Kepingan Hati Vania

Kepingan Hati Vania
Xena-nya Pradipta


__ADS_3

Hari ini jadwal sidang vonis perkara kasus narkoba yang ditangkap beberapa bulan lalu di Amore Club&Party -klub malam yang 45 persen sahamnya milik Kakak Ipar- akan dilaksanakan. Aku merengek ikut ke Pengadilan setempat meski dilarang berkali-kali oleh Kak Litha, dia takut emosiku tidak terkontrol dan dapat mengganggu jalannya persidangan.


Suasana sangat ramai karena ketiga terdakwa cukup menyita perhatian publik, yakni Renata Swastika, artis sinetron yang tengah naik daun, Evan Dellano Kusuma, putra tunggal pemilik waralaba kafe yang tengah viral di media sosial dan kerapkali meng-endorse selebgram-selebgram populer, sedangkan Lucas Riguna tidak akan begitu tersorot apabila tidak berurusan dengan Keluarga Pradipta terkait dibukanya kembali kasus pidana perkosaan lima tahun lalu.


Untuk pertama kali setelah melahirkan, Nyonya Pradipta keluar rumah karena ingin mendengar langsung putusan hakim terhadap mereka, Zean sementara dititipkan pada Bibi Lidya dengan stok ASIP (Air Susu Ibu Perah). Selain Kakak Ipar dan Asisten yang menemani kami, hadir juga Keluarga Kusuma -terdakwa Evan merupakan sepupu Kak Ninda- dan Kak Bona selaku pemilik sisa saham klub tersebut ikut bersama para wartawan untuk mendengarkannya.


Tok. Tok. Tok.


Palu hakim sudah diketuk, tanda putusan telah dijatuhkan. Renata dengan hukuman 6 tahun penjara, selain sebagai pemakai ia juga mengajak orang lain untuk ikut memakai. Evan dengan hukuman 2 tahun 8 bulan sekaligus penangguhan guna rehabilitasi dan Lucas dikenakan kurungan penjara seumur hidup -terdakwa dengan hukuman paling berat- sebab selain sebagai pengedar paling dicari beberapa bulan terakhir, dia juga terbukti bersalah atas kasus pidana asusila lima tahun silam. Bahkan dalam penyidikan lebih lanjut, Lucas Riguna juga terlibat dalam pembunuhan berencana dengan modus kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan korban meninggal -ayahku- agar tidak ada laporan lanjutan atas tindak pidana perkosaan Kaka Tisha.


Airmata Kak Litha jatuh, aku tahu perasaannya saat ini karena apa yang dia rasakan sama dengan apa yang kurasakan, campur aduk antara marah, senang dan haru. Berbeda dengan kakakku yang bereaksi dengan menangis, aku malah tersenyum sinis menembak tajam ke arah Lucas. Ini pertama kalinya aku bertemu langsung dengan orang yang paling bertanggungjawab atas kehancuran keluargaku.


"Kau baik-baik saja?" bisik Kakak Ipar memeluk istrinya.


Kak Litha mengangguk pelan, "Semoga hukuman ini adil, Mas. Jadi Ayah dan Ibu bisa tenang." Kakak Ipar mencium pucuk kepala Kak Litha untuk menguatkannya


Ketika terdakwa akan dibawa kembali ke mobil tahanan, aku melangkah maju dengan cepat ingin dekat melihat seperti apa rupa lelaki bang*sat bernama Lucas Riguna itu.


"BAJI*NGAN KAU LUCAS! MEMBUSUKLAH DI PENJARA!" teriakku lantang maju ke depan si punya nama, sengaja memprovokasi.


Asisten Yan langsung menghampiriku, menghalangi dengan badannya agar aku tidak semakin dekat dengan penjahat kelamin itu. Aku ingin lihat sinar mata jahatnya ketika merudapaksa Kak Tisha sampai dia hilang akal namun Lucas tidak menghiraukanku. Mata dan tubuhnya terpaku pada sosok yang berdiri di pintu masuk ruang sidang.


"Tisha ..." gumam Lucas pelan.


Darahku terkesiap dia memanggil nama kakakku. Seketika aku berbalik, nampak sosok rapuh berdiri di dampingi seorang wanita berjas dokter.


"Kak Tisha!" teriakku.


