Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Tuan Muda Kecil


__ADS_3

Pintu kamar utama dibuka, muncul Bibi Lidya dengan senyum sumringah, "Selamat, Nona. Tuan Muda Kecil telah lahir dengan sehat."


"Aaaa .... Ponakanku laki-laki, Bi? Bagaimana Kak Litha? Apa aku boleh melihat mereka?"


"Tuan dan Nyonya sedang berbahagia. Sekarang Nyonya lagi melakukan IMD. Hanya Nona yang diizinkan masuk."


( IMD : Inisiasi Menyusui Dini )


Tak terkira rasanya kelegaan di hati ini, semua kegundahan sirna berganti kebahagiaan. Kak Litha berhasil melahirkan penerus Keluarga Pradipta dengan selamat, bayinya pun sehat. Aku langsung menerobos masuk ke dalam kamar namun setelahnya aku bergidik ngeri melihat tenaga medis sedang membereskan sisa-sisa persalinan, sedangkan Bibi Lidya mengambil alih mengurusi plasenta atau ari-ari bayi. Di sisi lain dr. Lena membantu Kak Litha melakukan kontak fisik pertama dengan bayinya. Sebuah pemandangan haru melihat si bayi berusaha sendiri mencari pu*ting payu*dara ibunya.


Kakak Ipar terlihat sangat terharu menciumi berkali-kali pelipis istrinya dengan berurai airmata, sesekali mengusap lembut mahluk mungil di atas dada istrinya.


"Kak ...." panggilku.


Semua menoleh ke arahku, meski wajah Kak Litha kelelahan senyumnya mengembang saat menyambutku, "Sini, Nia! Lihatlah ... Kau pasti sangat menyukainya."


Aku mendekat ke sisi dr. Lena melihat Si Bayi menggunakan insting manusianya mencari sumber kehidupannya di tubuh ibunya. "Kakak ... Ini ponakanku?" seruku antusias.


"Bukan, ini boneka!" sahut Kakak Ipar mengusap airmatanya.


Bibirku mengerucut sebal, "Kakak, apa aku boleh menyentuhnya?"


Kak Litha mengangguk, tapi Kakak Ipar langsung mencegahnya, "Sterilkan dulu tanganmu, baru menyentuh putraku."


"Ishh ...," gerutuku tapi tetap saja aku menurut perintah Kakak Ipar.


.


.


.


Selang berapa lama setelah kamar persalinan dirapikan, begitu juga kondisi Kak Litha sudah tampak lebih rapi barulah Kakak Ipar mengizinkan Pak Is dan Asisten Yan masuk, sedangkan aku tidak beranjak dari sisi Kak Litha dan box bayi. Aku menemukan hobi baru, yaitu terus mengoceh dan bersenandung pada bayi baru lahir itu.


"Kak, dia lucu sekali. Kenapa sukanya tidur terus?" cerocosku yang ditanggapi si ibu bayi dengan helaan nafas berat, mungkin dia bosan dengan pertanyaanku yang sama dan berulang-ulang.


"Kak, aku jatuh cinta padanya, tidak– tidak– aku mencintainya," kataku masih takjub dengan bayi merah nan menggemaskan.


Kuberikan jari telunjukku untuk digenggamnya, kutelisik rupa menawannya, hmm ... sepertinya rupa keponakanku ini didominasi oleh Kakak Ipar. Matanya, hidungnya, garis wajahnya lebih mirip Kakak Ipar, kakakku hanya menurunkan senyum pada mahluk mungil ini. Senyum yang mengingatkanku pada Ibu, senyum yang selalu mengembang setiap kali aku berceloteh manja. Bayi ini seolah-olah ingin menunjukkan bahwa ada keturunan Suku Ragnaya dalam darahnya.

__ADS_1


"Nyonya, makanlah sup ayam hangat ini. Sup ini bisa mengembalikan tenaga Nyonya yang terkuras."


"Terimakasih, Bi. Bibi dari mana tadi? Bibi belum lihat putraku, kan?" tanya Kak Litha beringsut bersandar pada heardboard dibantu olehku untuk menyantap sup ayam.


