
(masih PoV Abyan Pratama)
Setelah sedikit berdebat dengan tunanganku sendiri akhirnya aku yang mengantarkan Nyonya Pradipta pulang sedangkan dirinya yang mengantar Bocah Bau itu. Aku tidak suka dia memiliki hubungan yang disebut teman dekat, sahabat atau apalah, apalagi teman dekatnya itu berani terang-terangan akan merebut hati Vania. Ah, ada apa denganku ini? Bukannya justru bagus kalau Vania dengan lelaki lain jadi dia bisa melupakan perasaannya padaku? Tapi pada kenyataannya aku tidak rela.
"Asisten Yan," panggil istri sahabatku yang duduk di kursi baris kedua mobil.
"Ya, Nyonya."
"Dari dulu selalu begitu. Asisten Yan bisa memanggil suamiku santai dengan namanya sendiri jika situasi tidak resmi, sedangkan aku tetap disebut Nyonya," protesnya.
Aku terkekeh geli. Litha, panggilan akrab Nyonya Pradipta memang sosok yang menyenangkan bahkan kerasnya hati seorang tuan muda arogan mampu dia lunakkan.
"Nyonya pun memanggil saya dengan sebutan Asisten Yan," kilahku.
Giliran dia yang terkekeh geli.
"Kau cemburu tidak? Tunanganmu lebih peduli dengan Nezar. Apa kau tidak menyadari binar mata Nezar setiap kali menatap adikku?"
Glek.
Aku susah payah menelan salivaku sendiri. Kini aku tahu benar bagaimana rasanya saat Ray menghadapi argumen istrinya.
"Sebenarnya aku sangat bahagia dengan pertunangan kalian, apalagi Vania menyukaimu, tapi– perasaanmu juga tidak bisa dipaksa. Entah mengapa kalian melakoninya dalam kurun waktu tertentu, Vania juga aneh, katanya dia tidak ingin memaksamu untuk menyukainya tapi dia malah mengikatmu. Sifatnya seperti ini mirip suamiku. Menyebalkan sekaligus ngangeni."
Tanpa aku sadari se-utas senyum terbit di bibirku, membenarkan kalimatnya.
"Apa kau tidak punya sedikitpun rasa untuknya?"
Senyumku terhenti, berpikir keras untuk menjawabnya karena aku juga tidak tahu. Aku hanya mengerti bahwa aku sekarang mencoba membuka hati untuk Vania, namun aku juga tidak mau memaksakan perasaan demi siapapun.
Ketika otakku sibuk menyusun kata-kata, mataku menangkap sebuah bayangan mobil hitam dari spion tengah. Meskipun mobil itu mengatur jarak aku yakin pengemudinya mengikuti kami.
"Maaf Nyonya, sepertinya kita sedang diikuti. Tidak tahu siapa yang diincarnya, mobil ini atau mobilnya Vania."
"Apa?"
Mata Nyonya Pradipta terbuka lebar, wajahnya panik dan langsung menoleh ke belakang, memastikan ucapanku.
"Siapa? Siapa yang diincarnya?"
Aku menggeleng, "Tidak tahu Nyonya, di perempatan lampu merah nanti, kita akan berpisah arah dengan mobil Vania. Disitu baru bisa dipastikan dia mengikuti siapa."
Nyonya Pradipta menegang. Kulihat dari kaca spion dia tengah mengambil ponselnya, entah mau menghubungi siapa.
"Jangan beritahu Vania, Nyonya. Dia akan panik dan teman tidak bergunanya itu juga tidak akan bisa berbuat apa-apa," kataku cepat.
"Mas Rayyendra."
"Lebih-lebih lelaki itu Nyonya. Dia akan lebih panik dari Vania. Dia akan membuat kacau se-isi kantor. Nyonya tenang saja, Nyonya akan aman bersamaku."
Mobil berhenti di perempatan lampu lalu lintas. Mobil Vania akan berbelok ke kiri dan kami akan terus ke depan. Tidak banyak yang bisa kulihat dari sosok pengemudi mobil di depanku, padahal aku berharap sedikit saja tunanganku menoleh ke belakang, tapi ya sudahlah.
Muka ibu beranak satu itu pucat pasi, tubuhnya kaku seperti patung, "Kau tidak akan meninggal seperti Pak Sas, kan?" ujarnya dengan lapisan kornea yang sudah mulai meretak.
Ah.
Aku tersentak mendengarnya, aku lupa kejadian seperti ini bisa jadi mengingatkannya atas kronologis bagaimana kami kehilangan asisten terloyal di Keluarga Pradipta.
"Tidak Nyonya, aku lebih muda dan kuat. Aku bisa melindungi Nyonya lebih baik dari pamanku. Lagipula belum jelas siapa yang menjadi targetnya," kataku menenangkan Nyonya Pradipta.
__ADS_1
Helaan nafasnya terdengar sangat berat, dengan cepat dia menyeka sudut matanya yang basah, "Siapapun targetnya tetap saja membuatku takut. Kalaupun bukan aku, pasti Nia," lirihnya.
"Bisa jadi Nezar atau aku sendiri, Nyonya."
"Tetap saja itu sangat mengkhawatirkanku."
Giliranku yang menghela nafas, tidak kalah beratnya.
Lampu lalu lintas berganti kuning, sedetik kemudian berubah hijau. Mobil Vania berbelok ke kiri, aku melaju lurus. Kami sudah berpisah jalan dan– mobil hitam yang berada di belakang ternyata mengikuti kami.
