
Aku sangat senang dijemput Pak Sas bersama Bibi dan Paman di sekolah untuk meminta izin ke Ibukota selama beberapa hari. Suatu kebanggaan tiada terkira ikut menghadiri seremonial wisuda Kak Litha sekaligus perayaan ulang tahunnya.
"Bibi, benarkah Kakak Ipar melakukan semua itu untuk Kak Litha?" kataku tidak percaya setelah Paman Tino menceritakan secara singkat kejutan Tuan Muda Pradipta untuk istrinya.
"Iya Nia. Suami kakakmu itu membuat kejutan luar biasa buat Litha. Kau tahu, dia sampai menyesuaikan jadwal wisuda dengan hari ulang tahun kakakmu, kemudian malamnya akan ada pesta privat yang hanya dihadiri keluarga dan orang-orang terdekat," jawab Bibi Rima penuh semangat.
Aku terperangah, effort Kakak Ipar begitu menakjubkan sampai bisa mengubah acara besar universitas yang melibatkan banyak orang penting.
Menaiki pesawat pribadi milik Keluarga Pradipta merupakan pengalaman pertama bepergian melalui jalur udara. Akhirnya aku bisa merasakan tegangnya critical eleven dan lelahnya jetlag padahal hanya dua jam perjalanan.
.
.
.
Sejak mendarat dan disambut sopir dengan mobil Rolls Royce, aku dan Bibi tidak henti-hentinya mengagumi kemewahan yang dimiliki Kakak Ipar, terlebih saat tiba di kediaman keluarga Kakak Ipar.
"Nia, tutup mulutmu yang menganga itu! Kau lebih udik daripada Paman ketika pertama datang kesini," desis Paman Tino di samping memperingatkanku ketika akan memasuki sebuah tempat penjagaan, ini penjagaan kedua yang terletak di dalam gerbang utama.
"Ckckck. Paman, ini seperti sebuah dongeng. Kak Litha adalah Cinderella di dunia nyata," sahutku tidak peduli, mataku menjelajahi setiap sudutnya.
"Rumah ini memiliki dua penjagaan. Pertama di gerbang utama yang kita lewati, kedua yang ini, keamanan di rumah ini sangat diperhatikan sekali. Setiap yang tinggal di sini akan diberikan Passcard dan untuk tamu harus meninggalkan kartu identitas yang ditinggalkan di pos penjagaan pertama," tunjuk Paman melalui ekor matanya, "Sedangkan itu adalah pendopo untuk menerima tamu yang sifatnya umum, kalau tamu yang memiliki hubungan dekat dengan anggota Keluarga Pradipta, maka akan dibawa masuk ke ruang tamu di dalam rumah utama, tetapi itu sangat jarang. Nah, di pendopo itulah takdir kakakmu bersinggungan dengan Keluarga Pradipta dimulai."
Aku menyimak cerita Paman Tino dengan seksama, "Paman ceritakan lagi lebih rinci," pintaku.
Ehemm ....
Pak Sas berdehem mengisyaratkan supaya aku tidak banyak tingkah. Haisshhh ... tentu saja itu sangat menyebalkan.
"Nyonya Besar jatuh cinta pada pandangan pertama kepada seorang gadis, selanjutnya hanya gadis itu yang bisa membuat hidup Nyonya Besar berwarna hingga akhir hayatnya. Begitu sangat menyukai gadis itu, sampai-sampai Nyonya Besar mengikatnya dalam wasiat agar tetap berada dalam Keluarga Pradipta meskipun beliau telah wafat."
Uraian singkat dari lelaki yang tidak pernah menunjukkan ekspresi itu membuat kami terkejut. Demi Kak Litha Pak Sas sudi memanjangkan kalimatnya, selama ini sosoknya yang bisu acapkali membuatku merinding, hiiii ....
"Pamaaan, Bibiiiii, Niaaaa ... " teriak Kak Litha melonjak kegirangan di teras. Dia tidak berlari menyambutku seperti biasa, kutangkap wajah awas Kakak Ipar disampingnya. Tetapi aku mengerti, perutnya yang terlihat membesar juga tidak baik untuk melakukannya.
