Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Life Must Go On


__ADS_3

Lengkingan Kakak Ipar begitu nyaring sampai Pak Is tergopoh-gopoh kembali dari dapur belakang. Dia terperangah melihat Kakak Ipar sangat marah. Aku tahu kenapa dia marah, apalagi ini melibatkan dua orang terdekatnya.


"Nia, kau tahu apa artinya, kan?" tukasnya tajam ke arahku.


"Ya," jawabku pelan.


"Mas." Suara Kak Litha melembutkan hati suaminya, diusap punggung tegap Kakak Ipar dengan perlahan. Dia tahu benar bagaimana menghadapi emosi suaminya.


Setelah beberapa kali mengambil nafas dan menghembuskan perlahan, Kakak Ipar berujar datar, "Kalau begitu kalian menikah saja."


HAH!


Aku, Asisten Yan dan Kak Litha terkejut bersamaan, ditambah Pak Is yang membelalakkan matanya.


"Mas," Kak Litha memandang suaminya tanpa berkedip.


"Kau gila, Ray! Se-enaknya saja kau menyuruhku menikahinya hanya karena aku menciumnya. Aku memang salah berlaku tidak sopan, tapi bukan berarti aku harus menikahinya untuk tanggungjawab," sengit Asisten Ray tidak terima.


"Kau tidak tahu apa yang sudah kau perbuat, Abyan. Turuti saja kataku, lagipula Vania menyukaimu."


APA!


Semuanya kompak terkejut untuk kedua kalinya, namun kali ini aku yang menjadi pusat perhatian mata mereka. Kakak Ipar oh Kakak Ipar, kau memang benar-benar tidak bisa diprediksi!


"Bagaimana Nia? Kau mau, kan menikah dengannya? Dia pasti bisa membahagiakanmu dan menjadi ayah yang baik buat anak-anak kalian," ujarnya padaku.


Hahah ... Membahagiakanku? Baru saja dia menyakiti hatiku dengan ucapannya, bagaimana bisa dia membahagiakanku? Entah benar atau tidak adanya mitos kutukan itu, aku masih percaya dengan logika berpikirku.


"Mas, ini– ini–" Saking kagetnya, Kak Litha tidak bisa berkata-kata.


"Lith, aku tahu Vania adikmu tapi dia juga Nona Pradipta, dia tanggung jawabku. Jadi, kau diam saja, tidak mungkin aku melakukan hal buruk padanya."


Sekuat tenaga aku menahan bendungan kantong mata agar tidak jebol. Hatiku berkecamuk tidak karuan, rasanya ingin marah pada Kakak Ipar tapi tak bisa kulakukan.


"Sekali lagi aku tanya, Nia. Kau bersedia menikah dengannya, kan?" tanyanya lembut sebab dia tahu hatiku sedang terluka.


Aku bingung dan masih sangat terkejut, belum sempat aku menjawab, Kak Litha berkata pada suaminya, "Mas tidak bisa menikahkan dua orang dengan terpaksa. Mereka bukan sepasang kekasih."


"Bisa. Kita saja menikah dengan paksaan wasiat, tapi lihat sekarang, kita saling mencintai."


"Itu beda, Mas!" Kak Litha menekan suaranya dengan gemas karena suaminya baru saja mengungkit kisah masa lalu mereka.


"Sama saja. Yang penting Nia memiliki perasaan sama Abyan, dan kedepannya aku yakin Abyan bisa mencintai Nia dengan mudah, bahkan sangat mencintai seperti aku mencintaimu."


"..."


"Ray, kau tidak bisa berspekulasi dengan perasaan orang lain. Kau tidak berhak mengatur siapa pasangan hidupku, bahkan ibuku saja tidak ku izinkan. Bukan berarti kau Tuan Muda Pradipta se-enaknya main tunjuk orang untuk menikahi adik iparmu."


Suasana hati Kakak Ipar yang tadinya tenang kembali bergejolak, tanpa aba-aba dia langsung mau ke arah Asisten Yan dan –


BUGH!


Kakak Ipar melayangkan tinju ke wajah sahabatnya hingga terhuyung namun tidak jatuh ke lantai. Asisten Yan cukup kuat menahan bogem mentah Kakak Ipar meski sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah segar.


"Kurasa ini impas. Aku mencium Vania dan kau memukul rahangku," ujarnya setengah mengejek.


"KAU!"


Hatiku sakit karena sebenarnya dia menolakku mentah-mentah. Kak Litha segera maju dan meraih lengan suaminya, 'menarik tuas pengaman' agar situasi aman dan terkendali. Dia membisiki Kakak Ipar, tidak tahu mantra apa yang diucapkan tapi mampu meredam kemarahan suaminya.


