Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Memulainya dari Awal


__ADS_3

Asisten Yan!


Aku memekik lega dalam hati seraya keluar dari persembunyianku setelah meyakini punggung lebar itu milik tunanganku.


Srekk.


Dia berbalik dengan mengambil sikap kuda-kuda. Aku berhenti melangkah ke arahnya, menatap penuh kekaguman akan sosoknya.


"Nia!"


Lelaki tua itu langsung memelukku, "Kau kemana saja? Ibu bilang kau keluar dari mobil dengan sangat terburu-buru dan juga tidak membawa ponsel," ujarnya mengurai pelukannya, padahal aku masih ingin berada dalam kehangatan pelukan itu meredakan sedihku ditinggal Bibi Rima.


"Maaf."


Hanya sebuah kata yang bisa ku ucapkan dengan kepala tertunduk.


"Ya sudah, jangan begini lagi. Aku sangat mencemaskan dirimu."


"..."


"Kau tidak terluka, kan?"


Aku menggeleng pelan.


"Apa yang kau lakukan di tempat sepi begini? Meskipun kau bisa beladiri tetap saja riskan buat gadis sepertimu– dan Rayyendra akan memenggal leherku kalau sampai terjadi apa-apa denganmu."


Aku hanya tersenyum kecut setelah mengangkat mukaku, "Maaf. Tidak akan aku ulangi."


"Kau gadis paling rasional yang pernah aku kenal. Tidak mungkin tanpa alasan kau berada di sini sekarang," ucapnya menggandeng tanganku beranjak pergi.


Aku terkekeh kecil mengikuti langkahnya, "Aku sarankan kau tidak mengadu pada Kakak Ipar."


Dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku, memicingkan sedikit sudut matanya.


"Bukankah tadi kau khawatir Kakak Ipar akan memenggal lehermu kalau terjadi sesuatu padaku saat dalam pengawasanmu, kan?" sambungku dengan tersenyum yang kupaksakan.


Agak lama dia menatap wajahku dan merendahkan suaranya, "Kau kira aku–"


"Bibi Lidya pasti mencemaskan aku dari tadi. Ayo cepat kita kembali!" sahutku memotong kalimatnya dan segera berlari meninggalkan tunanganku menuju mobil yang terparkir di depan kedai es krim.


.


.


.


"Nia-ku! Ibu sangat takut kau kenapa-kenapa!"


Bibi Lidya masih erat memelukku meski aku berusaha melepaskan pelukannya.


"Maaf, Bu. Tadi aku melihat seseorang yang sudah lama tidak kujumpai dan aku mengikutinya, eh ternyata bukan," kataku pasrah dalam pelukannya.


"Lain kali apapun yang kau lakukan, kemanapun dan dimanapun selalu ingat untuk membawa ponsel, Nak."


Ah, akhirnya tubuhku terlepas juga dari pelukan eratnya.


"Iya, Bu. Aku tidak bermaksud membuat Ibu khawatir. Terimakasih Asisten Yan sudah mencari dan menemukanku," ujarku tersenyum pada Asisten Yan, tetapi raut wajahnya nampak tidak senang.


"Kalian berdua masuklah dalam mobil, lanjutkan pembicaraannya di dalam," katanya dingin.


Kami menuruti perintahnya, aku bingung kenapa moodnya tiba-tiba berubah. Aih, sudahlah.


...***...


Baru saja kami masuk ke dalam rumah utama Keluarga Pradipta, Kakak Ipar menyambut kami dengan sangat antusias.


"Yan, lama sekali kau menjemput Vania. Ayo, ayo, segera masuk! Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian semua," seru Kakak Ipar.


Kami bertiga saling memandang, apa yang membuat wajah Tuan Muda Pradipta begitu sumringah.


"Ray, aku langsung balik kantor saja. Siapa suruh kau cuti dadakan. Ada pekerjaanmu yang harus aku selesaikan segera" elak Asisten Yan.


"Tidak! Tunda saja! Kalian semua ikut aku sekarang. Setelahnya baru boleh kembali ke kantor."


"Tapi Sasha menunggu–"


"Aku sudah menelepon Sasha, dia akan menyusul ke sini membawa berkas yang kau maksud tadi."


"Kalau begitu, kau saja yang menyelesaikan."


"Mana bisa! Aku kan, cuti ... Aku hanya membantumu supaya kau tidak kesana-kemari."


"What!"


