Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Inilah Kesopananku


__ADS_3

BUGH. BUGH.


Muka Nezar dihantam tunanganku atas perintah Kakak Ipar setelah dia mengakui semua perbuatannya. Aku merasa bersalah melihatnya menahan sakit tanpa suara, namun Kakak Ipar terlihat belum puas.


"Mas jahat sekali. Anak ini bermaksud baik untuk mengakui semuanya tapi kenapa tetap dipukul?" tanya Kak Litha membelakangi Nezar dan Asisten Yan menghadap suaminya, tidak tega.


"Beruntung ada kamu disini sekarang. Kalau tidak, aku akan melanjutkan pelajaran yang seharusnya dia terima dengan tanganku sendiri," jawab Kakak Ipar ngeles.


"Tapi Asisten Yan juga memukulnya dengan sangat keras. Bagaimana kalau ada cedera? Siapa yang bertanggungjawab?" cerca Kak Litha tidak setuju dengan perlakuan suaminya.


"Eh, kau! Kemarilah!" panggil Kakak Ipar pada Nezar supaya mendekat.


"Jawab pertanyaan istriku? Siapa yang bertanggungjawab kalau kau cedera?" tanya Kakak Ipar dengan angkuhnya.


"Sa– saya, Tuan," gagap kawanku itu ketakutan.


"Sayang, kau dengar sendiri kan, dia bertanggungjawab atas dirinya karena memang dia melakukan kesalahan."


"Tapi dia juga menyelamatkan istrimu," sahut Kak Litha lantang.


Kami yang mendengarnya terkesiap, apa maksudnya?


"Dia yang mendonorkan darah saat aku kehilangan banyak darah karena ditusuk mantan kekasihmu," sambungnya lagi.


Hening. Semuanya, tanpa terkecuali.


"Ba– bagaimana kau tahu itu dia?" tanya Kakak Ipar pelan, sejurus kemudian dia bertanya pada tunanganku, "Siapa nama pendonor itu, Yan? Aku lupa."


Dengan sigap Asisten Yan merogoh saku dan menggerakkan jemari di atas layar ponselnya.


"Nezar Abigail, kan namanya? Aku tahu namanya karena diberitahu Pak Sas setelah memukulnya," sela kakakku.


Hah, apa? Rasanya tawaku ingin meledak, dia baru saja dipukuli Asisten Yan padahal sebelumnya dia juga pernah dipukul paman Asisten Yan, hahaha ....


"Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya?" tanya Kakak Ipar setelah sahabatnya mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan kakakku benar.


"Maaf. Aku hanya tidak ingin Mas tahu kalau dia adalah penyebar foto pelukanmu. Aku sudah berjanji padanya utuk melindungi identitas Thanos01."


Kakak Ipar menghela nafasnya, panjang.


"Kau yang mendonorkan darah malam itu?" tanyaku berbisik pada Nezar.


Dia mengangguk memegangi wajahnya yang mulai membengkak sembari menahan sakit.


"Kau!" desisku tertahan, "Untung mukamu sudah babak belur kalau tidak aku akan menghajarmu lagi. Kenapa kau tidak bilang padaku?"


Dia berusaha tersenyum tapi terlihat aneh, sedangkan Kakak Ipar masih memandang istrinya, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.


"Dia beritikad baik mengakui semuanya di depan Mas. Berusaha melawan rasa takut yang luar biasa. Berilah sedikit apresiasi ... apalagi berkat dia aku masih hidup," bujuk Kak Litha lagi.


Kakak Ipar beralih menatap tajam Nezar lalu berkata, "Dua pukulan di mukamu itu adalah pelajaran paling ringan karena kau mendonorkan darahmu. Tetapi perlu kau catat, jaga kondisi badanmu agar sehat selalu. Mulai sekarang jika istri dan anakku membutuhkan darah, kau harus siap sedia kapanpun dan dimanapun."


Aku dan Kak Litha saling berpandangan, mengira-ngira apalagi yang akan disampaikan Tuan Muda Pradipta.


"Kudengar dari Nia kau adalah temannya yang paling bisa diandalkan perihal akademik dan itu cukup terbukti dengan sulitnya orangku menemukan siapa Thanos01. Maka dari itu, aku jamin biaya kuliahmu sampai lulus dan untuk pertama kalinya kantor pusat Pradipta Corp. menerima mahasiswa magang jika kau mau."


