
Aku mengeratkan pelukan ketika Kak Litha pamit setelah mengantarku kembali ke sekolah. Di ruangan kamar saat Keysha mengikuti jam pelajaran, kakakku berulang kali meminta maaf. Dia merasa bersalah membuatku harus menjalani kehidupan sekolah yang tidak menyenangkan.
"Sekali lagi Kak Litha minta maaf, aku tidak akan meneleponmu," ancamku.
Kakakku mengusap sudut matanya, "Kakak selalu mendoakanmu setiap saat agar kau kuat dan selalu dilindungi sampai lulus. Berusahalah sebaik mungkin, jangan pernah memikirkan masalah biaya, ingat rejekimu saat ini dititipkan Tuhan melalui pekerjaanku."
Sekuat tenaga aku menahan bendungan airmata, sesungguhnya aku yang paling berat berpisah dengannya, terbiasa bersama selama satu bulan menjadikanku bergantung padanya dalam segala hal. Ah, kakakku tersayang ... aku pun selalu mendoakanmu setiap saat, kelak kau akan menemukan kebahagiaan sejatimu.
...***...
Hari demi hari berganti bulan kemudian tahun. Aku seperti bermain peran, di luar kamar aku menjadi seseorang yang pendiam dan menghindari pergaulan dengan penampilan yang konyol, berambut pendek ala Demi Moore di film lawas berjudul Ghost dan selalu mengenakan baju manset sebelum baju seragam sekolah. Barulah di dalam kamar aku bisa menjadi diriku sendiri. Rahasia ini hanya diketahui oleh teman sekamarku dan dia berjanji tidak akan memberitahu pada siapapun.
Apa dengan begitu aku aman? Hohohoho ... tentu tidak, Serena tidak melepasku begitu saja, aku tetap seperti menjadi sasarannya kala gadis pembully itu iseng, namun tidak ada yang bisa aku perbuat. Kurubah arah pikiranku untuk tidak terfokus pada perlakuan Serena, meski di sepinya malam aku kerap menangis tanpa suara supaya tidak terdengar mahluk yang tengah terlelap. Aku tidak ingin lebih dikasihani Keysha.
Kualihkan rasa sakit dan piluku dengan belajar, apa saja sampai kantuk menyerang. Begitupun di Dojang, kulampiaskan emosi kemarahan dengan mengeluarkan teriakan keras saat latihan. Teknik tendangan dan pukulku semakin diasah Sabeum Dre hingga aku bisa melewati ujian kenaikan tingkat paling cepat diantara teman-temanku yang lain.
Kuhabiskan rasa jenuhku di perpustakaan sekolah dengan membaca semua buku disana tanpa memilah lagi, dari bacaan sastra sampai jurnal ilmiah, dari yang aku pahami sampai tidak aku mengerti, yang penting aku tidak terlibat di pergaulan sosialita remaja dan menghindari Serena Cs. Semua harus berjalan seperti ini sampai hari kelulusan tiba, aku tidak ingin Kak Litha dipanggil Kepala Sekolah lagi.
Apa yang kulakukan membuahkan hasil, di tahun kedua aku bisa meraih juara kelas bahkan bersaing dengan kelas sebelah merebut juara umum se-angkatanku. Perlahan guru-guru mulai melirik, Kepala Sekolah juga menurunkan senyum terpaksanya ketika aku diusulkan oleh Bu Burne dan guru lainnya mengikuti berbagai lomba dan olimpiade mewakili sekolah di tingkat Kota.
Aku sangat senang melihat senyum lebar Kak Litha mendengar perkembangan akademikku di sekolah, terlebih ada binar bangga pada mata Ibu. Hal ini membuat tekanan Serena Cs padaku tidak berarti apa-apa.
"Nia, ayahmu pasti bangga melihat putri bungsunya sekarang menjadi juara," ujar Ibu ketika kami berkumpul di ruang tamu rumah Bibi Rima.
Saat ini libur kenaikan kelas tiga, Kak Litha juga pulang. Penampilannya lebih baik dari yang aku temui kemarin-kemarin dan jauh lebih menarik dari waktu dia membawaku ke Ibukota. Katanya dia sudah tidak lagi bekerja paruh waktu di restoran ayam goreng. Kakakku sudah mendapat pekerjaan di rumah konglomerat tempat Paman Tino bekerja sebagai pelayan khusus Nyonya Besar. Gajinya yang lumayan besar dan berkali-kali lipat dari pekerjaan sebelumnya kini dapat membantu perekonomian keluarga, pengobatan Ibu dan Kak Tisha juga biaya sekolahku.
