
"Kau tahu perihal Kerajaan Sungai Bulan, Suku Ragnaya dan Putri Mahkota, kan?"
"Ma– maaf Kak."
Kutundukkan kepalaku, sebuah bahasa tubuh untuk mengaku salah karena telah mencuri dengar percakapan malam itu.
"Aku tidak sengaja mendengar, kalau Bibi Rima ingin membicarakan hal yang serius sama Kakak Ipar Selama aku mengenal Bibi, dia tidak pernah bercanda untuk hal-hal yang akan disampaikannya, berbeda dengan Paman yang banyak berguraunya. Jadi aku mengikuti kalian ke ruang kerja untuk mendengar lebih banyak."
"Tapi ruang kerjaku di rumah utama kedap suara. Bagaimana mungkin pembicaraan kami bisa di dengar olehmu yang berada di luar?" tanya Kakak Ipar bingung.
Kuangkat kepala yang tadi tertunduk dan menghela nafas, mengingat kecerobohan mereka yang memberiku kesempatan untuk menguping.
"Bibi Rima menutup pintunya tidak sempurna. Aku bisa mendorong pintu itu tanpa harus menekan handlenya– jadi ku dorong sedikit. Kakak Ipar dan Bibi berbicara sangat serius sampai tidak menyadari kalau aku membuat sedikit lebih lebar celah pintu."
Giliran Kakak Ipar menghela nafas panjang dan berat, matanya terpejam, terlihat sedang memikirkan sesuatu, "Bagaimana perasaanmu setelah mengetahuinya?"
Perasaanku? I'm speechless.
"Tidak tahu, Kak ... Setelahnya aku mencari info mengenai yang ku dengar waktu itu. Tidak banyak literatur yang membahas Kerajaan Sungai Bulan baik cetak maupun elektronik, tapi setidaknya aku dapat sedikit kulit luarnya. Kerajaan itu sebenarnya bernama Kerajaan Ragnaya yang terletak di sisi Sungai Bulan yang membelah Pulau X, tepatnya di daerah BX setelah Suku Ragnaya memenangkan peperangan yang panjang antar suku dalam hal eksistensi wilayah. Suku itu berperang sendirian tanpa ada koalisi seperti suku-suku lainnya.
Sungai terbesar dan terpanjang di pulau itu menjadi penghidupan dan pusat peradaban bagi kerajaan suku yang memiliki keistimewaan pada gender perempuan. Seiring perkembangannya wilayah kekuasaan Kerajaan Ragnaya menjadi lebih luas dan akhirnya dikenal sebagai Kerajaan Sungai Bulan setelah mereka mengenal agama dari kepercayaan animisme yang dianut nenek moyang mereka sebelumnya.
Kerajaan itu tidak terlalu digaungkan namanya di publik seperti halnya Kerajaan atau Kesultanan lain, entah apa alasannya Sang Raja tidak ingin mengenalkannya pada dunia. Bahkan ada suatu desa yang diduga menjadi pusat kerajaan tidak bisa dikunjungi sembarangan, hanya penduduk asli dan keturunan dari hasil pernikahan untuk 3 generasi dengan orang di luar Kerajaan Sungai Bulan. Itupun harus dibuktikan dengan silsilah yang jelas pada petugas di sana yang biasanya menjadi Kepala Desa atau Lurah. Perda khusus daerah BX bagi seorang pendatang yang bermukim di sana diatur sangat detail dan ketat.
Penduduk di daerah BX secara ekonomi sangat sejahtera, ini yang menjadikan rakyat disana sangat loyal pada Raja mereka. Sedangkan pemerintahan dibawah Gubernur tetap mengacu pada regulasi dan Undang-Undang Nasional, tapi ada yang berhipotesa itu hanya topeng belaka sebab jika ditilik lebih jauh peraturan daerah tetap lebih banyak menitikberatkan aturan milik Kerajaan Sungai Bulan. Menurutku hal inilah yang menjadi alasan kenapa Raja tidak mau mempublikasikan kerajaannya, untuk menghindari polemik antar daerah di negeri ini dan tetap bisa menjalankan aturan kerajaannya secara bawah tanah tanpa campur tangan pihak pemerintah pusat."
Aku memaparkan sebagian informasi yang kudapat dari hasil pencarian dan analisaku malam itu layaknya presentasi di depan guru.
