Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Aku Berhenti


__ADS_3

Dua malam tidur di kamar utama yang kasurnya kelas premium dan dipeluk Kak Litha membuat kualitas tidurku sangat baik. Sesekali aku mengusap perutnya, berbicara pada calon keponakanku. Terkadang bayi itu merespon dengan sundulan lutut atau siku yang membuat ibunya mengaduh. Ah, andai saja Kakak Ipar pulang lebih lama ... Aku masih ingin tidur bersama kakakku.


"Hai Tawon! Kau terlihat nyenyak sekali tidur di tempatku," sapa Kakak Ipar mengagetkan saat membuka mataku.


"Kakak Ipar! Kakak sudah pulang?"


"Pssttt ...." Kakak Ipar menempelkan telunjuknya di bibir, "Jangan terlalu berisik, kau bisa membangunkan kakakmu."


"Biar bangun saja sekalian, kan matahari juga sudah naik. Tidak baik buat ibu hamil, anaknya nanti jadi pemalas, tukang tidur."


Aku mengoceh sambil memindahkan tangan Kak Litha yang melingkupi badanku.


"Kau ini! Berani-beraninya mengatai anakku pemalas."


"Aku tidak mengatainya. Aku bilang tidak baik buat ibu hamil, anaknya nan–ti ja–di pemalas, tukang tidur. Nan–ti ja–di itu bukan mengatai, justru himbauan– saran atau nasehat kalau yang mengatakannya berumur lebih tua."


"Dasar! Pintar ngeles."


Aku tertawa lalu bergegas bangun untuk duduk di tepian ranjang -hendak berdiri dan segera keluar dari kamar- tidak ingin menganggu kegiatan pagi hari mereka.


"Kenapa tanganmu ada di telinga istriku?" tanya Kakak Ipar.


"Hanya kebiasaan dari kecil. Kak Litha punya tulang telinga yang lunak dan aku suka memainkannya, apalagi sebelum tidur bisa membuat tidurku lebih nyenyak. Apa Kakak Ipar belum pernah memegang telinga Kak Litha?" tanyaku sambil berdiri, kemudian mengambil bantal guling kepunyaanku.


"Tentu saja sudah. Bagian tubuh mana yang belum kusentuh? Semua sudah kujelajahi. Tapi aku lebih suka bagian dadanya."


"Haishh ... Tentu saja, tidak ada lelaki yang tidak menyukai bagian itu. Bahkan itu tempat ternyamannya di dunia, apalagi dengan wanita yang dicintai. Detak jantungnya bisa menjadi suara terapi."


Hahaha ... Kakak Ipar terlihat sangat kaget mendengar ucapanku, apa selama ini dia berpikir aku hadis manis dan polos yang tidak tahu apa-apa. Oh, Come on ... Sekarang bukan hal tabu yang selalu ditutup-tutupi lagi, bahkan di internet banyak hal yang bisa kita dapatkan. Tapi ingat! ini hanya berbicara tentang Se*x Education, that's it.


"Nia, bagaimana bisa kau berkata demikian? Apa kau pernah melaku–"


"What the fu*ck! Apa dia pikir aku seperti gadis alay yang haus belaian. No! meski Ayah meninggalkanku saat aku masih SMP tapi dia cukup membekaliku kasih sayang hingga aku tidak perlu mencarinya pada laki-laki manapun."


Terus terang aku sedikit tersinggung Kakak Ipar menudingku seperti perempuan murahan, tapi aku memakluminya karena ucapanku sebelumnya. Bisa jadi istri tersayangnya sangat polos, ya ... kakakku memang selalu menutup dirinya jika tidak sengaja mendengar atau membaca 'hal-hal tabu' saat berselancar di dunia maya atau menonton TV. Dia selalu berkata, 'apaan sih ini, memalukan!'


"Hahahaha ... Kakak Ipar jangan memandang rendah diriku begitu. Aku masih perawan, belum pernah melakukan hubungan se*x dengan siapapun. Ayah kami sangat menjaga kehormatan kami, jadi meski Ayah sudah tidak ada, kami akan menjaganya sendiri sekuat tenaga. Dan aku juga tidak berniat melakukan kontak fisik yang intim dengan lelaki manapun karena berbahaya buat mereka, hahahaha ...." kataku to the point sambil berlalu dan tergelak puas karena membuatnya berambigu dengan kalimat terakhirku.