"Nia bekerja keras untuk itu, Bu. Oh iya, kalau dipikir buat apa sekolah pintar-pintar kalau gaji pelayan khusus seorang Nyonya Besar di keluarga konglomerat lebih besar dari pekerjaan yang membutuhkan ijazah sarjana," kataku sambil mengunyah keripik gadung camilan kesukaanku.
"Jangan salah Nia, pamanmu bilang Nyonya Besar tidak sembarang memilih orang untuk berada dekat di sisinya. Selain gaji, kakakmu juga diberikan fasilitas khusus setara kepala pelayan yang sudah mengabdi puluhan tahun disana," timpal Bibi Rima yang barusan muncul dari kamarnya.
"Jangan berlebihan, Bi. Tugas utamaku disana sebenarnya hanya untuk menemani, menghibur dan menjadi teman ngobrol buat Nyonya Besar," sanggah Kak Litha sembari memijat pundak Ibu.
"Sepertinya Nyonya Besar itu sangat menyukaimu, Tha. Bagaimana caramu berinteraksi dengannya hingga beliau merasa nyaman?" tanya Ibu yang duduk di kursi roda.
__ADS_1
"Entahlah, padahal cara berinteraksiku dengan Nyonya Besar biasa saja, sama dengan aku memperlakukan Ibu karena usianya sudah tua. Sesekali juga bercanda, sama seperti aku bercanda dengan Ibu, Ayah, Bibi dan Paman."
Kulihat Ibu mengelus lembut tangan Kak Litha sembari tersenyum, "Kau sudah mengambil hatinya, Tha."
"Terus kalau Kak Litha bisa izin pulang, kenapa Paman Tino tidak bisa?"
"Engg ... kalau itu sih aku juga tidak tahu kenapa."
"Meski katanya sama-sama pelayan, Litha berbeda dengan pamanmu dan tidak bisa dibandingkan. Dia punya previllage sebagai pelayan Nyonya Besar. Cukup mendapat izin darinya, maka tidak ada yang bisa melarang. Titah Nyonya Besar adalah titah tertinggi di rumah itu," ujar Bibi Rima melirik kakakku.
"Hehehehe ... Bibi Rima ini seperti tahu saja." Kak Litha menyanggah lagi tapi terdengar canggung.
"Kau sudah disukai Nyonya Besar dan seperti yang di sinetron-sinetron TV, kau akan dijodohkan dengan salah satu keluarganya. Kalau sudah begitu, siapa yang bisa menolaknya. Kau siap, Litha?"
"Rima!"
Ibu menekan suara dengan wajah serius, ini pertanda tidak baik. Si empunya nama yang dipanggil pun langsung terdiam. Bibiku ini wataknya galak dan cerewet, namun dia sama sekali tidak berani dengan Ibu. Jika Ibu sudah mengatakan sesuatu Bibi Rima akan menurut tanpa membantah sedikitpun, padahal Ibu adalah sosok tenang, baik dan suka tersenyum. Kadang aku heran kenapa bukan Ibu yang takut dengannya ya? Apa karena status kakak ipar? Kalau sudah begini aku selalu menahan tawaku melihat wajah patuh Bibi pada ibuku.
"Nia, ayo bantu Bibi membuat teh untuk kita minum!" ajak Bibi Rima mengalihkan suasana dan topik pembicaraan.
"Siapa lagi? Litha lagi memijat Ibumu. Ayo!"
"Haissshhh ...." keluhku melangkahkan kaki ke dapur mengekori langkah Bibi Rima.
Tiba-tiba aku menghentikan langkah, lalu mencari posisi untuk mendengar percakapan antara Ibu dan Kak Litha tanpa diketahui mereka.
"Tadi Bibi hanya bercanda, kenapa Ibu menanggapinya dengan serius sekali?" tanya Kak Litha masih memijati pundak Ibu.
Ibu diam saja, matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan sendu.
"Kau adalah anak yang baik, Litha. Ibu sangat bersyukur Tuhan memberikan putri sebaik kamu. Ibu hanya merasa bersalah padamu, harusnya Ibu yang berjuang membahagiakanmu tapi yang terjadi malah sebaliknya, bukan hanya menjaga dan merawat Ibu tetapi juga kedua saudarimu."
