
Aku, Kak Litha, Kakak Ipar dan Asisten Yan menyambangi hotel bintang lima di kawasan pusat Ibukota. Cukup mewah karena kedua mempelai memiliki status sosial yang baik di masyarakat, terlebih ada dukungan langsung dari Tuan Muda Pradipta.
"Kau siap, Yan?" tanya Kakak Ipar selagi mau turun dari mobil. Aku yang duduk di samping kursi pengemudi melirik sekilas ke arah sopir mobil, Asisten Yan.
"Apa aku terlihat menyedihkan?" ucapnya.
Aku tergelak, sendirian. Semua menatapku, mengerikan.
"Oke, baiklah. Ayo kita turun, tentunya makanannya tidak sepahit perasaanmu, Asisten Yan," ujarku membuka pintu mobil.
"Nia, apa kau tidak bisa menjaga mulutmu? Maaf Asisten Yan, anak itu bicara sembarangan," kata Kak Litha saat aku keluar dari mobil.
Hebat juga Asisten Yan memberanikan dirinya datang ke acara pernikahan wanita yang disukainya, bersikap seolah-olah sudah move on, padahal kalau dia memintaku untuk menggandeng lengannya untuk menyelamatkan harga dirinya di depan pengantin wanita aku juga tidak keberatan, kok, tapi ya sudahlah ... mungkin dia ingin menunjukkan kekuatan hatinya.
Acara resepsi pernikahan digelar di aula lantai teratas hotel. Di lantai ini terdapat dua aula besar yang malam ini digunakan semuanya, pantas saja suasana begitu ramai dan sepertinya acara sebelah pun tidak kalah mewah.
"Ray, menurut info di aula sebelah adalah acara pertunangan Tuan Dandi," bisik Asisten Yan ketika kami akan masuk ke dalam aula tapi aku masih bisa mendengarnya.
"Dandi, CEO PT. Anugrah Bara Semesta?" tanya Kakak Ipar menahan suaranya yang terkejut. Sang Asisten mengangguk sekali.
"Kenapa Mas, ada masalah?" tanya Kak Litha mendengar keterkejutan suaminya.
"Tidak– tidak ada. Ayo kita segera masuk!" ajak Kakak Ipar mengeratkan gandengan istrinya di lengan sembari berjalan masuk ke dalam aula.
Hampir semua tamu undangan mengenal Kakak Ipar sebagai Tuan Muda Pradipta sampai kedua kakakku sibuk meladeni sapaan mereka, sedangkan Asisten Yan menjaga jaraknya dari Kakak Ipar dan Kak Litha meski mereka selalu dalam pengawasannya. Aku tahu dia mengalihkan pikirannya agar tidak terfokus pada si mempelai wanita yang diam-diam mencuri pandang pada Asisten Yan.
Aku jengah sendirian di tengah acra resepsi yang penuh dengan kata-kata manis, akhirnya memilih berpisah dari kedua kakakku dan Asisten Yan. Berjalan-jalan keluar dari aula, masuk ke dalam lift dan turun ke lobby dimana ada taman hotel nan asri yang beratapkan langit. Malam ini cerah, ada beberapa kerlip bintang menemani bulan sabit, daripada aku canggung di tengah-tengah acara itu, lebih baik aku menikmati langit malam ini. Kenapa juga aku ingin ikut? Apa peduliku dengan Asisten Yan sampai harus mengikutinya, aih ....
"Vania?"
Aku berbalik, mataku terbuka lebar mendapati sosok pria berkharisma dengan pakaian formal yang belum pernah kulihat dia memakainya.
"Tampan juga dia," bathinku.
"Aku ragu ingin menyapamu saat keluar lift, makanya aku ikuti sampai disini. Kau– cantik sekali, warna Midnight Blue gaunmu sangat indah melekat di kulit putihmu yang seperti salju."
Ya Tuhan, dia mulai menggodaku lagi. Kukira dari tampangnya, dia seperti gunung es di kutub selatan. Diam tanpa ekspresi dengan tatapan yang membekukan lawan bicaranya, ternyata sisi lainnya sangat bertentangan dengan fakta yang terlihat.