"Dari mana kau tahu, aku sendiri tidak menemukan apa-apa mengenai kerajaan itu?" tanya Kakak Ipar. Dia tidak bisa menutupi rasa takjub akan kemampuanku menggali informasi.
Aku terkekeh, "Karena selama ini Kakak Ipar terlalu dimanjakan sama Asisten Yan. Kakak Ipar tidak mendapatkan apa-apa karena bergerak sendiri tanpa Asisten Yan. Biar kutebak, Kakak tidak bisa memberitahukan rahasia ini padanya, kan?"
Kelopak matanya terbuka lebih besar, pertanda dia kaget dan ucapanku benar.
"Kau belum memberitahu kakakmu, kan?" tanya Kakak Ipar gusar.
Aku menggeleng, "Dia bisa shock kalau mengetahuinya, Kak. Tapi suatu saat Kak Litha tetap harus mengetahui kebenarannya, apalagi ini adalah asal usul kami."
"Tidak! Tidak perlu memberitahunya, aku khawatir dia akan mencari tahu segalanya. Aku tidak mau kehilangannya," panik Kakak Ipar *******-***** kedua tangannya.
"Dengan menjadi putri mahkota begitu maksud Kakak Ipar? Sejak kapan Kak Litha tergiur pada harta duniawi? Dia suka uang tapi tidak menilai segalanya dengan uang– sama denganku."
"Bukan masalah harta duniawi, Nia. Ada cerita sedih di balik itu semua. Dan aku hanya takut kakakmu ingin memperbaikinya. Aku takut dia lebih memilih kerajaan itu dibandingkan Keluarga Pradipta."
Hahaha ... sangat jelas kepanikan dan kecemasan di wajah Kakak Ipar. Kadang aku bertanya sendiri, apa yang telah Kak Litha lakukan atau berikan pada Kakak Ipar sampai dia begitu mencintai dan sangat takut kehilangan istrinya.
"Haiya ... Tidak mungkinlah. Bagi Kak Litha, rumahnya ya Keluarga Pradipta. Kakakku itu sangat mencintai Kakak Ipar."
"Terserah apa katamu. Tapi aku tidak ingin dia tahu, titik. Awas kalau dia sampai mengetahuinya,! Berarti itu dari mulutmu dan aku tidak segan-segan mengambil uang sakumu kembali," ancam Kakak Ipar.
__ADS_1
"Cih. Tapi kalau suatu saat akhirnya Kak Litha tahu, aku tidak akan ikut campur. Aku cukup bilang mulutku dikunci Kakak Ipar, jadi nanti Kakak Ipar sendiri yang harus menghadapinya," balasku tidak terima dengan ancamannya yang ingin menarik kembali uang sakuku.
"Selama kau tidak memberitahunya, dia tidak akan tahu. Hal ini hanya diketahui oleh kita berdua selain Paman Tino dan Bibi Rima."
Hening sejenak.
Aku menundukkan kepala kembali, membenarkan ucapan Kakak Ipar. Selama kami menjaga mulut, Kak Litha tidak akan tahu kebenarannya. Tapi apakah ini benar? Aku tidak ingin menjadi pembohong besar lagi untuk kakak yang sangat mempercayaiku, namun aku juga tidak ingin menciptakan polemik baru. Kami juga tidak pernah tahu selama ini tentang asal-usul keluarga Ibu. Kupikir mengikuti apa yang Kakak Ipar katakan tadi bukanlah sesuatu yang buruk. Aku hanya ingin keluarga Kak Litha bahagia, tidak seperti Ayah dan Ibu juga Paman dan Bibi yang selalu bersembunyi sepanjang hidup mereka.
"Tapi bagaimana kabar Bibi dan Paman? Apa mereka baik-baik saja?" tanyaku sendu.
"Aku tidak bisa menghubungi mereka karena mereka selalu berganti nomor saat meneleponku. Terakhir Bibi Rima menelepon saat kakakmu di rumah sakit dan dia hanya berpesan jangan mengkhawatirkan mereka. Mereka akan mencari kesempatan untuk menjenguk kalian."
