
Besoknya Kak Litha akan kembali ke Ibukota. Aku sempat memprotesnya, baru kemarin menikah sudah langsung pergi tapi seperti biasa, jawabannya selalu masuk akal tanpa membuat orang khawatir. Tidak lupa dia juga memberikan sebagian besar tabungannya pada Paman dan memintanya agar tidak kembali bekerja di kediaman Keluarga Pradipta. Paman cukup membuka usaha di Kota A saja agar bisa menjaga kami karena sekarang Kak Litha tidak bisa seratus persen memberikan perhatiannya lagi karena ada suami yang harus diurusi.
Aku baru kembali ke sekolah esok lusa, maka disisa hari aku ingin menemani Ibu, menghiburnya setelah salah satu putrinya diambil Tuan Muda. Seperti pagi ini aku bergelayut manja di pangkuan Ibu yang membelai rambut panjangku.
"Bu, tidak disangka ya, Kak Litha menjadi istri seorang konglomerat, terbangpun pakai pesawat pribadi. Aku jadi pengen nanti punya suami seperti itu."
Ibu tergelak, "Hahaha ... Ibu tidak akan mendoakannya, Ibu hanya mendoakanmu hidup bahagia dengan keluargamu saja. Kaya itu bonus yang penting penyayang dan bertanggungjawab."
"Sebelum menikah Kak Litha mengirim uang untuk Ibu berobat dan membiayaiku sekolah juga perawatan Kak Tisha, sekarang bagaimana, Bu? Aku yakin dia tidak lagi diizinkan suaminya bekerja." Kudongakkan kepalaku melihat wajah Ibu.
"Kau merisaukan itu ternyata. Itulah alasannya dia memberikan semua mahar dan sebagian besar tabungannya pada Pamanmu sebagai modal usaha. Mudah-mudahan cukup untuk kita bertahan hidup." jawab Ibu sembari tersenyum, tangannya tidak berhenti mengusap kepalaku.
Aku tersenyum kecut mendengar kakakku menginvestasikan uangnya dan keuntungan sepenuhnya diberikan untuk kami. Sebenarnya bukan hanya materi yang kupertanyakan tapi perhatiannya pada kami akan kah tetap sama? Betapa beruntungnya Kakak Ipar mendapatkan istri seperti Kak Litha.
Tiba-tiba Bibi masuk ke kamar dan menyampaikan kami kedatangan Direktur Rumah Sakit Medical Health, rumah sakit terbaik untuk rujukan penyakit kanker di negeri ini dengan biaya pengobatan tiga kali lipat dari rumah sakit pemerintah.
"Tujuan kedatangan kami kesini adalah untuk memberitahukan mulai besok Ibu Asmarini dapat menjalani pemeriksaan awal, kemudian akan dilanjutkan dengan pengobatan dan perawatan yang diperlukan di Rumah Sakit Medical Health secara berkesinambungan hingga sembuh," terang Pak Direktu. Dia datang bersama tiga orang yang mendampingi, kutebak mereka pasti memiliki posisi penting di rumah sakit tersebut.
Tentu saja kami kaget bukan main, sekonyong-konyong datang Direktur rumah sakit swasta termahal dan langsung menawarkan untuk mengobati penyakit Ibu. Aku dan Ibu saling pandang begitu juga Paman dan Bibi. Apa Ibu memenangkan lotere kesehatan?
"Mohon maaf, saya lupa menjelaskan sebelumnya. Kami diminta langsung oleh Presdir Pradipta Corp. untuk merawat ibu mertuanya dengan sangat baik," sambungnya melihat kami kebingungan.
Semua mata kami terbuka lebar tidak percaya, ternyata karena permintaan menantu Ibu sampai direkturnya sendiri yang bertandang ke rumah untuk memberitahu Ckckckck ... Sekuat itukah pengaruhnya.
"Ternyata atas permintaan Nak Rayyendra. Maaf Pak Direktur, bukannya saya tidak sopan menolak, tetapi saya lebih nyaman berobat di Rumah Sakit Umum Daerah menggunakan asuransi kesehatan dari pemerintah seperti biasanya." Ibu menolaknya dengan halus.