"Lithaaaa ...." teriak Bibi dan Paman bersamaan.
"Kak Lithaaaa ...." Aku juga tidak kalah mengeraskan teriakanku menghampirinya.
Kami berempat berpelukan erat dan lama meluapkan rasa rindu, rindu yang teramat dalam. Kemudian aku berjongkok di depan kakakku dan mengusapkan tangannya ke perutnya, "Hello, my dear nephew ... Kau tumbuh begitu baik dalam perut ibumu, Bibi Nia sudah tidak sabar bermain denganmu." Sangat menggemaskan melihat perut buncit itu, ingin kugigit-gigit rasanya tapi aku sadar ada pawangnya yang selalu mengawasiku.
"Litha, kamu makin cantik dan berisi, Nak. Pipimu– astaga! Tembem– dan kandunganmu juga makin besar." Bibi Rima mengomentari fisik Kak Litha sambil memegang wajahnya.
"Iya Kak, padahal waktu awal Kak Litha hamil sangat kurus sampai kelihatan tulang pipi," timpalku sambil kembali berdiri.
Ehemm ....
Ray berdehem, spontan Paman Tino menginjak kakiku. "Aauuww .... Paman! Ini kaki masih dipake, jangan main sembarang injak dong!" seruku menarik kaki.
"Bicaramu itu yang sembarangan. Ingat! Kita di rumah Keluarga Pradipta. Jaga mulutmu kalau tidak Pak Is akan memarahimu."
"Siapa Pak Is?" tanyaku.
"Ayo masuk! Aku perkenalkan semua pelayan di sini pada Bibi dan Nia, kalau Paman pasti masih mengingatnya," ajak Kak Litha menggandeng lengan Bibi Rima.
Baru saja memasuki ruang tamu rumah utama, aku dan Bibi tak henti-hentinya berdecak kagum dan mengomentari dengan norak ruangan yang selama ini kami hanya lihat ada di TV. Bibi sampai bergidik ngeri, takut menyentuh benda yang ada disini.
"Pak, apa benar Litha tinggal di rumah ini?" bisik Bibi pada suaminya yang masih kedengaran olehku.
"Iya Bu. Makanya kubilang jangan kagetan kalau sudah sampai. Aku saja tidak akan masuk ke rumah utama kalau tidak diizinkan Kepala Pelayan, Pak Is. Tidak boleh sembarang pelayan bisa keluar masuk rumah utama."
Bibir Bibi membulat tidak percaya keponakannya menjadi ratu di rumah semegah ini, akupun juga begitu. Rumah ini berlantai dua yang sangat luas, dekorasi dan desainnya klasik dan elegan, bisa dipastikan setiap barang yang bersemayam disini memiliki nilai tinggi.
"Bibi dan Nia, ini adalah Pak Is, beliau yang paling sibuk mengurus rumah ini dan orang-orangnya hehehe ... Tanpanya kami pasti sangat repot," kata Kak Litha memperkenalkan Pak Is.
Pria paruh baya itu menunduk hormat pada kami. Perhatiannya mengarah padaku, entah apa yang dipikirkan. Tidak lama kemudian kami diantar ke kamar tamu tempat kami menginap selama tinggal di Ibukota. Kamar yang terletak di lantai satu ini besarnya tiga kali lipat dari kamarku dan Kak Litha di rumah Paman dan Bibi, di dalamnya masing-masing dilengkapi kamar mandi dan furniture terbaik di kelasnya, "Aku pasti betah tinggal disini, hmmm ...." gumamku senang menyentuh sana-sini.
.
.
.
"Asisten Yaaaannn ... " teriakku ketika lelaki yang kupanggil namanya berdiri di depan pintu ruang tamu.
Dia sepertinya akan ke kantor bersama Kakak Ipar, Tadi aku tidak menghiraukannya karena perhatianku lebih tertuju pada Kak Litha dan rumah besar ini. Segera kuhampiri dan mengeluarkan ponsel baruku yang Kakak Ipar berikan sebelum dia pulang ke Ibukota dari kota A beberapa bulan lalu.
