
Tuan Muda Pradipta semakin kukenal semakin aku menghormatinya, bagaimana tidak? Makam kedua orangtua kami yang juga mertuanya kini ditata apik meski berada di tengah perkampungan. Dulu hanya ada pohon randu di tengah-tengah makam. Sekarang selain dipagari juga dibuat taman yang indah, bahkan setiap bulan ada dua orang dari warga setempat yang bertanggungjawab akan kebersihannya, tentu saja membuat makam terawat.
Kakak Ipar berusaha memegang janjinya menjaga dan melindungi kedua saudari istrinya dengan sangat baik. Dia mengurus semua keperluan Kak Tisha yang ingin membuka lembaran kehidupan baru di Irvine, California sebelum hidup mandiri sebagai pekerja sosial disalah satu panti jompo.
Akupun memulai babak baru sebagai mahasiswi di Universitas impianku. Menjadi ahli dalam dunia digital dan mampu berdampingan dengan modernisasi zaman adalah tujuanku, dan disinilah aku berdiri ... Menatap gedung lima lantai dengan pakaian hitam putih dan dandanan penuh syarat dari panitia ospek.
CALON-CALON MABA, DALAM 10 DETIK BERKUMPUL DI LAPANGAN! ... SATU–
Dengan kecepatan penuh aku berlari menuju lapangan, jangan sampai ada alasan untuk menerima hukuman apalagi ini hari perdana masa Orientasi Pengenalan Kampus yang akan berlangsung selama satu minggu.
BRUKH.
"Duh."
Aku terpental lumayan keras karena menabrak benda kokoh di hadapanku. Ku angkat wajah dan kami pun menatap netra satu sama lain. Airmuka yang aneh untuk pertama kali berjumpa, mematung beberapa saat saking terkejutnya.
"Ma– maaf, aku tidak sengaja, Kak," sahutku setelah berdiri.
Untuk mahasiswa baru sepertiku, sebaiknya tidak mencari masalah dengan kakak tingkat apalagi panita ospek, bisa habis dikerjai nanti.
"..."
Dia tidak bersuara, masih mematung menatapku, "Apa dia mengenalku?"
"La, dicariin Dennis tuh, ada yang mau dikoordinasikan."
Seseorang berjas almamater menepuk pundaknya sekaligus menyadarkannya. Dennis adalah Ketua Panitia Ospek tahun ini. Jika dia ingin mengkoordinasikan sesuatu dengan orang yang tadi tidak sengaja kutabrak, artinya orang itu memiliki peranan penting di universitas ini.
"Baik. Aku akan kesana," jawabnya.
"Oke, aku duluan ke lapangan."
Orang yang tadi kutabrak mengangkat papan namaku, membaca dalam hati nama dan jurusanku.
"Hei! Bukan berarti kamu Nona Pradipta bisa diistimewakan ya! Cepat bergabung dengan barisanmu!" bentak pemuda yang berjas almamater padaku.
Kontan aku berlari menuju lapangan dan menyusup lincah ke dalam barisan sesuai jurusan.
"Hampir saja kau terlambat baris," kata seseorang di sampingku.
Aku menoleh, betapa kagetnya aku melihatnya.
"Nezar, Nezar Abigail. Tidak kusangka kita satu jurusan, Nona."
"Kau– kau yang–"
"Psstt ... Pelankan suaramu. Meski kau Nona Pradipta, banyak panitia cewek yang berupaya mencari celah kesalahanmu."
Langsung kututup mulutku. Ya ... Pasal satu Panitia tidak pernah salah, pasal dua jika bersalah ditinjau kembali ke pasal dua. Jadi, lebih baik peserta Ospek menjaga sikap.
"Masih banyak waktu buat kita mengobrol, Nona," katanya lagi, berbisik.
"Vania, cukup panggil Nia, tidak ada predikat Nona jika kau ingin berteman denganku."
Pemuda itu tersenyum, akupun ikut tersenyum namun tidak bertahan lama karena mataku menangkap basah orang yang tidak sengaja kutabrak tadi sedang menatapku dari kejauhan.
"Nezar, apa kau tahu siapa dia? Yang berdiri di samping Kak Dennis," tanyaku berbisik.
"Yang tidak memakai jas almamater?"
Aku mengangguk.
"Kudengar tahun ini adalah tahun ketiganya menjadi Ketua BEM."
Mataku terbeliak, tiga tahun berturut-turut menduduki posisi paling prestisius di universitas merupakan suatu hal yang jarang terjadi kecuali benar-benar memiliki kemampuan terutama dalam memobilisasi mahasiswa.
"Kau tertarik dengannya?" Ada nada tidak senang dalam pertanyaannya.
Aku menggeleng pelan, "Aku tadi tidak sengaja menabraknya."
"Sepertinya menabrak orang adalah hobimu," celetuknya.
