Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Akhir dari Kencan Pertama (Part 1)


__ADS_3

"Vania!"


Aku terkejut, begitu juga Nezar bahkan semua orang yang ada di angkringan. Suara Kakak Ipar begitu lantang terdengar sehingga Si Bapak Penjual gemetar ketakutan.


"Kakak," sapaku berdiri diikuti Nezar.


"Kenapa kau disini? Mana Abyan?" tanyanya bingung.


"Kakak tanyakan saja sendiri padanya," jawabku malas.


Matanya menginspeksi ke sekeliling, nampak Kakak Ipar merasa asing dengan situasi jamuan angkringan.


"Kok bisa Kakak kesini?"


"Ini angkringan terdekat dari rumah yang ada di Google Map. Tidak kusangka bertemu kau disini." Matanya mengarah ke belakangku dimana Nezar berdiri ketakutan.


"Aku yang minta kesini sama dia, Kak. Tapi kenapa Kakak mencari angkringan?"


"Litha minta dibelikan nasi kucing di angkringan, harus aku sendiri yang beli. Nasi kucing apa ya? yang ada tempenya begitu," jawab Kakak Ipar berusaha mengingat-ingat sesuatu.


Aku terkekeh, nasi kucing oseng tempe adalah nasi kucing yang paling sering Ibu buat untuk dititipkan di angkringan dulu.


"Nasi kucing oseng tempe, favorit Kak Litha."


"Bagaimana cara belinya? Berapa harganya? Aku hanya bawa dua juta? Apa cukup?"


"Hahahaha ... Dua juta cukup untuk membeli semua makanan dan minuman disitu," kataku tertawa sambil menunjuk angkringan.


"Oh, syukurlah, kukira kurang."


"Ayo Kak, kutemani Kakak kesana."


Kami menuju gerobak diikuti Nezar yang masih takut-takut. Kucari tulisan oseng tempe di bungkusan nasi kucing, tapi tidak ada.


"Pak, nasi oseng tempenya habis ya?"


Si Bapak Penjual langsung melakukan hal yang sama denganku tadi, "Kayaknya habis, Mbak."


"Waduh, habis Kak," laporku pada Kakak Ipar.


"Ck. Cari dimana lagi?"


"Kenapa Kak Litha tiba-tiba pengen makan nasi kucing?"


"Tidak tahu, merepotkan saja," gerutu Kakak Ipar.


"Jangan-jangan istri Kakak ngidam?" bisikku.


Mata Kakak Ipar membola– kaget, "Litha hamil?"


"Ya mana aku tahu, Kak. Harusnya aku yang tanya, hehehe ..."


Nampak Kakak Ipar termenung sesaat memikirkan apakah istrinya hamil atau tidak sampai Jonet membawa dua bungkus nasi kucing oseng tempe pada Nezar. Ternyata pencarian nasi kucing ini menarik perhatian orang-orang.


"Nia, ini masih ada dua nasi kucing yang dicari. Sudah dibeli tapi belum dibuka sama sekali," kata Si Kucing Kribo ragu-ragu menyodorkannya.


"Eh."


"Maaf, kalau lancang," katanya tertunduk.

__ADS_1


"Tidak apa-apa," responku mengambil apa yang diberikannya lalu kuserahkan pada Kakak Ipar, "Ini Kak, paling tidak ada yang bisa dibawa pulang."


Seorang Tuan Muda maju-mundur untuk menerima kemurah-hatian dari orang lain. Meski begitu Kakak Ipar tetap mengambilnya daripada dia tidur dipunggungi dan diabaikan, "Te– terimakasih," katanya canggung.


"Ada lagi?" tanyaku ke Kakak Ipar.


"Tidak ada– pesanannya cuma ini, Tapi Tuan Muda Pradipta tidak pernah berhutang budi, jadi ambilah uang ini dan berikan pada orang yang tadi sudah memberikan nasi kucingnya." Kakak Ipar menyerahkan semua uang yang ada dalam sakunya.