"Bibi tadi bersama Pak Is mengurus plasenta Tuan Muda Kecil. Kami tanam di dekat kebun belakang," jawab Bibi Lidya seraya berjalan ke arah box bayi. Kakak Ipar dan asistennya masuk ke dalam kamar setelah kembali dari mengantar dr. Lena dan rombongan ke depan pintu utama.


"Ya Tuhan ... Tuan Muda Kecil sangat mirip dengan Tuan Muda saat baru lahir. Mata ini– mata Tuan Muda ... Mata milik Tuan Edwin," kata Lidya memandang takjub bayi penerus Keluarga Pradipta.


Kak Litha menghentikan suapannya, Kakak Ipar dan Asisten Yan saling memandang, aku hanya terkesima dengan pemandangan ini,


"Siapa Tuan Edwin? Mengapa mata keponakanku mirip dengannya?" gumamku dalam hati.


"Bibi kenal ayahku?" tanya Kakak Ipar mendekati box bayi, ia mengamati mata bayinya.


" ... "


"Bibi ...." Kakak Ipar meminta penjelasan.


Bibi Lidya terdiam, mungkin tadi dia tidak sengaja kelepasan bicara dan apa yang dikatakannya adalah petunjuk akan sebuah rahasia.


"Bi ...." pinta Kak Litha dengan suara pelan.


Bibi Lidya menjeda ceritanya, melihat setiap mata yang terhenyak dengan penuturannya. Ditariknya nafas panjang sebelum melanjutkan kembali.


"Apa boleh Bibi menggendong Tuan Muda Kecil, Nyonya?" Kak Litha mengangguk memberi izin, "Bayi Nyonya Rianti butuh susu. Nyonya Besar menginginkan cucunya diberi ASI, bukan susu formula meski susu terbaik bisa Nyonya Besar dapatkan dan Nyonya Besar tidak mau ASI dari wanita yang tidak dikenalnya. Sejak itu Bibi, suami Bibi dan Abyan tinggal di rumah utama hingga Tuan Muda berumur dua setengah tahun," cerita Lidya sembari menggendong keponakanku.


Jantungku berdegup kencang, ternyata ini sebuah rahasia yang baru terungkap sekarang. Setelah tabir hubungan adik kakak antara mendiang Pak Sas dan Bibi Lidya terkuak kini muncul kisah saudara sepersusuan antara Tuan Muda dan asistennya. Aku curiga ada peristiwa besar yang terjadi di masa lalu yang disembunyikan dari Kakak Ipar. Tapi kenapa?


"Abyan akan digendong ayahnya ketika Bibi menyusui Tuan Muda dan juga sebaliknya Tuan Muda akan dijaga suami Bibi jika Abyan yang menyusu. Kami serasa memiliki dua anak, hehehehe ...." lanjut Bibi Lidya tersenyum memandang bayi dalam gendongannya, dia sedang mengenang masa lalu.


"Bibi ... Apa itu berarti Kakak dan Asisten Yan saudara sepersusuan?" tanyaku memastikan teoriku meski aku tahu jawabannya YA, tetapi kita kadang butuh suatu pengakuan agar lebih yakin dengan apa yang dipikirkan.


Bukannya menjawab, Bibi Lidya justru terpana dengan bayi mungil dalam gendongannya, ia masih tersenyum, "Sangat mirip. Bedanya ukuran bayi Tuan Muda Kecil lebih besar dari Tuan Muda, itu karena Tuan Muda dilahirkan dalam keadaan darurat."


"Bu, Ibu belum menjawab pertanyaan Vania, apa berarti aku dan Ray saudara sepersusuan?" tanya Asisten Yan. Aku melengos sebal, dia sangat tidak kreatif mengulang pertanyaanku


"Ya. Kalian meminum ASI yang sama," jawab Bibi Lidya, lalu beralih ke Kakak Ipar, "Maaf Tuan, sebenarnya Bibi sudah berjanji pada Nyonya Besar untuk menyimpan rahasia ini karena Nyonya Besar khawatir Tuan Muda tidak bisa menerimanya, tapi ternyata Bibi tidak bisa menjaga mulut," katanya tertunduk, menatap sendu pada keponakanku yang masih dalam gendongannya.


