
Layaknya mimpi, Bibi mengatakan bahwa Kak Litha akan menikah dengan cucu Nyonya Besar yang selama ini dia layani karena wasiat yang diberikan pada mereka. Entah bagaimana Kak Litha menyetujuinya, yang jelas saat calon suami Kak Litha datang meminta restu Ibu, mereka berdua menyatakan cinta masing-masing.
"Kita sudah sampai. Ini hotel tempat diselenggarakan acaranya. Kita akan menginap disini mulai hari ini sampai kakakmu menikah nanti," kata Paman Tino setelah memakirkan mobil di area parkir.
"Paman, ini hotel termewah di Kota A, kan? Apa tidak salah?" tanyaku takjub menatap gedung hotel yang menjulang tinggi.
"Tidak salah. Keluarga calon kakak iparmu adalah salah satu konglomerat Ibukota yang hartanya sangat banyak," jawab Paman.
"Nia, jangan katakan pada Litha ya kalau Ibumu, Paman dan Bibi mengetahui pernikahan ini adalah sebuah wasiat dari mendiang Nyonya Besar karena dia tidak pernah menyinggung apapun mengenai wasiat," pinta Bibi Rima sembari mereka berjalan menuju lift. Semua pelayan hotel memperlakukan kami dengan istimewa.
"Iya, Bibi sudah berapa kali tadi mengatakannya ... Percayalah, aku tidak akan mengatakannya. Hanya saja aku masih bingung kalau Kak Litha tidak pernah menyinggung soal wasiat Nyonya Besar, darimana kalian tahu kalau pernikahan itu sebuah wasiat?" tanyaku bingung di depan pintu lift.
"Nyonya Besar sendiri yang meminta langsung Litha pada ibumu melalui telepon sebelum beliau wafat. Tidak ada yang beliau restui sebagai cucu menantu keluarga mereka selain kakakmu."
"Hah! Sampai segitunya ... Apa Kak Litha sangat istimewa bagi Nyonya Besar? Apa tidak ada wanita yang setara dengan keluarga mereka yang cocok jadi cucu menantunya? Kita kan hanya orang kecil," tanyaku makin bingung, ini diluar nalarku.
Ting.
Pintu lift terbuka, kami masuk dan Paman menekan tombol angka 11.
"Mendiang Nyonya Besar Pradipta berbeda dengan Nyonya Besar lainnya. Beliau adalah Macan Betina Pradipta yang tidak bisa ditebak apa maunya. Dengan meminta Litha sebagai cucu menantunya langsung melalui Kakak Ipar itu bukti bahwa Litha memang istimewa buatnya, entah apa yang sudah dilakukan kakakmu itu." Paman mencoba memberiku penjelasan, tapi tetap saja masih diluar nalarku.
"Apa jawaban Ibu waktu itu? Ibu menyetujuinya?"
"Ibumu mengatakan dia pasti akan menerima segala sesuatu yang dapat membahagiakan putrinya, dengan kata lain semua tergantung pada jawaban kakakmu," jawab Bibi dengan pandangan lurus ke pintu lift.
"Kenapa tidak ditolak saja? Kita kan, tidak tahu dan mengenal siapa lelaki yang menjadi calon suami Kak Litha. Kalau dia berbuat jahat dan menyakitinya, bagaimana?"
"Untuk hal itu tanyakan saja pada ibumu langsung," jawab Bibi singkat.
Ting.
"Kau akan sekamar dengan ibumu, kita menginap di lantai 11 sedangkan kakakmu satu lantai diatas kita," sambungnya sambil berjalan keluar lift.
"Apa Kak Litha ada di kamarnya sekarang?"
"Dia masih dalam perjalanan kesini dengan Ninda. Calon suaminya akan menyusul besok."
Dalam pikiranku, masih mengurai kebingungan yang tersisa. Apakah aku harus menanyakannya pada Ibu langsung? Kak Litha adalah kakak perempuan yang sangat aku sayangi, bahkan jika harus bertukar nyawa dengannya aku rela. Maka dari itu aku harus memastikan kebahagiaannya kelak. Pernikahan ini erupakan babak lanjutan dalam kehidupannya yang tentu tidak mudah. Jadi, aku harus menanyakannya langsung pada Ibu dan Kak Litha sendiri.
.
.
.
Aku memeluk Ibu begitu bertemu, menyesap aroma tubuhnya yang selalu aku rindukan, apalagi dia selalu memperlakukan aku sebagai bayi kecil yang selalu diciuminya bertubi-tubi dengan gemas.