Siapa mereka?
"Asisten Yan."
Nyonya Pradipta memperingatiku dengan wajah tegangnya. Aku mengangguk dan berpikir cara untuk mengecoh mobil ini. Belum sempat menemukan cara, sekonyong-konyong sebuah mobil melaju kencang memotong jalur mobil hitam di belakang diiringi bunyi klakson yang beruntun. Astaga ... itu mobil tunanganku!
Tiba-tiba ponsel Nyonya Pradipta berdering, "Halo, Nia– ya, ya, tunggu sebentar, aku nyalakan lousdspeaker– Sudah. Bicaralah."
"Asisten Yan! Lajukan mobilmu sampai rumah secepat mungkin. Aku akan menghalangi mobil itu. Aku akan beritahu Pak Partono untuk bersiap membuka gerbang."
"NIA!" Aku dan kakaknya berteriak bersamaan.
Zar, tutup teleponnya lalu telepon Pak Partono, nama kontaknya Partono Satpam.
I– iya.
Cepetan.
Ih, ini juga mau ditelepon. HP-mu ribet, HP orang kaya, aku mesti nyari-nyari dulu menunya.
Astaga, Nezar! Cepetan!
NEZAR!
Iya, sudah– sudah ketemu. Tapi– Astaga Nia!
Apalagi!
Aku belum menutup teleponnya.
Dasar Kucing Kribo! Tutup te–
Tut.
Hening sejenak setelah sambungan telepon terputus. Tanpa suara aku melajukan kecepatan mobil di 120 km/jam, beruntung jalanan saat itu lengang. Dari spion kulihat Vania bersusah payah menghalangi jalur mobil hitam. Aku akui kemampuan mengemudinya sangat bagus sampai dia mampu membuat kewalahan dan memperlambat mobil yang mengejar kami.
Tidak ada suara dari Nyonya Pradipta sedikitpun, hanya airmatanya yang mengalir. Kurasa dia shock. Dari seratus meter sebelum gerbang utama kediaman Pradipta terlihat para penjaga yang dipekerjakan Rayyendra siaga dengan kedatangan kami.
"Nia! Nia! Nia!"
Hanya nama tunanganku saja yang terus terucap dari mulutnya.
"Ya, Nyonya saya akan langsung kembali mencari Vania," ujarku setelah sampai di depan pintu rumah utama.
Nampak ibuku dan Pak Is mendekati kami dengan wajah serius. Ternyata gadis itu telah mengabari semua orang di rumah ini.
"Nyonya– Nyonya, baik-baik saja?"
Nyonya Pradipta mengangguk, kemudian ibuku menatapku, "Dimana Nona?"
__ADS_1
Belum sempat kujawab lagi-lagi suara telepon berbunyi, tapi kali ini dari ponselku.
Rayyendra.
"Ha–"
"Yan, kau dimana? Aku baru saja mendapat telepon dari polisi kalau mobil Nia kecelakaan," buru Ray panik dari seberang telepon.
Deg.
"Ba– bagaimana?"
"Aku juga belum tahu kabar istriku dan Nia, aku lagi menuju rumah sakit."
"Nyonya bersamaku, sudah berada di rumah, tadi pulang kami bertukar penumpang."
Hening.
"Syukurlah."
"Rumah sakit mana?"
"Rumah sakit terdekat, aku sharelock lokasinya."
"Aku kesana sekarang."
Tut.
Telepon diputus namun dentuman hatiku tidak juga hilang.
"Rumah sakit? Siapa di rumah sakit?" tanya Nyonya Pradipta menatapku lekat.
Aku tersenyum getir, membenarkan firasatnya. Tangisnya langsung pecah dan berlari menuju mobil kembali, "Ayo, aku mau kesana sekarang. Ayo!"
"Nyonya di rumah saja. Tidak aman jika Nyonya ikut. Aku akan segera mengabari Nyonya begitu tahu keadaan Nia. Aku yakin dia hanya terluka sedikit."
"Tidak! Tidak mau! Aku mau kesana!"
"Nyonya, tolonglah."
"Tidak mau!"
Hmmpphh ... aku menghela nafas, kupandangi ibuku memohon padanya untuk membantu.
Ibuku mendekati Nyonya Pradipta dan membujuknya, "Nyonya, sebaiknya Nyonya istirahat dulu. Bibi tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang jelas itu pasti hal yang menakutkan. Nanti kalau keadaan Nyonya sudah stabil mari kita minta ijin kesana, Bibi juga ingin melihat kondisi menantu Bibi."
Menantu? Oh, Ibu ... manis sekali kau memanggil Si Tawon seperti itu padahal kau tahu hubungan pertunangan kami masih abu-abu.
Meski tidak ingin, tapi Nyonya Pradipta mengikuti saran ibuku.
"Kabarkan segera padaku keadaannya," pinta wanita yang kerap kusapa dengan panggilan resmi.
Aku mengangguk namun sedikit terkesiap begitu Ibu melewatiku sembari memapah Nyonya Pradipta, "Kau berhutang cerita pada ibumu, Abyan."
"Hem."
Tidak berlama-lama, aku segera menuju lokasi yang audah dikirimkan Ray, aku berharap gadis yang kini menjadi tunanganku baik-baik saja tapi tidak dengan temannya, kurasa dia lebih baik mati.
...***...
__ADS_1
- Bersambung -