
Bagiku, sebuah hati diibaratkan sebuah puzzle yang terbentuk dari kepingan-kepingan. Bahagia akan terbentuk sempurna jika semua kepingannya tersusun dengan baik. Kepingan itu merefleksikan perasaan terhadap kehidupan yang dijalani, mulai dari aspek spiritual, keluarga, pertemanan, hubungan asmara, dan sosial lainnya. Jika bahagia maka kepingan-kepingan itu akan melekat dan sebaliknya jika marah, sedih maupun kecewa maka kepingan hati itu akan terlepas kembali.
Seperti hatiku, yang kepingan-kepingannya berserakan. Ayah, Ibu, Paman, Bibi, Kak Tisha semuanya terburai, hanya ada pelekat dari Kak Litha dan Tuhan yang aku yakini. Aku sangat mementingkan keluargaku, tempat aku dilahirkan dan tumbuh dengan hangat. Limpahan kasih sayang dari mereka membuatku tidak peduli dengan kesakitan yang aku dapat dari luar. Perlakuan keluargaku bagaikan imunitas untuk menghadapi kehidupan sebenarnya ... itu yang aku rasakan. Makanya tidak ada yang lebih menyakitkan jika harus berpisah dengan mereka, ironisnya aku mengalaminya lagi sekarang, di tengah malam ini ....
"Nia, bawa saja dompet dan barang pribadimu yang bisa dibawa sekarang. Orang suruhan Tuan Muda sudah menunggumu di mobil. Ayo lekas! Kau harus ke Ibukota sekarang," kata Bu Burne dengan suara pelan namun jelas, berusaha berbicara tidak panik dan jangan sampai membangunkan Keysha.
"Tapi kenapa, Bu? Ada apa?" tanyaku bingung, melihat reaksi Bu Burne yang tidak biasanya semakin takut ada hal-hal buruk menimpa keluarga kakakku karena tadi dia menyebut Ibukota.
"Ibu juga tidak tahu persis. Ayo segera! Kamu tidak punya banyak waktu."
Begitu harus sesegera mungkin sampai dia memakaikanku jaket dan membantuku merapikan rambut, kurang lebih seperti seorang Ibu yang menyiapkan anaknya yang sudah terlambat. Aku tidak sempat mengganti baju, mengenakan piyama di balik jaket dan hanya membawa tas kecil berisi dompet dan ponsel -selama siswi berada di asrama semua ponsel pribadi akan disimpan di dalam brankas dan kuncinya dipegang masing-masing wali kelas- yang tadi diberikan Bu Burne.
"Nia, tenangkan dan kendalikan dirimu. Jangan gegabah dan jangan berpikir terlalu berlebihan, oke?"
Pesan terakhir Bu Burne saat dia dan Kepala Sekolah mengantarku masuk ke dalam mobil membuat pikiranku semakin kacau.
"Nona, kita akan sampai sekitar pukul 03.10 dini hari. Begitu mendarat Nona akan langsung diantar ke rumah sakit tempat Nyonya dirawat," sahut seorang pelayan wanita ketika aku dipersilakan duduk dalam pesawat pribadinya Kakak Ipar.
tempat Nyonya dirawat, itu artinya Kak Litha ....
"Ada apa dengan kakakku?" tanyaku cepat sebelum pelayan itu berlalu.
Dia diam saja, mukanya pias bingung mau mengatakan apa.
"ADA APA?" teriakku mengulang pertanyaan dengan hati bergemuruh kencang.
Mukutnya masih tidak bersuara, hanya tangannya mengambil ponsel, lalu membuka aplikasi berita terkini dan diberikannya ponsel itu padaku.
Siaran langsung dari Rumah Sakit Pradipta Hospital.
Saat ini mencuat adanya insiden penembakan di Jalan Perkawanan. Di negara kita yang tidak melegalkan senjata api tentunya berita ini sangat mengejutkan, terlebih lagi mengakibatkan tiga korban terluka. Menurut rumornya, Keluarga Pradipta tersangkut pada insiden mengerikan ini. Kami, para wartawan dari berbagai media cetak maupun elektronik sudah menunggu para korban di halaman rumah sa–
"MUNDUR! MUNDUR! BERI JALAN!"
Cekrak. Cekrek.
Tap. Tap. Tap.
Cekrak. Cekrek.
