
Tik. Tok.
Aku mengetuk meja dengan jari telunjuk dan jari tengah menanti penjelasan Nezar di kantin kampus. Dia menunduk, mencoba merangkai kata seharusnya agar terdengar masuk akal.
"Zar, kalau masih ada yang kau tutupi, menjauhlah dariku. Aku tidak suka orang seperti itu."
Nezar mengangkat mukanya, "Apa kau akan memaafkanku jika kuceritakan semuanya?"
"Tergantung."
Dia menghela nafas, "Dibandingkan Bentala dan aku pasti kau lebih menyukainya," ucapnya pelan.
"Hah. Hahaha ... Realistisnya, ya."
"Ck."
Aku tergelak, "Tidak ada perbandingan itu karena saat ini aku sedang berusaha melupakan seseorang. Aku tidak mau menambah beban cinta-cintaan."
"Aku tulus ingin dekat denganmu, tidak ada kaitannya sama sekali dengan dua akun media sosialku itu."
"Oh ya?"
"Kalau kukatakan aku menyukaimu, bisakah kau terima?" tanya menatapku.
Aku menopang wajahku dengan kedua punggung tangan yang bertaut, tersenyum lalu berujar, "Apa hakku menyuruhmu untuk tidak menyukaiku? Silahkan saja, aku menerimanya tapi untuk membalas perasaan yang sama aku juga tidak bisa memaksa hatiku."
Lagi-lagi dia menghela nafas, sedikit lebih panjang dari sebelumnya, "Kehidupanku kacau. Ayahku meninggalkan ibuku sejak aku berumur satu tahun. Lima tahun kemudian ibuku tewas akibat kecelakaan antara mikrolet dan minibus saat hendak ke pasar. Aku dan kakak perempuanku dirawat nenek dari ibu sampai kelas dua SMK. Untungnya ketika nenek meninggal, kakakku sudah menikah dan dia hanya bisa membantuku sampai aku lulus. Mimpiku untuk kuliah kandas, jangankan kuliah untuk makan dan tinggal pun tidak jelas. Menumpang sana-sini sama teman."
"Kakak perempuanmu?"
"Suaminya tidak menyukaiku. Dia menganggapku beban, aku mengerti karena untuk menghidupi istri dan kedua anaknya juga susah. Dia hanya buruh harian lepas. Aku coba hidup mandiri dengan bekerja apapun. Beruntung kantor media online Babun membutuhkan karyawan magang yang bisa melakukan semua pekerjaan. Kadang office boy, kameramen, pewarta, fotographer, editor bahkan reporter dadakan. Upahku tergantung apa yang kukerjakan, paling senang jika aku diajak meliput karena jika Babun masuk on trending maka aku kecipratan bonus dari bos. Bonus-bonus itu kutabung untuk mendaftar kuliah."
"Hidupmu tak kalah getirnya dari hidupku ternyata, minumlah dulu es tehmu, Zar, biar ada kemanisan di kisahmu selanjutnya"
Dia tersenyum, "Kau mirip dengannya."
"Siapa?"
"Ah tidak. Mau kulanjutkan tidak?"
"Yup."
"Berita tangkap tangan jual beli narkoba yang melibatkan salah satu artis sinetron yang sedang naik daun di Amore Club&Party dengan dua orang lainnya begitu heboh saat itu. Aku diajak untuk memotret apa yang terjadi di kantor polisi."
"Ya, aku ingat," kataku acuh, mengingat peristiwa itu pasti menyakitkan hati Kak Litha.
"Siapa yang tidak mengenal Tuan Pradipta? Pebisnis muda handal nomor satu versi majalah bisnis terkemuka untuk Asia Tenggara yang tidak pernah memiliki skandal. Tapi di malam itu aku tidak sengaja melihat dengan mata kepala sendiri dia tengah memeluk seorang wanita. Aku tidak tahu siapa wanita itu, yang pasti bukan istrinya karena kalau tidak salah di video wisuda yang sempat viral sebelumnya, Nyonya Pradipta sedang hamil."
Dia berhenti sejenak, aku menatapnya, "Lalu?" tanyaku.