"Kak, aku mengerti. Di pagi hari, secara biologis kaum lelaki menginginkannya, hehehe ...." lanjutku menggodanya, menahan tawa melihat wajah Kakak Ipar sekali lagi dengan sangat terkejut, "Kak kalau aku menikah nanti, aku mau hadiah pernikahannya sofa seperti itu," kataku menunjuk sebuah sofa khusus sebelum benar-benar menutup pintu kamar.


"NIA!"


Yes! Aku senang sekali membuatnya kesal dan tidak bisa membalasku. Pasti nanti dia akan mengadu pada Kak Litha dan kakakku itu lanjut mengadu pada Bibi untuk memarahiku. Aih ... alur yang selalu bisa kutebak.


...***...


Pagi ini aku enggan untuk beranjak dari kamar mewahku di kediaman Keluarga Pradipta tapi aku harus pulang ke Kota A bersama Bibi dan Paman untuk mengikuti tes masuk beasiswa Universitas Nasional sebelum menyelesaikan Ujian Akhir Sekolah.


Universitas tersebut merupakan tempat kuliah nomor satu dan favorit di negeriku untuk jurusan yang aku impikan. Jurusan yang saat ini didominasi kaum adam telah mengusik rasa ketertarikanku sejak setahun terakhir. Jurusan yang berkecimpung pada dunia digital dan era modern sungguh membuatku takjub. Inilah sebabnya aku tetap ingin mengikuti tes masuk universitas tersebut sekaligus mendapatkan beasiswa penuh jika dianggap layak meski sebelumnya aku telah lolos beasiswa Pradipta Asa Foundation. Lagipula, rasanya aneh jika adik ipar pemilik yayasan tersebut menjadi salah satu penerima beasiswa walaupun semua syarat terpenuhi.


"Nia, kamu curang! Kenapa kamu ikut tes ini. Lihat! Namamu lolos lagi untuk ke tahap berikutnya, padahal sebelumnya kau sudah menerima beasiswa Pradipta," gerutu Keysha ketika melihat nama teman sekamarnya tertera pada pengumuman nama calon penerima beasiswa dari Universitas Nasional yang lolos ke tahap berikutnya sebelum dinyatakan resmi diterima.


Aku terkekeh mendengar curhatan hati sahabatku, "Heheheh ... Maaf Key, tapi tidak bagus didengar kalau ada yang bilang masa keluarga pemilik yayasan menjadi salah satu penerima beasiswa, malah bisa saja ada yang menduga money laundry."


Keysha menghela nafasnya, "Ya sudahlah. Aku akui kau memang berkompeten kok. Aku akan coba jalur mandiri untuk kuliah disana juga."

__ADS_1


"Apa! Benarkah?" kagetku tidak percaya, "Kau akan kuliah disana juga?" aku memegang kedua tangannya, mengerjapkan mata berkali-kali menunjukkan kalau aku senang sekali, "Kau akan memilih jurusan apa?" tanyaku lagi.


"Kalau kau?" Keysha malah balik bertanya.


"Apapun itu yang berkaitan dengan teknologi informasi. Kamu?" balasku sambil mengiringi langkahnya menuju kelas kami di lantai tiga.


"Nia, jurusan itu kan, jarang dipilih perempuan?"


"Lalu memangnya kenapa? Tidak boleh?"


"Ya, tidak apa-apa juga sih. Tapi apa kamu tidak merasa canggung, soalnya kan selama ini kita lebih banyak berteman dengan sesama perempuan."


"Justru itu, Keysha ... Aku sudah kebanyakan teman perempuan, saatnya mencari teman laki-laki, biar seimbang. Katakan! Kau akan memilih jurusan apa?"


Seketika raut wajah Keysha berubah menjadi sendu, "Aku ingin menjadi guru, tapi kau tahu ayahku, kan? Di menyuruhku kuliah di jurusan ekonomi bisnis untuk melanjutkan perusahaannya."


Aku menepuk bahunya, menatap dalam mata sahabatku, "Double degree saja, malahan kau nanti bisa menjadi guru atau dosen ekonomi sambil menjalankan perusahaan ayahmu, bagaimana?"


"Kau mau membuatku gila ya? Satu jurusan saja sudah memusingkan kau malah menyarankan double degree." Dia menjitak kepalaku kesal, hahaha ....