Dari rekaman video tersebut terlihat suasana sangat riuh dan penuh kepanikan, seorang kru rumah sakit menyibak pewarta berita di halaman rumah sakit yang menutupi akses pintu IGD.
Satu persatu brankar dari ambulans diturunkan. Pertama, seorang ibu hamil yang bersimbah darah, bahkan darah masih saja mengalir meski sudah ditekan kuat oleh seorang pria yang tampilannya sangat berantakan. Ia ikut berlari mengimbangi roda yang di dorong cepat oleh perawat ke dalam IGD.
Kedua, brankar yang terisi oleh seorang pria tua yang tidak bergerak dan tidak terlalu banyak mengeluarkan darah, juga didorong cepat oleh perawat diiringi lari seorang lelaki yang wajahnya sangat aku kenal.
Ketiga, seorang wanita dengan luka tembak di bagian dadanya, namun yang mengiringnya adalah dua orang anggota polisi.
Brak.
Ponsel Si Pelayan terlepas dari genggamanku, seketika kakiku tidak kuat menopang bobot tubuhku yang bergetar hebat.
"NONA! ... SIAPA SAJA TOLONG BANTU NONA VANIA!"
Datang seorang lagi pelayan datang membantu untuk memapahku bangun dan duduk di kursi pesawat, dipasangkannya sabuk pengaman.
Airmataku mengalir deras sekali mengingat video barusan. Diriku serasa jatuh dari pesawat tanpa menggunakan parasut dan berkata, aku akan segera mati.
"A– apa vi– deo i– tu benar?" tanyaku terbata.
"Nona, sebentar lagi pesawat akan lepas landas. Tenangkan diri Nona dulu. Saya akan menceritakan pada Nona jika Nona sudah sedikit tenang," ujarnya yang kudengar seperti berdengung.
Nafasku terasa berat dan tersengal, pandanganku gelap dan– aku tidak tahu setelahnya.
__ADS_1
.
.
.
"Ugh ...."
"Nona, Nona sudah sadar?"
"A– ada apa? Aku kenapa?"
Ah, kepalaku pusing dan sedikit berputar, kupijat ringan kedua pelipisku dengan jari-jari di tangan kanan.
"Tadi Nona sempat pingsan. Sekarang pesawat sedang terbang dan sekitar 40 menit lagi kita sudah sampai di Ibukota."
Aku mengingatnya, apa yang kulihat sebelum tidak sadarkan diri, mataku mulai memanas.
"Nona, minumlah teh ini dulu," katanya menyodorkan secangkir teh, "Saya akan menceritakan kondisi Nyonya yang disampaikan Asisten Yan pada saya."
Ku raih cangkir itu dan langsung menghabiskannya dalam tiga tegukan, "Sekarang katakan padaku!" seruku tidak sabar menegakkan punggung.
"Malam ini malam yang begitu mengerikan bagi Tuan dan Nyonya Pradipta setelah merayakan ulang tahun Pradipta Corp. Ada sekelompok orang jahat yang tidak menyukai Tuan dan Nyonya mencelakai Nyonya dan Tuan Sasmita sepulang acara sampai terluka parah. Sekarang mereka sedang ditangani serius oleh dokter. Nyonya terkena luka tusuk yang dalam dan mengeluarkan banyak darah sehingga Nyonya kehilangan banyak darah. Sayangnya, golongan darah Nyonya termasuk golongan darah yang langka, maka itu Nona dijemput dan diminta untuk mendonorkan darahnya untuk Nyonya karena Nona dan Nyonya adalah saudara kandung."
Hah!
Kulepas punggungku kembali ke sandaran kursi, mataku menerawang ke jendela, ke langit malam yang gelap.
"Bagaimana bayinya?" tanyaku penuh ketakutan.
"Bayinya tidak terluka karena Nyonya menahan pisau yang ditusukkan ke perutnya. Tapi bagaimanapun kondisi kesehatan seorang ibu hamil akan sangat mempengaruhi bayi yang dikandungnya."
Hatiku makin berkecamuk, tidak melepaskan pandangan dari jendela, "Andai saja aku bisa mendonorkan darahku, disedot sampai meninggalkan tulang dan kulitpun aku rela. Hehehe ...." sahutku getir, menertawai takdir yang lagi-lagi masih senang bermain denganku.
"Terimakasih informasinya. Boleh aku ditinggal sendiri?" pintaku pada pelayan itu.