Spontan teriakanku membuat semua orang memusatkan perhatiannya pada Kak Tisha. Tanpa komando aku dan Kak Litha kompak ingin berlari ke arahnya untuk mencegahnya menemui Lucas namun kami dihentikan oleh Kakak Ipar dan asistennya.


"Biarkan Tisha melakukan apa yang dia inginkan," kata Kakak Ipar pelan.


"Kak Tisha ...." sebutku dan Kak Litha berbarengan dengan pelan ketika Kak Tisha melewati kami, dia memamerkan senyumnya, senyum milik Ibu.


Asisten Yan lalu segera menghampiri petugas yang mendampingi para terdakwa, menyampaikan agar diberi sedikit waktu untuk Kak Tisha bertemu muka dengan terdakwa yang masa hukumannya paling lama.


"Bagaimana kabarmu, Lucas?" Kak Tisha bertanya menatap mata lelaki itu dengan keberanian penuh, keberanian menghadapi luka masa lalunya.


Lucas terhenyak, kamipun demikian. Lidah Lucas kelu tidak sanggup berucap, suaranya pun terkungkung di dalam diafragma. Namun aku yakin hatinya sangatlah perih, jelas terlihat di kedua tatapannya yang begitu tersiksa. Apakah kutukan wanita Suku Ragnaya benar adanya? Sampai mati dia tidak akan pernah bisa menghapus sosok kakakku dalam hati dan jiwanya.


Tangannya hendak menggapai raga Kak Tisha, tapi petugas langsung menepis tangan kotornya dari kakakku. Sungguh tidak tahu malu!


Aku tahu Kak Tisha sedang berjuang keras melawan bayangan masa lalunya yang menyakitkan, yang menjadikan jiwanya terpenjara entah dimana. Walaupun lirihan dan mata lelaki itu memancarkan penyesalan luar biasa, kakakku tetap bergeming dengan tangan mengepal kuat. Dia sangat kuat melawan traumatik dan rasa terbelenggunya.


Tiba-tiba Lucas berlutut di hadapan Kak Tisha tanpa berbicara sepatah katapun sebab dia tidak bisa menemukan kata yang mewakili penyesalan dan rasa bersalahnya saat ini selain hanya menangis. Kak Tisha tersenyum pahit padanya, mungkin mengingat perbuatan lelaki yang pernah dicintainya sepenuh hati sekaligus dibenci sampai dasar hati paling dalam.


"Aku sudah berdamai dengan diriku dan masa laluku. Aku memaafkanmu, Lucas ... Aku tidak lagi memiliki perasaan apapun padamu sekarang. Kau seperti orang lain yang tidak ada artinya buatku. Habiskanlah penyesalan dan rasa bersalahmu yang tidak berguna itu seumur hidup di dalam penjara. Itu bukan hukuman dariku, tapi Tuhan ingin menunjukkan kuasa-Nya."


"Ti–Tisha–"


Tenggorokan Lucas tercekat, air matanya berjatuhan. Kakakku memberikan senyum penghakimannya sebelum berbalik. Tidak menghiraukan panggilan yang ditujukan padanya, dia tetap berjalan mendekatiku dan Kak Litha. Mata kami saling menatap, ada kerinduan yang terpatri disana. Tidak kusangka kakakku sembuh dan mengingat semuanya, yang lebih hebat lagi dia sanggup untuk menerima dan berdamai dengan kesalahan masa lalunya.


Lucas tidak mau beranjak dari tempatnya, berlutut sampai para petugas harus mengerahkan tenaga ekstra untuk membawanya ke mobil tahanan dengan gerakan meronta dan teriakan pilu memanggil-manggil nama Kak Tisha. Pada akhirnya, lelaki itu benar-benar menerima hukumannya.


"Kak Tisha ...." lirih Kak Litha berlinang airmata, langsung dipeluknya tubuh kurus Kak Tisha dan spontan akupun juga ikut memeluk mereka berdua.


Kami bertiga saling terisak satu sama lain, mengeluarkan rindu yang sudah lama terkunci di dalam hati kami masing-masing. Tuhan Maha Baik, satu per satu mengembalikan orang-orang tersayangku.


"Maaf ... Maafkan aku ...." bisik Kak Tisha pelan yang membuat kami semakin mengeratkan pelukan.


...***...