"Lihat! Sasha sudah sampai," tunjuk Kakak Ipar pada seorang wanita berambut pendek mengenakan blazer abu-abu tua yang membawa tas tenteng di tangan kanan dan beberapa berkas di tangan kirinya.


Hahaha ... Aku dan Bibi Lidya sekuat mungkin menahan tawa melihat perdebatan yang aneh antara dua sahabat sekaligus bos majikan karena sekeras apapun argumen bawahannya, bos tidak akan pernah salah– yang ada hanya mengalah.


"Tuan, ini semua berkasnya sudah saya bawa," sahut Sasha ketika berdiri di depan Kakak Ipar.

__ADS_1


"Taruh di ruang kerjaku, setelah itu kalian semua aku tunggu di ruang makan. Litha dan Zean sudah menunggu."


Lagi-lagi kami saling memandang, apa ada sesuatu yang akan disampaikan oleh Tuan Muda Pradipta pada kami?


.


.


.


"AAA ... !!! Aku akan punya keponakan baru! Yeay!" seruku girang melompat ke arah kakak perempuanku memeluk dan bergoyang ke kanan dan ke kiri.


"Nia! Istriku lagi hamil! Jangan membuatnya banyak bergerak!" Kakak Ipar memperingatiku dengan galak.


"Tidak apa-apa, Mas," sahut Kak Litha tertawa kecil merespon kebahagiaanku untuknya.


Kakak Ipar mengumumkan pada kami bahwa Kak Litha mengandung anak kedua mereka, usia kandungannya baru berusia 9 minggu. Ayah satu anak itu begitu bersemangat dan bahagia mendapati kabar istrinya tengah berbadan dua lagi.


"Selamat Ray! Kau akan menjadi ayah beranak dua," kata tunanganku memberi selamat dengan memberi pukulan lembut di dada Kakak Ipar.


Ucapan selamat terlontar dari kami semua yang berada di ruangan itu untuk Tuan dan Nyonya Pradipta, juga Tuan Muda Kecil yang terlihat bingung.


Aku menarik lengan Baby Zean perlahan dan menempelkan telapak tangannya pada perut Kak Litha, "Di dalam sini ada kado ulang tahun dari Ayah dan Ibu Zean. Seorang adik, nantinya bisa jadi teman bermain dan belajar tetapi sekarang belum bisa dibuka. Zean banyak berdoa dan sabar ya."


Balita menggemaskan itu memang belum paham maksud ucapanku tapi melihat reaksinya yang gembira mencium perut ibunya yang masih rata membuat kami semua di ruangan itu semakin bahagia.


"Malam ini kita makan bersama. Abyan dan Sasha silahkan lanjutkan pekerjaan kalian di ruangan kerjaku. Pak Is dan Bibi Lidya aku serahkan menu makan malam yang spesial pada kalian. Lalu Nia, tolong asuh dan temani Zean," titah Kakak Ipar.


"Terus Kakak?" protesku spontan karena tidak mendengarnya akan melakukan sesuatu.


"Aku?" tanyanya bingung menunjuk mukanya sendiri.


Kak Litha tergelak melihat wajah bingung suaminya, "Dia memiliki pekerjaan paling berat diantara kalian semua."


"Apa?" tanya Kakak Ipar polos.


"Memastikan mood ibu hamil dalam kondisi baik," jawab Nyonya Pradipta tersenyum penuh arti pada suaminya.


"Ah ya, benar sekali! Ayo sayang kita ke kamar sekarang! Mood ibu hamil harus selalu dalam keadaan baik dan aku akan memastikannya."


Eh.


"Aish! Kalian sungguh mesum! Ingatlah, kandungan yang berusia muda sangat rentan terhadap goncangan," seruku langsung ke intinya.


Hah! Kalian kira aku tidak tahu maksud kalian apa? Memberi perintah ini itu pada kami sedangkan kalian berdua mau mesra-mesraan.


Aku tidak peduli semua mata yang terbelalak padaku, terutama mata tunanganku sendiri.


Glek.


"Apa sebaiknya kau lebih cepat menikah saja, Nia? Bagaimana menurutmu, Asisten Yan?" tantang Kak Litha dengan nada ketusnya.


Aku salah tingkah karena pikiranku salah ... mana mata elang tunanganku menghujam ke arahku lagi. Ah, apa ada yang salah dengan otakku? Bukankah jelas perkataan mereka sendiri yang mengarah kesana?


