
Pukul 01.45 dini hari aku tersentak bangun begitu saja tanpa penyebab ataupun mimpi buruk. Mataku terbuka begitu ringan dan membawa alam pikiranku pada sosok lelaki bernama Abyan Pratama yang lebih tua 12 tahun dariku.
Aku pun merenungi kenapa tidak bisa mengendalikan diri saat memikirkan atau berdekatan dengannya. Jika senang, aku menunjukkannya dengan sangat antusias, begitupun sebaliknya jika marah atau kesal aku kehilangan ajaran sopan santun yang selalu diajarkan Ayah dan Ibu.
Apa aku menyukainya? Dan aku cemburu mengetahui dia menyukai orang lain? Kenapa aku sangat kesal setiap mendengar nama wanita itu?
Aku melengos menyadari ada sesuatu yang tidak aku mengerti sebelumnya. Kukira hanya sekedar mengaguminya saja– mengagumi sikap dewasanya dalam berpikir dan bertindak namun ternyata dia juga memiliki rasa egois dan keras kepala layaknya bocah.
Ironis, disaat hatinya mencintai orang lain, dia terikat pada sebuah mitos. Manakah yang lebih kuat, cinta pertama atau kekuatan leluhur? Misal dirinya takluk pada mitos itu, apa aku senang? Tentu tidak! Meski aku menginginkannya tapi aku ingin rasa itu hadir secara alami bukan karena kekuatan apapun.
Aku bangun dari tidurku mengintip langit dengan menyibak gorden jendela kamar. Bulan bulat penuh disana dengan pendar cahaya kuning, mengalahkan cahaya bintang di sekitarnya. Serasa ada perasaan aneh saat mengamati bulan itu, perasaan dipeluk dan dibelai Ibu.
"Jika saja dia menciumku dengan perasaan yang sama denganku, aku tidak mungkin terluka ... Betapa menyedihkan diriku mengalaminya disaat pertama, cinta dan ciuman pertamaku. Ah sudahlah– terserah dia melakukan apapun, dengan siapapun dan dimanapun, itu bukan urusanku. Diriku ini lebih berharga ... Aku hanya perlu mematikan rasa untuknya yang terlanjur tumbuh tanpa disadari. Aku akan belajar dan berlatih lebih banyak, rajin membangun koneksi dengan citra yang baik dan semakin menguatkan diri," ujarku bermonolog menatap Sang Bulan.
Asisten Yan adalah pembelajaran dalam hidupku setelah kematian Ayah dan perundungan Serena. Aku harus menghadapinya, tidak boleh lari apalagi menyerah. Ayah memberiku julukan Xena-nya Aryasena bukan tanpa alasan tapi karena aku adalah seorang petarung sejak kecil, pembela keluarga yang maju paling depan jika ada yang berkata buruk.
Jadi, tidak peduli kebenaran akan kutukan wanita Suku Ragnaya, aku tetap harus berdiri tegak di depannya dengan mengangkat wajahku. Menunjukkan padanya bahwa meski rupaku seperti bulan kesiangan, aku tidak pernah ragu akan diri sendiri ... Aku Vania Kirana Larasati aku percaya diri dan istimewa.
...***...
Keesokan pagi kami sarapan bersama di meja makan seperti biasanya, hanya saja kehadiran Asisten Yan yang belum muncul mengakibatkan raut wajah Bibi Lidya menjadi suram.
"Dimana anak itu?" gumam Bibi pelan tapi suaranya masih dapat kami dengar karena saat itu tidak ada percakapan di atas meja makan.
"Mungkin macet, Bi," jawab Kak Litha tanpa diminta dengan mengusap perut besarnya.
"Awas saja kalau dia tidak datang sekarang! Bibi akan pulang ke Daerah C siang ini."
"Bibi ...."
Suara Kak Litha sendu menggenggam erat tangan Bibi Lidya yang duduk di sampingnya. Dia pasti sedih karena akan ditinggal sosok ibu menjelang persalinannya.
"Mas," panggil Kak Litha dengan menoleh pada Kakak Ipar. Suaranya lebih sendu bahkan matanya sudah berkaca, meminta suaminya bagaimana cara mencegah Bibi Lidya agar tidak pulang kampung.
"Dia harus meminta maaf pada Nona Vania, Nyonya. Kemarin dia melakukan hal yang membuat Nona sedih. Dia harus bertanggungjawab dengan perbuatannya."
Bertanggungjawab.
Uhuk.
Apa bentuk pertanggungjawaban dari ciuman paksa?
"Tapi Bibi tidak harus pergi, kan?" bujuknya mengusap matanya yang berair.
Kulihat Kakak Ipar mengambil ponsel yang berada dekat piringnya dengan gusar, "Tidak apa-apa, Bi. Bibi kan, sudah membalaskan dendam untukku, aku sudah puas," kataku ikut membujuk Bibi Lidya agar mengurungkan niatnya.