Hening.

__ADS_1


Suasana canggung. Benar bukan? Kakak Ipar saudara susu Asisten Yan tetapi yang masih menjadi pertanyaan adalah mengapa Nyonya Besar meminta Bibi Lidya merahasiakannya semua? Alasan khawatir Kakak Ipar tidak bisa menerimanya seperti hanya sebuah alasan sekedarnya. Aku yakin alasan Nyonya Besar mengunci rahasia masa lalu Kakak Ipar tidak se-sederhana itu.


"Hah! Jadi, lelaki ini adalah saudara susuku? Yan, bagaimana perasaanmu?"


Tiba-tiba Kakak Ipar mencairkan suasana canggung dengan memukul pundak Asisten Yan namun yang dipukul pundaknya hanya diam penuh keraguan.


Kemudian Kakak Ipar meraih bayi dari gendongan Bibi Lidya, diciuminya dengan penuh kasih sayang, "Kau anugerah Tuhan yang paling besar buatku, Sayang. Karena kehadiranmu dalam rahim Ibumu, Ayah mendapatkan hatinya, kini karenamu jualah Ayah mendapatkan saudara susu yang luar biasa. Tuhan sungguh baik pada Ayah. Dia memberi Ayah anugerah besar tanpa diminta."


Dengan mata berkaca-kaca, Kakak Ipar berucap lagi, "Kunamakan putraku Zeandra Putra Pradipta, selain berarti seorang pemimpin pekerja keras yang tangguh dan bertanggung jawab. Zean juga mengartikan bahwa Tuhan sangat baik memberikan seorang putra pada keluarga Pradipta."


"Zean ... Aku suka nama itu," kata Kak Litha pelan, dia terharu dengan nama yang diberikan suaminya untuk putranya.


"Yan, kemarilah ... Lihat keponakanmu! Dia mewarisi seluruh ketampananku," seru Kakak Ipar narsis.


"Ish ..." dengusku sebal.


Asisten Yan mendekati Kakak Ipar dan menatap lekat bayi Zean yang mulutnya bergerak-gerak, "Ray, dia memang sangat mirip denganmu, tapi kuharap dia mewarisi sifat ibunya."


Hahahahah ... Ini baru benar! Asisten Yan, aku padamu.


Ups. Apa ini? Kenapa hatiku berkata demikian. Astagaaa ....


Kakak Ipar mendelik kesal ke arah asistennya namun dia panik kebingungan ketika bayi Zean menangis dan menggeliat mencari sesuatu dengan mulut mungilnya, suara tangisnya memenuhi seisi kamar. Bibi Lidya segera mengambil bayi Zean setelah meminta izin untuk diberikan pada ibunya.


"Bayi Zean haus," sahut Bibi Lidya membantu Kak Litha menyusui bayinya dengan menutupi bagian yang tidak seharusnya terlihat.


"Ray, terimakasih ... Aku sudah jadi Paman, akan kujaga dia dengan nyawaku," peluk Si Asisten terharu.


Ah, kenapa kalimatnya ini terdengar sangat tulus dan membuatku juga ikut terharu, sangat berbeda ketika kami berdebat di mobil dan dia jauh sekali dari kata peka, sekarang kenapa dia begitu manis sama Kakak Ipar? Hah!


"Dia masih punya Bibi yang sudah melindunginya sejak masih sebesar kacang merah," ketusku.


Mata kakakku melotot ingin memarahiku tapi sebelum dia melontarkan omelannya aku beringsut bangun, "Aku tahu ... Aku tahu ... Tidak seharusnya aku mengungkit yang telah berlalu. Maaf ya Kak, Kakak Ipar. Aku ke kamar dulu."


"Nia."


Kudengar Kak Litha menyebut namaku pelan, tapi tanpa menoleh aku terus saja berjalan menuju pintu kamar.


Maaf Kak, aku ingin istirahat, berhadapan dengan saudara susu suami Kakak sangat menguras energi.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2