Hari istimewa dengan ditemani kedua kakakku, Kakak Ipar dan– Si Pengikut -Asisten Yan- akan menghadiri upacara kelulusanku di Aula SMA Nusa Bangsa 2. Kak Tisha dan Kak Litha merupakan tamu undangan sebagai waliku sedangkan Kakak Ipar adalah tamu kehormatan sebagai donatur utama tahun ini dan pemilik Yayasan Pradipta Asa Foundation yang bekerjasama dengan sekolah. Lalu Asisten Yan sebagai apa? Cih, makanya kusebut Si Pengikut karena kerjaannya hanya mengikuti kemana Kakak Ipar pergi.


"Namamu sudah ada Pradipta-nya di belakang, kenapa tidak mau disebut? Kau malu?" tanya Kakak Ipar sinis saat dia membetulkan posisi topi kelulusanku.


Pertanyaannya menyindirku tajam tetapi perlakuannya padaku sangat hangat, layaknya ayah yang bangga akan putrinya lulus sekolah.


Aku tersenyum, "Kali ini saja, Kak. Nanti lulus kuliah akan kubawa nama Pradipta."


Terus terang, aku tidak nyaman dengan penyematan nama keluarga Kakak Ipar di namaku, apalagi di depan siswi dan guru SMA-ku, pasti banyak umpatan dan kedengkian dalam hati mereka.


"Takut sama Serena?" tanya Kakak Ipar lagi.


Aku bingung tidak mengerti maksud Kakak Ipar, kulirik Asisten Yan di sebelahnya yang langsung menghindari tatapanku. "Maksud Kakak?"


"Seluruh per–"


"Nia! Ayo, sudah mau mulai acaranya. Jangan ikuti kakak iparmu, dia itu akan masuk belakangan ke Aula," seru Kak Litha menghampiriku.


Aku bergegas meski penasaran dengan kalimat Kakak Ipar yang terputus barusan, "Iya Kak. Kakak sudah selesai memerahnya?"


"Eng... belum. Payu*daraku belum begitu mengeras, nanti saja. Aku tidak nyaman memerahnya disini," bisik Kak Litha sambil berjalan masuk ke dalam Aula, khawatir kedengaran suaminya yang sama sekali tidak ingin istrinya kesakitan meski hanya meringis. Definisi terlalu bucin, huh.


Aku memasuki Aula, semua mata berpusat padaku. Kursiku terletak paling depan, belakang para tamu kehormatan karena pencapaian nilai akademikku yang sangat baik. Selintas retinaku menangkap sosok Serena Wijaya. Dia tidak seperti biasa yang sering bertingkah untuk mencari perhatian, hanya duduk diam dengan pandangan lurus ke depan. Tidak ada kegembiraan dalam dirinya padahal nilainya juga tidak buruk.


"Eh, Keysha!" panggilku melihat teman sekamarku beberapa langkah di depanku, dia sudah akan duduk menempati kursinya.


"Nia! Lama tidak melihatmu," balasnya girang memelukku.


"Maaf ya, aku meninggalkanmu tidur sendirian."


"Iya ih, jahat kamu. Jadinya Bu Burne yang menemaniku selama kamu di Ibukota."

__ADS_1


Aku terkejut, lalu tertawa kemudian, "Hahaha ... Oh iya Key, Serena kenapa? Tidak biasanya diam."


Matanya membulat, "Kau belum tahu?"


Aku menggeleng, dia berdiri dan mendekati kupingku berbisik, "Gosipnya Tuan Muda Pradipta yang melakukannya. Kau hebat Nia, memiliki pendukung yang sangat kuat. Sekarang tidak ada yang berani padamu."


Hah, apa maksudnya?


"Ayo, semua peserta bersiap. Tempati kursi kalian masing-masing dengan tertib. Jangan ribut, karena sebentar lagi acara dimulai," instruksi Sabeum Dre yang berpenampilan formal. Lumayan tampan juga dia, selama ini aku selalu melihatnya dengan pakaian olahraga atau jubah latihan Taekwondo.


"Hush! Hush! Sana! Kursimu di depan, bukan disini," usir Keysha.


"Ck."


Aku duduk tenang tetapi pikiranku berkecamuk dengan apa yang disampaikan Keysha. Apa yang dilakukan Kakak Ipar pada Serena? Apa Kak Litha menceritakan kisah sedih sekolahku, lalu dia melakukan pembalasan terhadapnya. Tapi apa? Ah, sudahlah, nanti saja kutanyakan. Sekarang aku ingin menikmati hariku dengan bangga.