"Asisten Yan, ayo kita selfi dulu untuk pembaharuan berita di FC," sahutku riang membayangkan keirian Keysha, Riri dan Rachel melihat swafotoku bersama Asisten Tuan Muda Pradipta.
"FC? Apa itu FC?" tanyanya bingung.
"Fans Club. Shortpink Fans Club. Aku ketua FC nya. Asisten Yan manis sekali pakai celana pendek warna pink. Waktu itu di Twitter trending nomor satu, mengalahkan Kakak Ipar yang tanpa baju menggendong Kak Litha. Badan Kakak Ipar boleh kayak roti sobek tapi sweet-nya pink Asisten Yan tetap juara di hati kami."
Yup, meski awalnya sempat kutolak 'jabatan' bergengsi itu tapi pada akhirnya aku sangat menikmatinya, menikmati setiap gambar seorang Abyan Pratama.
__ADS_1
"Nia!" pekik Kak Litha memelototiku.
"Gawat! Apa Kak Litha marah? Mati aku kalau dia marah. Tapi-- kenapa?" gumamku dalam hati yang juga merasa lucu melihat Kakak Ipar dan asistennya terperangah tidak percaya mendengar nada tinggi kakakku.
"Apa selama ini Kak Litha selalu lemah lembut di depan kalian? Hahahahaha ... kalian tertipu olehnya karena omelannya sangat membuat telinga berisik."
"Apa yang kalian lakukan di FC itu?" tanya Asisten Yan.
"Ya ... berbagi kabar terbaru tentang Asisten Yan, juga foto-foto Asisten Yan. Aku kan, punya banyak foto-foto Asisten Yan sewaktu di Kota A dan foto itu adalah foto eksklusif yang terkadang dishare ulang di akun-akun gosip Instagram."
"Nia, kau melanggar privasi Asisten Yan itu namanya!Lancang sekali tanpa izin kau menyebarkan foto-fotonya. Apa itu yang diajarkan Ayah dan Ibu? Memalukan!" kata Kak Litha geram, terus terang perkataannya kali ini membuat nyaliku ciut.
"Ka-- Kakak-- A-- "
"Hapus semua foto yang kau share dari akun FC-mu. Minta maaf sekarang sama Asisten Yan. Jangan harap kau bisa makan sebelum mendapat maaf darinya," lanjutnya tegas tanpa bisa aku membela diri.
"Haishhh ... Kak Litha ... Masak sampai begitu?"
"Ya. Agar kau tahu sopan santun."
"Iya, iya."
Aku menyerah, daripada omelannya menjadi panjang bak rel kereta api yang entah dimana ujungnya, "Aku minta maaf Asisten Yan." ujarku menghadap lelaki berbadan tegap itu.
"Hohohoho ... tidak semudah itu kumaafkan, Nona Tawon."
"What the fu*ck! Dia-- dia-- dia sengaja mempermainkanku!"
"Aku sangat menghargai yang namanya privasi Nona Vania. Perbuatan Nona melukai harga diriku." sambungnya lagi.
Pppppffffttt ...
Suara tawa tertahan Kakak Ipar menyentil rasa maluku, ternyata lelaki itu memang sengaja mengatakan seperti demikian, jelas dia mau mengerjaiku. Tetapi tidak dengan Kak Litha, wajahnya sangat serius seakan ingin memakanku hidup-hidup.
"Vania memang sembrono dan suka melakukan hal tanpa berpikir panjang, tapi sebenarnya dia tidak punya niat sedikitpun untuk berbuat yang tidak pantas. Mohon maafkan Vania, Asisten Yan." Kak Litha meminta maaf dengan menundukkan kepalanya di depan Asisten Yan.
Eh.
"Litha!" teriak suaminya.
Kakak Ipar sangat tidak suka istrinya menundukkan kepalanya di depan orang lain. Hal ini menciderai harga dirinya sebagai Tuan Muda yang selalu disanjung dan tidak pernah salah. Terlebih Asisten Yan statusnya hanyalah pesuruh Kakak Ipar.