Eh, apa katanya? Hobiku? Menyebalkan sekali lelaki berambut ikal ini. Apa dia pikir aku suka menabrakkan tubuhku pada setiap laki-laki?
Tanpa sadar aku merengut kesal, dia malah berusaha menahan tawanya dengan bahu yang bergetar, "Ppffttt ... Kalau begitu wajahmu lucu sekali meskipun tambah cantik," ujarnya.
KAMU YANG TERTAWA DIBARISAN TEKNIK INFORMATIKA, MAJU!!!
Spontan semua mata mengarah ke barisan kami kecuali peserta Ospek, tidak berani.
__ADS_1
SIAPA JES?
BARISAN KELIMA DARI BELAKANG.
Tap. Tap. Tap.
"KAMU TERTAWA APA, HAH! KAU KIRA INI LELUCON?" hardik seorang panitia di telinga Nezar, keringat dingin membasahi pelipisnya.
MAJU! KITA BERI CONTOH PADA YANG LAIN KALAU ADA YANG BERANI MENERTAWAKAN PANITIA. KALIAN KIRA KAMI INI TIDAK CAPEK APA MENGURUS KALIAN? CALON MAHASISWA BARU! INGAT YA! KALIAN INI BARU CALON, C-A-L-O-N ... BELUM MAHASISWA!
Suara lengkingan panitia perempuan itu begitu arogan ingin menunjukkan kuasanya. Disatu sisi aku ingin menertawakan Nezar tapi di sisi lain aku kasihan melihat wajah piasnya.
.
.
.
"Ah, akhirnya hari ini selesai! Masih ada lima hari lagi. Badanku remuk semua kalau begini!" keluh Nezar yang duduk bersandar di tembok pagar kampus.
Aku yang duduk di sampingnya tergelak, "Hahaha ... Siapa suruh kau tertawa tadi, emang enak disuruh push up 50 kali dan keliling lapangan 20 kali sambil teriak 'Kak Jes, aku mencintaimu."
"Cih. Senang sekali kau melihatku menderita. Itu juga karena kamu," protesnya.
Lagi-lagi aku tergelak, "Kau yang menyulut api, jangan salahkan kalau terbakar, tapi nanti setelah ospek selesai aku akan mentraktirmu makan."
"Benarkah? Siap-siap aku akan membuatmu bangkrut. Aku akan memilih makanan mahal dan banyak."
"Siapa bilang aku mengizinkanmu memilih makanan, aku hanya bilang akan mentraktirmu, di kantin kampus, hahaha ..."
"Si*alan!"
"Kalau begitu tidak usah menunggu selesai ospek, sekarang saja! Aku sangat lapar karena mendapat hukuman," rajuknya seperti anak kecil. Apa hubungan kami sedekat ini? Padahal baru tadi pagi kami berkenalan.
"Tidak bisa. Tuh!" tunjukku pada mobil Kakak Ipar yang melaju perlahan ke arahku, "Aku sudah dijemput. Setelah selesai Ospek, aku baru diizinkan membawa kendaraan sendiri, saat itu kita akan pergi makan, oke?"
"Apa ada Tuan Muda Pradipta di dalamnya?" tanyanya panik.
Aku terkekeh, ternyata dia masih takut dengan Kakak Ipar, tapi kenapa? Apa dia berbuat kesalahan?
"Tidak ada. Dia tidak pernah menjemput wanita lain selain istrinya. Itu hanya mobil miliknya yang dibawa asistennya yang sangat menyebalkan," jawabku.
Dia diam sejenak, lalu berdiri dan mengulurkan tangannya, "Baik. akan aku tagih nanti. Istirahatlah, besok kita akan bertempur lagi."
"Tahu darimana?"
Aku tersenyum lagi, "Karena aku pernah mengalaminya. Sudah ya, aku balik dulu," kataku berlalu meninggalkannya.
"Nia! Besok jangan lupa bawa ubi jalar rebus!" teriaknya mengingatkan tugas yang diberikan oleh Panitia sebelum mengakhiri kegiatan Ospek hari ini.
"Ya, ubi jalar rebus yang panjangnya 17 centimeter hahaha ...." balasku melambaikan tangan padanya. Dia juga tertawa dan melambaikan tangan padaku.
"Ah, lelahnya ...." ujarku setelah duduk nyaman di dalam mobil Kakak Ipar.
"Cepat sekali kau mendapat teman, lelaki lagi," sindir Asisten Yan di balik kemudi.
Aku menghela nafas, malas membalas sindirannya. Kalau bukan Kakak Ipar yang memberi perintah untuk dijemput Asisten Yan, aku akan menolaknya mentah-mentah. Dengan menghadap jendela pura-pura memejamkan mata tanda tertidur hanya untuk menghindari obrolan tak berfaedah dengannya. Disela-sela bulu mataku yang kurapatkan, masih nampak jelas sosok Ketua BEM mengamati mobil ini. Hiii ... Bukankah ini ciri-ciri seorang penguntit?