"VANIA KIRANA LARASATI, SISWI DENGAN NILAI TERBAIK."


Namaku disebut pertama kali, "Ayah, Ibu, kalian pasti bangga padaku. Tidak sia-sia aku bertahan dalam situasi yang sulit."


Dengan percaya diri aku melangkah maju, naik ke atas panggung menerima ijazah replika dan piagam penghargaan. Setelah menerimanya dan menuruni tangga, aku angkat setinggi-tingginya penghargaan. Menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa menaklukan sekolah ini meski kusadari tidak mungkin aku berdiri seperti ini tanpa dukungan dari Kakak Ipar.


Manikku mengarah di barisan kursi undangan wali, kedua kakakku begitu terharu hingga nampak olehku kilauan airmata mereka. Aku tersenyum bahagia, ini adalah mimpiku walaupun yang duduk disana bukan Ayah dan Ibu. Lalu aku berjalan menuju ke tempat duduk Kakak Ipar, ketika tepat berdiri di depannya, kubungkukkan badanku memberi hormat padanya.


Tak disangka dia berdiri menghampiriku dan menepuk bahuku, "Bermimpilah setinggi-tingginya, aku akan selalu mendukungmu. Adikku memang hebat. Selamat."


Susah payah aku menahan airmata haru. Tuhan memang tidak memberiku kakak laki-laki dari kedua orangtuaku, tapi begitu sempurna Dia mempertemukanku dengan Kakak Ipar yang sangat menyayangiku seperti adik kandungnya sendiri.


.


.


.


Kak Litha memesan tempat di Rumah Makan Gubuk Ikan di Kota A. Dinamakan Gubuk Ikan, karena rumah makan ini menyediakan berbagai macam menu olahan ikan air tawar dan seafood. Tempat ini menyuguhkan pemandangan kolam yang jernih dengan ratusan ikan Koi. Ada dua pilihan tempat makan, duduk di meja layaknya kafetaria dan di saung tanpa kursi alias lesehan. Rumah makan ini menyimpan banyak kenangan bagi keluarga kami terutama antara Ayah dan ketiga putrinya. Ayah rela berhemat demi mengajak kami makan disini.


"Kakak, terimakasih ... Aku bahagia sekali hari ini. Padahal aku mengira aku akan melalui hari kelulusanku sendirian, tapi ternyata semua kakak-kakakku hadir," kataku senang.


"Kau pantas mendapatkannya, Nia. Kau sudah berusaha keras," sahut Kak Litha mengusap pipiku. Sungguh bahagia tidak terkira, mendapat perhatian liar biasa dari orang-orang yang kusayangi.


"Kau hebat sekali, Ayah dan Ibu pasti bangga padamu," ujar Kak Tisha menggenggam tanganku, "Tapi kemana Bibi dan Paman? Kenapa mereka tiba-tiba menghilang? Apa ada yang kulewatkan?" tanyanya lagi.


Aku melirik ke arah Kakak Ipar, bingung bagaimana menjawabnya.


"Tidak tahu juga, Kak. Terakhir aku bertemu ketika mereka datang ke Ibukota untuk wisuda dan ulangtahunku, lalu mereka bagai hilang ditelan bumi. Tidak ada komunikasi setelahnya, iya kan Nia? Apa mereka pernah menghubungimu?" Kak Litha menambahi bebanku dengan pertanyaannya.


"Eng ... tidak– tidak pernah," jawabku gelagapan, menoleh ke Kakak Ipar yang pura-pura sibuk dengan ponselnya Haishhh ... Dia tidak membantuku!


"..."


"Kenapa Mas baru memberitahukannya sekarang? Apa Bibi berganti nomor telepon?"


"Aku tidak ingin membuatmu berpikir terlalu jauh. Nomor yang Bibi pakai saat meneleponku sekarang sudah tidak aktif lagi."


Kak Litha mengerutkan kening, aku tahu pasti dia merasa ada yang janggal tapi dia sengaja tidak menelisik lebih jauh karena tidak ingin merusak suasana bahagia hari ini.


"Setelah makan siang, kita akan ziarah ke makam mendiang Ayah dan Ibu Nyonya, lalu kita akan segera pulang ke Ibukota," sela Asisten Yan menerangkan jadwal kami di Kota A hari ini. Malamnya kami akan kembali ke Ibukota karena banyak dokumen perusahaan yang harus Kakak Ipar tandatangani.