Pikiranku kosong, hatiku terasa diremas dengan kuat. Kesempatan? Apa kesempatan itu masih ada? Sedikit informasi yang kudapat bahwa kekuatan Kerajaan Sungai Bulan tidak bisa dianggap remeh. Hal itulah yang menjadi alasan Ibu dan Bibi Rima mengganti identitas dan memalsukan kematian mereka ditambah menyuap pihak terkait dengan sebuah harga fantastis.
"Apa masih ada kesempatan?"
Kuulangi pertanyaan itu lagi dalam hati dengan kepala tertunduk. Airmataku terbit di sudut mata, cepat-cepat kuusap agar Kakak Ipar tidak melihatnya, jangan sampai dia melihat sisi lemahku lagi. Tapi apa daya, aku hanya seorang manusia yang sangat merindukan orang-orang tersayangku yang telah pergi. Airmata ini tidak bisa kutahan hingga menganak sungai di pipi.
"Aku merindukan mereka, Kak ... Kadang pikiranku selalu membayangkan hal buruk menimpa mereka."
Kakak Ipar tersenyum kecut, "Beberapa hari terakhir, Litha mengeluhkanmu sulit tidur di malam hari. Sebaiknya periksakan dirimu, kalau kau mau– aku akan mengenalkanmu dengan psikiater yang kompeten. Jangan menyimpannya sendirian, Nia. Kau adalah adikku, bukan adik iparku. Jika kau membutuhkan sesuatu jangan sungkan untuk mengandalkan kakakmu ini. Mulai sekarang jangan panggil aku Kakak Ipar, cukup Kakak saja."
Hatiku menghangat, aku merasakan kasih sayang Kakak Ipar sama dengan kakak kandungku. Tentu saja aku sangat bahagia impianku terwujud– kakak laki-laki yang selalu melindungi dan bisa aku andalkan.
"Nia, lihat aku!" titahnya.
Kuangkat kepalaku yang dari tadi tertunduk, menyisakan jejak anak sungai di pipiku.
Aku mengulas senyum, "Kakak tidak perlu terlalu mengkhawatirkan aku, setidaknya aku bisa menjaga diriku. Justru istri Kakak lah yang harus ekstra dilindungi, kemarin saja kita nyaris kehilangannya."
"Ya, itu salahku, membiarkannya pulang sendirian bersama Pak Sas di tengah malam. Aku lupa sekuat apapun Pak Sas, beliau sudah berumur."
"Jadi ... apa aku boleh diizinkan belajar menyetir mobil? Dan satu lagi– aku pengen ikut Kickboxing. Off the record yang ini ya Kak, bisa habis aku nanti diceramahi istri Kakak."
Yess!
Aku dapat kesempatan emas meminta lagi keinginanku untuk belajar menyetir mobil. Niat ini sudah aku sampaikan saat Kak Litha berulangtahun, tapi dia menolaknya dengan alasan aku belum siap. Aih, belum siap apaan? Dia saja yang terlalu mengkhawatirkan aku. Kali ini aku akan langsung memintanya pada Kakak Ipar, semoga saja diizinkan.
"Cih. Belum diizinkan belajar menyetir malah ditambahi ingin ikut Kickboxing," sahut Kakak Ipar menopang keningnya dengan satu tangan.
"Itu adalah salah satu usahaku untuk memproteksi diri secara berlapis-lapis, Kak. Aku tidak mau suatu hari nanti merepotkan orang untuk menjagaku. Aku harus mandiri, bisa segala hal. Kakak cukup mengizinkan aku tanpa memberitahu Kak Litha," bujukku tidak menyerah.
Kakak Ipar terkekeh, "Bagus sekali alasanmu, Nia. Tapi begitu istriku tahu, aku yang menderita. Kau tahu kan, aku tidak bisa tidur kalau pisah kamar dengan Litha."
"Aihh ... Tenang saja. Kak Litha akan berpikir berkali-kali lipat sebelum mengatakan Kakak Ipar tidur di kamar lain, karena sebenarnya dia juga tersiksa kalau tidak mencium ketiak suaminya saat mau tidur."
Mata Kakak Ipar membulat namun ada senyum bahagia terpatri di wajahnya. Ternyata segampang ini membujuk Tuan Muda Pradipta, hahaha ...
"Aku tidak bisa membayangkan kalau kalian LDR," celetukku asal.