Aih ... nampak seringai kemenangan menghiasi wajah Kakak Ipar yang menuntun istrinya masuk ke dalam kamar. Aku bisa membalas perkataan siapa saja yang menyudutkanku tetapi tidak berlaku jika Kak Litha yang melakukannya karena aku mengingat pesan Bibi Rima, bahwa dialah pengganti ayah ibu kami yang telah tiada.


.


.


.


Seluruh penghuni kediaman Keluarga Pradipta tengah bersuka cita mendengar berita Nyonya Pradipta hamil anak kedua. Apalagi aku– sangat bahagia.


Saat ini aku berada di kamar Kak Litha beserta Zean, bercengkrama dan bersenda gurau selepas makan malam dengan menu spesial, sedangkan Kakak Ipar tengah berdiskusi dengan Asisten Yan di ruang kerja.


"Apa ada banyak pekerjaan? Sampai malam begini belum selesai," tanyaku sambil bermain dengan Zean yang tengah dipangku ibunya.


"Kenapa? Kau mencemaskan tunanganmu?" sahut Kakak Ipar, dia baru saja membuka pintu kamar dan mendengar pertanyaanku yang sebenarnya untuk Kak Litha.


Hhmmpphhh ... aku menghela nafas.


"Apa ada masalah serius di Pradipta Corp., Mas?" cemas Kak Litha.


Kakak Ipar mengambil Baby Zean dan menggendongnya, menciumi pipi putranya berulang-ulang sampai Zean berteriak, "Yaaaahhh!!!"


Aku dan Kak Litha tertawa kecil melihat Baby Zean menggeleng kuat-kuat dan memegangi pipinya dengan kedua tangan agar ayahnya tidak menciuminya lagi.


"Hehehe ... Baik, baik. Ayah tidak akan menggodamu lagi," kata Kakak Ipar terkekeh, "Mau sama Ibu atau Bibi?" tanyanya pada putra kecilnya.


"Bibi saja ya? Zean sudah semakin besar jadi Ibu tidak boleh dulu menggendong Zean karena ada adik bayi yang masih sangat mungil di dalam perut Ibu," ujarku setelah keponakanku menunjuk ibunya, kemudian langsung tanpa persetujuannya kuambil dia dari gendongan Kakak Ipar.


Hooaaammm.


Baby Zean menguap sangat lebar, sekarang sudah masuk jam tidurnya. Aku hafal setiap polahnya karena turut mengasuhnya sejak orok jika tidak ke kampus.


"Kak, aku tidurkan Zean dulu ya?" pintaku.


Kak Litha mengangguk lalu tanpa banyak bicara dia mengusap bahu suaminya, seperti isyarat bahwa segala hal sulit pasti akan ada jalan keluarnya.

__ADS_1


Kakak Ipar menghembuskan nafasnya dengan berat, "Project Pradipta Corp. dengan Auto Tech Inc. dibatalkan. Semua perencanaannya dibajak dan jam enam tadi sudah di launching oleh PT. Intra Techno. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan pembatalan project ini pada tim yang sudah membangun project ini dari awal."


Langkahku yang menuju pintu terhenti, sembari mengusap-usap kepala Baby Zean, aku menyeletuk, "Apa project itu sudah diuji coba?"


"Pekan depan baru jadwal tahap uji coba, tapi nyatanya sekarang tidak perlu karena tidak akan dilanjutkan."


"Sebuah project dalam dunia informatika belum bisa dikatakan layak pakai jika tidak diuji coba terlebih dahulu. Apa divisi IT Pradipta Corp. tidak tahu hal tersebut?"


"Buat apa dilanjutkan kalau akhirnya project ini gagal, hanya pekerjaan sia-sia buat mereka."


"Itu karena pimpinan mereka sudah menyerah dan menularkan rasa pesimis pada semua orang yang bekerja dengannya."


Kakak Ipar menyipitkan mata menyilet pandanganku. Kak Litha yang berada di sebelahnya hanya menghela nafas pasrah melihatku berdebat dengan suaminya, dia menatapku penuh harap agar aku menyudahi adu pendapat kami, ditambah tingkah Baby Zean yang berada dalam gendonganku sudah menggeliat gelisah dan sedikit merengek.


"Menurutku sebaiknya Kakak cari sampai dapat program apa yang disisipkan dalam sistem perencanaan Pradipta Corp. lalu musnahkan. Biarkan project itu tetap berjalan sampai tahap uji coba dan sempurna untuk dirilis. Lalu katakan apa yang sebenarnya terjadi saat project ini di launching. Jangan takut dengan opini publik karena hal tersebut selalu ada pro dan kontra bahkan tidak jarang ada buzzer di antaranya," pungkasku mengakhiri perdebatan kami.