"Mohon dengan sangat Bu untuk menerimanya. Ibu Asmarini akan ditangani langsung oleh dokter terbaik kami dengan fasilitas perawatan VIP, tentu ini akan memberikan proses kesembuhan lebih cepat dan tuntas." Pak Direktur tidak menyerah membujuk begitu Ibu menolaknya.
"Bukankah rasa nyaman itu yang lebih penting dari sekedar fasilitas perawatan VIP dan kemampuan dari dokter terbaik? Saya tidak menafikan kedua hal itu menjadi tidak penting, tetapi bagi saya pribadi kenyamanan itu sangat berpengaruh dalam proses kesembuhan seseorang karena menyangkut suasana hati dan semangat hidup si pasien. Sampaikan saja terima kasih kami pada Tuan Pradipta, walaupun ibu mertuanya belum bisa menerima, kami sangat menghargai niat baiknya."
Penyampaian Ibu sangat tenang namun langsung pada tujuannya tanpa basa-basi. Aku sangat menyukai sifat Ibu yang ini dan aku mencontoh sikap tersebut darinya, meski lebih sering ketenanganku saat berbicara selalu beradu dengan tingginya ego. Sifat tenang Ibu dalam bersikap hanya diturunkan pada kedua kakakku.
"Kami mohon Bu, jangan ditolak," sergah seorang lelaki berkacamata yang duduk di samping Pak Direktur dan diiyakan oleh yang lainnya.
"Tetap saja saya tidak bisa menerimanya," sahut Ibu bersikeras.
__ADS_1
"Bu, saat ini kami menjalani kerjasama pengadaan alat-alat kesehatan dengan Pradipta Corp. Jika Ibu tidak bersedia kami rawat dan kami obati, Tuan Muda akan menghentikan kerjasama dan MoU yang sudah disepakati sebelumnya. Hal itu akan memberi rumah sakit dalam kesulitan karena hanya Pradipta Corp. yang bersedia memberi kami tenggang waktu pembayaran hingga 5 tahun. Jadi, kami mohon Ibu Asmarini menerimanya, demi kelangsungan hidup rumah sakit."
"Cih, apa urusannya dengan ibuku. Kalian sudah mengambil banyak untung dari pasien-pasien kelas atas, seharusnya kalian juga bisa membeli alat-alat kesehatan cash tanpa mengangsur," kataku yang langsung dipelototi Bibi Rima, "Lah, emang benar kan? Biar mereka sadar kalau berbisnis di bidang kesehatan jangan mencari banyak keuntungan." bathinku tidak terima.
Air muka Pak Direktur dan orang-orang yang bersamanya langsung berubah setelah mendengar perkataanku. Lucu sekali ... jika tidak hari ini, mana ada aku punya kesempatan untuk sedikit 'bercanda' dengan petinggi rumah sakit swasta yang dikenal terbaik sekaligus termahal.
Kulihat Ibu gamang, sejatinya hati Ibu sangat lembut seperti kedua kakakku yang berempati tinggi terhadap orang dan lingkungan sekitar. Ibu menghela nafas panjang lalu membuat garis senyum di wajahnya.
"Kalau memang seperti demikian kondisinya, mau tidak mau saya akan menjalani pengobatan di sana."
"Bu, jangan memaksakan kehendak. Jika Ibu tidak nyaman, tidak usah pikirkan orang lain," sanggahku cepat.
"Tidak apa-apa, Nia. Ibu berubah pikiran, kenapa sampai kakak iparmu bersikeras membawa Ibu pada Medical Health, bahkan dengan cara memaksa disertai ancaman, hehehehe ... pasti demi istrinya. Mungkin lebih baik Ibu menerima niat baiknya."
