
Di mobil kami mengobrol hal-hal receh, kesukaan kami masing-masing dan beberapa kali mengomentari isu publik yang tengah menyedot perhatian publik. Aku merasa nyaman berbincang dengan Asisten Yan. Obrolan kami pun sudah mulai luwes hingga tidak terasa berada di area parkir restoran bergengsi nomor satu di Ibukota bagi kalangan jetset.
Dia membukakan pintu mobil untukku dan berujar, "Aku akan membuat jejak kenangan dalam memorimu, Vania. Beruntung aku pria pertama yang mengajakmu kencan."
Hah! Dia mencoba merayuku? Bahasanya membuatku sedikit geli. Oh no!
"Kenapa wajahmu?"
"Agak aneh mendengar kau berbicara seperti tadi. Sebaiknya kau kursus merayu agar tidak terdengar too much."
"Too much?" serunya tidak terima.
Aku tergelak namun sedetik kemudian terdiam saat dia menggenggam tanganku berjalan menuju pintu utama restoran.
Debaran jantungku kembali berlompat-lompatan tidak karuan. Aku gugup dan suhu telapak tanganku turun drastis. Mengetahui tanganku mulai berkeringat dingin, bukannya dilepas, malah mengusap-usapkan telapak tangannya di telapak tanganku yang dia genggam.
"Kau bisa gugup juga rupanya." ujar Asisten Yan dengan tatapan lurus ke depan.
"Wajarlah, ini hal pertama bagiku."
"Aku senang mendengarnya."
"Kenapa?"
"Karena pengalaman pertama akan selalu diingat. Itu artinya namaku akan selalu ada dalam sejarah kehidupanmu."
Aku menghela nafas, entah mengapa ucapannya memberiku firasat yang tidak enak. Setelah naik lift dan menekan tombol angka tertinggi, kami disambut Kepala Pelayan untuk menuju sebuah meja yang sudah disiapkan.
"Rasanya aku belum melakukan reservasi," sahut Asisten Yan bingung melihat meja yang disediakan untuk kami.
Meja itu terletak berdekatan dengan tembok kaca sehingga bisa langsung melihat pemandangan malam Ibukota dari ketinggian. Biasanya kalau tidak di-reservasi sebelumnya, pasti akan susah mendapatkannya karena selalu dipilih oleh pengunjung yang lebih dulu datang. Diatas meja terdapat dua gelas minuman disertai sebuket bunga segar yang cantik sekali.
"Baru saja Tuan dan Nyonya Pradipta yang memesan semua ini. Ada pesan mereka disana untuk Nona." Kepala Pelayan menunjuk sebuah kartu ucapan di dekat buket bunga.
...Vania, hanya ini yang bisa kami lakukan saat ini. Kami harap kau menghabiskan malam ini dengan hati yang bahagia. Ingatlah, kami selalu mendukung kebahagiaanmu....
...Ttd....
...Tn. dan Ny. Pradipta...
"Semua menu yang Tuan dan Nona pesan akan masuk dalam akun Tuan Pradipta dan beliau berharap agar Tuan Abyan tidak menolaknya," ujar Kepala Pelayan.
"Seharusnya dia tidak perlu melakukan ini. Bocah egois itu pikir aku tidak mampu membayarnya apa," sahut Asisten Yan kesal.
"Sudah tidak apa-apa. Mereka hanya turut senang karena ini the first date adiknya tersayang, syukur-syukur mereka tidak ikut dan memesan meja di samping kita, hehehe ..."
"Kalau itu sampai ter–"
Kalimatnya terpotong mendengar suara panggilan di ponselnya. Dilihatnya siapa yang memanggil, setelah itu menatapku seperti isyarat meminta persetujuan untuk menerima panggilan tersebut.
"Siapa? Angkat saja, siapa tahu penting," sahutku tanpa ingin tahu siapa yang meneleponnya, "Pak, bisa tolong bawakan buku menunya," pintaku pada Kepala Pelayan.
"Baik Nona, mohon tunggu sebentar."
Aku mengangguk dan mencoba mendengar apa yang tunanganku bincangkan saat menerima telepon di sampingku.