"Eh, Kakak. Jangan begitu, aku yang salah," kataku sedikit gugup, kenapa suasananya jadi se-serius ini?
"Eh, Nyonya, jangan seperti ini. Aku-- aku ha--"
"Lith, kau tidak perlu melakukannya, aku yang akan meminta maaf pada Abyan. Vania adikku, aku juga bertanggungjawab atas sikapnya," kata Kakak Ipar menyela kalimat Asisten Yan dengan mengusap kepala istrinya, "Dan kau Nia, harus belajar banyak cara menghargai kepemilikan orang lain dari kakakmu. Kau akan dihargai sebagaimana kau menghargai orang terlebih dahulu, " lanjut Kakak Ipar tegas.
Aku tidak percaya dengan apa yang kusaksikan saat ini. Seorang Tuan Muda yang dikenal seantero negeri sebagai pribadi arogan itu rela meminta maaf untuk menggantikan ucapan maaf istri tercintanya, bahkan dengan lembut mengusap kepala sanh istri. Lalu dia menasehatiku layaknya seorang kakak laki-laki yang sedang mendidik adik kesayangannya.
"Kenapa-- kenapa mereka berdua melakukannya untukku? Nasehatnya terdengar tulus, bukan sekedar untuk mencari perhatian Kak Litha. Apa aku ikut berharga baginya seperti aku yang begitu berharga di mata kakak perempuanku?" haruku dengan menundukkan kepala penuh penyesalan.
"Iya, Mas. Maafkan Nia ya. Asisten Yan maafkan Nia ya."
Ada pepatah mengatakan kakak perempuan adalah pengganti Ibu jika Ibu telah tiada, dan ini benar. Aku beruntung memiliki kakak perempuan seperti Kak Litha, aku bisa merasakan perhatian, kasih sayang dan harapannya untukku. Yeah ... I feel it.
Setelah Kakak Ipar dan Asisten Yan mengangguk, Kak Litha berbalik dan menjewer kupingku, "Bikin malu saja. Ayo masuk kamarmu! Renungkan perbuatanmu! Kau tidak boleh keluar kamar sebelum kupanggil. Berpuasalah sampai Asisten Yan kembali mengantar pulang Kakak Iparmu dan berusahalah untuk mendapatkan maafnya."
Hah! Apa?
"Kak! Ampun! Aku tahu aku salah dan-- bukankah aku juga sudah dimaafkan? Kenapa harus menjewer dan mengurungku tanpa makanan? Ini melanggar Hak Asasi Manusia," seruku memegang telinga kanan yang mulai terasa panas.
"Sebelum kau berbicara Hak Asasi Manusia, apa kau tahu setiap orang juga memiliki hak atas gambar dirinya untuk tidak disebarluaskan? Siapa yang melakukan pelanggaran duluan, ha!" sanggah Kak Litha sambil berjalan, masih menarik telingaku.
"Aduuhhh! Sakit Kak! Telingaku mau putus ini! Asisten Yan juga sudah memaafkanku tadi."
Tiba-tiba Kak Litha menghentikan langkahnya, matanya menatapku tajam. Aih ... aku tidak berani menatap matanya kalau dia marah begini, pandangannya begitu menusuk kalbu, persis mata Ibu saat memarahiku. "Kenapa dia tidak mewarisi mata Ayah yang hangat seperti Kak Tisha saja? Pandangan menusuknya membuatku ngeri."
"Siapa bilang? Tentu saja dia mengangguk karena aku yang bicara, kalau dia berani menggeleng, Tuan Muda akan menyusahkannya. Belum diketahui apakah Asisten Yan tulus memaafkanmu atau tidak, sampai kau juga tulus meminta maaf. Jadi-- Adikku Sayang-- kau berhutang maaf padanya, titik," omelnya tanpa jeda dan tidak peduli dengan telingaku yang sudah memerah.
Sayup-sayup telingaku yang lainnya mendengar cekikan dua lelaki yang menjauh dari pintu, tidak lama kemudian terdengar gelakan tawa yang nyaring, gelak tawa itu adalah milik Kakak Ipar.
.
.
.
