Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Definisi Rasa Kecewa


__ADS_3

Kami dikejutkan kabar meninggalnya adik semata wayang Asisten Yan yang berada di daerah asalnya -terletak bersebelahan dengan Kota A- dan sebelum fajar menampakkan sinarnya, Kakak Ipar, Asisten Yan dan Pak Sas bertolak ke sana.


Menurut cerita Kak Litha pada saat sarapan, adik perempuan Asisten Yan bernama Dinda, seumuran dengannya dan memiliki kelainan jantung bawaan yang dibawanya sejak lahir, di usia lima tahun jantungnya dipasangi ring. Seiring perkembangannya, Dinda autis. Bibi Lidya -ibu Asisten Yan- sangat intens dalam mengurus Dinda sejak kecil seorang diri karena suaminya meninggal di saat Dinda berusia dua tahun. Setahun belakangan ini kondisi tubuh Dinda menurun dan makin memburuk, meski Bibi Lidya tahu waktu hidup Dinda tidak akan lama, tetap saja dia terpukul ditinggal pergi putrinya terlebih dahulu menghadap Sang Pencipta.


"Kenapa Kak Litha tidak ikut ke sana berbelasungkawa?" tanyaku.


"Kakak Iparmu menyuruhku tetap di rumah saja sampai dia kembali. Usia kandunganku sudah besar, dia begitu mengkhawatirkan kami."


"Pasti Asisten Yan sangat terpukul saat ini," timpal Paman Tino.


"Pasti Paman, tapi apapun itu kuharap dia tidak menyalahkan dirinya karena jarang pulang ke Daerah C."


"Asisten Yan orang yang bijak. Hal yang telah berlalu tidak akan bisa kembali, menyesal pun tidak berguna selain menyiksa diri," sahut Bibi Rima.


"Tapi aku tidak menyangka sama sekali Kak, kalau Asisten Yan berasal dari Daerah C, dekat dengan Kota A."


"Ya, aku juga tidak menyangka sebelumnya, Nia. Bahkan kemarin Mas Rayyendra membawaku ke Puncak, tempat favoritnya Asisten Yan kalau sedang tidak bekerja. Dia menyukai ketinggian karena lahir dan tumbuh tinggal di dataran tinggi Daerah C."


"Sama dong dengan Ibu kalau begitu. Apa kampung halaman Ibu juga dataran tinggi ya?" tanyaku melirik sekilas ke arah Bibi yang langsung terlihat canggung, meski begitu dia menutupi dengan gerakan mengambil lauk ke piringnya.


"Mana kita tahu, tapi aku juga menyukai dataran tinggi." Kak Litha menjawab santai.


"Ibu menyukai daerah yang dialiri sungai."


TRING.


Garpu dan sendok jatuh di piring milik Bibi Rima, spontan kami semua yang berada di meja makan melihatnya, juga Pak Is yang berada di dapur.


"Ada apa Bibi? Apa Bibi baik-baik saja?" tanya Kak Litha cemas.


"Kenapa Bibi terlihat pucat?" tanyaku ikutan cemas, berpura-pura.


"Ah, ti– tidak ada apa-apa. Bibimu baik-baik saja," jawab Paman Tino berusaha menguasai keadaan, dipegangnya bahu Bibi, "Mungkin sakit perut, iya kan, Bu?"


"Apa Bibi memakan sesuatu yang salah tadi malam? Atau mungkin karena kambing gulingnya Mas Rayyendra, soalnya Bibi yang paling banyak makan kambing guling tadi malam."


Dugaan Kak Litha membuatku harus menahan otot wajah untuk tidak terbahak. Pppffttt ...


Ingatanku kembali tadi malam saat menyaksikan Bibi bagai orang kelaparan saat menyantap kambing guling Kakak Ipar, katanya itu makanan terenak yang pernah dia makan dalam kehidupannya. Hahaha ...


"Bisa jadi. Kolesterolnya Bibi jadi naik karena kambing gulingnya Kakak Ipar," celetukku sembari menyuapkan sesendok nasi goreng tanpa melihat Bibi dan Paman.


Sungai? Baru saja kata sungai yang kusebut Bibi sudah sepucat orang mati. Bagaimana kutambah menjadi Sungai Bulan? Bisa mati beneran kali kena serangan jantung.


.


.


.


Selama Kakak Ipar di Daerah K, aku diizinkan untuk tidur bersama kakakku, sebenarnya maksud Kakak Ipar adalah untuk menjaga istri kesayangannya di malam hari saat dirinya tidak ada. Fyuhh ...