...***...
Siapa bilang menjadi Nona Pradipta menguntungkan? Mungkin iya bagi wanita hedon, tapi bagiku predikat Nona Pradipta membuatku malah jadi bulan-bulanan panitia perempuan. Mudah saja untuk kulaporkan ke Kakak Ipar agar mereka diberi pelajaran seperti Serena, tapi jika kulakukan aku akan membenarkan perkataan mereka yang buruk, kalaupun harus diberi pelajaran aku mampu melakukannya sendiri. Belum lagi Si Ketua BEM yang selalu kedapatan memperhatikanku. Ayolah! Kalau begini lebih baik kau tanyakan saja apa yang membuatmu penasaran atau bicara apapun, jangan seperti CCTV berjalan.
"Akhirnya kita selesai Ospek juga. Kita sudah resmi mahasiswa, Nia!" pekik Nezar senang setelah upacara yang menyatakan kami resmi menjadi mahasiswa Universitas Nasional secara simbolis berakhir.
Aku tertawa melihat tingkahnya, "Senang sekali dengan status mahasiswamu."
"Tentu saja. Anak yatim piatu sepertiku bagaimana bisa mengharap kuliah, makanya aku berusaha mengumpulkan uang untuk biaya pendaftaran sebagai fotographer lepas media online Babun ... Menjadi mahasiswa adalah mimpiku, Nia."
Aku mengangguk, ada kesamaan dalam cerita kami walaupun waktunya tidak sama, kami berdua sama-sama tak berayah-ibu lagi, beruntung aku masih memiliki kakak dan kakak ipar yang luar biasa.
"Hebat juga kau bisa menabung dari penghasilanmu sampai bisa masuk disini," celetukku karena aku tahu biaya kuliah di Universitas Nasional tidak murah.
"Dewi fortuna memihak kehidupanku kali ini. Aku dipertemukan dengan orang baik padahal aku sudah berbuat kesalahan padanya. Dia memberiku dana dalam jumlah besar untuk kuliah, itu bisa kugunakan sampai selesai," katanya tersenyum memandangku.
"Oh ya? Ada orang seperti itu? Membiayaimu cuma-cuma, bahkan setelah kau memberinya hal buruk. Kalau aku jadi dia, sudah kucincang-cincang kau."
"Hahaha ... untungnya kau bukan dia walaupun kau ad–"
Wajah Nezar berubah panik, apa dia hampir keceplosan bicara, bicara apa?
__ADS_1
"Eh, aku tagih sekarang janjimu. Ayo traktir aku sekarang," ucapnya cepat mengalihkan pembicaraan.
"Nantilah, tunggu aku bawa kendaraan sendiri. Hari ini aku masih dijemput, setidaknya hari ini terakhir kali aku berpura-pura tidur di mobil."
Oh, jadi selama ini kau pura-pura tidur?
Panjang umur dia!
Aku berbalik padanya, "Ya, karena sekarang kau sudah tahu, jadi aku tidak akan pura-pura lagi," sahutku cuek. Kemudian menoleh kembali ke Nezar, "Zar, lain kali beritahu kalau asisten kakak iparku datang," ketusku.
"Aku hanya tahu Tuan dan Nyonya Pradipta, tidak dengan asistennya," sanggah Nezar polos.
Muka Asisten Yan berubah kecut karena dirinya tidak dikenali. Hahaha ... Maaf ya Tuan Asisten, yang membuatmu populer adalah fanbase bentukan aku dan kawan-kawan SMA-ku dulu, hahaha ....
"Mulai sekarang amati baik-baik wajah asisten tua ini, kalau dia menghampiriku dan aku tidak melihatnya, segera beri tahu aku," ucapku menegaskan yang disambut wajah bingung Nezar.
"Kau bilang aku asisten tua?" protes Asisten tidak terima.
"Ya. Kau memang jauh lebih tua dariku, kan?" balasku acuh tak acuh lalu berlalu meninggalkan mereka menuju parkiran. Tumben sekali Asisten Yan memakirkan mobil di area parkir dan turun untuk menjemputku. Apa Kakak Ipar yang menyuruhnya?
VANIA!
Seseorang memanggilku saat berada di area parkir kampus. Aku mencari arah sumber suara. Di area ini tidak banyak orang yang terlihat, kecuali– Si Ketua BEM. Apa dia yang memanggil namaku tadi?
Ternyata benar, dia mendekatiku dan tersenyum. Postur tubuhnya yang tinggi menghalau cahaya matahari sore di mataku. Melihat sosoknya aku seperti melihat Kakak Ipar yang dingin namun berwibawa.