__ADS_1
"Tidak akan. Aku tidak bisa berjauhan dari bidadari surgaku. Aku ikut dia atau dia ikut aku. Bahkan kalau dia mati aku juga ikut mati," ucap Kakak Ipar serius.
Deg.
Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku sedikit trauma dengan kematian dan kepergian tanpa kabar, lalu apa yang baru saja kudengar? Meski hanya gurauan tapi aku sangat tidak suka gurauan seperti itu.
"Lalu– aku bagaimana kalau Kakak berdua ma– ti."
"Lebih baik aku yang mati meninggalkan kalian duluan daripada kalian duluan yang mati. Aku tidak bisa menanggung rasa sakit ditinggalkan lagi."
"Siapa yang mati?" tanya seseorang wanita.
Suara itu milik Kak Litha yang baru masuk ruangan diikuti Asisten Yan dari belakang.
"Kakak bilang kalau Kak Litha mati dia juga ikut mati, terus aku bagaimana? Semua orang pergi meninggalkan aku." Aku mengadu padanya.
"Aku yang akan menjagamu. Kau takut sekali kalau mereka mati, Tawon Kecil. Bukankah setiap mahluk yang bernyawa di dunia ini pasti mati?" timpal Abyan.
Aku tersenyum sinis, memang benar katanya tapi andai saja bisa kupinta urutan panggilan Tuhan, aku akan mengambil nomor urut antrian terlebih dahulu.
"Mas, bicara apa sih!" ketus Kak Litha menyilet pandangan suaminya.
Kakak Ipar bingung dan salah tingkah tapi dia tak bisa berbuat atau berkata apapun, malah mengodeku dengan maksud yang tidak aku mengerti.
Disaat aku berusaha memahami arti kode mata Kakak Ipar, Kak Litha memeluk dan mengusap lembut kepala hingga punggungku seraya berbisik, "Kalau aku mati, aku akan jadi hantu yang terus mengikutimu. Jadi kau tidak akan merasa ditinggal, hehehe ...."
"Kakak! Iih ... Aku sedih beneran loh ini," sungutku sebal mengurai pelukannya.
"Lagian, orang masih hidup malah membicarakan kematian. Kalian jangan membuatku takut karena sebentar lagi aku akan mempertaruhkan nyawa melahirkan penerus keluarga Pradipta. Haissshhh ..." gerutu Kak Litha berjalan ke arah sofa, mau duduk.
Tidak disangka, tiba-tiba Kakak Ipar langsung bersimpuh dan berlutut di hadapan istrinya yang sudah duduk di sofa, "Sayang ... Aku mohon– berjanjilah padaku, pada anak kita kalau kau akan selamat saat melahirkan. Kau akan berjuang hidup untuk kami, Litha. Aku mohon– sangat memohon padamu, Sayang ...."
Mata Kak Litha mendelik ke arah Asisten Yan yang juga bingung akan sikap manja suaminya, namun lelaki berwajah teduh itu hanya mengangguk, mengisyaratkan kakakku untuk mengikuti keinginan Kakak Ipar.
"Tadi Kakak Ipar yang mengodeku, sekarang Kak Litha dan Asisten Yan saling mengode. Apa orang dewasa suka menggunakan kode daripada kata-kata? Apa susahnya lisan mereka difungsikan dengan semestinya. Haishh ... Aku sungguh tidak mengerti," gumamku dalam hati
Kak Litha mengalah, diusapnya rambut milik suaminya dan mencoba memberi pengertian, "Iya, iya– pasti. Aku juga mana bisa hidup tanpa kalian. Aku akan sekuat tenaga selalu bersama kalian, apapun yang terjadi, karena–"
"Karena rumahku adalah Keluarga Pradipta."
Aku memotong kalimat romantis Kak Litha, akibatnya semua mata mengarah padaku tajam. Oh, apa aku melakukan kesalahan?
"Nia, itu bagianku. Dasar Tawon!" umpat kakakku kesal.
Hahaha ...
"Maaf Kak, aku sengaja melakukannya supaya menghapus keraguan Kakak Ipar padamu. Aku ingin Kakak Ipar yakin dan percaya bahwa rumahmu adalah Keluarga Pradipta meski kesempatan putri mahkota ada di depan matamu."
...***...
__ADS_1
- Bersambung -