"Wajahmu merona, meski langit samar memperlihatkannya, tapi aku bisa melihat jelas ada semburat warna musim semi di pipimu."
"..."
Aku benar-benar mati kutu dibuatnya. Dia sungguh detail dan peka. Ingin aku meneriakinya, 'Berhenti menggodaku! Aku ini sepupumu!'
"Apa kau menghadiri sebuah acara?" tanyanya.
Aku mengangguk, "Kolega kakakku menggelar resepsi pernikahan di atas tapi aku bosan, jadi aku turun ke bawah."
"Lantas kenapa kau ikut?"
"Iya ya, kenapa aku mau ikut? Hahaha ... Lalu kenapa Kak Tala berpakaian rapi seperti itu?" tanyaku mengalihkan topik.
"Menghadiri acara pertunangan kakak sepupuku tapi aku juga bosan." jawabnya.
"Kalau begitu mari kita mengobrol saja di kursi taman itu," tunjukku pada sebuah kursi taman yang terbuat dari kayu dikombinasikan besi.
"Tentu saja. Suatu keberuntungan bertemu dengan Nona Pradipta yang cantik kemudian bersedia menemani untuk melewati waktu bosanku."
"Tidak perlu sungkan begitu. Ayo!"
Bersama dengannya dengan penampilan kami seperti ini akan menimbulkan persepsi bahwa kami adalah sepasang kekasih yang ingin bercengkarama menghabiskan waktu di bawah sinar bulan.
__ADS_1
"Berarti acara di aula sebelah adalah acara pertunangan sepupumu? Siapa?" tanyaku ingin tahu.
"Rhadisa, anak perempuan dari kakak ayahku. Aku tidak dekat dengannya, kalau saja ayahku tidak memaksaku untuk ikut, aku lebih suka melukis langit malam ini."
"Melukis?"
"Ya, aku suka melukis, terlebih langit malam saat berhiaskan bulan."
"Baru kutahu Kak Tala punya jiwa seni."
"Tapi tidak buruk juga untuk datang jadi aku bisa melihat keindahanmu," ujarnya tersenyum menatapku.
Andai saja aku tidak tahu kalau lelaki berbadan tinggi tegap di hadapanku ini tidak memiliki pertalian darah denganku, aku bisa saja jatuh hati pada setiap ucapannya. Diawali pertanyaan basa-basi, aku berniat mengulik tentang Kerajaan Sungai Bulan yang tidak ada di internet.
"Oh, jadi Kak Tala berasal dari Daerah BX, asli sana? Maksudku tidak ada campuran?"
Dia mengangguk.
"Bibit asli orang sana secara visual mirip asia timur ya?"
Dia terkekeh, "Menurut cerita nenek moyang kami berasal dari sana, sehingga warga asli Daerah BX memiliki kemiripan dengan orang-orang asia timur apalagi perempuannya."
Aku tersenyum mendengarnya dan tergelitik, "Apa aku bisa dikatakan perempuan yang berasal dari sana?"
"Hahaha ... Entahlah, tapi menurutku bisa saja karena kau memiliki kulit putih dan sudut mata khas perempuan kami. Atau– mungkin siapa tahu kau ada turunan dari–"
"Kulit dan mata ini adalah milik ibuku," potongku.
"Aku jadi ingin bertemu dengan ibumu."
"Ini bukan modus, kan?"
"Suku Ragnaya adalah suku terbesar di Pulau EX yang keberadaannya masih konsisten meski modernisasi menggerus zaman"
Dia menoleh ke arahku, "Tahu juga kau rupanya."
"Hanya sekedar tahu, tidak banyak informasi mengenai perihal suku tersebut yang bisa kita dapatkan dari internet seperti halnya suku di pulau yang kita pijaki saat ini."
"Kompleksitas Suku Ragnaya terlalu membelit, mereka tidak bersedia membuka diri begitu saja terhadap perkembangan zaman. Penuh pertimbangan, sangat pemilih dan hati-hati, terlebih dalam soal pasangan hidup."