Aku takjub mengamati kamar tidur utama yang luas dan sangat nyaman. Semuanya tersedia disini, "Pantas saja Kakak dan Kakak Ipar jarang keluar kamar. Kalau aku punya kamar begini bukan jarang lagi tapi tidak akan keluar kamar," gumamku berdiri di samping ranjang memeluk bantal guling yang kubawa dari kamar sendiri. Walaupun aku diizinkan tidur di kamar utama, sebelumnya aku diwanti-wanti Kak Litha agar tidak menyentuh barang-barang pribadi milik Kakak Ipar. Ternyata sense of belonging Kak Litha terhadap Kakak Ipar sangat besar.


"Kak, beneran aku tidur sama Kak Litha malam ini?" ujarku meyakinkan di tepi ranjang.


"Iya, Kakak Iparmu sudah mengijinkannya. Selama dia di Daerah C, kau akan menemaniku tidur."


"Asyik!" seruku girang dan langsung meloncat ke ranjang memeluknya. Aku sangat merindukan bonding seperti ini.


"Sudah lama kita tidak tidur bersama ya, Kak. Aku rindu sekali. Aku dulu biasanya tidur sambil memegang kuping Kakak, boleh ya kalau aku pegang kuping Kakak malam ini."


Kak Litha tergelak, di uyel-uyel pipiku dengan gemas. "Ya, mumpung Kakak Iparmu tidak ada lakukan apa yang kau mau pada kakakmu ini."


Aku memeluk kakaku dengan senang sekali. Lalu kami berbaring terlentang menatap langit-langit kamar.

__ADS_1


"Kak."


"Ya."


"Kudengar kasus Kak Tisha dibuka kembali oleh Kakak Ipar ya?"


"He– eh."


"Kata Bibi, Kakak Ipar sudah menemukan saksi kuncinya. Kuasa Kakak Ipar hebat sekali, dengan cepat menemukannya dan membuatnya bersedia bersaksi. Andai saja waktu itu kita sudah kenal dengan Kakak Ipar, pasti Ayah masih ada."


"Kata andai itu sering disebut oleh orang yang belum bisa menerima takdir, dan aku harap kamu tidak begitu, Nia."


"Kakak sudah bertemu dengan saksi kunci itu?"


"Belum, tapi aku pernah bertemu sebelumnya. Dia Kak Vivian, teman Kak Tisha yang malam itu juga mengerjakan tugas laporan prakteknya di lab. Sekarang dia sudah menjadi dokter di RS. Pradipta."


"Oh."


"Ku beri tahu satu rahasia, tapi kau jangan mengatakannya kemana-mana."


"Apa?"


"Janji dulu!" pinta Kak Litha menoleh padaku.


"Iya, janji. Apaan?"


"Asisten Yan menyukai Kak Vivian, hihihi ... "


Deg.


Seketika aku membatu. Perasaan tidak nyaman menyerangku, sangat tidak nyaman. Bagai ada sebuah silet yang menggores tipis di organ bagian dalam. Terasa perih dan sedikit sakit, namun bisa kutahan. Memang tidak perlu sekuat tenaga untuk menahannya tetapi benar-benar sangat tidak nyaman. Apa ini definisi rasa kecewa?


"Oh, beruntung sekali teman Kak Tisha disukai Asisten Yan," sahutku agak ketus, kuharap Kak Litha tidak menyadarinya.


"Ya, Asisten Yan lelaki yang sangat baik. Dia tidak pernah menaruh rasa pada perempuan sebelumnya, eh sekalinya jatuh hati pada wanita yang sudah bertunangan. Rumit kan?"


"Entahlah, tapi kusuruh Kakak Iparmu untuk menjadikannya dengan Asisten Yan saja."


"Kak!" Spontan aku meneriaki kakakku.


"Apa? Kupingku sakit kau berteriak di telingaku. Bayiku nanti kaget, Nia," protesnya mengusap-usap perut.


"Kak Litha sadar gak sih? Perbuatan Kakak itu menyakiti hati orang lain. Kak Litha yang kukenal tidak pernah melakukannya," cerocosku kesal. Kesal karena rasa yang sedikit nyaman menjadi tidak nyaman kembali. Aih ....


"Enggg ... aku hanya ingin Asisten Yan juga bahagia punya pasangan, dan Kak Vivian wanita pertama yang dia suka."