"Aku pikir foto ini pasti heboh. Situs Babun akan ramai dikunjungi dan aku pun mendapat bonus, jadi aku memotret dan menjualnya ke redaktur. Benar saja, berita berita CLBK Tuan Pradipta bisa mengimbangi penangkapan artis yang memakai narkoba. Rating kedua berita itu berimbang dan Babun menjadi nomor satu selama dua hari dan sepuluh besar dalam sepuluh hari. Ditambah aku memostingnya di Instagram melalui akun Thanos01 untuk menggiring opini. Masyarakat kita sekarang suka sekali dengan gosip perselingkuhan."
"What! Ternyata kau orang dibalik akun Thanos01 itu rupanya. Astaga ... Jika kakak iparku tahu, tamat riwayatmu, Zar."
Wajahnya mengkerut, takut namun terlihat sangat menggemaskan.
"Aku senang saat itu karena mendapat bonus, kutraktir Tyok dan Firman makan di rumah makan padang. Sialnya dompetku ketinggalan di kantor Babun. Habislah kami di marah-marahi Uda Kasir, dikiranya kami sengaja."
"Hahaha ... balasan kecil dari perbuatanmu yang menyakiti orang lain," tawaku membayangkan mereka bertiga disandra Uda Kasir karena tidak bisa bayar, "Apa akhirnya kau cuci piring untuk membayar nasi yang sudah kau makan?"
Nezar menggeleng lemah, "Makanan kami dibayarkan oleh seseorang, disitulah aku sangat merasa bersalah memotret dan mempublikasi pelukan Tuan Pradipta dengan mantannya hingga menganggu tidurku selama berhari-hari."
Mataku memicing dan mencerna kalimatnya yang ambigu, apa hubungannya dengan orang yang membayar makanannya dan rasa bersalah.
"Orang yang membayar makananku adalah Nyonya Pradipta. Di saat hatinya terluka ketika gempuran gosip suaminya yang tidak setia, dia masih bisa tersenyum dan menolong kami. Dia membayar makanan kami karena ingat adik perempuannya yang seumuran dengan kami."
Aku tersenyum mendengarnya, kakakku memang berhati baik, dan penuh kasih sayang.
"Aku makin gelisah, Nia. Aku telah menyakiti wanita yang berhati malaikat, seharusnya aku tidak memotret momen itu. Akhirnya kuputuskan untuk mengakui semuanya di depan Nyonya Pradipta. Aku mengaku salah dan meminta maaf di kakinya. Dia sedang mengandung, doanya adalah doa ibu yang menembus langit. Bagaimana jika dia mendoakan kesialan dalam hidupku?"
__ADS_1
Entah mengapa di bagian ini Nezar menceritakannya dengan penuh emosional.
"Aku terima apapun hukuman yang akan diberikan padaku, yang penting aku mendapatkan maafnya," lanjutnya menyusut sudut mata kanannya. Hei ... apa dia menangis?
"Dia pasti memaafkanmu. Kakakku itu sangat mudah memberikan maaf, suaminya pun kadang sampai jengkel dibuatnya, hehehe ...."
"Ya. Nyonya Pradipta memaafkanku dan bertanya alasanku memotret suaminya berpelukan dengan wanita lain. Setelah aku memberikan alasannya, dia malah meminta nomor rekeningku. Begitu aku kembali ke kost, notifikasi masuk dengan jumlah yang–"
Nezar terisak, menutupi matanya seperti anak kecil yang menangis, "Yang jumlahnya bisa kugunakan sampai lulus kuliah."
Aku mematung, terpaku mendengar penuturannya, mengira-ngira berapa nominal yang ditransfer Kak Litha untuknya padahal Nezar bukanlah siapa-siapa bahkan orang yang telah menyakitinya.
"Nyonya bahkan menyuruhku menulis permintaan maaf kepada Tuan Pradipta yang akan disampaikan olehnya tanpa membongkar identitasku. Dia menjamin aku mendapat maaf dari suaminya dan memberiku semangat untuk melanjutkan mimpiku untuk berkuliah ... Saat ini aku bisa menjadi mahasiswa disini berkat Nyonya Pradipta, Nia." Nezar terisak di bangkunya, menarik perhatian mahasiswa lain yang berada di kantin. Apa dia tidak sadar tengah diperhatikan orang banyak?
"Zar," panggilku supaya dia menghentikan isakan tangisnya.
Bukannya diam malah meraung makin kencang. Ya ampun ... Aku yang malu jadinya, mereka mengira aku membuat lelaki ikal ini menangis.