"Kak, sudahlah. Anggap saja ini tidak pernah terjadi, aku tidak mau menikah dengannya," ujarku setenang mungkin -ingin situasi ini segera berakhir dengan mengepalkan tangan- menahan sesuatu yang perih semakin bergejolak .


"Tidak. Tidak bisa begitu. Kalian akan menikah! Titik. Tidak ada yang membantah."


"Ray!"


"Mas!"


"Tuan!"

__ADS_1


Asisten Yan, Kak Litha dan Pak Is bersamaan mempertanyakan keputusan Kakak Ipar yang tetap menginginkan aku dan sahabatnya menikah.


"Mas, tidak bisa begitu. Vania baru saja kuliah, beda denganku dulu yang sudah memasuki semester akhir." Kak Litha mencoba mematahkan pikiran suaminya dengan argumen masuk akal.


Terus terang situasi ini membuatku bingung, kecewa, marah dan sedih. Kakak Ipar menatap mataku penuh iba, Untuk sesaat dia terdiam dan memikirkan sesuatu.


"Nia, jangan sedih, kalau kau tidak ingin menikah, bertunangan saja dulu," kata Kakak Ipar menyentuh bahuku, "Begitu kau lulus, maka kau boleh memilih untuk melanjutkan pertunangan ini ke jenjang pernikahan atau tidak. Kita lihat selama rentang waktu itu bagaimana perasaan Abyan terhadapmu," sambungnya.


"Ray, kau tidak bisa mempermainkan hubungan yang mengikat!"


"Siapa bilang aku main-main!" lantang Kakak Ipar, emosinya mulai terpancing lagi, "KAU–" tunjuknya tepat di dada Asisten Yan, "Kau yang bermain-main. Aku justru membantumu, kelak kau akan berterimakasih padaku," desisnya kuat di depan muka sahabatnya. Semua bingung dengan kalimat Kakak Ipar kecuali aku.


"Kalaupun dia punya cinta untukku, aku ragu itu tulus ... Tidak seperti cinta pertamanya yang muncul tanpa syarat," kataku tersenyum hambar menatap wajah bingung pria yang sudah mencuri ciuman pertamaku.


"Nia, kamu bicara apa?" tanya Kak Litha menggenggam tanganku yang masih terkepal.


"Hanya pikiranku saja yang terlalu berimajinasi," ujarku tersenyum pada kakak kesayanganku, menggenggam tangan halusnya.


"Nia, maafkan Abyan jika dia menyakiti hatimu. Aku yakin dia tidak bermaksud demikian." Kakak Ipar mendekatiku memintakan maaf untuk sahabatnya padahal beberapa saat lalu dia marah dan memukulnya.


"Apa yang dia maksud hanya dia dan Tuhan yang tahu, Kak. Aku tidak peduli ... Tidak peduli padanya dan pada pertunangan yang Kakak inginkan. Tidak ada yang berubah menjadi lebih dekat atau intim karena sebuah ikatan pertunangan yang tidak diinginkan kedua belah pihak."


Aku menghela nafas, berat dan terasa sangat sesak tetapi rasio pikiranku tergelitik akan sebuah mitos wanita Suku Ragnaya. Sulit bagiku untuk meyakini sesuatu hal yang hanya dibuktikan dengan teori. Sebab itu aku ingin membuktikannya sendiri, sampai dimana pengaruh mitos dari sebuah suku yang tidak begitu populer di negeri ini.


Kulirik sekilas pemilik ciuman pertamaku lalu menatap Kakak Ipar, "Baik. Aku menyetujui pertunangan ini semata-mata karena rasa hormatku padamu, Kak. Ini merupakan masa percobaan atas penjajakan hubunganku dengan Asisten Yan sampai aku lulus kuliah selama empat tahun. Jadi, jangan meminta atau berharap lebih pada hubungan ini ke depannya."


"Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu. Kau sudah kuanggap adikku sendiri, Vania sedangkan pertunangan adalah satu tahap lebih dekat ke arah pernikahan, bukan masa percobaan!" Asisten Yan memprotes ucapanku.


"Jadi, Tuan Asisten mau bagaimana? Apa kompensasi yang akan Tuan berikan? Aku tidak butuh uang, uangku sudah banyak diberi Kakak Ipar. Aku minta hal yang tidak bisa dinilai dengan uang, yaitu waktumu. Entah akan berlanjut atau tidak, entah nanti waktumu terbuang sia-sia atau tidak, setidaknya buatku itu harga setimpal dari ciuman pertamaku yang dicuri."


"Empat tahun hanya untuk satu ciuman? Damn!"


"Kalau begitu kenapa kau menciumku? Bukankah kau menganggapku adik? Harusnya kasih sayang layaknya seorang kakak yang ditunjukkan tapi kenapa justru naf*su yang muncul saat itu? Kau tidak hanya sekedar menciumku, Tuan Asisten! Kau memasukkan lidahmu ke dalam mulutku dan mencari kepuasan disana. Kau kira itu tidak menimbulkan trauma, hah!"