"Balas dendam? Memangnya apa yang dia lakukan? Dan apa yang Bibi lakukan padanya?"
" ... "
Sepertinya aku salah bicara, Kak Litha adalah pengamat dan penganalisa paling baik yang pernah kutemui. Kecerdasan otaknya membuat dia selalu berpikir kritis meski terlihat tenang.
"Yan, kau dimana? Segera datang kesini sekarang! Aku tidak mau istriku menangis karena Bibi mau pulang kampung gara-gara anaknya lari dari tanggung jawab. Kalau sampai itu terjadi Vivian akan kupecat dan jangan harap dia bisa bekerja di rumah sakit lain."
__ADS_1
Kakak Ipar langsung menutup telepon setelah memberi perintah dengan emosi. Dia sangat kesal melihat airmata istrinya jatuh bahkan sampai mengancam akan memecat– wanita itu.
"Sudah tidak apa-apa. Bibi tidak akan pulang ... Sebentar lagi Abyan akan datang. Jangan menangis, kalau kau sedih bayi kita juga bisa merasakannya," ucap Kakak Ipar menenangkan hati Kak Litha sembari mengusap perut dan mencium keningnya. Aih, melihatnya membuatku jadi iri.
Kakakku mengangguk dan tersenyum, Kakak Ipar berhasil menghiburnya. Entah mengapa mood-ku jadi tidak sebagus sebelum Kakak Ipar menyebut nama dokter itu. Oh tidak! Aku sudah berikrar kalau aku tangguh dalam situasi apapun, masa hanya karena mendengar satu nama, mood-ku jadi terusik. Mental macam apa itu?
Sekonyong-konyong ada langkah kaki berderap cepat dari arah ruang tamu.
"Kau gila Ray! Apa maksudmu mengancamku dengan orang lain!" tukasnya kasar begitu dia melihat Kakak Ipar.
"ABYAN! Jaga sopan santunmu!" marah Bibi Lidya pada putranya yang langsung membuat Asisten Yan terdiam seribu bahasa.
Hening. Semuanya canggung.
"Aku tahu adikmu sangat menyukai coklat buatan suami istri Tubagus. Aku meminta mereka membuatnya pagi ini sebagai permintaan maaf karena ceroboh mengajari Vania kemarin, makanya aku terlambat ikut sarapan," ujar Asisten Yan memberi alasan keterlambatannya sembari mengeluarkan sekotak coklat dari dalam tas kertas yang ditentengnya.
Ya, aku memang sangat menyukai coklat itu. Coklat yang diberi nama sama dengan pembuatnya, Tubagus. Penjualan coklat mereka tidak menggunakan sistem ready stock melainkan dipesan terlebih dahulu baru dibuatkan sesuai request dari Si Pemesan. *R*equest yang paling diminati biasanya coklat dengan isi kacang-kacangan atau potongan buah segar.
"Vania? Kau menyapa Nona langsung dengan namanya?" tanya Bibi Lidya tidak terima.
"Dia yang memintaku memanggilnya seperti itu. Tanyakan saja padanya. Apa di mata Ibu aku selalu salah bersikap?"
Dug.
Kakak Ipar mengepalkan tangannya dan memukul ringan meja makan, menoleh ke arah sahabatnya dengan sinis, "Yan, kau kenapa? Bibi hanya bertanya padamu. Kau tidak perlu menjawabnya seketus itu."
Suara Kakak Ipar berubah dingin. Sepertinya atmosfer sarapan pagi ini akan semakin runyam jika aku tidak turut menengahi, apalagi Kak Litha terlihat mengusap-usap perutnya dan sedikit meringis akibat kontraksi karena suasana hatinya sedang tidak bagus.
"Kau memberiku coklat? Isi apa?"
"24 bagian dengan isian kacang-kacangan semua."
Glek.
"Kacang-kacangan?" Suara Kak Litha mengagetkan kami semua.
"Kenapa?" tanya Kakak Ipar.
"Nia ti–"
"Aku menyukainya. Terimakasih Asisten Yan. Duduklah dan habiskan sarapanmu dengan baik karena setelah ini kita akan belajar mengemudi lagi," ujarku memotong kalimat Kak Litha yang kalau diucapkan akan membuat suasana menjadi kembali canggung, "Oh iya, Bi. Kemarin aku yang meminta Asisten Yan memanggil langsung namaku biar lebih akrab saat belajar."
"Kau masih mau lanjut belajar? Bukan kah kemarin kau–"
"Itu hanya emosi sesaat, Kakak Ipar. Aku mengaku salah karena kemarin tidak fokus belajar sehingga aku salah menginjak pedal ... Aku minta maaf telah merusak kandang burung dan mobil Kakak. Kuharap Kakak tidak memintaku ganti rugi karena aku tidak punya uang untuk menggantinya," ujarku setenang mungkin, mengaku salah dan meminta maaf bukan berarti kalah.