Ada benarnya, bisa jadi Kakak Ipar mencoba menunjukkan baktinya pada Ibu sebagai menantu. Entah mengapa, hatiku terasa hangat, merasa seperti mendapat perisai kehidupan yang melindungi kami. Seakan mendapat perhatian lain untuk menggenapi perhatian Kak Litha yang terbagi.
Direktur Rumah Sakit itu beserta rombongan mengucapkan terima kasih berkali-kali, "Terimakasih– terimakasih banyak Bu, kami akan memberikan yang terbaik sehingga membuat Anda lekas sembuh dalam kondisi yang nyaman. Oh iya, tapi ada satu syarat yang disampaikan Tuan Muda jika Ibu menerimanya."
"Hah! Apaan ini! Namanya tidak ikhlas kalau bersyarat," sentakku kesal, penilaian baik tentang kakak iparku langsung berubah 180 derajat.
"Bukan– bukan syarat apa-apa– Tuan Muda hanya tidak ingin Nyonya Muda tahu kalau Ibu Asmarini menjalani pengobatan di rumah sakit kami atas permintaan beliau sampai dinyatakan sembuh total." Buru-buru Pak Direktur menjelaskan sebelum Ibu berubah pikiran kembali.
Aku sudah berpikiran buruk pada kakak iparku padahal dia hanya ingin melindungi perasaan hutang budi istrinya. Kalau begini kubalikkan kembali penilaian tentangnya menjadi baik kembali.
"Sepertinya Tuan Muda kaya itu sangat menyayangi kakakmu," bisik Bibi di telingaku yang kubalas dengan anggukan.
Aku sangat berharap Ibu sembuh dan berumur panjang meski aku tahu separuh hidupnya telah mati, ikut terkubur saat Ayah dimakamkan. Tetapi, setidaknya Ibu masih punya alasan untuk berjuang melawan sakitnya untuk melihat cucu-cucunya lahir dan tumbuh besar.
...***...
Semangatku membara setelah mengetahui adanya seleksi penerimaan beasiswa dari yayasan Pradipta Asa Foundation. Nama organisasi nirlaba itu sama dengan nama Kakak Ipar tetapi sejauh yang aku ketahui foundernya bernama Dayyu Amarga, yang sangat peduli dengan kelanjutan pendidikan anak-anak berprestasi atau memiliki kemampuan namun terkendala biaya karena kehilangan tulang punggung keluarga.
Beasiswa yang diberikan Pradipta Asa Foundation tidak tanggung-tanggung, kemanapun dan dimanapun ingin sekolah akan disokong penuh, mulai dari biaya pendidikan sampai biaya hidup. Disini juga memberikan jaminan kerja setelah lulus. Penawaran kerja yang disodorkan juga bukan main-main, beberapa perusahaan besar dan ternama berskala nasional siap meminang begitu lulus, tinggal pilih yang mana yang diinginkan. Hal inilah yang membuat seleksi penerimaan beasiswa tersebut sangat ketat, tidak hanya secara akademik tetapi juga dilihat secara personal dan karakter.
Lucunya, Sekolah Menengah Atas Nusa Bangsa 2 tidak pernah masuk dalam daftar nominasi penerimaan Beasiswa Pradipta Asa Foundation karena hampir semua siswinya tergolong ekonomi mampu, bahkan lebih dari sangat mampu. Namun tetap saja dengan adanya embel-embel nama Pradipta menjadikan beasiswa ini bergengsi di kalangan atas dan siapapun bermimpi untuk mendapatkannya.
__ADS_1
Ada syarat mutlak bagi penerima beasiswa tersebut, yakni mereka adalah anak yatim dimana tulang punggung keluarganya tidak lagi bertumpu pada sosok ayah. Oleh karenanya, begitu ada perwakilan dari yayasan mendatangi Kepala Sekolah, banyak yang merasa bingung karena sebenarnya tidak ada yang memenuhi syarat kecuali aku seorang.
Pada awalnya Kepala Sekolah menolak penawaran seleksi beasiswa itu disebabkan hanya ada satu orang siswi yang memenuhi kriteria dan kebetulan Kepala Sekolah tidak menyukai siswi tersebut. Namun pikirannya langsung berubah setelah tahu ada donasi yang diberikan untuk sekolah jika ada siswi yang lulus seleksi.