Aku meninggikan suaraku di depan mukanya. Dari ekor mata nampak Kak Litha shock sampai harus di rangkul Kakak Ipar yang juga terkejut mendengar ucapanku. Ya, masih teringat jelas bagaimana caranya pria tua pecundang itu menciumku, menahan kepalaku dan memaksa untuk merasakan hasrat liarnya menjelajahi rongga mulutku.


"Nia ..."


Kak Litha langsung memelukku, kusambut pelukannya dengan menepuk punggungnya beberapa kali namun airmataku meluncur begitu saja tanpa ada perintah dari otakku.


"Hari ini aku sangat lelah ... Begitu lelahnya sampai aku tidak menyadari aku sudah menurunkan harga diriku sampai di level yang bisa disebut 'murahan'. Aku ingin istirahat, Kak," ujarku gontai berbalik ke kamarku.


Kuabaikan suara Kakak Ipar dan Kak Litha memangggil-manggil namaku. Aku tetap berjalan, membuka pintu kamar, masuk dan menutup pintu sekalian menguncinya. Aku tidak ingin diganggu, hatiku benar-benar lelah dan sakit.


...***...


PoV Abyan


Nyaris satu jam aku mendinginkan hati dan kepalaku di bawah shower walaupun rasa perih di wajah akibat hantaman bertubi-tubi Rayyendra -setelah Vania masuk ke dalam kamarnya- tidak lagi kurasa. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, Ibu menangis, menyampaikan kekecewaannya dan mengutukku sebelum aku pulang dari rumah utama Keluarga Pradipta.


Perasaanku benar-benar berkecamuk dan kacau apalagi mengingat wajah gadis yang telah aku sakiti berkali-kali. Semakin aku memikirkannya semakin mengganjal sebongkah rasa aneh yang tidak bisa dijelaskan. Huftt ... mungkin ini yang namanya rasa bersalah yang begitu gengsinya aku sampaikan.


Kupatutkan wajahku penuh lebam di depan cermin, lagi-lagi yang terlihat di cermin adalah wajah kecewa Vania.


"What! Apa aku sudah gila?" pekikku tertahan, gusar.


Beberapa kali ku usap wajah, barulah bayangan gadis berkulit putih itu hilang. Ah, hukuman macam apa ini? Dia menyita waktuku kurang lebih empat tahun sebagai ganti rugi aku menciumnya.


Insiden tersebut berawal dari kegemasanku mendengar ocehannya yang tidak berhenti. Terlintas untuk membungkam mulutnya tapi aku juga tidak tahu kenapa aku memilih mencium ketimbang menutup mulutnya dengan tanganku, bahkan aku hilang kendali saat melakukannya seperti candu yang tidak pernah habis. Halah! Apa ini? Aku kembali mengingatnya. Ternyata aku sudah gila, hanya karena sebuah ciuman. Shi*t!


...***...


Hari Pertunangan


Pada akhirnya aku resmi bertunangan dengan wanita yang usianya jauh dariku. Tidak ada yang spesial, hanya dihadiri kedua belah pihak keluarga yang anggotanya sangat sedikit dan beberapa karyawan Pradipta Corp. yang bisa dinilai cukup dekat dengan Keluarga Pradipta.


Atas permintaan Vania, kami tidak bertukar cincin atau simbol apapun yang menyatakan kami terikat dalam sebuah ikatan. Aneh memang dan– aku sedikit kecewa.


Aku bersedia menerima cincin di jariku kalau nanti saatnya aku memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang pernikahan. Aku tidak ingin memiliki kenangan buruk pada suatu benda.

__ADS_1


Entah kenapa dalam penglihatanku dia makin dewasa, lebih menjaga sikap dan tutur katanya. Tetapi justru aku merasa kehilangan sosoknya yang membuatku rindu, hah! Rindu? Sejak kapan aku merindukan sosoknya yang suka mengoceh?


"Masih memanggilnya Asisten Yan? Kalian kan, sudah bertunangan." tanya Nyonya Pradipta menggoda adiknya.


Aku menyembunyikan senyumku, aku suka pertanyaan yang diajukan calon kakak iparku ini.


"Tidak ada yang mengubah apapun. Masa pertunangan ini adalah masa percobaan hubungan kami sampai aku lulus. Selama masa itu kami bersikap biasa, tiada yang berbeda. Aku kuliah dan bergaul dengan teman-temanku, Asisten Yan juga bekerja dan berinteraksi dengan siapa saja yang dikehendaki. Semoga saja seiring waktu dia bisa segera menemukan pengganti dr. Vivian karena aku bukan tipenya."