"Ah ya, tapi tunggu aku selesai memompa ASI dulu," ujar Kak Litha.


"Apa kau mau memompanya sekarang? Biar aku menemanimu di sana," tawar Kak Tisha menunjuk Ruang Laktasi yang tidak begitu jauh dari saung kami.


"Apa boleh aku melakukannya sekarang, Mas?"


Kakak Ipar mengangguk, "Tentu saja, kau pasti menahan nyeri dari tadi. Tidak usah khawatir, aku akan makan duluan dengan Nia dan Abyan."


Selagi Kak Litha ditemani Kak Tisha ke ruang laktasi -untuk memompa karena apron yang seharusnya dikenakan saat memompa ketinggalan di pesawat- Kakak Ipar menyilakan aku dan Asisten Yan makan karena pesanan kami sudah datang.


Tiba-tiba aku teringat gosip yang disampaikan Keysha sebelum acara kelulusan dimulai, "Kak, apa Kakak melakukan sesuatu pada Serena? Dia tidak biasanya diam seperti tadi. Kata Keysha gosipnya karena Tuan Muda Pradipta yang melakukannya."


Kakak Ipar menghentikan aktivitas makannya, menatapku, "Ya. dia mengatakan sesuatu yang buruk tentangmu saat semua tahu bahwa kau adik istriku."


Aku masih belum paham, "Maksud Kakak?"


"Seperti yang kau bilang, Serena yang mengataimu Bulan Kesiangan. Tentu saja aku sebagai kakakmu harus bertindak agar dia tahu siapa dirimu. Tapi tenang saja, aku tidak mengatakan pada Tuan Wijaya kalau dia mencercamu. Tapi semua pasti mengerti penyebab Pradipta Corp. mengakuisisi perusahaan Keluarga Wijaya karena putrinya telah menyinggung adik perempuanku."


Astaga ... Kakak Ipar salah paham, rasa-rasanya aku mau pingsan. Maafkan aku Serena, aku tidak berniat jahat padamu.


Siapa lagi yang bisa dijadikan kambing hitam selain Serena karena dia yang memiliki hubungan buruk denganku semenjak kami bertemu? Tapi kenapa juga Kakak Ipar bertindak sejauh ini hanya untuk Si Pencerca. Aarrghhh ....


"Kenapa? Kau keberatan? Aku masih bisa memaafkan perlakuannya sebelum kau menjadi anggota Keluarga Pradipta, tapi tidak setelahnya," lanjut Kakak Ipar, setelah itu matanya mengarah ke Asisten Yan, "Kau tahu benar bagaimana sikapku jika ada yang mencoba mengusik keluargaku kan, Yan?"


"Eh, i– iya, Ray."


"Tidak peduli siapa dia, seburuk atau sebaik apapun hubunganku dengannya aku pasti akan membuat perhitungan."


Glek.


Hampir saja tenggorokanku tersangkut duri ikan bakar yang kulahap. Apa ini? Kakak Ipar seakan-akan memperingati seseorang, tetapi tidak ada orang lain di sini selain Asisten Yan dan aku.


Apakah Kakak Ipar tahu kalau bukan Serena yang mengatakannya? Darimana? Oh, tidak!


Kakak Ipar kembali mengamati wajahku, "Apa ada yang ingin kau katakan, Nia?"

__ADS_1


Si*al! Wajahku ini tidak bisa sama sekali dikondisikan!


Ehm ... Ehm ....


Asisten Yan berdehem, "Ray, katakanlah orang itu bukan Serena, bagaimana?"


"Apanya yang bagaimana? Tentu saja dia harus mempertanggungjawabkan perkataannya yang sudah membuka luka bathin lama." Kakak Ipar mengambil nafas panjang, "Yan, tidak mudah menghadapi trauma masa lalu yang sudah ditutup. Hati serasa diiris sembilu jika kembali dikuak. Seperti dulu aku yang selalu dikatakan anak tak beribu dan ditemukan Nenek dalam buah kelapa di dalam hutan."


"..."


Muka Asisten Yan sedikit memucat tapi apa dikatakan Kakak Ipar memang benar adanya. Ternyata kami sama-sama memiliki luka bathin di masa lalu, tidak heran dia sangat memahami apa yang kurasakan saat itu.


"Kak, sudahlah. Tidak usah membahasnya lagi," sahutku menyudahi.


"Kau terkesan seperti melindunginya. Apa Serena sudah meminta maaf padamu?"