"Tapi tidak begitu caranya Kak. Entah Dokter itu juga menyukai Asisten Yan atau tidak, yang jelas jika pertunangan mereka bubar karena perasaan Asisten Yan, bukan hanya Si Tunangan Dokter itu yang sakit tapi juga orangtuanya, keluarganya. Dan kalau Kakak dan Kakak Ipar terlibat, kalian sudah menabung keburukan di masa depan untuk kalian atau keturunan kalian."


Entah kenapa mulutku begitu lancar mengeluarkan teori kehidupan sampai Kak Litha gamang dengan apa yang kukatakan. Tapi benar, kan? Jika itu sampai terjadi, bukan hanya melibatkan dua individu tetapi dua keluarga besar– dan ada nama baik disana yang seharusnya dijaga. Dalam agama yang kami anut pun dilarang menjalin hubungan dengan seorang wanita yang telah dikhitbah.


"Apa berarti aku menyakiti Ramona kalau begitu?" Tiba-tiba Kak Litha menyinggung orang lain.


"Ya jelas beda lah! Kakak menikah kan, karena sebuah wasiat dan dia juga hanya pacar yang tidak dicintai Kakak Ipar sejak awal."


"Kau tahu dari mana, ha?!? Apa kebiasaan mengupingmu itu belum hilang. Katakan, apa lagi yang kau dengar?"


"Hahahahaha ... Kak, ampun! aku tidak perlu mengatakannya dari mana, yang jelas hubungan Kakak dan Kakak Ipar itu sudah takdir Tuhan. Terimalah dengan bahagia, Kak ... Aku juga pengen punya suami seperti Kakak Ipar, meski ia nanti terus memaksaku bercinta di dalam mobil saat hamil, tidak apa-apa, aku ikhlas ... "


"Nia, kau ini ... "


Muka Kak Litha merah padam karena perkataannya kemarin malam aku ulang kembali, dicubitnya perutku dengan sekuat tenaga.


"Kak! Sakiiittt!"


"Kau sangat tidak sopan berbicara begitu pada Kakakmu. "

__ADS_1


"Bagian mana yang tidak sopan? Aku hanya mengutarakan harapanku kok dibilang tidak sopan?"


"Bukan yang itu," kata Kak Litha pelan.


"Lantas yang mana? Yang bercinta di mobil maksud Kakak."


Kakakku mencubit lagi, kali ini lebih keras dan– lebih sakit. Terang saja aku berteriak mengaduh kesakitan.


"Tahu apa kau soal bercinta! Kau belum cukup dewasa untuk membahasnya, belum juga lulus dari putih abu-abumu sudah bicara hal tabu."


"Yah, Kak. Kita ini hidup di jaman apa sih? Jaman milenial pun sudah lewat. Se*x Education bukan hal tabu lagi di jaman sekarang. Justru itu penting, supaya remaja labil kayak aku ini tidak akan salah kaprah. Aku tahu apa itu bercinta, foreplay, penetrasi, ereksi, orgasme, masturbasi, onani, bahkan sofa Kakak itu, sofa bercinta yang lagi viral kan? yang bisa digunakan dengan berbagai gaya. Apa mau aku sebutkan gaya-gayanya?"


Aku menunjuk sebuah sofa yang pernah kulihat di market place yang fungsinya untuk menjaga keharmonisan pasangan suami istri. Istilah menjaga keharmonisan yang merujuk pada pasangan suami istri, apalagi kalau bukan bercinta, hahah ....


"Nia!" pekik Kak Litha di telingaku, sekarang dia yang berteriak di telingaku.


"Jangan katakan kau pernah menonton film dewasa." Matanya memelototiku, tapi aku tidak takut karena aku merasa tidak berbuat kesalahan.


"Pernah sekali di rumahnya Keysha karena aku penasaran. Kenapa bercinta bisa membuat orang ketagihan? Dan kenapa bisa membuat orang melakukannya dengan paksa?" kataku acuh tak acuh.


Yup. Aku tahu menonton film dewasa tidaklah seharusnya aku lakukan di umur sekarang. Tapi aku bersumpah kalau apa yang aku katakan barusan adalah sebenar-benarnya. Aku hanya ingin tahu, setelahnya aku masih waras berpikir mana yang baik mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan dan mana yang dosa dilakukan. Terlebih aku mendapati fakta bahwa di tubuhku mengalir darah Suku Ragnaya dengan segala magisnya.


"Nia ...." Suara Kak Litha memelan.


"Ayah selalu bilang, jangan dekati teman laki-laki. Mereka akan menuntut lebih. Waktu Ayah mengatakan itu, apa yang terlintas dalam pikiran Kakak?" tanyaku menuntut jawaban.