"Ibu, jangan berkata seperti itu. Jika aku menjadi anak baik, itu karena aku lahir dan tumbuh dari seorang ayah dan ibu yang hebat. Ayah dan Ibu memberi tauladan yang baik padaku dan kedua saudariku. Ibu juga tidak semestinya merasa bersalah karena aku melakukannya dengan senang hati. Aku senang kalau Ibu dan Kak Tisha sembuh dan Nia bisa bersekolah dengan baik. Semua ini akan kita lewati, Bu. Lihat saja putri bungsu Ibu, sudah makin pintar dan dewasa, kan? Tidak lama lagi kesembuhan Ibu dan Kak Tisha pasti anakan menyusul. Pelan-pelan ekonomi keluarga kita juga akan ikut membaik kembali."
__ADS_1
Mendengar penuturan Kak Litha, Ibu menunduk dan menangis sesenggukan, mataku juga mulai berkaca-kaca.
Melihat Ibu tertunduk dan menangis, Kak Litha beralih ke depan Ibu dan berjongkok menyentuh lutut Ibu, "Kok, Ibu menangis? Apa aku salah bicara?"
Ibu menggeleng pelan, "Tidak– Tidak ada. Ibu hanya berharap Tuhan membalas budi baik dan baktimu, Litha– membalas dengan kebahagiaan sejati hingga kau merasa hidupmu terberkati."
Kak Litha langsung memeluk Ibu, kulihat dia menutup matanya mencoba kuat agar tak menangis di depan Ibu.
"Kak Litha pasti kelak akan bahagia, Ibu. Aku berjanji kedepannya aku yang akan menjaga Kak Litha, Ibu dan Kak Tisha." kataku dalam hati.
Hampir saja airmataku luruh kalau tidak merasa kupingku perih dijewer Bibi Rima.
"Kau ini ya! Kebiasaan dari dulu suka sekali ingin tahu urusan orang."
"Haissshhh Bibi ... Sakittt!" pekikku tertahan.
"Siapa suruh kau menguping, ha!" desis Bibi Rima galak menarik kupingku ke arah dapur, menjauhi Ibu dan Kak Litha.
"Aku hanya penasaran, Bi." ujarku sekaligus melepaskan tangan Bibi dari kuping kananku, "Kenapa Ibu sampai menekankan suaranya memanggil nama Bibi? Lalu ada kesenduan di mata Ibu dan kenapa Ibu tiba-tiba merasa bersalah pada Kak Litha? Padahal kan, sudah lama Kak Litha melakukan perannya sebagai tulang punggung keluarga? Maksud aku tuh, sedihnya Ibu dengan rasa bersalahnya barusan sangat dalam, Bi, seperti ada sesuatu yang akan terjadi."
"Berisik! Tidak semua kita harus tahu. Terlalu banyak tahu akan membuat hidup tidak tenang. Tahulah secukupnya saja sesuai porsimu," kata Bibi menyodorkan toples gula padaku, mengisyaratkan memberi gula pada teh yang baru saja dibuat.
"Tapi dengan kita tahu, kita bisa mengambil sikap untuk kedepannya," ujarku tidak mau kalah.
"Ya, kau benar. Tapi kadang ada hal-hal yang sebaiknya kita tahu secara alami, bukan dipaksa dengan cara mencuri dengar pembicaraan orang lain. Paham! Dan jangan kau ulangi lagi kebiasaan burukmu itu– atau kalau tidak, akan kubiarkan Ibumu tahu bahwa putri comelnya ini masih suka menguping."
Ya Tuhan, Bibi Rima mengancamku akan mengadukannya ke Ibu, "Jangan, Bi! Jangan– lebih baik aku dimarahi Bibi daripada dimarahi Ibu, matanya itu membuatku ngeri."
"Hah! Apa! Huahahahaha ... Kau takut dengan tatapan ibumu? Apa kau tidak sadar mata cantik Kakak Ipar itu menurun di Litha dan kamu," ejek bibiku.
Aku mengecutkan bibir kesal, "Apa Bibi juga tidak sadar kalau Bibi sama takutnya denganku ketika melihat mata Ibu kalau lagi marah?"
Akan tetapi memang tidak dipungkiri mataku dan Kak Litha adalah milik ibuku. Bias mata Ibu adalah bias yang tidak bisa ditolak kemarahannya, kesedihannya, maupun kebahagiaannya. Jadi, selain Ibu yang kuhindari kemarahannya di dunia ini, Kak Litha termasuk orang yang paling aku hindari juga jika dia marah.
__ADS_1
- Bersambung -