"Ya jangan bersamaan dong ambilnya. Senangkanlah hati ayahmu dulu dengan berkuliah di ekonomi dengan hasil yang baik dan memuaskan, tunjukkan sedikit minatmu sebagai penerus perusahaan. Selang dua tahun, bicaralah baik-baik kau juga ingin kuliah di keguruan. Aku yakin dengan apa yang sudah kau lakukan, ayahmu akan mengizinkannya. See ... semua terselesaikan dengan baik. Tentu saja dampaknya kau harus lebih banyak mengorbankan waktu bermainmu kelak."


"Heh. Gampang sekali kau bicara! Otakku bakal ngebul sampai gosong. Andai saja aku sepintar dirimu, Nia."


"Satu hal membuatmu kalah sebelum berjuang. Kau tahu apa? Yaitu membandingkan dirimu dengan orang lain, padahal yang kau butuhkan hanya fokus pada diri sendiri, tidak ada Nia atau siapapun ... hanya dirimu, Keysha Olivia."


Yang baru saja kusebut namanya lagi-lagi menghela nafas, kali ini lebih panjang dari sebelumnya, aku tersenyum melihatnya, "Key, aku bisa mencapai semua tujuanku menjadi nomor satu karena aku fokus. Kalau bisa dibilang aku sudah menyerah saat pertama kali Serena membully-ku, tetapi aku rubah fokus kacamataku hanya untuk melihat ke depan, karena di depan ada target yang aku ingin capai, pembuktian bahwa aku bukan gadis yang bisa disepelekan. Benar saja, selain usaha tidak pernah mengkhianati hasil, nasibku juga beruntung karena kakakku menjadi istri Tuan Muda Pradipta yang kaya dan penyayang. Semoga dewi fortuna masih berada di pihakku sehingga aku bisa mendapatkan beasiswa dari Universitas Nasional"


"Oh ya? Kukira Tuan Muda Pradipta orang yang kasar dan tidak berperasaan."


"Tidak tahu siapa yang menyebarkan rumor itu, tapi nyatanya salah. Kakak iparku adalah kakak ipar terbaik di dunia, bukan hanya sangat sayang pada istrinya tapi seluruh keluarga istrinya," sahutku menapaki anak tangga terakhir, sekarang kami sudah berada di lantai tiga.


"Kalau Asisten Yan bagaimana? Sepertinya kau sudah tidak memberikan info lagi untuk Shortpink Fans Club padahal disana pasti tiap hari bertemu, minimal foto terbarunya lah."


Entah mengapa aku enggan membahas lelaki pencinta tunangan orang lain. Apa harus kukatakan perihal itu pada Keysha. Oh tidak ... itu sama saja menyiram bensin di di kobaran api.


"Key, nanti sore kita ke kamar Riri dan Rachel. Ada yang mau kusampaikan mengenai fans club itu," ujarku.


"Oh, oke. Apa aku boleh tahu sekarang kenapa? Paling tidak sedikit bocoran, aku kan teman sekamarmu."


"Aku malas membahasnya Key. Sudah ya, aku masuk kelas dulu, bye ...." sahutku menyudahi pembicaraan kami.


"Tapi Ni– kenapa jadi kesal begitu, aku kan hanya bertanya."


Aku mendengar kalimatnya sebelum melewati pintu kelas. "Ya, kau benar Key, aku sangat kesal kau bertanya hal itu. Aku tidak suka segala apapun yang berkaitan dengan asisten kakak iparku! A-ku-ti-dak-me-nyu-ka-i-nya."


"Kau kenapa Vania? Bukankah namamu lolos pada tes beasiswa itu, kenapa wajahmu sangat menyeramkan?"


Pertanyaan salah satu teman kelasku menyadarkan bahwa wajahku terlihat sangat buruk gara-gara memikirkan lelaki itu. Arrgghhhh ... kenapa dia bisa mempengaruhi suasana hatiku hingga bisa dilihat orang lain.


.


.


.

__ADS_1


"Ah, tidak bisa Nia. Masa sih kau tiba-tiba tanpa alasan ingin berhenti mengurusi Shortpink Fans Club. Followersnya makin bertambah lho," kata Riri kecewa mendengar permintaanku agar tidak lagi menjadi ketua bahkan anggota fans club itu.


"Iya, lumayan Nia, sudah ada beberapa produk yang menawarkan endorse," timpal Rachel.


Keysha tidak bersuara apapun, tidak tahu apa yang dipikirkannya, yang jelas hanya Riri dan Rachel yang menolak keras niatku.


"Yup, aku lupa. Vania sudah tidak butuh uang dari endorse, dia sudah jadi adik ipar Tuan Muda Pradipta," sindir Rachel.