"Baik, Nona. Jika membutuhkan sesuatu, jangan sungkan."Aku mengangguk, kemudian pelayan itu meninggalkanku.
Masih kutatap langit gelap lewat jendela pesawat, pemandangan yang membosankan, sangat berbeda jika aku terbang di pagi atau siang hari.
"Apa pemandangan setelah kehidupan segelap ini?" gumamku dan mulai merasakan mata yang tadi memanas sudah berair lalu jatuh ke pipi. "Apa pemandangan ini yang juga lagi dilihat Kak Litha sekarang?" lanjutku tanpa berusaha menghentikan airmata yang terus berjatuhan di pipi.
"Kakak ... bertahanlah, Kak. Bertahanlah! Aku mohon ..." Kupejamkan kedua mata namun tidak juga menghentikan air yang terus mengalir, "Ya Tuhan-ku, Engkau Maha Pemurah ... Bermurah-hatilah padaku sedikit saja, si anak yatim piatu– yang hanya memiliki kakak perempuan yang sekarang tengah berjuang antara hidup dan mati ... Tuhan-ku, Kau pernah berkata tidak akan memberi hambaMu ujian melebihi kemampuan umatNya, tapi nyatanya aku tidak bisa jika harus kehilangan satu anggota keluarga lagi. Bagaimana aku bisa hidup nantinya, Ya Tuhaaan ...."
Aku terisak hebat tanpa suara, memukul-mukul dadaku sendiri, "Aku memohon padaMu, Tuhan-Ku ... panjangkanlah nafas kehidupan Kak Litha dan bayinya. Tidak ada daya dan upaya selain menyandarkan kehidupan kami padaMu."
Kututup wajah dengan kedua telapak tangan, memohon dengan sangat pada Sang Pemilik Kehidupan tanpa henti, terus berharap kiranya Tuhan iba melihatku.
.
.
.
Begitu sampai di rumah sakit aku langsung berlari menuju ruang operasi seperti yang dikatakan Kakak Ipar di telepon. Tuhan Maha Baik, Tuhan memberiku secercah harapan. Kak Litha mendapat donor darah yang cocok di waktu yang tepat, itu semua tidak lepas dari campur tangan Tuhan.
Tidak henti-hentinya berucap syukur sambil berlari, hingga aku menabrak seseorang.
Gubrakk.
"Ma– maaf," kataku nyaris tak terdengar.
Aneh, seseorang yang tidak sengaja kutabrak tadi adalah pemuda berambut ikal dan berwajah pucat malah terpaku melihatku, "Apa aku hantu di matanya. Astaga ... aku tidak punya waktu meladeninya meskipun aku salah, yang penting aku sudah meminta maaf."
__ADS_1
Terserahlah ... fokusku hanya pada Kak Litha sekarang. Kulanjutkan lagi lariku hingga tiba di depan ruang operasi.
"Kak!"
Aku berseru memanggil Kakak Ipar yang tertunduk di samping pintu operasi. Lampu diatasnya masih menandakan operasi sedang berlangsung.
"Nia!"
Demi Tuhan, baru kali ini aku melihat gambaran putus asanya seorang Tuan Muda yang memiliki kekuasaan dan kejayaan. Tidak berbeda sama sekali dengan orang lain. Rambut yang acak-acakan, wajah yang lelah karena habis menangis, dan tatapan mata yang kosong namun masih berharap.
Aku ingin menguatkannya, saling menguatkan dengan memeluknya, tapi– aku tahu Kak Litha tidak akan berkenan. Jangankan memeluk, kubilang aku menyukai Kakak Ipar -menyukai sebagai seorang kakak- saja sudah diperingatinya dengan keras untuk menjaga sikap. Jadi, lebih baik kami hanya duduk berdampingan tanpa kontak fisik.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?" tanyaku.
"Maafkan aku, Nia. Aku yang salah tidak bisa menjaga kakakmu. Harusnya tadi aku sendiri yang mengantarnya pulang," sesal Kakak Ipar menundukkan kepalanya dan menautkan kedua tangan di atas paha.