"Engg ... apa ya? Mungkin menuntut lebih banyak jawaban misalnya kalau kita belajar bersama tapi saat ujian dia meminta jawaban." jawabnya yang kubalas dengan senyuman sinis.


"Ayah salah. Ayah tidak pernah jujur dengan semua larangannya, dan akhirnya membuat kita bertanya-tanya tidak jelas dan mencari sendiri jawabannya. Itu yang terjadi pada Kak Tisha. Ia menuruti semua perintah Ayah, hingga akhirnya ia mencari jawaban di tempat yang salah."


"Ma– maksudmu kau menyalahkan Ayah? Jahat sekali kau, Nia."


"Untuk satu itu, ya," jawabku tegas, "Tapi aku tidak menafikan kebaikan dan pengorbanan Ayah yang luar biasa. Sama halnya Ibu, banyak yang dia sembunyikan pada kita. Padahal kita berhak tahu karena kita anak-anak Ibu. Ibu membuat dirinya menderita sendiri, seharusnya ia berbagi dengan kita, anak-anaknya. Bukankah kita terbiasa berbagi sejak dalam kandungan, berbagi makanan dengan satu plasenta."


"Nia, Kakak tidak tahu arah bicaramu kemana?" tanya Kak Litha kebingungan.


"Aku juga sama Kak. Aku tidak tahu karena kita tidak pernah diberi tahu," jawabku sekenanya


"Kak," panggilku dengan memeluk lengannya dengan satu tangan, satunya lagi mengusap perut buncit miliknya, "Apa Kakak tidak pernah menyesali takdir Kakak? Yang nampak dan yang masih tersembunyi?"


"Kau kenapa, Nia?" Kak Litha menghadapkan badannya padaku.


Aku menggelengkan kepala, dengan tersenyum dan mengusap pipiku perlahan dia berkata, "Dek, apapun takdir itu, yang nampak atau tersembunyi. Kita pasti tetap akan melewatinya, sekarang pilihan yang ada di tanganmu itu menerimanya atau tidak. Jika kau pilih tidak maka kakimu akan tertanam disitu selamanya. Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu sekarang, yang jelas aku akan selalu di sampingmu. Bukan hanya aku tapi Kakak Iparmu juga. Dia sudah menganggapmu adiknya sendiri," kata Kak Litha panjang lebar sambil menciumi pucuk kepala yang kusandarkan di bahunya.


"Aku sangat menyukai Kakak Ipar."


Kusesap aroma badannya yang membiusku, membuatku mengantuk. Pantas saja Kakak Ipar selalu menempel padanya.


"Apa! Mas Rayyendra suamiku, Nia. Jangan macam-macam!" seru Kak Litha keras lalu melepas pelukannya dan mendorongku menjauh.


"Astaga ... apa yang dipikirkan ibu hamil ini? Siapa yang mau menggoda suamimu, Kak. Aku sangat menyukainya seperti aku sangat menyukaimu," bathinku keheranan.


"Jiahh ... bukan maksud menyukai sampai mau merebutnya darimu, Kak. Aku menyukai cara dia mencintai Kakak, all out dalam mencintai wanitanya. Makanya aku tidak suka sekali mendengar ada kata cerai diantara kalian meski hanya bercanda atau dalam keadaan marah."


Kak Litha tersenyum, "Sudah yuk, kita tidur. Obrolan sebelum tidur kita akhiri sampai disini ya. Kau boleh memegang telingaku sampai tidur."


"He– eh."


Kucari posisi nyaman untuk tidur, lalu berbisik, "Aku sangat menyayangimu, Kak dan juga Kakak Ipar. Aku tidak rela kau akan menjadi putri mahkota jika pada akhirnya itu akan membuat kalian kembali pada ego masing-masing. Huaaahhh ..."


"Bicara apa kau ini, Nia? Ayo tidur!" ujar Kak Litha menepuk-nepuk bokongku, persis seperti menidurkan bayi. Tindakan ini langsung mengurangi separuh kesadaranku.


"He– eh. Kak, untung saja kutukanmu jatuh pada Kakak Ipar, tidak seperti Kak Tisha jatuh di orang yang salah. Kalau aku, aku akan beri kutukan ini ke siapa? Apa Asisten Yan saja ya? Ah ... tidak– dia terlalu tua untukku, andai saja dia ada versi mudanya, seumuran denganku, sudah pasti kujerat dengan kutukanku."


"Ssshh, tidur Nia ... Jangan meracau yang tidak-tidak," ujar Litha masih menepuk-nepuk bokongku dan membiarkan jariku memainkan daun telinganya hingga terlelap.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2