"Wow! Apa artinya Kak Tala sudah memiliki jodoh yang dipilih disana, pantas saja tidak tertarik dengan cewek-cewek disini, hehehe ...."
"Untungnya kedua orangtuaku bukan orangtua yang kolot, mereka memberikan kebebasan pada anak-anaknya."
"Ceritakan lagi tentang daerah asal Kak Tala, apapun itu. Budayanya, karakter orangnya, kondisi alamnya bahkan tentang kerajaannya juga boleh" pintaku.
Dia tergelak tapi tidak sekeras sebelumnya, "Apa yang membuatmu tertarik dengan daerah asalku?"
"Sesuatu yang hanya sedikit terpublikasi tentu ada misteri di dalamnya, bisa juga ada konspirasinya,"
Tuk.
Kak Tala menjitak gemas kepalaku sambil terbahak-bahak, "Nia, kau lucu sekali. Aku suka kepolosanmu yang cerdas, hahahah ...."
Lelaki itu bercerita dengan bias rembulan di wajahnya, samar yang diperjelas pendar lampu taman. Aku menyimaknya dengan penuh perhatian, obrolan kami begitu hangat dan yang terpenting banyak hal yang tidak aku ketahui sebelumnya kini tersaji dalam tuturan yang baik.
"Jadi, Yang Mulia Raja begitu bijaksananya hingga mendapatkan kecintaan dan loyalitas rakyatnya. Itu yang menyebabkan peraturan kerajaan lebih dipegang teguh ketimbang regulasi pemerintah daerah. Tapi kan, raja adalah seorang manusia biasa, sebijaksana-bijaksananya beliau tentu bukan tidak pernah melakukan kesalahan atau keputusan yang keliru," ujarku menanggapi saat Kak Tala mengisahkan sosok ayah dari ibuku bagai seorang pahlawan.
"Itulah gunanya penasehat. Kerajaan kami memiliki 7 penasehat yang berkompeten, berjumlah ganjil jika ada keputusan yang sulit dimusyawarahkan, maka suara penasehat akan diambil dan itulah yang menjadi pertimbangan utama Raja untuk menurunkan titah."
"Apa penasehat-penasehat itu selalu jujur? Apa penasehat-penasehat itu tidak pernah memiliki konspirasi?"
__ADS_1
"Hei! Kau terlalu banyak nonton drama kolosal, hahaha ... Penasehat-penasehat itu berasal dari golongan bangsawan yang tidak sembarangan, mereka adalah orang-orang terloyal yang berada di sekitar Raja."
"Oh ya? Terloyal? Kok aku mendengarnya lebih seperti terpandai dalam hal menjilat ya?"
Matanya membelalak kaget, tidak menyangka sambatan yang kusematkan.
"VANIA!"
Kami menoleh ke arah suara yang meneriakan namaku, dengan setengah berlari dia menghampiri kami.
"Kau kemana saja? Kedua kakakmu panik karena kau tidak bisa dihubungi. Ternyata lagi asyik berdua dengan–" kalimat Asisten Yan terputus setelah mengamati Kak Tala, "KAU! Apa yang kau lakukan disini dengannya, Bocah Brengsek!"
Asisten Yan melayangkan tinjunya ke Kak Tala, aku terkesiap menahan nafas, tetapi dengan sigap Kak Tala menangkap tinju yang diarahkan kepadanya, "Kau bukan kekasih atau walinya, kenapa kau begitu posesif?" tanya Kak Tala tenang namun tajam.
Asisten Yan menarik kepalan tangan kemudian merapikan pakaiannya, "Aku pernah berjanji pada kakaknya, jika kakaknya tidak ada maka aku yang menjaganya."
"Hah! Kapan kau berjanji? Siapa yang mau kau jaga? Kau membuatku mual, Asisten Yan," protesku dalam hati.
"Nia, apa aku melakukan sesuatu yang tidak senonoh padamu. Orangtua ini selalu salah paham jika aku berada di dekatmu. Apa dia seseorang yang kau tolak perasaannya hingga uring-uringannya dia lampiaskan padaku."
HAH! Huahahahaha ....