Dari cerita singkat insiden itu, aku bisa menangkap bahwa ada hal di masa lalu yang belum terselesaikan. Mantan Kakak Ipar merasa dicurangi kakakku sehingga dia mencoba menyakiti Kak Litha dan bayi di dalam perutnya. Se-kompeten apapun Pak Sas menjaga Nyonya Pradipta tentu saja kalah jika dikeroyok dalam kondisi yang tidak menguntungkan, disamping usianya tidak lagi muda. Kak Litha mendapatkan satu luka tusukan di bahu yang dalam dan Pak Sas menderita gegar otak parah, sekarang dia masih berada di ICU, kritis.
"Lalu bagaimana keadaan mantan Kakak Ipar?"
"Kuharap dia mati!" sambungku dalam hati.
"Dia terkena luka tembak di dadanya karena melindungiku dari ayahnya yang ingin menembakku."
"Hah! Melindungi? Demi cinta begitu? Cinta apaan! ... Apa Kakak Ipar terharu dengan perbuatannya?" ketusku sedikit emosi.
"Aku sangat marah dan tidak menerima perbuatannya terhadap Litha, tapi aku juga tidak bisa menafikan kalau dia sudah menyelamatkan nyawaku."
"Dengan menjadi tameng begitu. Lalu setelah dia sadar, dia akan meminta balas budi untuk dinikahi Kakak Ipar. Karena hutang nyawa maka Kakak Ipar akan memberi kompensasi meski tidak mengabulkan permintaannya. Tapi apapun itu, pasti akan menyakiti hati Kak Litha seumur hidup."
"Nia! Darimana kau dapat pikiran itu?"
Matanya membulat ke arahku. Aku menantang balik maniknya, "Itu jurus paling umum yang sering dilakukan wanita toxic seperti dia," kataku geram.
Kakak Ipar menarik nafasnya panjang lalu dihembuskan dengan keras, aku tahu dia ingin memprotes kalimatku tapi tidak bisa membalasnya.
"Kak, kalau memang dia wanita yang baik– yang bisa berpikir dengan baik. Dia tidak akan melibatkan dirinya dalam insiden ini. Dia akan menerima semua yang sudah ditakdirkan Tuhan. Kenapa dia mesti menjadi tameng Kakak Ipar? Harusnya dia bisa mencegah sebelum terjadinya penembakan. Artinya itu adalah akibat dari perbuatannya sendiri."
Tanpa melepaskan cengkraman mataku pada lawan bicara, kutekankan sekali lagi, "Harus aku katakan, Kakak Ipar lalai menjaga kakakku. Kakak Ipar juga masih terjebak kenangan masa lalu mantan hinga senantiasa ragu-ragu mengambil sikap, kadang tegas kadang lunak dan itu bukan sikap lelaki sejati ... Plin-plan dengan dalih tidak enakan."
Matanya melotot seakan ingin membunuhku, aku benar-benar menyinggung pribadi seorang Tuan Muda, tapi itu pertanda apa yang kukatakan barusan ada benarnya.
"Ray!"
Suara seseorang mengalihkan keinginannya untuk menghabisiku, ku tengokkan pandangan siapa pemilik suara itu.
"Pak Sas baru saja meninggal." Tuan Firza memberi kabar duka.
"A– apa? Pak Sas– Pak Sas meninggal? Apa mereka tidak memberikan penanganan yang terbaik. Rumah Sakit apa ini!" seru Kakak Ipar kaget dan marah.
"Sebaiknya kau ke ICU sekarang, ada adik dan keponakan beliau disana."
Kakak Ipar bimbang melihat pintu kamar operasi.
"Kak, biar aku yang menunggui Kak Litha. Pergilah kesana, ada keluarga yang mesti dikuatkan."
Lelaki tegap itu mengusap wajahnya, malam ini sangatlah berat baginya untuk dilalui. "Aku titip istriku, Nia. Segera menghubungiku jika dokter keluar dari ruang operasi," ujarnya.
Aku mengangguk. Meskipun aku tidak mengenal dekat sosok Pak Sas, tetapi dia adalah orang yang paling setia pada Kak Litha. Dialah satu-satunya orang dari pihak Keluarga Pradipta yang peduli dan menguatkan kakakku saat terpuruk. Hingga akhirnya dia tetap setia dan berada di sisi kakakku menjaga dan melindungi hingga akhir hayatnya.
"Orang lain saja bisa se-setia ini padamu, Kak. Apalagi aku adikmu satu-satunya. Tidak akan kubiarkan orang yang sudah menyakitimu akan menindasmu lagi. Dia akan berhadapan denganku."
- Bersambung -
__ADS_1