"Kak, kebanyakan!"


"Daripada aku mencari angkringan lain dan yang dicari belum tentu masih ada."


"Oke baiklah, kalau begitu untuk mereka 1 lembar saja, sisanya buatku," sahutku kesenangan memisahkan selembar uang seratus ribu.


"Vania, jangan serakah! Berikan semuanya untuk mereka, jangan seperti pejabat yang memotong anggaran untuk rakyat."


Bibirku terkunci dan melirik tajam pada Nezar yang berusaha menahan tawa dengan menyampirkan rambut gondrongnya ke belakang daun telinga.


"Nih."


Kuambil tangan Nezar lalu meletakkan semua uang yang diberikan Kakak Ipar di tangannya, "Malam ini kalian mendapat durian runtuh hanya karena kakakku ingin makan nasi kucing."


"Te– terimakasih, Tuan," sahut Nezar sedikit membungkuk pada Kakak Ipar.


"Sekarang, kau pulang bersamaku," perintah Kakak Ipar menunjukku dengan tatapan mata yang tajam.


"Aku masih mau disini."


"Pu–lang! Ku-izinkan kau keluar rumah karena kencan dengan Abyan bukan dengan kawan gondrongmu itu."


"..."


Akhirnya aku menyerah untuk berdebat dengan Kakak Ipar dan menuruti perintahnya, Nezar pun tidak dapat berbuat apa-apa selain mengangguk mempersilakan.


"Aku belum selesai dengan kalian, Nia," ujarnya dingin saat membuka pintu mobil untukku, "Telepon Abyan dan katakan aku menunggunya di ruang kerja rumah utama sekarang."


"..."


Ingatanku melayang kembali ke beberapa saat yang lalu. Aku terdiam karena rasa sakitnya masih meerkas.


"Kau tidak perlu menutupinya lagi di depanku. Biar kuselesaikan akar permasalahannya dimana."


Kata pamungkas Kakak Ipar hanya semakin membuat mulutku semakin terjahit. Hening tanpa suara mengiringi kami di mobil, aku hanya menge-chat tunanganku.


Begitu urusanmu selesai dengan Dokter Vivian, datanglah ke ruang kerja Kakak Ipar, dia menunggumu.


Ting.


Notifikasi chat balasan darinya tidak kubuka, malah kuhempaskan punggungku di sandaran kursi dengan layar ponsel yang masih menyala menghadap ke atas di pangkuanku. Kakak Ipar melirik ponselku, "Kenapa kau tidak buka balasan darinya?"


"Tidak penting. Terserah dia mau datang atau tidak, yang penting perintah Kakak sudah aku laksanakan."


Kakak Ipar menghela nafasnya panjang, lalu dia mengubah topik pembicaraan. "Nia, menurutmu istriku hamil?"


Kulirik sekilas ke arah kakak iparku, "Menurut Kakak?" tanyaku balik.


"Mmm ... tidak tahu."


"Tapi kalau Kak Litha hamil lagi, Kakak juga senang kan?"

__ADS_1


"Senang sudah pasti. Impianku adalah punya banyak, anakk supaya mereka tidak sendiri sepertiku hanya saja– kesakitan Litha saat melahirkan masih tergambar jelas dalam otakku."


Aku tersenyum bahagia karena kakakku sudah menambatkan hatinya pada pria yang sangat tepat untuknya.


"Kan, belum pasti. Kakak bawa saja Kak Litha periksa ke Dokter Lena."


"Bukannya tadi kau bilang Litha-ku hamil?" protesnya tidak suka.


Sekarang aku yang menghela nafas, "Kapan aku bilang Kak Litha hamil. Kata 'jangan-jangan' tidak menunjukkan kabar positif, Kak. Justru aku bertanya apa Kak Litha hamil karena permintaannya seperti orang ngidam, haiss ...."


"Tapi aku ingin punya anak perempuan, yang sangat mirip dengan ibunya."


"..."