Aku akan makan malam dengan Vania.
.
Tidak apa-apa. Ada apa?
.
Tenanglah, tarik nafasmu perlahan. Kau bisa menghubungi keluargamu untuk meminta bantuan.
.
Apa tidak ada asisten rumah tangga di rumahmu?
.
__ADS_1
Bicaralah pelan-pelan, Vivian.
Deg.
Ternyata yang menelepon adalah cinta pertamanya. Mau apa dia?
Tapi sekarang aku tidak bisa. Kau bisa menelepon nomor darurat rumah sakit agar ambulans segera datang.
.
Vivian! Ada apa?
.
Baik, baik. Aku akan ke sana, kirim GPS rumahmu.
.
Telepon di tutup. Hatiku bergemuruh bagai badai La Nina yang memporak-porandakan benua Amerika. Untuk beberapa saat kami saling menatap sampai suara Kepala Pelayan yang memberikan buku menu menyadarkan kebekuan diantara kami.
"Maaf, Nia. Aku harus ke rumah Vivian. Kondisi suaminya memburuk dan hanya dia sendiri di rumah dalam kondisi hamil."
Mataku refleks menantang maniknya, tidak suka dan tidak rela. Rahangku sudah mengeras menahan buncah amarah di dada.
"Kita jadwalkan ulang minggu depan, bagaimana?" tawarnya yang membuatku naik pitam.
Aku sudah kehilangan kata-kata, hanya bibirku yang bergetar– ingin berucap tapi khawatir tidak bisa mengontrol emosi.
"Kau masih mencintainya?" tanyaku pelan mengintimidasi dengan tatapan yang tidak lepas dari maniknya.
"Tidak. Aku sudah melepaskan perasaanku saat dia menikah dan sekarang aku ingin memulai perasaanku denganmu."
"Lantas, apa kewajibanmu kesana?"
"Kemanusiaan. Dia tidak punya siapa-siapa disini, semua keluarganya di Pulau S."
"BULLSHITT!!!"
"Nia, pelankan suaramu. Aku tahu, waktunya tidak tepat, tapi bisakah kau mengerti keadaannya?"
"Jadi, kalau tidak sedang kencan denganku waktunya tepat, begitu menurutmu, hah? Aku tidak bisa dan tidak ingin mengerti keadaannya. Dia tahu sekarang kau bersama siapa dan dia tetap memintamu datang? Apa suaminya tidak punya keluarga? Kenapa justru kau yang dia hubungi? Tidak ada relevansinya sama sekali denganmu!" cecarku menahan cairan di sudut mata.
"Hubungannya dengan keluarga suaminya tidak bagus– dia tidak bisa menghubungi mereka."
"Dia bukan tidak bisa tapi tidak mau, karena dia hanya mau dirimu yang menjadi superheronya."
"..."
Hatiku sakit tapi aku kuatkan untuk berkata, "Aku tidak melarangmu pergi. Pergilah kalau itu maumu."
"Maaf, Nia. Ada nyawa seseorang yang bergantung padaku."
Aku tertawa mengejek, "Bodoh! Aku hanya mengingatkanmu, Tuan Asisten. Kedatanganmu ke rumahnya hanya akan memperuncing hubungannya dengan keluarga suaminya– dan selanjutnya dia akan semakin bergantung padamu."
"Tidak seperti itu. Semua akan baik-baik saja, niatku hanya menolong. Saat ini dia membutuhkan bantuan seseorang, kebetulan hanya aku yang bisa dia hubungi. Maaf, Nia."
Dia hendak mencium keningku pamit, tapi spontan kudorong tubuhnya menjauh.
"Jangan kau tinggalkan jejak di bagian tubuhku karena kau sudah meninggalkan jejak yang mengecewakan disini." Aku menunjuk dadaku sendiri, letak kesakitan itu berada, "Pergilah! Aku akan makan sendiri."
"Vania."
"Cepatlah kesana! Katanya dia sangat membutuhkanmu," sahutku memalingkan muka menghadap tembok kaca, sama sekali tidak mau melihatnya.
"Maaf, Nia. Minggu depan aku akan mengganti malam ini."
"..."
"Aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu."