"Nia, aku ditinggal ibuku sejak kecil. Melihat Nyonya Pradipta yang tulus, aku teringat ibuku. Aku mengidolakannya sampai atas inisiatif sendiri membuat fanbase Nyonya Pradipta tanpa tujuan apapun. Aku sangat mengagumi kebaikan hatinya."
"Zar, apa kau bisa berhenti dulu. Semua orang akan menganggapku kejam telah membuatmu menangis di kantin."
Matanya terbeliak diantara rambut ikalnya, entah mengapa tanganku refleks menghapus airmata di pipinya. Orang lain mungkin melihatnya aku seperti ibu yang membujuk anaknya saat menangis.
"Kau tega sekali membunuh karakterku, Nia!"
"Haaa ...."
"Ayo kita segera pergi dari sini! Wibawaku sudah terjun bebas," omelnya menarik tanganku berdiri.
Aku mengikutinya untuk berdiri tapi tidak untuk berjalan, "Zar, aku kecewa kau tidak berterus terang sejak awal padahal sangat menyenangkan berteman denganmu. Kau paket lengkap, lucu, menggemaskan, pintar, pendengar setia dan mau kusuruh-suruh. Jadi untuk menebus semua hal yang tidak diperkenankan Keluarga Pradipta kau harus menghadap kakak dan kakak iparku."
"Apa! Kau gila, Nia. Itu namanya kau benar-benar mau membunuhku!"
Aku mengangkat sudut bibirku, "Pecundang!"
"Bagaimana kalau kau di posisiku? Apa kau berani? Kakak iparmu itu mengerikan."
Dia terdiam. Aku yakin dia sebenarnya tidak berniat menyembunyikan apapun dariku. Lelaki bocah ini hanya terlalu takut dengan Kakak Ipar, selain itu aku juga tidak ingin kehilangan sahabat yang nyaris sempurna buatku.
"Baiklah kalau begitu, tolong absenkan aku untuk semua mata kuliah hari ini ya. Aku lelah, ingin pulang dan akan memberitahumu kapan jadwal Kakak Ipar kosong. Bersiaplah menghadapai Singa Pradipta."
Aku menepuk pundaknya sekali dan langsung berlalu meninggalkannya yang shock dengan ucapanku.
"Kapok! Kau akan merasa cemas sampai bertemu Kakak Ipar. Hahaha ... Dia lucu sekali!"
Aku tertawa geli menuju parkiran. Pikiranku berkecamuk karena bertemu Kak Tala ditambah kejutan dari Nezar. Ah ... kepalaku, lebih baik pulang bermain dengan keponakanku yang imut, mumpung tidak ada ayahnya.
Saat aku membuka pintu mobil, aku menangkap sosok yang tadi kulihat sebelumnya bersama Kak Tala Meski sekilas dari belakang, aku tahu siapa pemilik punggung tegap nan lebar itu, tapi buat apa dia memata-mataiku?
.
.
.
Rumah Kediaman Pradipta
Aku masuk melalui pintu dapur, akses masuk yang paling sering aku lewati untuk masuk ke dalam rumah utama karena lebih dekat menuju kamarku. Tidak kusangka ada Asisten Yan disana dengan secangkir kopi di meja dapur bersama Pak Is.
"Kok, sudah pulang Nona?"
"Iya, aku lelah Pak Is, ingin istirahat. Kok sepi?" tanyaku.
"Tuan dan Nyonya pagi tadi membawa Tuan Muda Kecil ke rumah sakit untuk kontrol dan imunisasi."
"Yah, padahal pengen main sama Zean. Terus Bibi Lidya?"
"Nyonya menyuruhnya ikut bersama mereka."
__ADS_1
"Oh."
"Apa ada yang Nona butuhkan? Saya akan ke dapur belakang sebentar mengontrol persediaan bahan makanan yang baru saja dibeli."
"Tidak. Tidak ada," jawabku singkat sekilas melirik orang yang berpakaian sama dengan sosok yang ada tadi tertangkap pandang di kampus.
Aku jengah dan ingin berlalu ke kamarku setelah Pak Is keluar dari dapur rumah utama.
"Apa pelukan membuatmu lelah? Atau tanganmu kelelahan karena mengusap wajah teman kribomu?"
HAH! Apa maksudnya?
"Aku baru tahu kalau kau seorang penguntit."