Kakak Ipar nampaknya memang sudah terjerat kutukan wanita Suku Ragnaya sampai tidak hanya mencintainya tapi juga menjadi fans fanatik nomor satu. Kini aku bisa mengerti bagaimana galaunya dia jika Kak Litha tidak dalam keadaan baik. Maka memori saat kritisnya Nyonya Pradipta pun muncul, beruntung saat itu Nezar mendonorkan darahnya.


.


.


.


"Nyonya sudah beristirahat, Tuan. Katanya nasi kucingnya buat Tuan saja," ujar Bibi Lidya begitu Kakak Ipar menanyakan perihal istrinya.


"Sudah tidur? Dia menyuruhku mencari nasi kucing ini lalu dia tidur begitu saja, ckckck ...."


Aku tergelak apalagi membayangkan betapa senangnya Nezar dan Jonet menerima dua juta sebagai pengganti dua bungkus nasi kucing oseng tempe, hahaha ...


"Maaf Nona. Kok pulangnya sama Tuan Muda? Abyan mana?" tanya wanita paruh baya itu bingung.


"Bibi tanyakan saja sama anak Bibi," jawabku dengan jawaban yang sama saat Kakak Ipar bertanya hal yang sama.


Muka calon ibu mertuaku seketika berubah, aku jadi tidak enak, "Kalau Bibi penasaran tanya saja dia Tenang saja, aku bisa memakluminya, kok,"


"Awas saja kalau anak itu membuat Nona menangis lagi Bibi akan memukulnya."


"Iya Bi, pukul dia untukku ya, yang keras."


Bibi Lidya bengong kemudian dia menunduk, "Maafkan Abyan, Nona."


"..."


"Loh, memangnya apa yang sudah dilakukan Abyan?" tanya Kakak Ipar.


"Bibi ingat waktu itu Nona juga menitip jambakan untuk Abyan, belakangan baru Bibi tahu kalau dia melakukan kesalahan dan membuat Nona menangis. Bibi tidak tahu kali ini apa lagi yang dia perbuat sampai Nona menitip pukulan. Apapun itu, Bibi minta maaf, Bibi tidak becus mendidiknya sampai menyakiti hati gadis sebaik Nona berulang kali," kata Bibi menunduk.


Aku terhenyak dan mematung. Bibi Lidya ternyata begitu peduli padaku tapi apa yang dilakukan tunanganku sama sekali tidak ada hubungannya dengan cara Bibi mendidik putranya. Bagiku dia hanya– sedikit tersesat.


"Nia, bersihkan dirimu lalu tunggu Abyan bersamaku di ruang kerja. Aku juga mau melihat istriku dulu," titah Kakak Ipar yang segera kuturuti, "Kalau Abyan datang, katakan langsung saja ke ruang kerjaku ya, Bi," pesannya pada Bibi Lidya yang dijawab anggukan dengan kepala yang masih tertunduk.


"Bi, anak Bibi memang kadang-kadang mengesalkan tapi dia adalah pria yang baik sampai-sampai aku mengidolakannya dan pernah menjadi ketua fanbase dari sekretaris Tuan Muda Pradipta. Kalau aku menitipkan pukul buatnya melalui Bibi itu hanya semata-mata aku kesal dan tidak bisa melampiaskan karena takut kualat, biar bagaimanapun usianya jauh lebih tua dariku. Bibi jangan merasa bersalah ya," bujukku pada orangtua yang sudah kuanggap sebagai pengganti Ibu dan Bibi Rima.


"Boleh aku memelukmu, Nona?"


"Tentu, aku kan calon menantu Bibi jadi tidak perlu permisi untuk memelukku."


Bibi Lidya memelukku erat yang seakan-akan tidak ingin terlepas. Aku tahu rasa dari pelukan ini – pelukan yang sama jika aku merindukan seseorang yang sudah pergi selama-lamanya. Aku pun membalas pelukannya dengan rasa yang sama dan kini rasa kami perlahan saling bertaut.


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2