"Nia, tidak pantas kamu bicara seperti itu di hari pertunanganmu sendiri!" Nyonya Pradipta memperingatkan tajamnya mulut tunanganku.


"Aku hanya bicara fakta kok, Asisten Yan juga pasti mengamini ucapanku barusan, kan?"


Glek.


Mulut gadis ini ibarat belati yang dilumuri racun, apalagi senyum samar dan sudut matanya kadang membius suaraku. Aku benar-benar bungkam dibuatnya. Celakanya, untuk kesekian kali fokusku berada pada bibir ranumnya bak buah plum yang menggoda. Aarrrgghhh! Aku benar-benar gila!


"Aih, baru saja bertunangan, kalian sudah sindir-sindiran. Silahkan selesaikan sindiran kalian sendiri. Aku mau melihat Zean di gendongan Mas Rayyendra," ucap Nyonya Pradipta dan berlalu meninggalkan kami sembari menggeleng-gelengkan kepala.


Sepeninggalnya malah kami terpaku dalam kebisuan, terkadang manik kami bertemu tapi tetap jua dalam diam.


"Nia, cepat sekali kau bertunangan! Aku masih berharap padamu lho, Nia setelah kakakmu menikah terlebih dahulu. Kalian ini cepat sekali terikat, padahal aku sedang berusaha mapan."


Seorang pria muda sepantaran istri Rayyendra mengomeli tunanganku dengan begitu santainya. Nampak mereka sudah akrab sejak dulu, sialnya Nia pun menanggapinya tanpa beban dan menyadari ada hati yang harus dia jaga. Pria itu bernama Leonanda Saputra, karyawan Pradipta Corp. yang juga teman masa sekolah Nyonya Pradipta, bukan hanya sekedar teman tetapi juga akrab dengan seluruh anggota keluarga.


"Kak Leon kelamaan sih mapan-nya, jadinya putri Aryasena keburu diambil orang lain."


Jawaban Vania menggetarkan hatiku, meski dia cuek padaku tapi bisa menjaga harga diriku di mata orang lain.


"Siapa yang bisa menandingi Tuan Muda dan Asistennya. Diam-diam kalian menerapkan standar tinggi untuk pasangan hidup."


"Hahaha ... Mana ada itu! Kak Leon tahu sendiri gimana pemikiran Ayah, kan? Kami hanya beruntung."


"Tentu saja, kalian semua orang baik makanya keberuntungan selalu menyertai meski awalnya berada di tepi jurang. Oh ya, kabar Kak Tisha gimana? Dia tidak datang dari Amerika?"


"Kak Tisha tidak bisa datang walaupun ingin. Ada seorang lansia yang sedang kumat sakitnya dan hanya mau dirawat sama Kak Tisha. Dia tidak mau makan dan minum obat kalau bukan Kak Tisha yang meladeninya. Hufftt ...."


"Hahaha ... Pasti Kak Tisha diincar untuk salah satu anggota keluarganya yang lajang."


"Lah, kok Kak Leo tahu? Akupun berpikiran begitu, hahaha ...."


"Yo jelas! Wong paling ayu iku mbak yu mu sing mbarep."


"Cih. Kak Lithaaaa!"


"Nia!"


Gelak tawa Nia membahana, begitu lepas dan bahagia. Aku tersenyum melihatnya sekaligus miris karena di hadapanku dia tidak bisa menjadi dirinya seperti biasa, justru di depan orang lain dirinya bebas berekspresi.


Ehem.


Nia dan Leon berbalik ke arahku. Kupandangi mata Leon lekat-lekat, ada perintah dalam bahasa tubuhku padanya dan dia paham.


"Nia, aku mau ambil dessert dulu," pamit Leon tanpa menunggu persetujuan Vania.


"Maaf Nia, aku menyela obrolan kalian," kataku setelah Leon menghilang dari hadapan kami.


"Tidak apa-apa."


Aku menyodorkan segelas mocktail yang disambutnya dengan senyum samar penuh misteri. Canggung.


"Aku minta maaf jika Asisten Yan tidak berkenan dengan pertunangan ini. Anggaplah ini penghapus dosamu padaku, hehehe ...."


"Aku juga tidak tahu kalau aku membuatmu trauma, maaf."


"Life must go on, Asisten Yan," ujarnya menyesap minuman di gelasnya.


Entah mengapa, caranya menanggapi kalimatku sangat anggun dan elegan, tidak ada lagi gadis cerewet dengan emosi meledak-ledak seperti pertama kali aku mengenalnya. Rasa khawatir tiba-tiba menyergap, kelak bagaimana bisa dia menghadapi buasnya lelaki yang terhipnotis akan pesona yang tidak disadarinya?


-Bersambung-

__ADS_1


__ADS_2