Aku terbahak memegangi perutku, "Kau– kau salah, Kak, hahaha ... Bukan aku yang menolaknya tapi– hahaha ... pengan–"
"NIA!"
Sebuah suara membahana memanggilku dengan intonasi serius. Aku berbalik, Kakak Ipar dan Kak Litha menghampiri kami bertiga dengan wajah masam.
"Kau kemana saja? Kami berkali-kali menghubungimu tapi tidak ada balasan. Kau membuatku takut, Nia." Kakak Ipar menatapku tajam seperti ingin membunuhku saat itu juga.
"Ma– maaf. Ponselku masih dalam mode silent, Kak. Aku lu–"
"Jangan membuat pembelaan! Kau dan kakakmu boleh berbuat apa saja tapi selama kalian tidak berada dalam pengawasanku ponsel kalian harus selalu bisa dihubungi, apalagi–"
Kakak Ipar memutus kalimatnya sendiri, dia begitu emosional hingga baru menyadari kalau dia nyaris kelepasan bicara. Kak Litha mengusap bahu suaminya dan berkata padaku, "Mas Rayyendra mengira kau diculik tadi. Paniknya melebihi kakakmu sendiri."
"Siapa dia?" tanya Kakak Ipar ketus menunjuk Kak Tala karena sedari kemunculan kakakku dia terus memperhatikan istrinya seperti saat pertama kali dia melihatku.
"Namaku Bentala, Tuan. Saya kakak tingkat Vania. Kami kebetulan bertemu disini dan sama-sama merasa bosan dengan acara yang kami hadiri, jadi kami sedikit mengobrol. Maafkan saya jika Tuan kurang berkenan, tapi saya tidak memiliki maksud buruk terhadap Vania." Kak Tala memperkenalkan dirinya sekaligus mengklarifikasi kehadirannya bersamaku tanpa aku minta.
"Aku tahu istriku wanita tercantik di dunia tapi aku tidak suka kau menatapnya seperti itu. Turunkan pandanganmu atau kucongkel matamu!"
Kak Tala spontan menurunkan pandangannya dengan wajah kaget sedangkan Asisten Yan menahan tawa, merasa menang.
"Ayo kita pulang!" perintah Kakak Ipar, lalu menggandeng tangan istrinya berbalik.
"Aku pulang dulu. Mohon maaf Kak, atas ketidaknyamanan yang kutimbulkan," bisikku sebelum mengikuti langkah kedua kakakku.
"Heh. Sudah kubilang, tidak sembarang orang bisa bergaul dengan Nona Pradipta, dasar Bocah Keras Kepala. Beruntung Tuan Muda Pradipta masih menahan amarah karena ada istrinya, kalau tidak– sudah habis kau!" sambung Asisten Yan jumawa lalu menarik tanganku agar lekas memperpendek jarak dengan Tuan dan Nyonya Pradipta.
Bukan Kak Tala namanya kalau diam saja dengan intimidasi yang diberikan Asisten Yan. Dia memang tidak membalas dengan ucapan tapi kakinya cepat mensejajari langkah kami.
TAK.
Langkah-langkah kaki kami terhenti. Sekonyong-konyong muncul dua sosok di lobby hotel saat kami akan keluar untuk pulang meski resepsi pernikahan pasangan dokter fenomenal itu belum selesai. Semua mata terpaku dengan pandangannya masing-masing, tidak siap dengan pertemuan tak terduga ini. Mungkin hanya aku yang masih bisa tersenyum sinis.
Ekspresi terkejut bukan main begitu jelas di wajah Kakak Ipar, juga Asisten Yan. Pandangan penuh tanya dan kebingungan nampak dari Kak Litha, juga airmuka yang canggung dari sepupu tampanku. Belum lagi raut wajah kedua orang di depan Kakak Ipar dan Kak Litha yang seperti menahan nafas saking tidak percaya dengan apa yang mereka dapati sekarang
Akhirnya satu per satu langkah kami akan membawa pada takdir yang memang seharusnya kami tapaki walaupun kami telah berusaha keras untuk menjauhinya.
- Bersambung -
__ADS_1