Aku menantangnya dengan memasang wajahku lurus dengan wajahnya -meski aku sedikit mendongak melihatnya- kali ini dia berhasil memprovokasiku.
"..."
"Apa urusanmu dengan siapa yang aku peluk dan aku usap wajahnya?" ketusku sangat jengkel.
"Kau lupa peringatan kakak iparmu? Atau kau sengaja menantangnya?"
Astaga ... pria tua ini kenapa tiba-tiba marah padaku?Harusnya aku yang marah padanya karena diam-diam menguntitku.
"Aku tidak yakin kalau Kakak Ipar menyuruhmu memata-mataiku. Heh! Apapun alasannya kau tidak berhak mengaturku!"
Aku benar-benar marah saat ini. Memeluk sepupuku sendiri dan menghibur sedihnya sahabat kurasa itu tidak berlebihan.
Asisten Yan mencengkeram pergelangan tanganku dan menudingku, "Kau seperti wanita murahan dengan berbagai macam pria di dekatmu. Ingat kau membawa nama Pradipta!"
Aku melepas cengkeramannya dengan kasar, darahku mendidih mendengar dia menyebutku murahan. Aku sudah tidak tahan.
PLAK.
"SETIDAKNYA MEREKA MASIH PUNYA RASA HORMAT, TIDAK SEPERTI DIRIMU YANG KURANG AJAR MENCIUMKU TANPA IZIN!" teriakku di depan mukanya, menahan tangis dari muara hati yang melonjak perih.
Aku sungguh muak dia selalu menyebutku dengan sebutan yang buruk untukku. Apa dia sebegitu bencinya padaku hanya karena aku pernah mengungkapkan perasaanku?
"Nia."
Suara Kak Litha dari ruang tengah memanggil namaku. Aku dan pria tua itu menoleh bersamaan. Kak Litha, Kakak Ipar dan Bibi Lidya yang menggendong Baby Zean mematung menatap kami. Sejak kapan mereka berdiri disitu?
Untuk beberapa saat kami tenggelam dalam diam. Akhirnya Kakak Ipar buka suara, "Apa telingaku salah mendengar kalau kau dicium Abyan, Nia?" tanyanya dingin. membekukan apapun di sekitarnya.
Diam. Semua diam, tidak ada yang berani menjawab karena tatapan Kakak Ipar menekan kami berdua.
"Bi, bawa Zean ke kamar sekarang. Jangan keluar sebelum aku atau Litha ke kamar," titahnya yang dijawab anggukan dan langkah kaki segera menuju kamar utama.
Setelah Bibi Lidya menghilang dari pandangan, tanpa bergerak dari tempatnya berdiri, Kakak Ipar mengulang pertanyaannya lagi, "Nia, apa kau dicium Abyan? Dicium dimana?"
Aku masih diam, takut melihat kemarahan di wajah Kakak Ipar dan kecewa di mata Kak Litha.
"JAWAB!" teriak Kakak Ipar lantang mengagetkan kami semua yang berada disitu.
"Ray–"
"Kau mencium adikku, Yan? Kau cium dimana?"
"Ray dengarkan aku dulu–"
"Persetan dengan penjelasanmu, Abyan. Jawab saja pertanyaannku!" desis Kakak Ipar tajam mengepalkan kedua telapak tangannya. Nampak Kak Litha menggenggam salah satu kepalan tangan suaminya, mengisyaratkannya untuk menahan diri.
"Dia menciumku saat kami belajar mengendarai mobil. Dia tiba-tiba menciumku di bibir. Aku marah dan sengaja menginjak rem hingga menabrak kandang burung," jawabku pelan.
"AARRRGGGHHH!"
Lengkingan Kakak Ipar begitu nyaring sampai Pak Is tergopoh-gopoh kembali dari dapur belakang. Dia terperangah melihat Kakak Ipar sangat marah. Aku tahu kenapa dia marah, apalagi ini melibatkan dua orang terdekatnya.
Tetapi nasi sudah jadi bubur, mau suka atau tidak, bubur itu tetap harus dimakan, supaya enak mungkin bisa ditambah kecap, suwiran ayam, potongan cakwe dan taburan kedele. Hayooo ... Siapa disini yang suka bubur ayam? Kakak Readers tim bubur diaduk atau tidak diaduk? Kalau Author tim tidak diaduk. Hehehe ... jangan terlalu tegang ya, Kak ☺️
__ADS_1
- Bersambung -