Aku dan kakakku melongo, Tuan Muda Pradipta kenapa menjadi seorang yang pemurah? Nezar diampuni saja itu sudah bagus sekali, sekarang malah ditambah penawaran yang menggiurkan.


"Ray, jangan gegabah! Pradipta Corp. selalu menjaga kredibilitasnya dengan tidak menerima mahasiswa magang," tolak Asisten Yan dengan spontan sampai dia menyapa Kakak Ipar dengan namanya padahal ada Nezar di ruangan ini.


"Nanti ada rules tambahan yang berlaku," kata Kakak Ipar enteng, "Tapi aku tidak cuma-cuma memberikan kesempatan emas tersebut. Dia akan membayarnya dengan ikrar bersedianya dia sebagai pendonor darah untuk istri dan anakku jika mereka membutuhkan darah. Golongan darah mereka membuatku sangat khawatir."


"Ray! Kau tidak bisa mempercayai orang yang baru saja dikenal," tandas Asisten Yan dengan suara pelan.


Kakak Ipar hanya tersenyum lalu berjalan mendekati Nezar, diremasnya– sedikit kuat hingga ada airmukanya berubah.


"Dia tidak akan berani mencoba untuk mengkhianati Keluarga Pradipta. Cukup beritahu dia bagaimana konsekuensi seorang pengkhianat."


"Ti– tidak, tidak akan, Tuan. A– aku tidak akan mengkhianati seseorang yang berjasa dalam hidupku," jawab Nezar terbata.


"Yan, bawa dia ke rumah sakit, katakan pada dokter yang mengobatinya untuk memberikan yang terbaik," titah Kaka Ipar menggenggam tangan istrinya, "Kalau kau percaya dia orang baik, aku akan mengikuti instingmu, Lith." Dikecup mesra punggung tangan ibu dari putranya itu kemudian berkata pada Nezar, "Setelah itu belajarlah baik dan segera datang jika aku memanggilmu."


"Cih, aku tidak mau mengantarnya berobat. Dia bisa ke rumah sakit sendiri," tolak tunanganku.


Aku jadi kesal mendengarnya, "Ya sudah, aku saja yang membawanya ke rumah sakit."

__ADS_1


"Tidak usah. Aku yang akan membawanya," selanya cepat.


"Bukannya tadi kau keberatan?"


"Itu tadi, tidak sekarang."


"Terserah."


"Nia, kau saja yang mengantarku ke rumah sakit,* pinta Nezar pelan.


"Kau siapa menyuruh-nyuruhnya seperti itu, hah? Atau kau mau aku hajar sekali lagi biar paham statusnya," berang Asisten Yan.


"Status apa?" tanyaku dan Kak Litha berbarengan.


"Eng... status Vania adalah tunangan orang," jawab Asisten Yan canggung.


Hufftt ... tunangan orang? Bukankah lebih elok didengar 'tunanganku' ketimbang ucapannya barusan.


"Ayo, berdiri? Kita ke rumah sakit sekarang!" perintah Asisten Yan galak.


"Zar, nanti aku susul," sahutku cepat.


"Tidak perlu," sungut Asisten Yan sembari menarik kasar lengan Nezar.


Ada apa dengan pria itu?


"Tunanganmu cemburu," celetuk Kakak Ipar setelah asistennya dan kawanku pergi.


Kak Litha terkekeh geli tapi langsung dibungkam dengan lirikan tajam suaminya.


"Aku tidak suka kau menyembunyikan apapun dariku. Kali ini aku maklumi, tapi tidak lain kali."


Kakak Ipar jelas memberi peringatan terakhir pada istrinya.


"Iya– iya, maaf. Aku akui salah, lain kali tidak ku ulangi, tapi Mas juga harus melakukan yang sama. Aku tidak mau ada hal tersembunyi diantara kita apapun alasannya, meski demi kebaikan karena tidak ada kebaikan yang dibungkus dengan ketidakjujuran."


Cup.


Kakak Ipar mengecup kening istrinya. Ya Tuhan, aku jadi obat nyamuk diantara pasutri ini. Aku ingin segera keluar dari ruangan ini namun aku mengurungkannya setelah Kakak Ipar menyuruhku duduk di sofa, tepat berhadapan dengannya.


"Aku bisa mempercayai kawanmu itu kan, Nia?"