"Ya," jawabku, lagi-lagi dia menatap ke dalam netraku.
"Ospek sudah selesai, kita akan jarang bertemu karenam berbeda jurusan. Boleh aku minta nomor kontakmu?" pintanya dengan senyum tipis.
Kubalas tatapannya padaku, mencari maksud dari permintaannya.
"Tidak sembarang orang bisa memiliki nomor kontak pribadi Nona Pradipta," lantang Asisten Yan yang sudah berada dibelakangku. Huffttt ....
"Apalagi untuk anak muda seperti kamu," tandasnya mengintimidasi, namun Si Ketua BEM sama sekali tidak terpengaruh, ketenangannya seperti sudah terlatih menghadapi berbagai segala situasi.
"Maaf, apakah Anda Ayah atau walinya? Kalau benar, aku akan meminta izin dengan hormat, tapi kalau bukan aku tidak peduli dengan apa yang Anda katakan, Tuan," katanya tenang face to face ke Asisten Yan
What!
Dia melempar balik serangan Asisten Yan hingga tidak berkutik. Aku berusaha sekuat mungkin menahan tawa, Ppffftt ...
"Tapi kalau Nona Pradipta tidak bersedia aku juga tidak akan memaksanya," sambungnya lagi menatapku dengan tersenyum.
"Tidak. Aku tidak keberatan. Mana ponselmu? Akan kuketikkan nomorku."
"Nia, kau jangan gampang percaya pada orang. Lihat saja gayanya seperti sudah berpengalaman merayu gadis-gadis," sahut Asisten Yan mencegahku.
Keningku berkerut, heran mengapa dia semudah itu menilai seseorang. Gayanya Si Ketua BEM ya begini sejak pertama kali aku tahu, tidak banyak bicara namun auranya sangat mendominasi.
"Panggil saja aku Nia," kataku seraya mengembalikan ponsel Pada Si Ketua BEM, "Aku tidak pernah mengangkat nomor yang tidak kukenal. Jadi, sebaiknya chat terlebih dahulu."
"Oke, aku belum sempat mengenalkan diri. Namaku Tala, Bentala Putra Dhanika, mahasiswa jurusan Planologi semester tujuh," ujar Si Ketua BEM mengulurkan tangannya.
"Ppfftt ... Kukira Buntelan," timpal Asisten Yan tidak sopan.
"Maaf, Bentala berarti bumi atau tanah tempat manusia berpijak. Kedua orangtuaku memberi nama tersebut tentunya memiliki harapan yang luhur, bersahaja dan rendah hati. Tidak seperti seseorang yang mempelesetkan nama orang lain dengan enteng."
Binggo!
Mati kau Asisten Yan, hahaha ... Oh, Tuhan ... Kak Tala aku menyukaimu! Menyukai bagaimana kau memberi skakmat pada lelaki menyebalkan itu, huahahaha ....
"Bentala nama yang terdengar indah ... Baiklah, aku pulang dulu, sangat menyenangkan berkenalan dengan Kak Tala."
"Namaku memang indah, Nia, tapi manik matamu lebih indah, bahkan jauh lebih indah dari cahaya sunset sore ini."
Gubrak.
Benar kata Asisten Yan, dia pintar merayu. Walaupun aku tahu dia sedang melontarkan gombalannya, aku sangat senang mendengar dia memujiku.
Ingat hal ini, kelemahan seorang perempuan berbeda dengan laki-laki yang terletak pada mata. Kelemahan perempuan ada pada telinganya, mereka tidak dapat menahan debaran jantung saat ada yang memujinya meski tahu itu pujian bohong.
Seketika nasehat mendiang Ayah bergaung di telingaku saat memperingati ketiga putrinya. Mungkin benar, tapi setidaknya daripada mendengar hinaan Bulan Kesiangan rayuan gombal Kak Tala jauh lebih baik.
"Senang sekali kau dipuji. Berhati-hatilah padanya, jangan sampai Tuan Muda yang bertindak. Kau tahu sendiri kan, kakak iparmu itu tidak suka adik kesayangannya diperlakukan buruk." Suara Asisten Yan membuyarkan lamunanku.
"Cih. Terserah! Kalau tidak bisa membuat senang orang lain, jangan merusak suasana hatinya," selorohku.
Aku tidak lagi berpura-pura tidur, pandanganku melihat keluar jendela membayangkan bagaimana aku menjalani perkuliahan nanti, bergaul, belajar, berorganisasi dan lainnya. Kalau aku ikut organisasi berarti aku akan punya kesempatan buat bertemu Kak Tala, juga punya kesempatan mendengar rayuan gombalnya, hehehe ....
__ADS_1
Kak Tala ... Bentala Putra Dhanika. Nama yang tidak asing, seperti pernah menemuinya, tapi dimana?
- Bersambung -