"Aku yang akan menggantinya, Nia. Kau belajarlah serius karena kelak kau akan membutuhkan kemampuan mengendarai mobil."
"Bukannya Kak Litha menentangku belajar menyetir?" tanyaku memicingkan mata.
"Kakakmu membuka mataku. Selama ini aku takut kau terluka dan sedih. Aku tidak mau melihatmu menahan kesakitan dan tangismu lagi. Tapi aku lupa kalau kau adalah Xena-nya kami yang tangguh, yang tidak mudah menangis jika tidak benar-benar sakit. Semangatlah belajar agar kau bisa mendapatkan impianmu." ujar Kak Litha memberi semangat.
Aku begitu terharu. Dari posisi duduk yang berhadapan dengan kakak perempuanku itu, aku langsung berlari membelakangi Kakak Ipar untuk memeluknya dengan membungkuk. Inilah yang aku butuhkan sejak kemarin– memeluknya menenangkan hatiku, tapi sekarang dirinya selalu dikuasai Kakak Ipar.
__ADS_1
"Jangan terlalu lama memeluknya, bayiku masih ingin makan."
Aku melepas pelukan, "Ck, kenapa setelah menikah aku susah sekali memeluk kakak sendiri? Pawang Kak Litha terlalu egois, bisa-bisa nanti dia juga bersikap begitu sama keponakanku," protesku sambil berjalan kembali ke kursi.
"NIA! Jangan memancingku! Duduk dan habiskan sarapanmu," titah Kakak Ipar, "Kau juga Abyan. Apa tidak capek berdiri dari tadi? Habiskan sarapanmu dan ajari Vania dengan benar."
Asisten Yan menurut dan mengikuti di belakangku untuk duduk di kursinya yang berada di sisi kananku.
"Dan Bibi jangan pernah berpikir untuk meninggalkan rumah ini tanpa persetujuan istriku," tegasnya lagi.
"Ba– baik, Tuan."
"Juga Pak Is," katanya menatap sekilas Kepala Pelayan yang sudah mengabdikan hidupnya sebelum Tuan Muda Pradipta lahir.
"Pak Is?" tanya kami semua keheranan.
"Apa aku perlu membawamu ke dokter mata? atau ke dokter telinga? Demi hati angsa dan seporsi bekicot, kau menutup mata dan telingamu hingga aku meraba-raba apa yang sebenarnya terjadi di rumahku sendiri," sindir Kakak Ipar yang seketika membuat Pak Is memucat dengan posisi berdiri seperti patung di dapur rumah utama.
Aku mengode Bibi Lidya dari seberang meja, pikiran kami sama, darimana Presdir arogan ini tahu.
"Apa kangan-jangan Kakak Ipar sudah tahu perihal Asisten Yan menciumku?" tanyaku gusar dalam hati.
Suasana kembali dingin dan canggung, tidak ada yang berani berbicara. Kak Litha peka, dia banyak bertanya hal-hal kecil dan ringan pada Kakak Ipar, sesekali mengomentari jawabannya dengan tawa hingga senyum Kakak Ipar kembali mengembang. Kami semua pun bisa lega bernafas setelah beberapa saat tersendat.
.
.
.
"Maaf."
Seutas kata terlontar pelan dari mulut lelaki yang beraroma mint saat aku akan belajar mengemudi. Aku menyukai aroma segar itu.
"Maaf untuk apa?"
"Perbuatanku kemarin."
"Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi. Aku maafkan atau tidak, itu tidak akan mengubah apapun yang sudah berlalu. Jadi– demi kebaikan bersama aku akan memaafkan meski sangat menyayangkannya," sahutku dengan datar tanpa melihatnya.
"..."
"Aku mengimpikan akan melakukan ciuman pertamaku dengan orang yang kucinta dan mencintaiku, agar punya kesan mendalam. Tapi– setidaknya walaupun impianku gugur aku tetap punya kesan mendalam ... Ciuman paksa tanpa perasaan."
"..."
Aku menghadap ke arahnya yang bingung menanggapi ucapanku, menatapnya langsung dengan serius.
Ya Tuhan, kenapa aku bisa se-percaya diri ini?
"Aku menyukaimu, Asisten Yan."
Matanya terbelalak, tubuhnya kaku dan mulutnya setengah terbuka tanda dia mendapat serangan kejut luar biasa.
__ADS_1
"Hahaha ... Kau kira aku akan membiarkanmu begitu saja tanpa mempertanggungjawabkan perbuatan cabulmu itu? Seperti yang kau bilang, aku memang anak bau kencur, tapi yang tidak kau ketahui adalah akar rimpangku tidak mudah tercerabut karena sudah mengakar kuat menembus batu."
- Bersambung -