__ADS_1
"Ibuuu ... Aku rindu sekali." Memeluk erat Ibu yang menghadap pemandangan di luar jendela.
Ibu terkekeh di atas kursi rodanya, "Bagaimana keadaanmu? Sekolahmu? Semuanya baik-baik saja, kan?"
"Semua baik, Ibu," jawabku menciumi pipinya, "Bu, kenapa Kak Litha tiba-tiba menikah?" Aku bertanya tanpa basa-basi.
"Hmm ... Kakakmu yang menginginkannya, Ibu hanya merestui saja selama dia bahagia dengan pilihannya?"
"Ibu yakin dia bahagia? Ini sepertinya bukan keinginan dari hati Kak Litha sendiri. Ada yang tidak beres."
"Jangan terlalu banyak berpikir dan jangan penuhi otakmu dengan memikirkan hal-hal yang kita tidak tahu pasti, itu akan menyulitkanmu. Cukup doakan saja agar kakakmu menemukan kebahagiaan sejatinya."
Aku menghela nafas panjang, kalau Ibu sudah berkata seperti ini, tidak ada gunanya bertanya lebih lanjut.
"Bu, sekaya apa sih calon suami Kak Litha?" tanyaku mengalihkan topik sambil melihat-lihat kamar hotel. Ini kali pertama aku menginap di hotel, apalagi hotel termewah di kotaku.
"Entahlah. Ibu tidak bertanya dan tidak mau tahu seberapa banyak kekayaannya."
"Haisshhh ... Tapi kelihatannya sangat kaya Bu. Menggunakan hotel termewah untuk acara menikah dan menginap beberapa hari disini tentu tidak sedikit uang yang dikeluarkan. Setidaknya keluarga Ayah yang diundang nanti tidak akan memandang rendah kita lagi. Atau–"
Aku menutup mulutku terkejut sendiri dengan apa yang kukatakan, "Apa ini alasan Kak Litha menikahi seorang cucu konglomerat? Untuk mengangkat derajat kita?"
"Hentikan omong kosongmu! Semua putri Aryasena tidak menjadikan materi sebagai tujuan utama hidupnya ataupun sekedar memanfaatkannya," sengit Ibu sedikit galak, aih ... lebih baik aku diam sekarang.
"Aku mau mandi dulu ya, Bu."
...***...
Aku terperangah takjub saat bertandang esok harinya di kamar yang disediakan untuk Kak Litha —kamar hotel tipe President Suite– yang juga akan menjadi kamar pengantinnya. Sejak dia mendarat ke Kota A, kegiatannya sangat padat mengikuti serangkaian jadwal yang sudah disusun oleh seorang pria paruh baya yang akrab disapa Pak Sas.
"Wah ... Kak, aku penasaran seberapa kaya calon Kakak Ipar?" decakku kagum menyentuh segala perabot di kamarnya.
"Heh! Belum apa-apa sudah ingin tahu seberapa kayanya orang. Kalau ada yang dengar, dikiranya aku menikah karena harta," jawabnya.
"Bagus dong! Biar semua keluarga Ayah mingkem semua," selorohku.
"Hush!"
"Kak–"
"Ya."
"Apa ini memang keinginan Kakak untuk menikah? Karena setahuku Kak Litha hanya ingin segera lulus dan bekerja. Tidak pernah kudengar ada kata menikah."
Aku harus meyakinkan diri bahwa kakakku ini memang bahagia dengan pernikahannya, meski hanya berupa ucapan di mulut saja.
"Ya. Calon suamiku tidak keberatan aku melanjutkan kuliah setelah menikah." Kak Litha menepuk kasur yang dia duduki, isyarat agar aku mendekatinya.
__ADS_1
"Apa Kak Litha mencintainya? Setahuku tidak ada laki-laki dalam hidupmu saat ini selain kenangan Ayah."
Kuamati diamnya Kak Litha bermakna ambigu. Dia hanya menjawab dengan diplomatis, "Kau tahu Nia apa impian terbesarku dalam hidup ini? Aku ingin menikah dengan orang yang kucintai dan mencintaiku, hubungan penuh kasih seperti Ayah dan Ibu hingga akhir hayat mereka. Meski salah satunya sudah tiada, tapi kenangan mereka membekas dan tidak akan tergantikan oleh siapapun."
"Umm ... Jadi, apakah calon suami Kak Litha adalah orangnya?" tanyaku langsung ke intinya yang membuat kakakku gelagapan dan itu sudah cukup menjadi jawaban atas pertanyaanku.
"Tidak usah dijawab, aku sudah tahu jawabannya, dia–"
Tok. Tok. Tok.