"Ck, bukan begitu. Aku sudah diperingatkan Kak Litha agar aku menjaga sikap, mengingat Asisten Yan bukan sekedar asisten buat Tuan Muda tapi dia juga saudara tak sedarah. Kak Litha sangat menghargai perasaannya yang tidak suka diekspos. Kata Asisten Yan cukup Tuan Muda saja yang terkenal. Dia tidak ingin ada fanbase atau semacamnya. Bukan aku saja ikut mencetuskan Shortpink Fans Club, aku tidak bisa menghentikan semau diriku, jadi aku mengundurkan diri untuk tidak terlibat apapun dengan Asisten Yan– kuharap kalian mengerti posisiku dalam hal ini."


Pada akhirnya, Keysha, Riri dan Rachel dapat menerima alasanku. Mereka tidak dapat menolaknya karena adanya nama Nyonya Pradipta disebut. Siapapun tahu bahwa titah Tuan Muda Pradipta sangat bergantung pada lisan istrinya, bahkan ada pameo mengatakan 'Lebih baik berurusan dengan Tuan Muda sendiri ketimbang dengan istrinya'.


"Kau berbohong kan?" tatapan Keysha tajam menusuk netraku sekembalinya kami dari kamar Riri dan Rachel, "Alasan yang kau gunakan barusan pada mereka itu hanya karanganmu, kan?" tuduhnya lagi.


"Jangan overthinking, Key."


"Overthinking? Overthinking bagaimana?– Vania Kirana Larasati, aku sudah menjadi teman sekamar dan saudara tak sedarahmu selama tiga tahun. Kita terbiasa berbagi tawa dan tangis di kamar ini. Bahkan rahasia penyamaran gadis culunmu selama hampir dua tahun aku hadapi, sekarang kau berlagak keren mengatakan, 'Jangan overthinking, Key.' Heh, kau kira aku buta apa!"


Bukan main ... baru kali ini kulihat Keysha benar-benar marah karena dianggap berbohong padanya, ternyata dia bisa marah juga dibalik sikap lemahnya.


"Baiklah–" Kutarik nafas dulu sejenak, "Aku akui kalau alasanku tidak seratus persen benar dan juga tidak seratus persen kebohongan."


Alisnya mengerucut ke tengah.


"Benar kalau Kak Litha menyuruhku menjaga sikap terhadap Asisten Yan, tapi aku berhenti mengurusi fanbase itu adalah kemauanku sendiri. Kak Litha, Tuan Muda bahkan yang bersangkutan tidak keberatan akan keberadaan fanbase itu, pun jika aku masih mengurusinya, tetapi–"


Aku bingung melanjutkan kalimatku, padahal Keysha begitu serius mendengarnya. Kira-kira kata apa yang tepat menggambarkan apa yang kurasakan ya?


"Tetapi aku canggung padanya. Lalu apa yang membuatmu canggung?"


Mataku terbelalak mendengar Keysha menyambung kalimatku yang terputus, "Hei, kalimat itu milikku!"


"Memang milikmu, aku hanya membuang keraguanmu untuk mengatakannya."


"Haa ...."


Keysha tersenyum, senyum yang penuh arti, "Kau menyukai Asisten Yan?"


Glek.


"Apa-apaan! Jangan sembarangan bicara, perbedaan usia kami lebih cocok menjadi adik kakak," elakku tapi kurasakan pipi dan sekitarnya menghangat.


"Wajahmu memerah, Nia. Reaksi tubuh selalu jujur."


"Sudahlah, apa yang kau pikirkan? Tidak penting aku menyukainya atau tidak, tapi dia memiliki wanita yang disukainya."


"Siapa?"


"Kau tidak perlu tahu, akupun juga begitu. Mari kita nikmati saja hari-hari terakhir di sekolah dengan senang. Tidak perlu melibatkan orang-orang yang tidak penting, itu hanya akan merusak suasana."


Keysha tersenyum kecut menanggapi ucapanku tadi. Tapi apapun itu, aku benar-benar ingin menikmati hari-hari terakhirku di sekolah sebelum hari kelulusan tiba dan aku tidak ingin ada hal-hal yang merusak mood-ku.


Kalaupun ada seseorang yang sempat mempengaruhi suasana hatiku, memangnya siapa dia? Mengapa begitu peduli jika dia itu menyukai tunangan orang lain? Kenapa juga aku memikirkannya? Bukan-kah itu artinya aku peduli padanya. Sh*it!


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2