Aku mengangguk, "Dia anak yang baik. Aku tahu latarnya dan yakin dia punya pikiran yang lurus."


"Menurutmu, apa dia berkompeten jika masuk ke dalam Pradipta Corp.?"


"Dia layak untuk bekerja di Pradipta Corp, Kak. Kakak tahu, dia seorang freelancer untuk menemukan bug error di suatu sistem yang sudah berjalan. Sekarang namanya semakin diperhitungkan karena beberapa bulan belakangan ini ada perusahaan luar negeri yang sering memakai jasanya."


Kakak Ipar manggut-manggut, tersenyum tipis, "Kalau dia bisa dipercaya, juga cukup mumpuni dan bisa berkembang kelak aku ingin segera merekrutnya untuk di divisi IT setelah lulus kuliah, sebab itu aku ingin dia magang terlebih dahulu."


"Ada apa dengan divisi IT?" tanyaku kaget.


"Firza mengindikasi ada seseorang yang memasang sesuatu di dalam sistem perencanaan, seperti aplikasi mata-mata yang sengaja di hidden. Jadi para kompetitor kami tahu rencana bisnis kami. Saat ini kami sedang membangun sistem baru karena aplikasi itu belum bisa ditemukan."


Aku dan Kak Litha melongo tidak percaya sekelas perusahaan Pradipta Corp. bisa kecolongan.


Kakak Ipar menghela nafasnya, "Celakanya rencana project baru dengan Autotech Inc. sudah terlanjur di upload, dikhawatirkan rencana itu akan dibocorkan ke perusahaan lain dan lebih dulu di launching. Andai itu terjadi Pradipta Corp. akan disebut pengikut jika juga merilisnya."


"Kalau begitu Kakak duluan saja yang launching?"


Auww ...


Kak Litha mencubit perutku, kebiasaan buruknya tidak pernah hilang.


"Kau kira project kolaborasi gampang dikerjakan? Mesti ada persetujuan di semua aspek dari perusahaan yang bekerjasama dan itu membutuhkan waktu lebih lama ketimbang project yang dikerjakan satu perusahaan."


"Kalau begitu Kakak tidak usah khawatir karena siapapun yang merilisnya duluan dipastikan tidak sehebat kolaborasi Pradipta Corp. dan AutoTech Inc."


"Tapi kami akan disebut peniru dan itu sangat buruk serta mencoreng kredibilitas Pradipta Corp. yang dikenal sebagai perusahaan revolusioner di negeri ini. Padahal jelas project ini murni dari buah pikiran tim pengembangan produk dan kreatifitas kami. Mereka akan sangat tidak rela dan sakit hati ide mereka dicuri dan diklaim pihak lain. Aku sebagai bos mereka bertanggungjawab akan hal ini. Kalau akau tidak bisa mencari solusinya maka aku tidak punya muka di depan mereka," keluh Kakak Ipar panjang lebar. Baru kali ini kulihat kegelisahan di raut wajah Tuan Muda Pradipta, biasanya dia selalu punya power untuk menyelesaikan semua masalahnya.


Tangan Litha mengusap punggung suaminya dan berkata dengan lembut, "Tujuanmu baik, Mas. Berusahalah mencari jalan keluarnya, Aku percaya jika memang project ini sudah ditakdirkan untuk Pradipta Corp. maka meskipun ada ribuan cara ingin mengambilnya, Tuhan akan memberi ribuan rintangan juga untuk diambil."


Kakak Ipar hanya tersenyum tipis. Ah, begitu rumitnya mengurus perusahaan, ada banyak beban di pundaknya agar semua berjalan semestinya. Beruntung kakakku sangat memahami pekerjaan suaminya karena walaupun dia tidak pernah bekerja secara profesional tetapi ilmu yang didapatnya sewaktu kuliah relevan dengan lika-liku pekerjaan suaminya.


...***...

__ADS_1


PoV Abyan Pratama


Aku sangat kesal ditugasi untuk mengantar bocah bau ini ke rumah sakit. Dia punya kaki untuk pergi sendiri. Arrgghh ... rasanya ingin kuturunkan saja dia di pinggir jalan.


"Apa Tuan mencintai Vania?"


Ciittt.


Aku mendadak menginjak rem saking kagetnya dengan pertanyaan lancang seperti itu.