"Pergilah. Sudah sampai disini dan aku rugi kalau tidak menikmati makanan yang sudah dibayarkan Tuan Pradipta."
__ADS_1
"Baiklah. Telepon aku jika kau sudah selesai makan, aku akan menjemputmu."
Tes.
Airmataku jatuh, pada akhirnya dia lebih memilih pergi menemui cinta pertamanya daripada aku. Aku? Siapalah aku? Hanya gadis yang mengharap rasa darinya, hanya gadis yang memaksa pertunangan dengannya.
Hatiku seperti diremas-remas, apalagi saat membaca pesan di kartu ucapan kiriman kakakku.
Bahagia? Bahagia apanya? Justru makin terasa sakit.
Kuangkat tangan kanan memanggil Kepala Pelayan setelah mengelap airmata di pipi.
"Apa Anda membutuhkan sesuatu, Nona?" tanya Kepala Pelayan itu ragu-ragu namun ramah meski pandangan matanya menaruh iba padaku.
"Aku tidak jadi makan, Pak. Pasanganku sudah pergi, jadi aku pulang saja," sahutku berdiri, "Oh ya, pesanlah beberapa menu, bawalah pulang untuk keluarga Bapak. Bebankan semua ke Tuan Pradipta agar beliau tahu kami sudah makan malam– dan jangan katakan apapun yang telah Bapak lihat tadi pada Tuan atau Nyonya Pradipta ... Aku malu, Pak," kataku gontai mengambil buket bunga dan memasukkan kartu ucapan dalam tas.
"Nona."
Lebih baik aku cepat meninggalkan tempat ini tanpa melihat semua mata yang mengasihaniku. Aku bersandar di dinding lift yang membawaku kembali memijak bumi. Tarikan katrol lift ke bawah sama halnya seperti tunanganku yang menghempas semua perasaanku setelah dibawanya aku terbang melambung tinggi ke langit.
Aku menaruh iba pada bayangan yang terpantul dari dinding lift di hadapanku, "Kasihan sekali kamu, Nia. Kuatlah! dan buat dirimu bahagia," kataku menyemangati diri sendiri.
Ponsel dalam tas berdering, kulihat siapa yang menelepon.
Kucing Kribo
Aku tertawa melihat foto kontaknya yang lebih memperlihatkan rambut panjangnya yang ikal ketimbang wajahnya– rambut panjang yang sebagian terikat dengan karet rambutku berwarna pink.
"Ya, halo," sapaku menjawab teleponnya.
"Mabar yuk."
"Aku sedang tidak di rumah."
Ting.
Pintu lift terbuka dan aku melangkah keluar.
"Dimana?"
"Umm ... di sekitar Grey Savanna Restaurant," jawabku menuju pintu keluar.
"Sama siapa?"
"Tadinya sama Asisten Yan tapi sekarang sendirian. Kenapa?"
"Mumpung kau di luar rumah, kusamperin ya?"
"Tidak usah."
"Ayolah. Kau tidak ingin melihat langsung kesembuhanku akibat tonjokan pria kesayanganmu itu?" bujuknya.
Aku tertawa, "Kalau begitu aku tunggu sekarang. Jangan kelamaan, keburu pulang aku nantinya."
"Siap. Tunggu aku ya My Sweet Strawberry."
"Huekk! Jangan ngaco! Sekalian bawa duit dan ajak aku makan. Aku lapar."
"Lah, kamu kan di restoran, kenapa tidak makan?"
"Menunya tidak cocok dengan lidahku."
Suara terpingkal-pingkal terdengar dari ujung sambungan telepon, lalu dia serius berkata, "Duitku gak banyak, palingan cuma bisa ajak kamu makan di angkringan."
"Yo wes lah. Buruan."
Tut.
Kututup telepon Nezar lalu ku lepas ikatan pony tale-ku dan mengikat satu kembali tapi lebih ke bawah– sejajar dengan leherku. Ikatan rambut yang lebih sederhana, sesederhana hubunganku dengan Nezar yang apa adanya dan bisa menghadirkan tawa bahagia meski perasaan kami tidak bertaut.
- Bersambung -
__ADS_1