Glek.


Ya Tuhan, entah mengapa firasatku mengatakan Kakak Ipar sengaja melemparkan bola panas padaku di depan Asisten Yan karena dia tahu bahwa asistennya sendiri adalah pelaku sebenarnya, hanya saja dia tidak mempunyai bukti. Maka, pengakuanku adalah satu-satunya bukti. Kakak Ipar sengaja menggiring opiniku hingga nantinya tanpa sadar aku mengatakan semua kebenarannya.


"Kakak, Asisten Yan bukan saja mengatai Bulan Kesiangan, tapi juga mencuri ciuman pertamaku. Apa yang akan kau lakukan jika mengetahuinya? Persahabatan kalian tulus, begitu juga sikapnya pada Kak Litha. Aku tidak sampai hati merusak semua itu," gumamku sedih dalam hati.


"Sudah. Tadi dia sudah meminta maaf padaku dan pada Kakak Ipar," kataku berbohong lagi akhirnya.


Kakak Ipar diam menatap dalam bola mataku, mencari sesuatu disana. Si*al! Kakak Ipar pasti tahu aku berbohong. Mataku sama dengan mata istrinya yang tidak bisa berdusta meski kami pandai berakting.


Dia mengambil gelasnya yang berisi penuh air putih, lalu menenggaknya setengah, "Makanlah makananmu, Nia. Tidak usah dipikirkan lagi ... Mulai sekarang kau tidak akan pernah mendengar julukan itu lagi. Gaji Abyan jaminannya, kalau masih ada yang mengatakannya, 75% gajinya akan didonasikan ke Pradipta Asa Foundation."


Mata Abyan terbelalak, "Kenapa gajiku? Jangan semena-mena kau Ray!"


"Makanya jagalah jangan sampai kudengar ada yang mencerca Nona Pradipta. Itu tugas tambahanmu yang baru, akan terlepas setelah dia menikah."


"Aku bukan pengawal pribadinya!" sungut Asisten Yan.


Aku tersenyum sinis, menertawai diri sendiri, berharap apa padanya?


Dari kejauhan kedua kakakku menuju saung kami, Kak Litha sudah selesai memompa ASI-nya. Mereka saling berbincang dan tertawa bahagia, tahu begini aku ikut mereka saja tadi.


"Istriku sudah datang. Apa kau perlu titah Nyonya Pradipta untuk melaksanakannya?" Kakak Ipar menegaskan lagi perintahnya.


"Asisten Yan tidak perlu melakukannya, Kak. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kelak aku tidak akan sedih jika dikata-katai lagi. Mempunyai Kakak Tuan Muda Pradipta tentu menjadikanku jauh lebih kuat. Kalau dulu Ayah menyebutku Xena-nya Aryasena, kini Kakak bisa menyebutku Xena-nya Pradipta."


"Putraku akan memanggilmu Bibi Xena," ujar Kakak Ipar mengusap kepalaku.


"Bibi Xena? Lucu sekali, tapi aku suka," sahut Kak Litha, tiba-tiba dia sudah berada di sampingku.


"Tapi Xena pandai berkelahi," timpal Kak Tisha.


Aku tersenyum, melirik sebentar pada Kakak Ipar yang berusaha menyembunyikan senyumnya. Kemudian sekilas mataku melihat Asisten Yan sedang menikmati makanannya dengan canggung.


Tidak kusangka akhirnya hubunganku dengan sosok yang pernah aku kagumi jadi rumit begini. Ngomong-ngomong rumit, jadi teringat sebuah lagu favoritku dari Langit Sore ....


Memahami hatimu


Tak akan cukup usiaku


Sementara rindu ini


Semakin menusuk dadaku


Ternyata perasaanmu padaku


Biasa biasa saja


Cinta itu sederhana


Yang rumit itu kamu


Mencintaimu itu mudah


Yang sulit adalah


Membuatmu juga mencintaiku


Aku mengerti bahwa bahagiamu bukan denganku


Niscaya semua luka kan sembuh bersama waktu


Maafkan aku yang pernah ada dihidupmu


Kini ku pergi dan tak kan lagi mengganggu


Aku telah belajar ikhlas untuk melepas


Kau abadi sebagai luka yang membekas


Terima kasih untuk cinta yang pernah hadir


Walau bukan seperti ini ku bayangkan kan berakhir


...***...


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2