"Apa hakmu bertanya demikian. Ingat! bukan berarti kau mendapat angin segar dari Tuan Muda kau bisa sesuka hati bertindak dengan adiknya."


Bocah bau itu meringis, manahan sisa-sisa kesakitan akibat dari bogem mentah yang kuberikan tadi.


"Aku hanya kasihan dia menjalani suatu hubungan yang sia-sia. Vania adalah sahabatku, tentu aku ingin dia bahagia."


Hatiku panas, aku menghadap wajahnya hingga mata kami saling beradu, "Oh ya? Jadi maumu apa?" tandasku mencoba memgintimidasinya.


"Aku hanya ingin memastikan saja, kalau Tuan memang mencintainya– aku akan mendukungnya. Tetapi kalau tidak, maka aku harap Tuan tidak keberatan jika aku berusaha untuk mendapatkan hati Vania."


APA!


Bocah ini terang-terangan ingin berduel denganku! Apa dia belum puas dihajar?


"Maaf, Tuan. Aku tahu kalian telah bertunangan, hanya saja aku merasa sedikit ada yang janggal. Jadi aku pikir aku punya celah jika kalian tidak saling mencintai."


Setengah mati aku menahan emosiku agar tidak menambah memar dan bengkak di wajahnya.


"Kau sangat tidak sopan, Anak Muda!"


"Justru inilah kesopananku, Tuan. Mana ada lelaki yang jujur berkata kalau dia menginginkan seorang wanita dan akan memperjuangkan hatinya jika tidak dicintai oleh tunangannya– langsung di hadapan orang itu sendiri."


Aku menarik nafas panjang dan menghembuskan berkali-kali. Dia ini pemberani atau bodoh? Tidak berapa lama kupalingkan wajahku dan melajukan kembali mobil menuju rumah sakit.


"Selain luka di wajahmu sebaiknya kau periksakan juga otakmu, barangkali pukulanku sedikit menggeser kewarasanmu."


Dia terkekeh pelan dan bergumam, "Otakku ini memang sudah bergeser sejak Vania menabrakku pertama kali. Meskipun dia menangis tapi wajahnya yang putih kemerahan seperti strawberry sangat cantik, belum lagi rambut hitam panjangnya yang indah seperti–"


TAGH.


Kulempar botol parfum mobil padanya karena hanya benda itu yang bisa kudapatkan.


"Kau semakin berani ya!" hardikku, sembari dengan tangan yang kembali mengepal erat di kemudi setir.


Dia spontan terdiam, mengira-ngira dadanya sedikit nyeri terkena lemparan botol barusan. Siapa suruh kau memuji tunanganku sedetail itu.


.


.


.


"Mohon untuk menunggu disini. Dokter akan segera datang untuk memeriksa," sahut seorang petugas rumah sakit ketika kami berada di ruang tunggu bagian dokter umum.


Lima menit kemudian seorang berjubah dokter di dampingi perawat berjalan cepat ke arah kami.


Deg.


Dokter itu? Dokter berkacamata itu tersenyum memamerkan lesung pipinya dari jarak sepuluh meter.


"Aku sangat terkejut saat mengetahui kau datang ke rumah sakit. Kukira dirimu yang terluka?" tanyanya lembut.


Aku terpana menatapnya, tubuhnya tidak seperti dulu. Bagian perutnya yang membuncit menandakan dia sedang berbadan dua. Melihat ini membuat hatiku sakit.


"Aku yang menghajarnya atas perintah Tuan Muda. Tolong obati dia sampai sembuh."


Dia mengangguk dan tersenyum. Suasana canggung.


"Sudah lama kita tidak bertemu. Terakhir aku melihatmu di resepsi pernikahanmu, tidak kusangka secepat ini kau– kalian akan memiliki anak," sahutku getir.


Senyumnya berubah pias dan melirik sekilas ke arah perutnya kemudian memerintahkan perawat yang datang bersamanya untuk mengobati Si Bocah Bau.


"Kita bisa bicara di dalam ruangan dokter, Tuan," sahutnya dan langsung berbalik menuju ruang dimaksud.


Aku mengikutinya, entah apa yang ingin dia sampaikan sampai harus se-privat ini, berbicara empat mata di dalam ruangan. Raungan Nezar, Si Bocah Bau mengiringi langkahku meninggalkannya yang seharusnya tidak kulakukan.

__ADS_1


...***...


- Bersambung -


__ADS_2