"Dia sudah datang, sapalah calon kakak iparmu. Kau belum pernah bertemu dengannya, kan? Awas jangan jatuh cinta padanya karena dia sangat tampan," Kak Litha memotong ucapanku seketika mendengar suara ketukan di pintu. Dia segera bergegas membuka pintu kamar.
Benar saja, muncul sesosok lelaki tampan dengan tubuh tinggi tegap dan atletis. Auranya begitu kuat, tidak ramah tapi juga tidak acuh, sepertinya dia akan lebih mendominasi dalam pernikahan mereka. Apa kakakku akan bahagia menikah dengannya?
"Nia, kemari. Sapalah calon kakak iparmu," panggil Kak Litha.
Lelaki itu menatapku tajam, aku juga melihatnya dan merasa tidak asing, "Ah, ya," aku berjalan cepat menghampiri mereka.
"Halo Kakak Ipar, senang bertemu denganmu, namaku Vania tapi Kakak Ipar bisa memanggilku Nia, sama seperti Kak Litha memanggilku," sapaku ramah.
Dia tersenyum padaku, "Oke. Semoga harimu menyenangkan." Lalu menoleh kembali ke Kak Litha. "Kau menyukai kamarmu? Kalau tidak suka kau bisa meminta staf hotel untuk mengubah sesuai seleramu. Oh iya, nanti mintakan selimut ekstra. Besok setelah menikah aku akan tidur satu kamar denganmu."
"Tidak perlu. Aku menyukai desain interior kamarnya. Nanti akan aku mintakan selimut tambahan," jawab Kak Litha cepat.
Tap. Tap. Tap.
Seseorang berjalan dengan langkah panjang, mendekati calon suami Kak Litha dan berkata, "Kamar sudah siap, silahkan Tuan beristirahat." Kemudian dia memandangku sejenak dan memamerkan senyum manisnya, "Anda pasti Nona Vania, adik Nyonya Pradipta. Senang berkenalan dengan Nona. Semoga Nona dapat menikmati pesta pernikahan ini."
Oh Tuhan, aku terhenyak melihatnya, dia– dia– dia yang membuatku kabur melarikan diri di mall waktu itu —semoga saja dia tidak ingat– Bagaimana aku tidak langsung mengingatnya karena wajah dan penampilannya tidak berubah sama sekali.
"Aku istirahat dulu, kau juga harus merilekskan dirimu. Semoga besok semuanya berjalan lancar," kata calon Kakak Ipar pada Kak Litha yang dibalas dengan sebuah anggukan patuh.
Ketika mereka berdua berbalik arah, ku perhatikan punggung lebar lelaki yang berjalan di belakang calon kakak iparku. Aih ... dia menyihirku lagi sehingga membuat pandangan mataku tidak beralih meski Kak Litha memanggil-manggil namaku.
"Eh, Nia! Apa telingamu masih berfungsi? Jangan melihati orang seperti itu, tidak sopan. Tapi kenapa kau memperhatikan calon suamiku? Aku tahu dia memang sangat tampan tapi dia adalah calon kakak iparmu. Kuharap kau bisa menjaga sikapmu."
"Haissshhh ... Siapa yang tertarik padanya? Si angkuh yang enggan menyebut namanya saat berkenalan. Dia pikir semua orang mengenalnya apa? Lelaki yang jalan di belakangnya bahkan jauh lebih baik."
"Abyan namanya, tetapi lebih akrab dipanggil Asisten Yan. Dia asisten calon kakak iparmu yang angkuh itu dan tidak ada yang tidak mengenalnya di Ibukota, makanya dia pikir kau sudah tahu namanya."
"Ini Kota A, bukan Ibukota. Apa sih yang membuat Kak Litha mau menikahi orang seperti itu?" tanyaku bersungut, baru saja berkenalan sudah menyebalkan.
"Hahahaha ... Rayyendra Putra Pradipta memang Tuan Muda yang menyebalkan, angkuh dan pemaksa. Tapi aku yakin dia bisa membuatku bahagia," jawabnya dengan tergelak.
Syukurlah diantara semua hanya aku yang mengingat kejadian di mall waktu itu dan itu artinya– kakak iparku nanti adalah pemilik mall besar tersebut. Astaga ... ini sungguh bukan hal kecil!
Apa benar Kak Litha tidak tahu berapa banyak kekayaan yang akan menjadi miliknya juga? Lalu apakah ini takdir atau hanya sebuah kebetulan? Aku dipertemukan kembali dengan Asisten Tuan Muda ketika aku sudah hampir melupakan pesonanya.
__ADS_1
- Bersambung -