya yang menusuk manik kakak iparku.


"Kau ternyata memang superhero-nya, Abyan Pratama."


Asisten Yan tentu kaget aku menyebut nama lengkapnya. Ini pertama kali aku menyebutnya seperti itu– pertanda aku sudah jengah dengan sikapnya.


"Sebagai tunanganmu aku akan membantumu membujuk Kakak mengurungkan niatnya memecat Dokter Vivian. Duduklah dan jaga sikapmu pada kakakku. Tidak pantas kau ingin menyerangnya. Kalau sampai itu terjadi, maka aku yang kau hadapi secara terang-terangan," ancamku.

__ADS_1


Dia menurut, duduk kembali ke tempatnya.


"Kak, boleh aku meminta sesuatu?" pintaku.


"Apa?" tanya Kakak Ipar.


"Pertunangan ini tetap berlanjut sampai pada waktunya seperti kesepakatan awal. Apa yang sudah aku mulai akan aku selesaikan. Apa yang sudah terjadi, aku menganggapnya sebagai konsekuensi."


Tuan Muda Pradipta memandangku lekat, aku tahu dia ingin menolaknya tapi dia juga tidak bisa mengatakan tidak pada sepasang mata yang mirip dengan mata istrinya.


"Silahkan, itu akan semakin menguatkan alasanku memecatnya– agar tidak menjadi duri dalam hubungan kalian," kata Kakak Ipar.


Kupandangi Asisten Yan yang menahan diri untuk tidak terprovokasi dengan ucapan Kakak Ipar, aku tersenyum getir.


"Kak, tidak perlu sampai memecatnya. Memecat seorang karyawan dalam keadaan hamil karena alasan pribadi akan membuat citra Pradipta Corp. buruk dan menjadi sasaran kritik publik."


"Tapi Nia, itu akan–" sanggah Kakak Ipar.


"Menyakitiku? Tidak masalah, aku dijuluki Xena oleh keluargaku tentu ada alasannya. Salah satunya menghadapi situasi begini " elakku sok kuat menjaga harga diriku di depan mereka.


"Kau yakin?"


"Dengan alasan kemanusiaan– aku yakin, Kakak." Mataku mengerling tersenyum ke arah tunanganku, "Benarkan, Tuan Asisten-ku?"


Uhuk.


"Tuan Asisten-ku?" tanya Kakak Ipar kaget.


"Iya, panggilanku buatnya, hehehe ...."


"Cih."


"Nia, maafkan aku," sahut Asisten Yan tiba-tiba.


Aku menghela nafas, mencoba tersenyum, "Tidak apa-apa. Masih banyak waktu untuk mengulangi kencan kita lagi. Semoga saja saat itu dia tidak meminta bantuanmu lagi, mengantarnya melahirkan misalnya, hahaha ...."


"Jika terjadi lagi, aku pastikan besoknya dia tidak akan pernah menggunakan jas dokter lagi," kata Kakak Ipar memberi peringatan.


"Tidak akan, Kak. Tunanganku akan menolaknya setiap ada permohonan bantuan darinya. Bukan begitu, Tuan Asisten-ku?"


"Ya." jawab tunanganku singkat.


"Oh ya, satu lagi. Jangan biarkan Kak Litha tahu apa yang terjadi malam ini, Kak. Biarkan dia tahu kalau kami menghabiskan kencan pertamaku dengan bersenang-senang," pintaku pada Kakak Ipar.


"Kau mau merahasiakan darinya?"


"Iya."


"Kenapa?"


"Alasan yang sama seperti yang Kakak sampaikan padaku," jawabku beralasan, "Kesusahan aku dan Kak Tisha adalah bebannya. Dia sudah cukup terbebani dengan selalu memikirkan Paman Tino dan Bibi Rima yang keberadaanya tidak jelas sampai saat ini. Jadi, setidaknya aku bisa mengurangi sedikit bebannya."


"..."


"Baiklah, kalau itu mau-mu. Kau masih ingat, kan? Kakakmu pernah mengatakan, kami akan selalu mendukung kebahagiaanmu, Nia– apapun itu. Jangan pernah ragu untuk melangkah."


Aku mengangguk, "Sudah selesai, kan? Apa aku boleh ke kamar sekarang?" tanyaku pada Kakak Ipar.


"Ya, istirahatlah. Bermimpilah yang indah karena kau sudah melewati hari yang buruk," jawabnya mengizinkan.


Semoga aku bertemu Ibu dan Ayah lagi.


Aku keluar dengan langkah gontai, setelah melewati pintu ruang kerja, aku melepaskan topengku. Ah, betapa sulit harus nampak baik-baik saja. Aku menyembunyikan perasaan terluka dan kecewa di depan mereka. Hebatnya– tidak ada lagi airmata yang membasahi pipi.


"Nona."


Suara Bibi Lidya memanggilku, ternyata dia menunggu kami di dapur. Ada segelas susu coklat yang masih hangat di atas nampan yang dia bawa.


"Nona boleh meminumnya di kamar,"


Kuambil gelas dan berkata, "Terimakasih, Bi."


"Tidak peduli apa yang terjadi, Bibi akan selalu bersama Nona."


Aku tersenyum, "Besok kita jalan ke mal ya, Bi."


"Siap."


Begitulah hubunganku dengan calon ibu mertuaku. Tidak tahu apakah kelak beliau akan menjadi ibu mertuaku yang sesungguhnya atau tidak, padahal selama ini kami terlanjur nyaman bermain peran ibu-anak.


Hmmppffhhh .... Abyan Pratama, andai saja perasaan kita saling berbalas, aku akan sebahagia Ayah Ibu dan Kak Litha. Tapi aku juga menyadari, bahwa tidak perlu terlalu bersedih karena masih ada Kak Tisha yang juga tidak tahu cinta sejatinya ada dimana.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2