Percuma saja aku mengadu pada Bibi, berharap mendapat pembelaannya. Nyatanya aku malah makin dimarahi dan tetap dikurung di kamar sampai Asisten Yan datang ketika mengantar Kakak Ipar pulang kantor. Untung saja ada beberapa kudapan yang kubawa dari Kota A, lumayan bisa mengganjal perut, kalau tidak mungkin aku sudah pingsan kelaparan.
"Nia keluarlah, Asisten Yan sudah datang," Bibi Rima menyuruhku untuk keluar kamar dan meminta maaf.
Aku berjalan gontai di belakang Bibi menuju ruang keluarga, menunduk dalam memandang lantai rumah utama yang selalu berkilau. Aku menyadari kesalahanku dimana, Ayah pernah bilang janganlah menunduk jika kau tidak merasa melakukan kesalahan namun kalau kau menyadari kesalahanmu, tundukkanlah kepalamu dengan rasa sesal dan tekad untuk tidak mengulanginya lagi, maka dengan begitu kau baru bisa meminta maaf dengan tulus.
"Vania, kemarilah," panggil Kakak Ipar. Kukirik sekilas Kak Litha yang duduk di samping kirinya dan Asisten Yan berdiri di samping kanannya. "Ada yang ingin kau sampaikan?" ujarnya lagi.
__ADS_1
Aku menghadapi Asisten Yan dengan kepala tertunduk, kedua tanganku saling meremas lantaran jantung berdentum tidak beraturan. Ini membuatku gugup dan sedikit berkeringat, cemas kalau-kalau dia membenciku. Aku tidak ingin dibenci olehnya, aku ingin lebih akrab berbicara dengannya.
"Maafkan aku Asisten Yan. Aku kira kau tidak keberatan. Aku begitu menyukaimu dengan celana pink itu dan ternyata banyak juga yang suka, termasuk Kak Ninda."
"Hah! Bicara apa aku? Permintaan maaf apa ini! Bodoh! Bodoh! Bodoh!"
Aku memaki diri dalam hati, tidak berani mengangkat muka karena ada kilatan api di mata Kak Litha.
Hening.
Tiba-tiba semua yang ada di situ terbahak nyaring kecuali satu orang, si pemilik celana pink.
"Yan, kau tidak membuang celana pink-mu kan? Soalnya itu memorable sekali, hahahahah ...." kata Kakak Ipar disela tawanya, lengannya dicubit Kak Litha agar tidak menggoda Asisten Yan yang wajahnya sudah memerah.
Aku serba salah, aku tidak bermaksud mempermalukannya lagi. Pasti dia semakin enggan memaafkanku dan hukumanku akan berlanjut. Sekarang saja aku sudah lapar, ingin makan nasi-- beberapa roti dan kudapan yang aku bawa dari Kota A tidak cukup mengenyangkan perutku-- Belum lagi orang itu adalah Asisten Yan, sosok pria dewasa yang aku kagumi, dia pasti akan tidak suka padaku dan menjaga jarak. Bagaimana ini?
"Nia, kenapa menangis?" tanya Paman Tino, tanpa kusadari aku terisak tanpa suara.
"Aku menambah kesalahanku, membuat Asisten Yan ditertawai," ujarku lirih, masih tertunduk.
"Sudah." Abyan mengelus kepalaku," Kau sudah menyadari dan mengakui kesalahanmu dengan benar. Kau hebat berani meminta maaf padaku langsung, tidak semua orang memiliki sifat ksatria sepertimu. Jadikan pelajaran dalam hidupmu ya," Asisten Yan mencium pucuk kepalaku dengan rasa sayang, yeah ... I feel it.
Badanku menegang, jantungku serasa berhenti berdetak dan kepalaku makin aku tundukkan, bahaya jika mereka semua melihat wajahku yang sudah berubah warna seperti kepiting rebus. Dia-- dia mengelus bahkan mencium kepalaku.
Aaa ... Untung saja tadi aku keramas.
"Asisten Yan sudah memaafkan aku?" tanyaku pelan dan ragu, masih menundukkan kepala, namun bola mataku kudelikkan ke atas untuk mengintipnya.