"Nia, ini kesempatanmu. Berusahalah dengan keras," ujar Keysha menyemangatiku.
"Ya, aku excited sekali, Key. Doakan aku lulus ya."
"Pasti. Aku percaya dengan kemampuanmu. Oh ya, apa nanti kamu juga ikut seleksi beasiswa dari Universitas Jaya Sakti?"
Aku mengangguk.
"Curang! Kamu sudah dapat beasiswa dari Pradipta Asa Foundation, kenapa kamu ikut beasiswa dari Universitas Jaya Sakti lagi?" sungut Keysha.
"Universitas Jaya Sakti memiliki jurusan yang aku minati terbaik di negeri ini. Begitu aku lulus seleksi beasiswa secara otomatis aku juga mendapat kuota di jurusan itu. Beda halnya dengan beasiswa Pradipta Asa Foundation, meski punya jaminan kerja nantinya tetap saja aku harus tes lagi untuk masuk Universitas."
"Dengan kata lain beasiswa dari Pradipta Asa Foundation ini hanya cadangan buatmu?"
"Tepat sekali."
"Tapi mereka menjamin penawaran kerja setelah lulus."
"Aku percaya aku bisa bersaing di dunia kerja setelah lulus nanti. Yang terpenting adalah aku bisa bekerja sesuai passion. Kata Kak Litha jika kita bekerja sesuai passion, kita akan menikmati waktu selama bekerja dan tidak merasa itu suatu beban untuk menopang hidup."
"Seandainya aku bisa seperti itu, Nia. Tapi ayahku menginginkan aku melanjutkan bisnisnya. Aku tidak suka bisnis, kepalaku pusing memikirkannya. Impianku ingin jadi designer atau minimal bekerja di dunia fashion."
Aku tergelak, "Hehehe ... Siapa suruh kau anak tunggal, mau tidak mau kau harus jadi penerus bisnis keluargamu. Kau beruntung tidak perlu merisaukan masa depanmu lagi, Key."
"Aku iri padamu tapi kau iri dengan hidupku. Apa kita bertukar tempat saja di kehidupan selanjutnya?"
"Hahaha ... Sekalipun di kehidupan selanjutnya diberi kesusahan lebih dari kehidupan sekarang aku tidak akan mau menukarnya denganmu selama keluargaku masih orang-orang yang sama. Meski hidupku banyak masalah, tapi aku bahagia punya mereka." tukasku mantap.
"Nia, aku semakin iri padamu. Aku juga ingin punya keluarga seperti keluargamu yang begitu peduli. Ayahku selalu memaksa keinginannya dan ibuku hanya bisa menjadi penurut buat ayahku tanpa mengerti perasaan putrinya," lirih Keysha pelan, di matanya tiba-tiba muncul kaca yang mulai retak.
"Saat ini kau hanya melihat orangtuamu dari sudut yang terbatas. Coba kau geser posisimu hingga bisa melihat mereka lebih luas. Pasti nanti kau akan merasa beruntung. Mereka tidak salah, kau juga tidak salah, hanya sudut pandangmu saja yang terlalu sempit."
__ADS_1
Seketika aku teringat diriku sendiri dulu yang menolak garis takdir. Kehilangan Ayah, menyaksikan kesakitan Ibu dan depresinya Kak Tisha, ditambah lagi aku dipaksa menerima bully-an dari Serena Cs. Seakan kakiku tertanam untuk merutuki diri yang tiada habisnya dan mempertanyakan keadilan Tuhan. Tetapi perlahan aku bisa menerimanya dan merubah arah pandangku dengan melihat ketegaran dan sikap optimisnya Kak Litha. Tidak lagi menyesali hidup, tapi justru mendorongku untuk semakin membuktikan bahwa aku layaknya bubuk kopi yang jika diseduh air panas akan mengeluarkan aroma memikat.
- Bersambung -