"Nia! Berani sekali kau–"


Aku menggeleng, "Tidak, aku tidak bermaksud mengerdilkan Presdir Pradipta Corp. ... Terkadang kita butuh melihat dari sudut pandang lain supaya lebih bijak mengambil sikap karena kadang kita pikir di depan tidak ada jalan, tapi ternyata itu hanya kabut yang menutupi pandangan di saat musim yang tengah tak berpihak pada kita."


"..."


"Bibi ... Antuk," keluh Baby Zean tiba-tiba sambil mengusap-ngusap matanya dan menyandarkan kepalanya di bahuku.


"Iya ... maaf, Bibi terlalu banyak bicara. Ayo kita tidur tapi sebelum itu Zean pamit sama Ayah dan Ibu ya," kataku lembut menciumi lehernya. Aroma khas anak balita sungguh menggemaskan.


Baby Zean mengangguk lalu melambaikan tangannya malas pada kedua orangtuanya tanpa mengangkat kepalanya, "Antuk," rengeknya lagi.


Setelah Tuan dan Nyonya Pradipta membalas lambaian tangan putranya, aku segera keluar dari kamar utama menuju kamar Baby Zean, namun langkahku kembali terhenti setelah seseorang memanggil namaku.


"Nia. Aku akan menunggumu di dapur, temanilah Zean dulu sampai dia benar-benar tidur."


Aku tidak menjawab kalimat yang berisi perintah itu dengan suara ataupun isyarat. Kulanjutkan kembali langkahku ke kamar Baby Zean tanpa mempedulikannya.


.


.


.


Sungguh tidak menyangka pemilik perintah yang kudengar sebelum ke kamar Baby Zean masih berada di dapur– benar-benar menungguku.


"Apa keponakanku sudah tidur nyenyak?"


Aku mengangguk. Ya, Kakak Ipar dan Kak Litha membahasakan tunanganku adalah pamannya pada Baby Zean.


"Ini."


Dia menyodorkan segelas coklat hangat, "Mungkin sudah dingin karena aku membuatnya dari tadi," katanya setelah aku menyambut pemberiannya.


"Tidak apa," balasku singkat, "Ada apa menungguku sampai larut? Kalau bukan hal yang penting pasti kau tidak akan merelakan waktu istirahatmu."


"Aku hanya ingin memastikan dirimu baik-baik saja sejak kejadian tadi siang."


Ah, dia membahas pertemuanku dengan Bibi Rima. Sepertinya dia tidak menceritakannya pada Kakak Ipar karena kalau suami kakak perempuanku tahu pasti aku sudah di cecarnya.


"Terimakasih sudah tidak menceritakannya pada Kakak. Aku sangat menghargai itu," sahutku.


"Nia, apa aku ada salah bicara hingga menyinggungmu?"


"Tidak ada."


"Kalau begitu kenapa sikapmu begitu acuh padaku?"


"Oh ya?" tanyaku heran menatap keseluruhan wajah tampannya.


"Maafkan semua kesalahan yang pernah kulakukan padamu. Aku ingin memulainya dari awal."


Eh, apa ini?


Jantungku berdentum lebih cepat dari yang seharusnya.


"Apa yang dimulai dari awal?" tanyaku berusaha santai sembari menenggak minuman coklat di tanganku.


Entah mengapa, yang ada aku semakin gugup dan tanpa jeda terus menenggak minuman itu hingga hampir habis.


"Hubungan kita?"


BUURRR ... UHUKKK.


Semburanku tepat sasaran pada kemeja tunanganku dan sebagian mengenai wajahnya.


"Ma– maaf. Maafkan aku– tidak sengaja."


Aku berlari panik mengambil lap di laci dapur lalu membasahinya sedikit dengan air untuk mengelap semua noda coklat yang berada padanya.


Ya Tuhan!


Seketika lap di tanganku terjatuh begitu berbalik. Mata ini tertuju pada otot lengan, dada juga perutnya yang padat dan– mirip roti sobek. Gerakan mengelap sendiri noda di wajahnya dengan kemeja putih yang baru saja di lepasnya sangatlah membuatku malu tapi juga tak ingin enyah dari pandangan tersebut. Ck.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2