Dia mengangguk lalu memberikan sekotak coklat, "Ini ... sebagai bukti aku sudah memaafkanmu."
Toeng.
Kepalaku laksana terkena lonceng besar di menara biara yang membuatku oleng dan nyaris pingsan.
"A– Apa ini? Coklat? Aku suka coklat. Terima kasih Asisten Yan," spontan aku mengangkat wajah dan meraih kotak coklat itu, "Tapi apa aku boleh meminta sesuatu? Satu saja ...." kataku mengangkat jari telunjuk di depan mukanya.
"Cih, dikasih hati minta jantung," seloroh Kakak Ipar.
"Haishh ... tidak peduli, urus saja istrimu yang galak itu," bathinku.
"Apa?" tanya Asisten Yan lembut.
"Ahh ... kenapa Asisten Yan bisa selembut ini padahal aku sudah berbuat kesalahan. Dia memang cocok sekali dengan warna pink sesuai dengan hatinya yang lembut. Ya Tuhan, bagaimana nanti dia memperlakukan wanitanya. Seandainya Asisten Yan seumuranku mungkin aku jatuh cinta padanya, ahhh... bicara apa aku,"
"Engg ... biarkan Shortpink FC tetap ada. Aku akan menghapus semua foto yang sebelumnya sudah dishare, selanjutnya aku akan meminta izin dulu," pintaku dengan senyuman paling manis.
Ppffttt.
Kakak Ipar menahan tawanya lagi. Kak Litha mencubit lengan suaminya, menyuruh agar menjaga sikap. Paman dan Bibi terlihat canggung mendengar permintaanku karena mimik Asisten Yan tidak sehangat sebelumnya.
"Eh, ni anak ... benar-benar ya, sudah dikasih hati minta jantung." Kali ini Kak Litha yang bersuara, sudah mau mengomel lagi tapi isyarat mata suaminya mengurungkan niatnya.
Hening.
"Kenapa harus tetap ada?" tanya Asisten Yan padaku serius.
"Engg ... karena kami suka membicarakan Asisten Yan."
"HAH! APA!"
Hampir semua serentak mengucapkannya.
"Apa tidak ada artis yang bisa kalian gosipkan?" protes Asisten Yan.
"Kami tidak suka menggosipkan artis-artis yang penuh sensasi, itu membuang energi kami sia-sia. Lebih baik kami membicarakan high quality jomblo seperti Asisten Yan. Dan tahu tidak, sumber informasinya siapa? Kak Ninda!"
Ya, selama ini aku selalu bertanya mengenai Asisten Yan pada Kak Ninda,
"Astaga." Kak Litha menepuk keningnya.
Kakak Ipar tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia lepaskan begitu saja hingga membahana ke seluruh ruangan, sambil tertawa dia menyahut, "Yan, coba bayangkan wajah Bona kalau ia mendengar apa yang barusan Nia katakan, huahahahahaha ..."
Sekali lagi Kak Litha mencubit lengan suaminya, padahal dia juga sedang menahan tawa. Pppffftt ....
"Hahahaha ... sudahlah Nia. Sebentar lagi Asisten Yan akan memiliki wanitanya. Berhenti membicarakan orang lain yang tidak ada manfaatnya," ucap Kak Litha.
"Siapa?" cecarku dengan hati yang berdegup kencang.
"Siapa apa?" Kak Litha malah bertanya balik tidak nyambung, kulihat wajah Asisten Yan kembali memerah.
"Boleh saja, Nia. Tapi tiap foto yang mau kau share sebaiknya memiliki izinku. Aku pulang dulu, Ray, Nyonya dan semuanya. Selamat malam," pamit Asisten Yan dengan menunduk hormat.
Aku tahu dia sengaja mengalihkan dan mengganti topik pembicaraan agar aku tidak lagi mengejar pertanyaan yang membuatku sangat penasaran. Berita ini bagus sebagai bahan gosip sesama member Shortpink FC, akan tetapi-- kenapa hati ini terasa sesak. Apa aku mengalami kekurangan oksigen?
- Bersambung -
__ADS_1